LOGIN"KAMI BERSUMPAH DENGAN DARAH DAN JIWA KAMI!" seru tiga ribu prajurit Garuda Hitam secara membahana. "KAMI AKAN SETIA SEUMUR HIDUP KEPADA PAHLAWAN API MARTIS DAN KELUARGANYA! KAMI SIAP MENJADI PERISAI DAN PEDANG KEDAMAIAN!" Sesi penggemblengan militer secara masif bagi tiga ribu prajurit Pasukan Garuda Hitam resmi dimulai pada hari itu juga di pelataran luas di luar gerbang Desa Lembah Asri. Lapangan yang membentang seluas belasan hektar itu kini menjadi kawah candra dimuka tempat ditempanya barisan prajurit baru di bawah bimbingan langsung Rian dan Kiki, dengan pengawasan ketat dari Martis, Estias, Brakas, dan Duo Naga Lele Purba. Rian berdiri tegap di atas panggung komando kayu, mengayunkan Belati Naga Perak Yin untuk memberikan arahan pembagian divisi. Sementara Kiki melayang di udara dengan pendaran zirah emasnya, memancarkan percikan Petir Keemasan Kuno untuk menjaga ritme dan kerapian barisan. "Dengar semuanya!" teriak Rian dengan suara bulat dan tegas yang dipancarkan me
Sinar mentari pagi membiaskan pendaran cahaya keemasan yang hangat menembus celah-celah bukit perbatasan Desa Lembah Asri. Di pelataran rumput luas yang membentang di luar gerbang utama, berbaris rapi ratusan kelompok mantan bandit dari berbagai pelosok Hutan Purba dan pegunungan selatan. Pemandangan pagi itu sungguh belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah wilayah tersebut. Rian dan Kiki berdiri tegap di atas mimbar batu bersama Martis, Estias, dan Brakas. Di tangan Rian, terdapat sebuah gulungan bambu kuno yang digunakan untuk mencatat dan mendata ulang seluruh anggota mantan bandit yang telah menyerahkan diri dan bersumpah setia. Estias sang Raksasa Batu melangkah kembali dari barisan belakang seraya menggaruk kepalanya yang keras, lalu memberikan laporan dengan suara beratnya yang menggelegar. "BWAHAHAHA! Martis! Rian! Ini benar-benar di luar dugaan kita semua!" seru Estias penuh ketakjuban. "Setelah aku dan Brakas menghitung ulang seluruh barisan dari barak paling ba
Beberapa bulan berlalu sejak Rian dan Kiki melangkahkan kaki meninggalkan Desa Lembah Asri. Waktu yang singkat bagi seorang kultivator, namun bagi keberlangsungan takdir Kiki, bulan-bulan tersebut adalah masa peremajaan jiwa yang teramat menentukan. Sore itu, perbatasan selatan Desa Lembah Asri kembali dipayungi oleh pendaran mentari jingga yang hangat. Di sepanjang jalan setapak utama yang membelah bukit batu, terdengar gema derap langkah ribuan kaki yang berderap kencang namun teratur. Debu-debu tipis membumbung tinggi ke angkasa, memicu kewaspadaan para penjaga gerbang desa. Estias dan Brakas yang sedang bersantai di pos penjagaan seketika berdiri tegak. Mata raksasa mereka membelalak kaget saat menyaksikan sosok Rian berjalan paling depan dengan Belati Naga Perak Yin di pinggangnya. Di sisinya, melangkah anggun sesosok pemuda berbadan tegap setinggi satu meter dengan zirah emas murni yang memancarkan pendaran petir keemasan, Kiki dalam wujud evolusi sejati. Namun, yang mem
Hawa dingin di puncak Gunung Petir Sambung terasa begitu pekat dan mencekat oleh daya batin petir murni yang membakar udara. Awan hitam raksasa berputar hebat membentuk pusaran pusaran energi raksasa tepat di atas sebuah altar batu kuno yang dipenuhi ukiran sejarah purba. Di tengah altar sakral tersebut, berdiri kokoh Pohon Buah Inti Petir Langit yang memancarkan pendaran cahaya keemasan yang amat menyilaukan mata. Di dahan tertingginya, menggantung sebutir buah berbentuk kristal petir murni yang berdenyut lambat bagaikan jantung kehidupan purba. SCREECHHHHHHHHHH! Sesosok elang raksasa bersayap petir biru Elang Badai Purba meluncur deras dari balik gulungan awan hitam dengan kepakan sayap yang memicu badai angin topan dan kilatan listrik menyengat. Elang penjaga wilayah sakral itu meraung murka, mengayunkan cakar petirnya yang tajam bagaikan pedang dewa, menyambar lurus ke arah Rian yang berdiri tegap membentengi jalan menuju altar! "Kiki! Serahkan elang raksasa ini padaku! Ja
Sinar mentari sore yang berwarna merah keemasan membias anggun di balik cakrawala pegunungan timur. Angin kencang berembus menyapu permukaan jurang-jurang terjal di batas Hutan Purba Binatang Buas, membawa hawa dingin yang menusuk tulang serta aroma muatan listrik alami yang kian pekat. Di hadapan Rian dan Kiki, menjulang tinggi sebuah puncak gunung misterius yang puncaknya terus-menerus diselimuti oleh awan hitam pekat bergelombang. Gunung itu tak lain adalah Gunung Petir Sambung wilayah sakral yang menjadi tempat bersemayamnya buah langka Pohon Buah Inti Petir Langit. Rian melangkah mantap menapaki susunan tangga batu alami yang tertutup lumut licin di lereng bawah gunung. Di pinggang kirinya, Belati Naga Perak Yin tersirat rapi, memancarkan getaran resonansi bayangan yang seolah berinteraksi dengan hawa petir di sekeliling mereka. Sementara itu, Kiki duduk dengan posisi bertapa anggun di atas pundak kiri Rian. Bulu-bulu emas di sekujur tubuh mungil kera itu berpendar lebih tera
Kabut tipis menyelimuti kawasan pegunungan terjal di ujung perbatasan selatan Hutan Purba Binatang Buas. Ketua kelompok Bandit Topeng Tengkorak yang semula lari terbirit-birit ketakutan, ternyata melarikan diri menuju ke markas besar persekutuan bandit wilayah selatan, sebuah benteng batu tersembunyi tempat berkumpulnya belasan kelompok bandit dari berbagai pelosok daerah. Namun, pengembaraan Rian dan Kiki yang melintasi jalur perbukitan itu tidak berhenti sampai di sana. Dalam perjalanan menyusuri hutan, setiap kali ada kelompok bandit regional yang berusaha menyergap atau menghadang mereka, Kiki selalu melompat paling depan. Dengan Petir Keemasan Kuno dan kelincahan gerakan yang telah menyatu dengan Sirkulasi Jiwa Yin-Yang, kera emas kecil itu bertarung secara tunggal secara berturut-turut. Di Wilayah Jurang Gelap, Kiki menumbangkan Kepala Bandit Serigala Merah hanya dengan dua pukulan petir. Di Lembah Batu Putih, Kiki mempermalukan Pemimpin Bandit Besi Hitam dengan menepuk da
Akhirnya pengintai yang berhasil Martis tangkap langsung dibawa oleh Odele untuk diinterogasi.Namun nampaknya, kali ini orang itu benar-benar mengunci mulutnya dengan rapat. Setiap kali diancam dan bahkan dipukuli, orang itu hanya menyeringai. Dan lagi, ia seperti tidak merasakan sakit sedikitpun.Od
Jeritan minta tolong itu menggema di tengah derasnya hujan dan gemuruh petir. Martis berlari sekencang mungkin ke arah sumber suara dengan jantungnya yang berdebar-debar. Saat Martis tiba, ia melihat tenda Aidit sudah porak-poranda, kainnya terkoyak dan tercabik-cabik oleh tubuh raksasa anaconda it
Sosok misterius itu menatap tajam petir yang Martis maksud. Ia pun berkata dalam hatinya, 'Apa...?! Bukankah Petir ini adalah petir putih? Petir putih adalah petir yang paling tinggi! Celaka, aku belum pernah sebelumnya melawan petir tingkatan ini. Tapi apa boleh buat, aku tidak akan mau dipermaluk
Dalam sejarah hidupnya, sampai saat ini hanya ada dua orang yang mampu menghadapi serangan meteor miliknya. Dan orang kedua itu adalah Martis. "Si-siapa kau sebenarnya?" tanya Edmiral Kaziru yang akhirnya penasaran. "Aku?" Martis menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah kau sudah tahu, bahwa namaku ada







