LOGINKakek Easterwood menampar putranya dengan keras. Suara ini menggema di ruang tamu, membuat tidak hanya Clara, tetapi Louis dan nyonya Easterwood ketakutan.
Nyonya Easterwood mendekati suaminya. Dia memandang mertuanya dengan penuh rasa sakit hati. "Ayah mertua, apa yang kau lakukan?" Detik berikutnya, Sarah mendapatkan tamparan pada pipi bagian kirinya."Kakek!" Clara dan Louis berseru."Kamu ...." Pria yang sudah berusia senja itu memandang dua orang di depannyaSuasana di dalam kamar Theodore berbeda dari malam sebelumnya. Dua orang tersebut saling berhadapan, dengan kini posisi sang pria yang sudah duduk di sofa dalam kamar. Leiara masih duduk di ranjang, sama sekali tidak ada niatan untuk menyambut ataupun memberikan basa-basi tertentu. Pria bermata biru sekelam lautan itu menatap sosok perempuan di hadapannya. Pandangannya menggelap, sedikit terusik dengan retina hitam yang memperlihatkan sorot penuh kewaspadaan, seolah ia adalah musuh yang harus dimusnahkan. "Pertemuan kita sepertinya kurang berkenan." Theodore tidak membutuhkan jawaban dari wanita tersebut. "Dalam 14 hari ini, aku selalu masuk ke kamarㅡbaik di penthouse maupun di mansion, kau tidak pernah terbangun. Sesuatu mengganggu mu?" Leiara menggigit bibir bawah. Di enggan mengatakan yang sebenarnya, tetapi tatapan dari retina biru itu seolah menembus. Menjilat bibir bawah, "Setelah pertemuan dengan Alexander, I'm actually kinda craving some meatㅡlike steak kind of thing."The
Malam telah jatuh sepenuhnya di wilayah Reverie Selatan. Mansion besar itu hampir seluruhnya telah gelap. Hanya beberapa lampu dinding yang masih menyala di sepanjang koridor, meninggalkan bayangan panjang di lantai marmer.Leiara baru saja selesai menemui Alexander untuk membahas terkait sidang pengadilan yang akan datang. Sebastian juga menemaninya sebagai pendampingan dari keluarga Lantsov. Mereka di ruang tamu membahas beberapa hal dan apa-apa saja yang menurut Alexander melanggar ketentuan hukum di Amerika Serikat. Perempuan itu baru saja membersihkan diri dan mengenakan gaun tidur satin berwarna putih dengan tali spagethi yang melingkar di bahu. Ia menggunakan olive oil untuk perutnya. Sesekali dia juga berbincang kecil dengan si kembar di dalam perut. Tidak lupa juga dia membicarakan soal kegiatannya dihari ini dan esok hari. Tentu, semua itu dibalas dengan respon tendangan yang terkadang cukup membuat Leiara ngilu sedikit. "Alright, done." Dia me
Cahaya lampu samar di malam hari akibat pergerakan mobil yang konstan, menjadikan sebuah pemandangan tersendiri. Gemelut dalam pikiran, rasanya tidak lagi terasakan ketika melihatnya. Di depan, sosok Sergev menyetir. Dia melirik melalui spion di dalam, "Apakah anda tidak ingin mengungkapkan diri di depan madam dan nyonya, tuan muda kedua?""Nah," jawab Theodore. "The situation right now is queit dengerous, don't you think so?""I think it's depend on the person." Theodore tidak lagi menjawab. Beberapa hari terakhir ini, Leiara tidak pernah ke Apartemen. Sepertinya perempuan itu terlalu takut dengan beberapa 'kejutan' yang ia berikan. Membuatnya mau tidak mau harus pulang ke mansion. "Kita pergi dulu ke toko kue."Sergev menatap melalui kaca dengan pandangan bingung, "Maaf?" "Madam mu sepertinya belakangan ini mulai jarang merasakan craving." Sergev tidak tahu harus menjawab apa. Pria itu belum menikah, dan
Sudah hampir seminggu Clara berlalu lalang di daerah Connecticut dan Yale University. Kedatangannya kali ini adalah atas paksaan kakek Easterwood yang meminta nya untuk menghubungi Leiara dan meminta maaf. Bonusnya, dia bisa berbicara soal keuangan $5 juta yang sepat disinggung. Akan tetapi, dia sama sekali tidak menemukan. Masalahnya terletak pada dia sendiri tidak tahu di mana Leiara tinggal, dan jam berapa biasanya perempuan itu ke kampus. Sehingga, tidak mengherankan apabila dia seperti orang kebingungan di daerah ini. Darren Smith sesekali menemani. Sejak kejadian kebocoran produk, Clara tidak memiliki banyak waktu bersama sang kekasih. Pria itu sibuk ikut membantu perusahaan. "Bagaimana, apakah sudah bertemu dengan saudara tiri mu?" Clara menggelengkan kepala, "Tidak." Mengembuskan napas, "Aku lupa untuk menanyakan alamat dan jadwal kelas dia ke kakek." Darren tidak mengatakan apapun. Pria itu memiliki gerak gerik yang s
Ketika cahaya mentari memasuki celah-celah tirai, Leiara yang tertidur larut di malam hari, mulai terganggu. Perempuan itu menggeliatkan badan, melakukan pereganggan sejenak, sebelum kemudian duduk di atas ranjang. Dia menunduk, menatap perutnya, lalu menyentuh. “Good morning, babies. Apakah tadi malam kalian tidur dengan nyenyak.” Seolah teringat dengan sesuatu, dia mengeluas perlahan. “Oh, tadi malam … apakah kalian menendang?” Leiara tertawa kecil ketika tangannya merasakan satu pergerakan di dalam perutnya. Sepertinya tadi malam ia tidak mimpi. Merasakan tendangan aktif dari kedua anaknya, samar-samar dia bisa merasakan. Tetapi sepertinya, Leiara tidak tahu bahwa di sisi ranjang lainnya, pemilik kamar telah kembali. Hari ini dia ada deadline untuk mengumpukan tugas kuliah. Sehingga, ia akan pergi ke café untuk mengerjakan semua tugasnya. Berjalan ke kamar mandi, Leiara dengan kondisi masih setengah terpejam, menggoso
Malam semakin larut, tetapi deburan ombak menjadi iringan nada ditengah keseunyian. Lee membawa Leiara menuju sebuah batu besar yang letaknya skeitar 100-meter dari tempat pavilion di mana Nyonya Lantsov biasa minum the. Pria itu menekan sesuatu yang tidak terlihat oleh Leiara. Lalu, bebatuan di depan mereka terbuka perlahan. Leiara merasa takjub melihat kejadian di depannya. “Maafkan atas ketidaknyamanan anda, pintu ini dibuat untuk keamanan Nyonya.” “Tidak masalah,” ucapn Leiara, “Kau tidak perlu meminta maaf pada siapapun, Lee.” Lee tidak membalas, pria itu hanya tersenyum kecil. Lalu, mereka menuruni anak tangga yang tidak ada habisnya, sementara pada sisi tembok, terdapat penerangan cahaya dari lampu kuning. Sekitar 10 menit kemudian, barulah mereka sampai di ruang bawah tanah. “Kau sudah datang, Lee.” Suara yang Leiara dengar memang benar adalah suara Nyonya Lantsov. Akan tetapi, pembawaann







