LOGINSetelah peristiwa haru dan penyerahan warisan di goa raksasa, rombongan keluarga Pahlawan Api kembali ke area perkemahan di dasar Lembah Jurang Kabut Purba. Pendaran mentari pagi membiaskan sinar keemasan yang hangat menembus kabut perak, menyinari pelataran rumput luas di dekat tepi danau batu. Suasana perkemahan kini terasa makin hidup dan penuh semangat. Martis berdiri tegap di tengah pelataran dengan jubah tempurnya yang melambai lambat ditiup angin. Di sisinya, Mia duduk anggun di bangku kayu ditemani cangkir teh hangat, menatap suami dan anak-anaknya dengan senyuman penuh kehangatan. Di hadapan Martis, telah berbaris tiga murid kecilnya. Rian berdiri paling kanan dengan cengkeraman mantap pada Belati Naga Perak Yin, Lina berdiri di tengah mengayunkan Tongkat Sihir Kecil Bintang Murni, dan di sebelah kiri berdiri Kiki, kera emas kecil yang kini membusungkan dadanya yang mungil seraya mengenakan kain merah kecil yang diikatkan Rian di dahinya. Martis melipat kedua tanganny
Pendaran berkilauan dari jutaan keping uang emas, batangan perak, serta kristal-kristal elemen yang melimpah masih memenuhi seluruh penjuru ruangan rahasia di dalam goa. Kehangatan dan gelak tawa keluarga Pahlawan Api menyatu indah dengan kebanggaan Kiki yang berdiri di atas tumpukan batangan emas seraya membusungkan dadanya yang mungil. Martis melangkah maju ke tengah ruangan rahasia. Mata keemasannya berpendar halus saat memproses interaksi dengan antarmuka sistemnya. [Aktivasi Sistem Pahlawan Api: Modul Ruang Penyimpanan Dimensi Tak Terbatas] [Kapasitas: Tidak Terbatas / Steril Dari Elemen Luar] "Harta karun yang begitu melimpah ini sangat berharga untuk masa depan Rian, Lina, dan pembangunan Desa Lembah Asri," ujar Martis dengan suara beratnya yang tenang dan sarat wibawa. "Aku akan menggunakan ruang penyimpanan dimensi sistem milikku untuk menyimpan seluruh perbendaharaan ini agar aman dari jangkauan pihak-pihak luar yang tidak bertanggung jawab." Martis mengibaskan tan
Keesokan harinya, sinar mentari pagi membias hangat menembus tebalnya kabut perak di Lembah Jurang Kabut Purba. Suasana perkemahan di tepi danau terasa amat sejuk dan damai. Rian dan Lina telah berdiri tegak di tengah pelataran rumput untuk melanjutkan latihan rutin mereka. Rian dengan sigap mengayunkan Belati Naga Perak Yin, sementara Lina kecil mengalirkan pendaran sihir pemurni melalui Tongkat Sihir Kecil Bintang Murni. Di dekat mereka, kera kecil berbulu emas yang kini diberi nama Kiki duduk santai di atas batu rata seraya menikmati buah persik purba buatan Mia. Namun, saat Rian hendak mengeksekusi tebasan bayangan berikutnya, Kiki mendadak melompat berdiri. CHIRP! CHIRP! KIK-KIK! Kera emas kecil itu melompat lincah ke arah Rian, menarik-narik ujung jubah latihan Rian seraya memancarkan kilatan petir emas halus dari tubuhnya. Kiki melompat ke udara, menggerakkan kedua tangan kecilnya dengan isyarat yang amat lincah, lalu menunjuk berulang kali ke arah lorong utara lembah, ar
Langkah Rian terasa sangat ringan saat ia berjalan cepat menembus tebalnya kabut perak di celah tebing Lembah Jurang Kabut Purba. Monyet kecil berbulu emas murni itu masih nyaman duduk melingkar di atas kepalanya, memegang dua helai rambut Rian seraya terkikik halus setiap kali Rian melompati bebatuan licin. Namun, begitu Rian melangkah melewati benteng batu yang membatasi area perkemahan dekat danau, langkah kakinya seketika terhenti kaku! DEG... Tepat di tengah pelataran rumput, berdiri sesosok pria tegap berjubahkan kain tebal dengan sulaman benang emas yang melambai lambat ditiup angin pagi. Sosok itu tak lain adalah Martis. Sang Penguasa Api berdiri membelakangi terbitnya mentari, melipat kedua tangannya di dada dengan raut wajah yang amat datar dan tenang. Mata keemasannya berpendar begitu pekat di balik keremangan kabut, menatap lurus ke arah Rian yang baru saja keluar dari rimbunnya semak. Rupanya, sejak detik pertama Rian melangkahkan kakinya keluar dari dalam tenda s
Malam bertabur bintang menaungi Lembah Jurang Kabut Purba. Di dalam tenda sutra purba yang hangat dan nyaman, keheningan malam hanya diiringi oleh suara deru napas halus Rian dan Lina yang tertidur lelap setelah menjalani latihan fusi energi yang teramat menguras stamina dan daya batin. Namun, di dalam alam bawah sadar Rian, sebuah fenomena ajaib tengah terjadi secara bertahap. Rian merasa jiwanya terlepas dari raga dan melayang menembus tebalnya kabut perak yang menyelimuti seluruh pelataran lembah. Dalam penglihatannya yang remang-remang namun terasa teramat nyata, ia berjalan menyusuri celah-celah tebing terjal yang dipenuhi akar-akar pohon purba menjalar. Di balik rimbunnya semak beracun yang terisolasi dari pandangan mata manusia biasa, terdapat sebuah mulut goa kuno yang tersembunyi amat rapat. Dari dalam goa tersebut, terpancar sebuah pendaran cahaya keemasan yang teramat hangat, seolah-olah memanggil esensi Belati Naga Perak Yin di dalam raga Rian. SSZZZT! Rian tersent
Kubah cahaya keemasan yang membawa Martis, Mia, Rian, Lina, dan Duo Naga Lele Purba mendarat mulus di atas hamparan tebing batu hijau di dasar Lembah Jurang Kabut Purba. Lembah ini terisolasi secara sempurna oleh dinding-dinding tebing terjal setinggi ratusan meter yang menjulang menggapai angkasa. Kabut tebal berwarna perak melayang lambat di udara, membiaskan energi alam yang teramat murni dan dingin. Suasana di dalam lembah terasa begitu tenang, hanya diiringi oleh gemericik air terjun purba yang meluncur deras menghantam danau batu di dasar jurang. [Aktivasi Sistem Pahlawan Api] [Kategori: Toko Perlengkapan & Kebutuhan Logistik] Martis mengibaskan tangan kanannya ke arah pelataran rumput yang luas di dekat danau. FLASH-SZZZZT! Dari balik pendaran cahaya sistem, bermunculan sejumlah perlengkapan kemah tingkat tinggi. Sebuah tenda kain sutra purba berukuran besar yang dilengkapi dengan perisai penghangat otomatis terbentang tegap di atas tanah. Di sebelahnya, bermunculan
Martis langsung bersiap akan menuju toko kue milik orang tuanya itu."Martis, biar Ayah saja yang ke sana. Kau tetaplah di sini saja," ucap Marten yang ingin mencegah Martis pergi. Marten khawatir akan terjadi sesuatu pada anak kesayangannya ini."Tidak Ayah! Mungkin tadi belum cukup untuk membuat mer
Akhirnya pengintai yang berhasil Martis tangkap langsung dibawa oleh Odele untuk diinterogasi.Namun nampaknya, kali ini orang itu benar-benar mengunci mulutnya dengan rapat. Setiap kali diancam dan bahkan dipukuli, orang itu hanya menyeringai. Dan lagi, ia seperti tidak merasakan sakit sedikitpun.Od
Jeritan minta tolong itu menggema di tengah derasnya hujan dan gemuruh petir. Martis berlari sekencang mungkin ke arah sumber suara dengan jantungnya yang berdebar-debar. Saat Martis tiba, ia melihat tenda Aidit sudah porak-poranda, kainnya terkoyak dan tercabik-cabik oleh tubuh raksasa anaconda it
Sosok misterius itu menatap tajam petir yang Martis maksud. Ia pun berkata dalam hatinya, 'Apa...?! Bukankah Petir ini adalah petir putih? Petir putih adalah petir yang paling tinggi! Celaka, aku belum pernah sebelumnya melawan petir tingkatan ini. Tapi apa boleh buat, aku tidak akan mau dipermaluk







