MasukSinar matahari fajar yang hangat menembus celah-celah daun bambu keemasan, membiaskan pendaran cahaya sejuk di atas gubuk kayu tersembunyi. Di dalam gubuk, suasana terasa tegang namun penuh harap. Estias tak henti-hentinya berjalan mondar-mandir dengan langkah raksasanya yang canggung, sementara Rafaela duduk bersila seraya menyatukan kedua tangannya, memanjatkan doa tulus untuk keselamatan sang pahlawan api. "Estias, duduklah... kau membuat gubuk ini berguncang," bisik Rafaela lembut, meski matanya sendiri kerap mengarah ke pintu luar. "Bagaimana aku bisa duduk?!" balas Estias seraya menepuk dadanya panik. "Martis bertarung sendirian melawan Hantu Hitam itu! Kalau dia sampai lecet sedikit saja, aku tidak akan pernah memaafkan diriku—" BOOM! Sebuah deru angin hangat mendadak berembus dari luar, menghentikan kalimat Estias. Pendaran cahaya keemasan yang menenangkan merayap masuk melintasi celah jendela gubuk. Sesosok pria melangkah masuk dengan santai. Pakaian tempurnya yan
Langit di atas Pusat Kota Abadi telah melampaui batas kehancurannya. Pertarungan yang berlangsung selama berjam-jam tanpa jeda itu telah meratakan seluruh bangunan benteng, menyisakan kawah raksasa yang membara oleh benturan energi emas dan hitam. Udara di sekitarnya terdistorsi hebat, memancarkan gelombang panas bercampur tekanan dingin yang membekukan darah. CLANG! BANG! BOOOM! Di angkasa, Martis melayang cepat, melayangkan serangkaian tinju berbalut Api Suci Abadi Tingkat Dewa. Namun sosok bayangan misterius itu secara lincah meleleh menjadi lautan benang hitam, menyerap sebagian daya hantam pukulan Martis sebelum menyatu kembali di sudut lain dan melancarkan tebasan balasan yang merobek bagian tepi pakaian tempur Martis. "Hahaha! Percuma, Martis!" suara ghaib sosok bayangan itu bergema garing dari segala arah. "Tubuhku adalah Kehampaan murni! Tidak ada wujud padat yang bisa kau hancurkan! Setiap serangan apimu hanya akan terserap dan menjadi bahan bakar bagi kekuatan abadi
Langit di atas Pusat Kota Abadi tidak lagi berwarna biru, melainkan berubah menjadi lautan kegelapan pekat yang membeku. Di puncak menara tertinggi kota, formasi sihir Kehampaan Abadi berputar liar, menyedot partikel kehidupan dari tanah dan udara di sekitarnya. Di tengah-tengah alun-alun benteng utama, telah bersiaga puluhan ribu prajurit elit Sekte Bayangan Abadi. Mereka terdiri dari para algojo bertopeng, komandan zirah hitam, hingga raksasa-raksasa hasil eksperimen energi kehampaan. Senjata-senjata mereka yang beracun memancarkan pendaran ungu pekat, membentuk lautan prajurit yang tampak tak tertembus. Di atas puncak menara, melayang sosok bayangan misterius. Wajahnya yang tanpa bentuk padat tersenyum sinis saat merasakan gelombang panas yang mendekat dari angkasa. "Kau datang juga, Martis..." bisik sosok bayangan itu dengan suara ghaib yang bergema gading. "Tetapi datang seorang diri menghadapi puluhan ribu pasukanku adalah bentuk kebodohan tertinggi—" BOOOOOOOOOOMMMM!
Angin sejuk berembus lembut melintasi Hutan Bambu Emas, menggoyangkan dedaunan yang memendarkan pantulan cahaya keemasan. Di dalam gubuk kayu yang tenang, kondisi Rafaela tampak semakin membaik secara fisik. Rona di wajahnya kian segar, tetapi tatapan matanya masih kerap menyipit ketakutan setiap kali mendengar kepakan sayap burung atau derit batang bambu yang bergesek. Penyiksaan berpuluh-puluh tahun di dalam penjara bawah tanah yang gelap telah menorehkan trauma jiwa yang amat dalam pada diri wanita dari Suku Cahaya Purba tersebut. Setiap kali bayangan hitam melintas, tubuh kurusnya akan gemetar hebat, dan ia refleks berusaha meringkuk di sudut ruangan. Martis berdiri di ambang pintu gubuk, menatap lanskap Pusat Kota Abadi yang tampak samar di horizon jauh. Pendaran Mata Penglihat Kehampaan di mata keemasannya menangkap gumpalan aura kegelapan yang kian membesar di atas langit kota, sebuah tanda bahwa sosok bayangan misterius tengah menyempurnakan ritual terakhirnya setelah ke
Atmosfer di puncak Altar Kehampaan terasa begitu pekat oleh aroma racun dan gumpalan asap hitam. Di tengah-tengah struktur melingkar dari batu hitam purba, Rafaela terikat pada sebuah pilar kristal yang mengisap daya hidupnya secara brutal. Setiap detik, cairan emas murni, esensi dari Esensi Cahaya Purba milik Rafaela terperas keluar dan mengalir menuju cawan-cawan tembaga di sekeliling pilar. "Ugh... a-ampun..." rintih Rafaela dengan suara yang kian menipis. Pandangannya mulai buram, dan pendaran cahaya jiwanya kian meredup mendekati titik padam. Pengawas Barok tertawa terkekeh dari balik topeng tengkoraknya seraya mengangkat kedua tangannya ke udara. "Hahaha! Sempurna! Tinggal sedikit lagi Esensi Cahaya Purba ini disedot total, maka Formasi Kehampaan Abadi di Pusat Kota Abadi akan bangkit sempurna! Musnah kau, Wadah Cahaya!" Namun, belum sempat Barok menyelesaikan mantranya— BOOOOOOOOOOOOOOMMMM! Puncak altar batu hitam itu hancur berantakan dalam satu ledakan dahsyat yan
Di saat yang sama, jauh di luar penjara bawah tanah,di atas langit perbatasan Pusat Kota Abadi, sebuah pendaran garis kilat keemasan murni melesat membelah awan dengan kecepatan yang sanggup meruntuhkan ruang dan waktu. Aura kemurkaan Martis yang telah mencapai puncaknya kini berada semakin dekat untuk membakar seluruh isi Kota Abadi. Pusat Kota Abadi yang megah mendadak mencekam. Langit biru di atas benteng utama terbelah dua oleh gumpalan awan keemasan yang berputar hebat, memancarkan gelombang panas jutaan derajat yang melumat habis formasi sihir pelindung milik Sekte Bayangan Abadi dalam hitungan detik. BOOOOOOOOOOMMMM! Tanpa ada peringatan, atap penjara bawah tanah yang terbuat dari lautan batu kehampaan tebal hancur berkeping-keping! Sinar matahari yang amat silau menerobos masuk, menyapu bersih lautan kegelapan di dalam koridor bawah tanah. Di tengah puing-puing batu yang beterbangan dan kepulan asap emas, sesosok pria melayang turun dengan anggun. Rambut keemasannya me
Jackson adalah seorang pejuang yang terkenal di kalangannya. Dia dikenal karena kecepatan dan kekuatannya yang luar biasa, tetapi yang paling menonjol adalah kemampuan khususnya. Jackson memiliki kemampuan untuk memanipulasi waktu. Dalam pertempuran, dia bisa melambatkan waktu di sekitarnya, memberi
Satan berhasil menghindari serangan itu dengan lincahnya."Jackson, terima kasih. Tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika kau datang terlambat sedikit saja tadi," ucap Martis dengan suara lemas, ia memegangi tenggorokannya yang terasa sakit."Maafkan aku, aku terjebak dalam ledakan kekuatan yang
Asidi mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke mata sang Master. "Master, ada orang bernama Jackson dan Martis. Mereka berdua telah mengambil artefak bola cahaya yang kita incar selama bertahun-tahun. Aku khawatir jika mereka saat ini telah berhasil membuka segel dari artefak tersebut, dan sekar
Wow, tampaknya Jendral William memiliki kekuatan yang luar biasa! Meskipun terlihat terluka dan terbaring, dia masih memiliki semangat dan kegigihan untuk melawan. Dia bangkit kembali dengan tekad yang kuat, menunjukkan bahwa pertempuran ini belum berakhir.Dengan gerakan yang cepat, Jendral William







