تسجيل الدخول"enggh paman!" "sssttt pelankan suaramu sayang, atau ayah ibumu akan datang!" ••• Mark Dolton, menolak untuk dijodohkan dengan teman masa kecilnya—Clera, lalu kabur ke Milan menghampiri kakak angkatnya. Sialnya, Mark jatuh hati dengan keponakannya sendiri, Elase Wendo, gadis cantik berusia 19 tahun dengan paras sempurna. Saat hubungan mereka semakin intens, Mark terjebak atas rencana mamanya sendiri, tanpa ia tahu jika Elase sudah mengandung benihnya ketika ia memutuskan untuk menikahi Clera.
عرض المزيد“Mark tidak akan menikahi Clera ma, pernikahan bisnis tidak akan pernah ada selagi aku yang memegang perusahaan papa!”
Mark Dolton— pewaris tunggal Dolton yang kini memimpin salah satu Perusahaan raksasa di Palermo, terjerat pilihan sulit dari mamanya untuk menikahi putri rekan bisnis perusahaan keluarga mereka, demi membangun istana yang kuat serta memperbesar pundi-pundi kekayaan perusahaan. Mera mendesis dengan geram kala putranya terus menolak semua kencan buta dan perjodohan yang ia atur. Namun Mera sudah bertekad bulat, ia menghentikan semua kencan buta dan perjodohan dengan wanita di luar sana dengan Clera, teman semasa kecil Mark sekaligus rekan bisnis dekat mereka. Mera anggap itu jalan satu-satunya yang sangat efektif untuk memberantas rumor media yang terus menyebarkan isu jika pewaris Dolton tidak tertarik dengan perempuan. Karena rumor media itu saham perusahaan sempat turun, membuat Mera enggan untuk terlihat lebih kecil dari perusahaan kakaknya. Apa pun akan Mera lakukan demi membuat Perusahaan suaminya unggul dari perusahaan kakaknya sendiri. “Mama tidak mau tahu, mau tidak mau, nanti malam kamu harus datang bersama mama ke mansion Alerik, kita bicarakan langsung pertunangan kamu dengan Clera!” ucap Mera dengan paten, sulit untuk Mark bantah. ••• Dolton Company “Kali ini kau akan dinikahkan dengan Clera? Ohh kurasa bibi Mera memang sudah lelah dengan rumor media di luaran sana yang memberitakan dirimu tak tertarik dengan perempuan,” ujar Zen membuat Mark kian tambah dongkol. Zen memperbaiki posisi duduknya, memajukan tubuhnya untuk berbicara lebih serius pada Mark. “Sekarang jujur padaku, kau masih tertarik dengan perempuan kan? Pasalnya aku sudah hampir 10 tahun bekerja denganmu, aku takut sesuatu merubah pikiranmu,” goda Zen membuat Mark mendecakkan lidahnya dengan kasar. Zen menghempaskan punggungnya ke kursi dan berkata, “Kalau aku tetap setia menunggu keponakanmu yang satu itu, Elase. Ahhh aku sungguh merindukannya, sudah berapa tahun kita tidak bertemu? Hampir 5 tahun bukan sejak kak Wendo pergi meninggalkan Palermo? Kurasa dia akan bertambah cantik,” Ucapan Zen seketika langsung membuat Mark seperti mendapatkan kehidupan baru. Ya, Elase Wendo—putri semata wayang kakak angkatnya yang kini tinggal di Milan, sudah sebesar apa keponakannya itu? “Saat menikah nanti, kau akan mengundang kak Wendo kemari kan? Kapan lagi kau akan menemuinya?” tanya Zen membuat Mark seketika langsung bangkit dari kursi kerjanya. “Terima kasih, bulan ini gajimu naik dua kali lipat!” ujar Mark yang kian bergegas berlari keluar dari ruangannya. Zen terperangah akan hadiah yang Mark berikan namun ia bingung atas dasar apa gajinya dinaikkan dua kali lipat olehnya? ••• Mansion Elerik “Ya ampun Mark, bibi sungguh terpana dengan parasmu yang sungguh menawan di usiamu yang sudah 31 tahun ini,” ujar Taye dengan penuh senyuman yang mengembang lebar. Elerik tertawa mendengar pujian istrinya pada Mark. “Bukankah ia sangat sama persis dengan masa muda Dolton? Selalu tampan dan menawan!” Kali ini Mera yang tertawa. Mark terlihat hanya menarik sudut bibirnya samar, raganya memang mengikuti kemauan mamanya untuk datang ke mansion Elerik, namun tidak dengan tekad yang ia simpan. Mera kemudian langsung berterus terang atas maksud dari kedatangannya. “Taye, kau tahu kita sudah berteman sejak lama, anak-anak kita sudah tumbuh dewasa, aku ingin kita bisa terus berteman sampai kita tua, karena itu aku berencana menjodohkan Mark dengan putrimu, bagaimana menurutmu?” Taye tersenyum ria, menoleh pada putrinya dan mengangguk penuh kegembiraan yang diangguki oleh Elerik juga. “Itu yang kutunggu selama ini Mera,” ucap Elerik membuat Mera bernapas lega kala niatnya diterima baik oleh mereka. Clera tampak tersenyum malu-malu melihat Mark, tampak bersemu merah pipinya. Di tengah kegembiraan dua keluarga itu, Mark memilih menghancurkan senyuman mereka dengan ucapan spontannya. “Tapi Mark tidak akan menikahi Clera, aku punya calon istri sendiri,” seketika Mark langsung berdiri dari kursinya, membuat Mera mencoba menarik tangan kekar putranya namun tekad pria tua itu sungguh luar biasa saat ini. Mark melihat Elerik dan Taye, kemudian melihat mamanya. “Mark akan membawa dia ke hadapan kalian!” ucap Mark sebelum akhirnya memilih meninggalkan mereka di meja panjang yang memiliki sejuta harapan dari dua keluarga besar.Setelah kejadian semalam, Mark benar-benar kesulitan mengendalikan pikirannya setiap kali melihat Elase. Terlebih ketika gadis itu tersenyum lepas seolah tidak terjadi apa-apa. Senyum sederhana itu saja sudah cukup membuat kepalanya kembali dipenuhi bayangan yang berusaha keras ia singkirkan sejak pagi.Bahkan pagi ini Mark sampai mandi tiga kali. Bukan karena ia kotor, melainkan karena ia membutuhkan sesuatu untuk menenangkan dirinya sendiri dan meredakan gejolak yang terasa begitu sulit dikendalikan.Namun semua usahanya seakan sia-sia.Sebab sekarang Elase duduk tidak jauh darinya, menikmati sarapan dengan santai. Gadis itu bahkan sempat tertawa kecil ketika melihat sesuatu di ponselnya, sama sekali tidak menunjukkan kecanggungan sedikit pun.Mark hanya bisa menghela napas panjang dalam hati.Bagaimana mungkin gadis itu bisa bersikap senormal itu?Sementara dirinya hampir tidak mampu menatap wajah Elase terlalu lama.Hingga akhirnya Wendo membuka suara."Mark, apa kau terburu-buru
Mark sungguh tidak bisa tidur malam itu. Sepulang dari pantai, pikirannya justru semakin kacau. Kejadian yang berlangsung beberapa jam lalu terus berputar di kepalanya, seolah menolak untuk memberinya sedikit saja ketenangan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi rasa kantuk sama sekali belum datang. Mark mengembuskan napas gusar sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju balkon kamar, membuka pintu kaca, lalu menyalakan sebatang rokok. Bara kecil menyala di antara jemarinya. Ia mengisapnya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap perlahan sambil memandangi gelapnya perkebunan milik kakaknya. Namun beberapa detik kemudian, pandangannya bergeser ke kanan. Di sanalah kamar Elase berada, tepat di samping kamarnya. "Dia bisa tidur?" gumam Mark kepada dirinya sendiri. Entah mengapa pertanyaan sederhana itu justru membuat dadanya semakin tidak tenang. Tatapannya tak beranjak dari pintu balkon kamar Elase. Ia kembali mengisap rokoknya, kemudian
Elase masih terdiam. Pertanyaan Mark menggantung di antara mereka, lebih berat daripada keheningan malam yang menyelimuti taman.Ia tahu kata “menginginkan” yang baru saja diucapkannya memiliki arti lebih dalam daripada sekadar rasa suka. Namun, ketika menatap mata Mark, Elase tidak menemukan keraguan dalam dirinya—hanya keberanian yang perlahan menguat.“Aku tahu,” jawabnya akhirnya.Suaranya pelan, tetapi terdengar jelas.Mark mengerutkan kening. Tangannya yang tadi berada di tengkuk Elase perlahan turun ke bahunya. Ia berusaha menciptakan jarak, meskipun hatinya sendiri menolak untuk menjauh.“Tidak, Elase. Kurasa kamu belum benar-benar tahu.”“Aku tahu Paman jauh lebih dewasa dariku,” balas Elase. “Aku juga tahu perasaan ini mungkin akan membuat semuanya menjadi rumit.”Ia menundukkan kepala sesaat, lalu kembali menatap Mark.“Tapi aku tidak ingin Paman terus menganggap perasaanku sebagai sesuatu yang akan hilang begitu saja.”Mark terdiam. Sorot matanya berubah serius.Elase meng
Hari sudah benar-benar malam ketika Mark dan Elase masih bertahan di pesisir pantai.Langit begitu gelap, hanya dihiasi cahaya bulan yang memantul di permukaan laut. Ombak datang silih berganti, pecah di bibir pantai lalu kembali surut meninggalkan suara gemerisik yang menenangkan. Angin laut berembus cukup kencang, membawa hawa dingin yang perlahan menusuk hingga ke kulit.Melihat Elase beberapa kali merapatkan kedua lengannya ke tubuh, Mark akhirnya mengumpulkan beberapa potong kayu kering yang ada di sekitar mereka dan membuat api unggun kecil.Api itu menyala di antara mereka.Cahayanya menari-nari, terkadang membesar ketika diterpa angin, terkadang mengecil sebelum kembali berkobar. Pantulan warna jingga dari api sesekali menerangi wajah Mark dan Elase yang duduk berdampingan di atas pasir.Malam itu terasa begitu santai.Tidak ada pekerjaan. Tidak ada keramaian. Tidak ada orang lain yang mengganggu.Hanya mereka berdua, suara ombak, api unggun, dan beberapa bungkus camilan yang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.