ログインLeiara Easterwood, gadis berusia 22 tahun, dipaksa untuk menerima sel telur dari pria yang dinyatakan sudah meninggal dunia dua minggu yang lalu. Keluarganya tidak bisa menolak dikarenakan posisi pria itu jelas jauh di atas keluarga Easterwoodㅡyang notabene hanyalah keluarga kaya kelas menengah. Dia berusaha menerima dengan syarat dia diperbolehkan untuk melanjutkan pendidikan. Dia berencana setelah melahirkan, akan pergi bersama anak-anaknya. Namun suatu ketika, di malam hari, dia dikejutkan dengan sebuah benda asing. Awalnya ia merasa itu hanya kebetulan, sampai kemudian, ia memergoki seorang pria yang datang dari jendela kamarnya. "Siapa kau?" "Oh, aku tidak menyangka pria tua itu memaksakan benih ku ke dalam rahim mu." Leiara, "...." Apakah suaminya yang dinyatakan meninggal dunia, benar-benar hidup, atau itu hanyalah ilusinya semata?
もっと見るBerdiri di tanah seluas 8000 meter, sebuah rumah mewah bergaya minimalist modern. Rumah ini berwarna putih, hampir keseluruhannya dipenuhi dengan kaca, kolam renang pada bagian belakang rumah, dan garasi mobil bawah tanah yang memungkinkan bagi sang pemilik rumah untuk memiliki beberapa koleksi mobil.
Apakah ini mansion? Bukan, rumah ini hanyalah rumah mewah kelas atas biasa, mansion kecil yang tidak ada apa-apanya dengan mansion dari keluarga konglomerat lainnya. Suasana tenang nan sunyi di malam hari, lampu-lampu sudah dimatikan. Namun, terdapat sebuah pergerakan dari salah satu kamar. Dia adalah seorang perempuan, berambut sebahu, mengenakan tanktop dan hotpans, menengok kanan dan kiri, sebelum kemudian berjinjitㅡmengendap-endap. Setelahnya ia menutup pintu, dan menggeret koper. Dari lantai dua, seorang perempuan berambut hitam panjang, bersandar pada balkon. Mata hazelnya tidak pernah meninggalkan setiap pergerakan yang dilakukan oleh perempuan yang baru saja meninggalkan pekarangan rumah, hingga menghilang dibalik pagar putih yang menjuntai tinggi. "...." Dia adalah Leiara Easterwood. Perempuan bermata hazel ini hanya memberikan tatapan datar, sebelum mengela napas. Entah mengapa, perginya perempuan itu dari rumah ini sungguh tidak sedikitpun membuat hatinya lega. Justru sebaliknya, dia merasa akan ada badai yang datang menerjang. "Clara," bisiknya pada angin, "apa yang kau rencanakan?" ▪︎▪︎▪︎ Pagi hari adalah tanda dari semua makhluk hidup untuk melakukan aktivitas. Mereka yang terlelap, mau tidak mau harus memaksakan tubuh demi mencari pundi-pundi uang agar bisa melanjutkan kehidupan. Sebagian lainnya lebih memilih bersantai sejenak, menikmati pagi dengan sarapan dan berolahraga, baru kemudian berangkat ke kantor. Rumah ini di dominansi oleh warna putih gading. Interior di dalamnya terdapat warna gold yang memberikan tempramen elegan. Namun, dari itu semua, di meja makan, suasana agak tidak terlalu menyenangkan. Kepala keluarga Easterwood menatap satu persatu orang yang ada di meja makan. "Di mana Clara?" Bungkam. Tidak ada satupun dari mereka yang mau membuka suara. Pada ujung meja makan, seorang gadis tetap menyantap sarapannya tanpa perlu repot untuk menggubris. Namun lainnya, berusaha keras untuk membuat pria yang berstatus sebagai kepala keluarga untuk tenang. "Kakek, jangan cemaskan Clara." Adalah Louis Easterwood, saudara bungsu. Usianya sekitar 20 tahun, baru akan memasuki masa skripsiㅡusia yang tidak begitu jauh dari perempuan yang masih menyantap makananya di ujung sana. Nyonya Easterwood mengangguk. "Mertua, jangan cemas, saya yakin Clara pergi bersama temannya." Wanita itu menginjak kaki sang suami yang sejak awal terdiam. Matanya melotot, memberikan isyarat agar suamianya membantu. Tuan Easterwood mengelap sisa-sisa minyak yang ada dimulut dengan menggunakan tisu. "Dia tidak akan lari dari tanggung jawab. Bagaimanapun juga tanggal pernikahan sudah ditentukanㅡkeluarga Lantsov akan datang menjemput dua minggu lagi." Kakek tampak tidak senang dengan pengaturan keluarga yang terlihat protektif, tapi tidak pada tempatnya. Sejak muda, kakek di kenal sebagai seorang diktator perusahaan yang mendiri dan tegas. Sehingga kesalahan sedikit saja akan berakibat sangat fatal dalam pandangannya. "Kalau begitu, buka cctv. Mari kita lihat ke mana Clara pergi." Matanya menangkap seorang perempuan yang baru saja mengambil minumnya, sarapan yang disantap, sudah hilang masuk ke dalam perutnya. Kakek Easterwood berdecak. "Kau," tegurnya, "Tidak bisakah kau melihat keadaan?" Matanya memancarkan sinar kebencian yang jelas. Dia adalah cucunya yang lain, cucu haram yang dibawa pulang oleh putranya yang tidak berguna. Kakek tidak suka dengan keberadaan anggota keluarga tidak resmi. Baginya, itu adalah aib keluarga yang semua orang tidak boleh tahuㅡapalagi orang luar. Mau taro di mana wajahnya nanti? "Kakek, mau akuㅡ" "Jangan panggil aku kakek dengan mulut kotor mu!" Perempuam itu terdiam sejenak. Kalimat ini, sejak ia kecil sering sekali mendengarnya, bahkan mungkin kalimat ini sama sekali tidak sedalam dan semenusuk yang lainnya. Akan tetapi, entah mengapa, dia selalu merasa sakit. Ikatan keluarga itu ... sebenarnya seperti apa? Sejak kecil, ia tidak pernah mendapatkan hal tersebut. Jangan salahkan dirinya apabila ia terkadang iri dengan yang lain. Atau apakah semua keluarga kaya raya seperti ini? Entahlah, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan ini. Perempuan itu menelan ludah, "Tuan Xenof, menurut anda, saya harus bagaimana menanggapinya?" Bukankah kau belum tidur pada malam hari?" Kalimat ini jelas mengejutkan perempuan berambut hitam. "Oh, apakah kau memperhatikan ku, tuan Xenof?" Kakek, "...." Louis menberikan tatapan dinginnya. "Leiara, jaga ucapan mu." Perempuan itu mengangkat bahu, "Aku tidak bisa menjaga ucapan ku, Louis, jangan bercanda." "Apa orang tua mu tidak mengajari mu sama sekali, hah?!" Louis menggertakkan gigi. Pemuda itu memandang perempuan yang lebih muda darinya dengan tatapan jijik. "Sungguh anak buangan!" Leiara menatap lekat sosok pria di sana. Tatapan ini membuat Louis tidak nyaman. Pria itu melotot, "Apa?" Nadanya sinis. "Tidak," jawab Leaiara tenang, "Aku memang tidak diajarkan oleh ayah ku sopan santun, jika kau lupa, Louis." Pernyataan ini sangatlah sarkastik. Melempar rasa bersalah pada sisi Louis alih-alih tenggelam dalam perasaan sedih yang tak kunjung habis. Louis tercekat, "Kauㅡ" Secara tidak langsung, Leiara mengatakan bahwa dia sedang mengkritisi sang ayah. Pria itu menatap pada ayahnya dengan takut-takut, "Ayah, aku ... bukan maksud ku begitu." Nyonya Easterwood menggebrak meja makan, membuat suara kelontang antar sendok garpu yang beradu dengan piring. "Jaga mulut mu, Leiara. Kau menghina suami ku." Leiara menggelengkan kepala. Perempuan itu tanpa sadar memilili kebiasaan yang sama dengan tuan Easterwood; mengelap sisa minyak yang ada di mulut dengan tisu, lalu beranjak dari meja makan. "Lakukan sesuka mu." "Leiara!" panggil nyonya Easterwood dengan emosi, "Leiara, berhenti di sana!" Tuan Easterwood melirik melalui ujung mata, "Sudahlah, biarkan saja anak itu." Nyonya Easterwood mendengus. Dia merasa sarapan pagi ini sungguh tidak nikmat. Putri sulungnya, Clara, pergi entah kemana, sementara anak haram di rumah ini berkeliaran bebas yang membuatnya muak. Kakek yang menyaksikan kejadian ini hanya bisa menenangkan dirinya sendiri. "Lihat anak haram yang kau bawa," ucapnya disertai dengan dengusan penuh amarah, "Jika dia tidak ada, mungkin Clara tidak akan pergi dan menghindar dari perjodohan ini." Tuan Easterwood tidak lagi banyak bicara. Pria itu menyelesaikan minumannya, sebelum pergi menuju kantor. Dia menatap sang putra, "Kuliah dengan benar. Beberapa terakhir ini, papa dengar dari sekretaris bahwa dosen berusaha menghubungi mu terkait nilai." "...." Louis rasanya ingin menggali kubur. "Maafkan aku pa, dosen satu ini sulit sekali dihubungi, sehingga akuㅡ" "Sulit sekali dihubungi, atau kau yang sama sekali tidak bisa dihubungi?" Pertanyaan ini membuat Louis terdiam. Ia kembali mendengar ayahnya mengatakan, "Semua itu hanya kau sendiri yang mengetahuinya." Setelah itu, barulah tuan Easterwood pergi dari rumah menuju kantor. Kantor yang ia kelola ini belum lama berdiri, dia adalah generasi kedua yang mewarisi perusahaan. Tidak heran sebenarnya mengapa keluarga Easterwood, walau terlihat memiliki banyak uang, masih belum bisa membangun mansion mewah di Beverly Hiils, salah satu hunian mewah di Loss Angeles, Amerika Serikat. Kakek menatap menantunya, dia masih dipenuhi amarah. "Urusi anak perempuan mu dengan baik, Amanda. Aku tidak peduli dia pergi ke mana, sebelum dua minggu, dia harus sudah ada di rumah. Jika tidak, tidak hanya Clara, tapi perusahaan bisa terancam." Nyonya Easterwood menggertakkan giginya. Dia tidak menyangka aksi kecilnya dan sang putri akan menjadi boomerang bagi keluarga. "Baik, ayah mertua." Sial, ke mana dia harus mencari putrinya? Nyonya Easterwood memandang putranya, "Louis, apa kau ada ide ke mana kakak mu pergi?""Leah, hari ini ada paket bunga untuk mu."Leiara menerima buket bunga peony yang diberikan oleh kakak iparnya. Dia tersenyum, mencium wangi bunga tersebut dan mengangkat satu tangannya untuk menyentuh kelopak bunga tersebut.Sebastian yang melihat kejadian itu mengangkat sebelah alisnya. Ekspresi yang diberikan oleh adik iparnya adalah ekspresi yang pernah ia lihat sebelumnya—ekspresi di mana seseorang tengah jatuh hati. Benar, itu tidak salah. Leiara Easterwood, adik iparnya sepertinya sedang jatuh hati. Namun, dengan siapa? Selama ini, perempuan itu selalu di mansion, jarang keluar. Kalaupun keluar, dia mengunjungi Lotus Caffee dan bertemu dengan katarina."Kau—" Sebastian menggelengkan kepala.Dia tidak bisa ikut campur dalam urusan ranah pribadi Leiara. Perempuan itu sudah cukup menderita menikah dengan sosok yang sudah meninggal dunia, lalu kini ia melarangnya jatuh cinta. Sebastian tersenyum kecut, siapa ia dan keluarg
Leiara turun dari lantai dua menuju dapur kotor yang ada di lantai satu. Beberapa pelayan ada yang masih terbangun, terkejut melihat sosok nyonya muda mereka ada di sini."Ada yang bisa dibantu, madam?"Leiara mengibaskan tangan, tanda bahwa dia bisa melakukannya sendiri. Dia melangkah menuju kulkas berpintu dua, menyusuri bahan yang ada sebelum memilih beberapa bahan yang menurutnya tepat."Biarkan saya saja, madam."Perempuan dengan retina mata hitam itu terdiam sejenak, dia menimbang sebentar sebelum kemudian membiarkan pelayan tersebut ikut membantu. "Tolong bantu aku untuk memotong daging," dia lalu meminta pelayan lainnya, "Adonan mie di mana ya?""Ini, madam."Leiara menerima adonan mie yang memang sudah diletakkan ditempat khusus. Perempuan itu mengatakan terima kasih, "Aku hanya membutuhkan satu saja. Kalian beristirahatlah.""Baik madam, hati-hati."Leiara memberikan senyuman selamat tinggal, sebelum
Suasana di ruangan itu semakin menggelap, kian juga dengan suasana yang menegang kala pertanyaan itu dikumandangkan.Pria dengan rambut blonde bermata biru itu tercenung. Menatap lamat-lamat pada usia kandungan wanita di hadapannya yang kian menua—tentu, ini tidak bisa dihiraukan begitu saja. Kepalan tangannya mengerat, lalu dia sedikit menundukkan kepalanya, “Maafkan,”Leiara tidak memberikan komentar. Perempuan itu mencoba untuk mencerna ucapan tersebut. Maafkan, untuk apa?Dia mengelus perutnya yang kian membesar. Kehamilan dengan prediksi kembar berarti kehamilan yang kelahirannya akan premature. Sesungguhnya Leiara tidak ingin memikirkan terlalu dalam, itu akan membuat mood nya menjadi kacau dan tidak baik untuk Kesehatan janinnya. Akan tetapi, ketika ia telah menjadi keluarga Lantsov—sekalipun pada akhirnya mereka akan cerai dikemudian hari, ia mau tidak mau sudah masuk ke dalam lingkaran tersebut.Perempuan itu berdiri dari duduknya, Theodore mendongak. "Mau ke mana?" Pria itu m
Suasana di dalam kamar Theodore berbeda dari malam sebelumnya. Dua orang tersebut saling berhadapan, dengan kini posisi sang pria yang sudah duduk di sofa dalam kamar. Leiara masih duduk di ranjang, sama sekali tidak ada niatan untuk menyambut ataupun memberikan basa-basi tertentu. Pria bermata biru sekelam lautan itu menatap sosok perempuan di hadapannya. Pandangannya menggelap, sedikit terusik dengan retina hitam yang memperlihatkan sorot penuh kewaspadaan, seolah ia adalah musuh yang harus dimusnahkan. "Pertemuan kita sepertinya kurang berkenan." Theodore tidak membutuhkan jawaban dari wanita tersebut. "Dalam 14 hari ini, aku selalu masuk ke kamarㅡbaik di penthouse maupun di mansion, kau tidak pernah terbangun. Sesuatu mengganggu mu?" Leiara menggigit bibir bawah. Di enggan mengatakan yang sebenarnya, tetapi tatapan dari retina biru itu seolah menembus. Menjilat bibir bawah, "Setelah pertemuan dengan Alexander, I'm actually kinda craving some meatㅡlike steak kind of thing."The
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.