登入Satria berdiri menatap keluar jendela ruang kerjanya, membiarkan asap dari celah bibirnya membumbung tipis sebelum menghilang di udara malam. Bayangan konflik di keluarganya semakin keruh, dan instingnya menyuruh untuk memeriksa setiap celah yang ada di sekitarnya—termasuk orang-orang paling terdekat di rumah ini.Tidak ada yang sederhana seperti yang orang lihat di luar.Suara ketukan halus dua kali di pintu memecah sepi. Sastro melangkah masuk tanpa suara, menghentikan langkahnya tepat di belakang Satria."Apa yang kamu dapat tentang Budhe Murni dan suaminya, Sastro?" tanya Satria dingin, tanpa berbalik badan.Suara ketukan halus dua kali di pintu memecah sepi. Sastro melangkah masuk tanpa suara, menghentikan langkahnya tepat di balik punggung Satria."Apa yang kamu dapat tentang Budhe Murni dan suaminya, Sastro?" tanya Satria dingin, tanpa berbalik badan.Sastro menunduk sopan, melangkah satu pijakan lebih dekat lalu berbisik pelan."Saya menemukan hal aneh, Ndoro Den," ucap Sastro
"Katakan padaku di mana Satria menyembunyikan Nismara!" cecar Prameswari kasar. Jemarinya mencengkram rahang Budhe Murni hingga wanita tua itu meringis kesakitan, air matanya perlahan merembes dari pelupuk mata."Ndoro Ayu… tolong lepaskan dulu…" cicit Budhe Murni parau, berusaha menahan rasa panas yang menjalar di pipinya."Prames, lepaskan!"Suara berat Arya Pradipta menggelegar dari ambang pintu, membuat Prameswari seketika menghempaskan cengkeramannya. Budhe Murni terbatuk pelan sembari memegangi rahangnya yang memerah."Dia tahu banyak hal, Yah!" sergah Prameswari tak mau kalah, napasnya naik-turun menahan gusar."Meskipun dia tahu banyak, bukan berarti kamu bisa bertindak sekasar itu padanya!" tegur Arya tajam. Pria paruh baya itu melangkah mendekat, mengulurkan tangan membantu Budhe Murni berdiri. "Murni, bangunlah."Prameswari mencibir. "Ayah membela pelayan ini?""Kamu tidak tahu apa-apa," omel Arya Pradipta menatap putrinya dengan raut gersang. "Selama ini dia yang sudah mel
“Hanya bisa menjadi gundikku katamu? Kamu terlalu naif Prames!” gertak Satria.Jemari Satria mengepal kaku di sisi tubuhnya. "Lagipula…" Prameswari sengaja menggantung kalimatnya, menatap lurus ke dalam iris mata Satria yang pekat. "Aku rasa sudah waktunya kita berhenti berpura-pura, Mas.""Berpura-pura tentang apa?"Prameswari maju satu langkah lagi, memangkas jarak di antara mereka. "Dokter pribadi keluarga sudah memeriksa kondisiku. Katanya kondisiku sekarang jauh lebih baik. Aku… aku sudah bisa melayanimu lagi sebagaimana mestinya seorang istri."Ruangan seketika terasa semakin menghimpit."Jadi," lanjut Prameswari dengan nada menang, "kau sudah tidak membutuhkan Nismara lagi untuk mengisi ranjangmu."Sorot mata Satria mendadak berubah sangat gelap. "Jangan," desisnya rendah.Suara itu begitu tajam hingga menghentikan napas Prameswari sesaat. Namun, wanita itu justru salah mengartikan ketegangan Satria sebagai pertanda bahwa argumennya berhasil menembus celah pertahanan suaminya.
Satria baru saja melangkah keluar dari ruang kerjanya ketika menyadari kehadiran Prameswari di ruang tengah. Dia jarang melihat Prameswari walaupun selalu pulang ke kediaman.Perempuan itu duduk tenang di atas sofa kayu berukir, mengetuk-ngetuk jemarinya santai pada cangkir teh porselen di meja. Raut wajahnya terpoles keanggunan seorang wanita aristokrat dengan harga diri yang tinggi dan tidak bisa diusik Satria hanya melirik sekilas, melanjutkan langkah tanpa niat berhenti."Ada apa?" tanya Satria datar. Dia tahu pasti Prameswari duduk di situ untuk menunggunya, bukan sebuah kebetulan.Prameswari menyunggingkan senyum tipis, kepalanya terangkat anggun. "Aku baru saja mendapat kabar dari Budhe Murni."Langkah Satria terhenti seketika. Pria itu berbalik pelan, menatap istrinya tajam. "Urusan apa?""Urusan Nismara."Suasana di ruang tengah langsung berubah kaku. Sorot mata Satria meredup pekat, namun Prameswari yang menangkap perubahan itu sama sekali tidak gentar dan pura-pura tidak
Langkah kaki Prameswari menerobos masuk ke dalam kamar pelayan di sudut belakang rumah utama. Budhe Murni yang sedang merapikan kain langsung menjatuhkan diri, berlutut di atas lantai semen yang dingin. Wanita paruh baya itu hafal betul temperamen Ndoro Ayu-nya—jika Prameswari sampai sudi melangkah ke biliknya begini, artinya ada badai besar yang siap menghantam."Kenapa harus berlutut? Bangunlah… aku hanya ingin mengobrol sebentar denganmu," ucap Prameswari sembari mengibaskan jemarinya pelan.Budhe Murni tak lantas percaya. Ia mendongak ragu, menatap raut wajah Prameswari yang terpoles senyum tipis."Apa aku sejahat itu sampai kamu harus sebegini takutnya?" sindir Prameswari ringan."Ti-tidak, Ndoro Ayu…" jawab Budhe Murni menyembunyikan getar suaranya. Dalam hati, wanita tua itu paham betul betapa licik dan kejamnya wanita di hadapannya ini.Prameswari duduk di tepi bangku kayu kecil, mengusap lipatan kebaya sutranya dengan anggun. "Budhe… sebetulnya belakangan ini aku memikirkan N
Nismara duduk di atas ranjang dengan kedua kaki ditekuk merapat ke dada, menyandarkan keningnya di atas lutut. Beberapa kali ia menarik napas panjang, mencoba mengurai beban berat yang menghimpit ulu hatinya."Belum tidur?" suara lembut Satria memecah sunyi. Pria itu mengulurkan tangan, menyentuh lengan Nismara pelan. "Kenapa? Banyak yang dipikirkan?"Nismara tidak langsung menjawab. Pikirannya memang terlalu bising oleh keraguan dan ketakutan yang berkecamuk."Ndoro Den… apakah benar kelak Ndoro Den akan membebaskan saya?" tanya Nismara lirih, hampir berupa bisikan.Satria menegakkan posisi duduknya. Tangan besarnya terulur merangkul bahu Nismara, menarik tubuh lemas gadis itu agar merapat ke sisinya.Malam terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Ada kehampaan yang aneh menggantung di dada Nismara, membuatnya merasa begitu rapuh."Ndoro…" panggilnya pelan."Hm?" sahut Satria halus, jemarinya bermain lembut di antara anak rambut di pelipis Nismara."Kalau suatu hari saya pergi…" Nismara







