LOGIN“Holy shi— uhm! Apa-apaan itu?”
Catherine sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Sepasang matanya melotot, memandangi foto shirtless Sean yang terpampang nyata di hadapannya.
“Dia berniat pamer ABS atau apa?” batin Catherine lagi sembari mulai menurunkan pandangan. Mencuri pandang ke arah tubuh shirtless Sean.
Beberapa saat kemudian, Catherine sibuk sendiri. Sepasang mata birunya bolak-balik mengamati foto dan tubuh Sean.
Dari observasi singkatnya itu, Catherine menyimpulkan kalau foto tersebut cukup identik dengan penampilan Sean sekarang. Matanya tidak menemukan adanya perbedaan.
“Sebenarnya, apa sih yang mau kau tunjukkan padaku?” Catherine menaikkan sebelah alisnya ketika menggumamkan itu di dalam hatinya.
Takut salah ucap dan berakhir menyinggung Sean, Catherine memutuskan untuk bertanya saja. “Apa maksudnya? Aku tidak paham.”
Sean langsung menyipitkan mata karena sebal. “Kau bolak balik mengamati foto ini dan tubuhku selama 5 menit lebih, tapi tidak menyadari perbedaannya? Apakah fokusmu tertuju pada hal lain?”
Catherine tersedak seketika. Sambil menahan malu, dia mencoba menunjukkan wajah garang. Juga menyentak, “Hal lain apa?!”
Pipi Catherine yang semula hanya seperti dipoles dengan blush on berwarna pink muda, kini sudah berubah merah sempurna. Adapun otaknya mulai berpikiran macam-macam.
“Lihat itu. Pipimu mengatakan sebaliknya,” sindir Sean di dalam hatinya.
Berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala, Sean lantas berkata, “Sia-sia aku menunjukkan foto ini padamu. Kalau tahu begini jadinya, lebih baik tadi aku langsung beraksi saja.”
“Beraksi?” kaget Catherine. Sepasang mata biru miliknya membola sempurna.
Jujur saja. Mendengar kata satu itu, Catherine sangat sulit untuk menaruh prasangka baik. Dia sangat yakin kalau Sean memiliki niat buruk padanya.
“Hm?”
Sean pura-pura tidak mendengar. Dengan lembut, dia mengalihkan tangan di pipi Catherine untuk membelai rambut pirangnya. Terasa halus meski belum tersentuh sisir. Masih apa adanya, khas orang yang baru bangun tidur.
Menyadari pergerakan Sean, Catherine langsung panik. Seolah baru sadar kalau jarak mereka terlalu dekat, dan Sean dapat melakukan apa saja adanya.
“Cih! Kalau dipegang begini, baru panik. Bukankah level survival instingnya terlalu rendah?” omel Sean di dalam hati.
Lalu tanpa memedulikan apa pun lagi, Sean merengkuh pinggang mungil milik Catherine. Tak ayal, Catherine tertarik ke depan. Berakhir dalam pelukan hangat sang Tuan dari keluarga Lamiore.
Dalam posisi tangan yang terkepal tepat di bahu Sean, Catherine kembali merasakan betapa halus dan mulusnya kulit lelaki itu. Seperti milik seorang gadis.
“Apa dia melakukan perawatan tubuh?”
Sempat-sempatnya Catherine berpikir seperti itu ketika jaraknya dengan Sean hanya tersisa beberapa senti saja. Bahkan, hembusan napas Sean terasa jelas membelai tengkuknya yang tidak tertutup oleh helai rambut.
Tanpa peduli dengan isi pikiran Catherine, Sean sedikit mendorong mundur bahu Catherine. Begitu jaraknya dirasa sudah pas, dia menundukkan kepala. Memberikan kecupan lembut di lengan, diikuti dengan gigitan kecil.
“Auw!” seru Catherine. “A-apa yang kau lakukan? Berhenti!”
Tahu kalau kesempatannya melepaskan diri tidak akan terwujud kalau dia hanya mendorong bahu Sean, Catherine melakukan hal nekat. Menggenggam sejumput rambut lelaki itu kuat-kuat. Lalu, menjambaknya dengan kencang.
“Apa dia terobsesi dengan kekerasan? Pertama, cubitan yang tidak ada ujungnya. Kedua, mencoba menimpuk kepalaku dengan high heels. Dan kali ini …”
“Ssh, sakit!” seru Sean saat merasa kulit kepalanya mau lepas akibat jambakan Catherine.
Sepasang mata Catherine menatapnya nyalang. “Kau duluan yang mulai!”
Catherine menurunkan pandangan, tepatnya pada lengan yang menjadi sasaran kecupan dan gigitan Sean. Tercipta bekas merah, lengkap dengan jiplakan gigi Sean di sana.
“Semalam kau mencubitku di berbagai tempat. Apa salahnya kalau aku membalas?” ucap Sean dengan nada tidak terima.
Catherine langsung dibuat speechless. Tenggorokannya terasa tercekat. Kata-kata mutiara yang sejatinya sudah mengantre untuk dikeluarkan satu persatu, kini tertahan begitu saja.
Menyodorkan lengan secara sukarela, Catherine lantas mempersilahkan, “Kalau begitu, cubit saja! Jangan gigit!”
Bagai seekor kucing yang diiming-imingi ikan asin, tentu saja Sean menyambutnya dengan senang hati. Digenggamnya lembut tangan Catherine, membuat gadis itu berpikir kalau Sean sudah setuju.
Namun secepat kilat, Sean mengarahkan tangan Catherine untuk berpegangan di pinggang. Dan dalam sekejap, bibir merah miliknya beraksi di bahu Catherine.
“Dasar rubah licik!” umpat Catherine di dalam hati ketika merasakan gigitan kecil di bahu.
“Lelaki mesum ini benar-benar pintar memanfaatkan situasi. Kalau begini, aku semakin tidak boleh menerima tawaran gilanya! Bisa-bisa, dia ingkar janji dan cuma mau memakai tubuhku seenaknya!”
Merasa bahwa dirinya sudah tidak bisa lagi melarikan diri dari situasi memalukan ini, Catherine memutuskan untuk menyerah. Meski benci, Catherine membiarkan bibir Sean menjelajah sesuka hatinya. Dia bahkan mulai berpikir. Semakin dia melawan, maka Sean akan semakin membuatnya menderita karena malu.
Namun sepertinya, keputusan Catherine ini salah. Sebab sekarang, Sean mulai memandang ke arahnya dengan tatapan penuh arti.
“Dia melihat kemana?” resah batin Catherine. Dia bahkan mencoba mengekor arah pandangan Sean. Namun belum sempat menemukan posisi tepatnya, Catherine dikejutkan dengan jari telunjuk Sean yang seenaknya menyentuh perut.
“Jangan sembarangan!” pekik Catherine sambil menepis jemari Sean. Gadis itu sungguh takut Sean berbuat lebih dari ini.
Melihat Catherine yang panik sendiri, Sean tertawa kecil. Bersikap seolah ini adalah hiburan kecil yang dia nantikan sejak tadi.
“Semalam, kau mencubitku tepat di sini. Tapi sekarang, gaunmu ini terlalu merepotkan,” ujar Sean dengan suara serak miliknya. Adapun sepasang mata coklat almond miliknya sibuk memandangi gaun merah panjang milik Catherine.
Catherine langsung tersedak mendengarnya. Otaknya juga berpikir sembarangan, “Maksudnya kalau sekarang aku cuma pakai kaus, lelaki gila ini tidak akan ragu untuk menyingkapnya, lalu mencium di sana?!”
“Sayang sekali, tapi kurasa aku harus menundanya sampai malam pertama kita,” ucap Sean lagi.
Dada Catherine tambah tertohok. Secepat kilat dia menyusun kalimat bantahan, “Kapan aku setuju untuk menerima tawaranmu? Bahkan kata Pak Bright, aku tetap boleh menginap disini untuk semalam, meski aku menolakmu.”
“Kau sungguh percaya itu?” Sean menaikkan sebelah alisnya.
Sungguh! Sekarang ritme jantung Catherine tambah berantakan.
Batinnya mengumpat, “Sial! Rupanya lelaki ini memang tidak bisa dipercaya!”
“Aargh! Kenapa aku tidak kepikiran untuk bangun pagi dan melarikan diri dari sini? Dengan bodohnya, tadi aku bahkan sempat ingin tidur lagi!”
Catherine hanya bisa mengumpati kecerobohannya sendiri. Namun di sisi lain, dia juga tidak percaya kalau semenjak reinkarnasi, sifat kehati-hatiannya mulai terkikis. Mungkinkah ini adalah harga yang harus dibayar karena dia terlalu serakah mendambakan cinta yang belum pernah dia rasakan sepanjang hidupnya?
“Kau benar-benar bodoh!” hina Sean sambil terkikik geli. Dia sungguh terhibur melihat wajah panik dan pucat yang diperlihatkan Catherine.
Gadis di hadapannya tidak menyahut apa pun. Pandangannya turun, seolah menerima kekalahan telak ini.
“Hmm. Harus aku akui. Kebodohanmu itu memang menguntungkan bagiku. Bahkan, sangat menggiurkan,” ucap Sean lagi, diakhiri dengan jilatan bibir yang terdengar cukup keras.
Mendekatkan bibirnya ke telinga Catherine, memberikan sapuan napas hangat yang menggelitik. Lalu dengan lirih, Sean berbisik, “Sayangnya, aku tidak akan membiarkan hal itu merusak reputasiku.”
“Aku terkenal jujur dan bersih. Jadi … ini kabar baik untukmu,” pungkasnya.
Meski Sean sudah berkata begitu, Catherine sama sekali tidak merasa lega. Menurutnya Sean terlalu licik untuk dipercaya.
Rupanya insting Catherine benar.
Hanya beberapa saat setelah ruangan kamar itu dikuasai oleh keheningan, Sean kembali membuat ulah. Kali ini dia menyusupkan tangannya di belahan rok gaun Catherine. Gaun merah panjang yang dikenakan perempuan itu memang memiliki belahan yang cukup tinggi. Sekitar 2 cm di atas lutut.
“Ummh!”
Catherine refleks melipat mulutnya rapat-rapat. Takut meloloskan suara lain yang mungkin bisa membuat Sean lepas kendali.
Di hadapannya, Sean memandang sinis. Tetapi suaranya terdengar begitu menggoda ketika berkata, “Baru aku sentuh sedikit saja, reaksimu sudah seheboh itu. Bagaimana nanti saat aku cium di sana, hm?”
“Cium? Jangan bilang!”
Tebakan Catherine langsung mengarah pada satu hal. Sean belum menyerah untuk membalas dendam atas lusinan bekas cubitannya semalam.
Sambil menikmati ekspresi Catherine, Sean mulai bergerak sebelum terlambat. Meski awalnya cuma iseng, sekarang dia benar-benar penasaran. Apa yang akan terjadi kalau dia sedikit bermain-main di paha Catherine.
Hanya dengan memikirkan hal itu, untuk sesaat tenggorokan Sean terasa kering. Seraya mereguk saliva, lelaki itu menutup matanya. Lalu cepat-cepat mendaratkan bibir di sana, sebelum pikirannya tambah berkeliaran kemana-mana.
“Ungh, apa ini?” desis Catherine ketika merasa ada sesuatu yang menempel di pinggangnya. Terasa agak berat dan hangat.Didorong oleh rasa penasaran, Catherine memaksakan diri mengusir rasa kantuk yang menggelayuti kelopak mata. Samar, dia melihat ada tangan yang ukurannya jelas melebihi miliknya.Dalam keadaan setengah sadar, Catherine meraba tangan tersebut. Terasa begitu nyata dengan beberapa bulu halus yang tersentuh oleh jemari lentik miliknya.“Heumm.”Suara berat itu terdengar familiar. Diiringi dengan hembusan napas hangat yang menyapu tengkuk lehernya. Catherine terkesiap seketika. Buru-buru dia bangkit. Sepasang mata yang semula maunya terpejam saja, kini membelalak lebar. Menatap horor ke arah tubuh seorang lelaki yang tengah berbaring santai di ranjang.“S-sean?” lirih Catherine tanpa ada niatan memanggil, apalagi membangunkan si lelaki.Detik berikutnya, dahi Catherine dibuat berkerut. Sementara otaknya berpikir keras. “Bagaimana mungkin Sean bisa menerabas masuk? Bukank
“Hoahm!”Catherine menguap ketika sinar mentari pagi yang menyelinap masuk melalui celah jendela, jatuh tepat di kelopak matanya. Memberikan efek silau yang langsung membuatnya terjaga.“Astaga. Apa aku salah tidur semalam? Kenapa badanku rasanya begitu pegal?” heran gadis itu seraya mulai merenggangkan otot tangannya yang kebas.Menganggap ini hal yang biasa, Catherine tidak menanggapinya dengan serius. Tanpa tahu menahu mengenai alasan sebenarnya dari rasa pegal yang dia rasakan, Catherine menjalani hari Minggu ini dengan santai.Sesekali, Catherine turun ke taman untuk memikirkan langkah apa yang sebaiknya diambil terlebih dahulu. Dia benar-benar serius ingin memperbaiki taman di kastil bobrok ini.“Nona rajin sekali,” komentar Ren yang tak sengaja lewat. Catherine membalasnya dengan senyum hangat. “Daripada menganggur, lebih baik kerjakan apa saja yang ada.”“Ngomong-ngomong, kau mau kemana?” tanya Catherine kemudian.“Oh astaga, saya hampir lupa!” seru Ren seraya menepuk jidatny
“Mau aku gendong atau jalan sendiri ke kamar, Cathie?” tawar Sean.Sebetulnya hatinya tidak rela. Ingin bermain-main dengan Catherine lebih lama. Sayangnya, mereka belum menyempurnakan blood contract yang telah terjalin. Sean takut kebablasan mencium bibir Catherine dan membuat tubuhnya mendapatkan serangan balik yang lebih menyakitkan dibanding tersambar petir.“Aku bisa sendiri.” Catherine menyahut cepat.Begitu Catherine turun dari pangkuannya, Sean mengingatkan, “Jangan lupa tanda tangani dulu kontraknya, Cathie. Sudah kau periksa isinya, ‘kan?”“Sudah,” jawab Catherine singkat. “Oh ya, apa kau bisa membantuku bertanya pada Ren?”“Soal apa?”Catherine hanya bisa menjelaskan, “Sikapnya cukup aneh. Kulihat Ren mengusap tengkuk berulang kali, seperti sedang gugup. Tapi dia tidak mau mengaku.”“Oh, mungkin masalah pribadi. Atau dia memang lelah.”Meski Sean mengucapkannya dengan penuh keyakinan, sebetulnya dia sendiri juga tidak yakin. Dia hanya berharap Catherine tidak terlalu kepik
“Catherine?” desis Sean yang mengenali suara itu. Dengan panik, Sean menyerahkan amplop ke tangan Zea. Belum sempat Zea bereaksi, tubuhnya telah diubah Sean menjadi segumpal kabut. Kegilaan Sean tidak hanya sampai di situ. Karena setelahnya, Sean meniupkan angin untuk menghempasnya ke balik pohon besar. Kebetulan tempatnya gelap, sehingga Zea dapat bertransformasi dengan aman. “Sebaiknya aku pergi dari sini supaya tidak menambah masalah,” pikir Zea sambil mengepakkan sepasang sayap coklatnya.Sementara itu, Sean menyambut kedatangan Catherine dengan tatapan dingin. “Kenapa mencariku?” tanyanya datar.“Jelaskan—”Tanpa memberi kesempatan bagi Catherine untuk menjawab, Sean menatap Ren yang berdiri gugup di sampingnya. Dan kebetulan, hal itu memberinya ide untuk sembarangan menuduh,“Oh, apakah Ren membuat kesalahan?”Catherine yang tadinya mau marah-marah pun membatalkan niatnya. Langsung mencoba meluruskan kesalahpahaman ini sebelum terlambat.“Bukan begitu, Sean. Dengarkan aku dul
“Itu … udang?” Catherine tak bisa menahan rasa penasarannya pada salah satu menu yang dibawa oleh Ren.“Ya, tapi jangan khawatir. Aku tahu kalau kau alergi udang. Makanan yang lain dijamin tidak terkontaminasi,” balas Sean.Dada Catherine seolah tertohok. Antusiasme yang semula terpancar di kedua bola matanya, kini perlahan redup.“Bagaimana bisa aku lupa soal ini? Catherine Ethenburough memang alergi dengan udang. Karena aku telah bereinkarnasi ke tubuhnya, sudah pasti aku akan mendapat reaksi alergi kalau nekat memakannya.”Untuk menyelamatkan diri dari kecurigaan Sean, Catherine langsung memasang senyum lebar ketika menoleh ke arahnya sambil berucap, “Kau pengertian sekali.”“Cuma perkara kecil,” sahut Sean yang tak menyadari perubahan ekspresi Catherine.Setelah semua siap dihidangkan, Catherine memilih untuk menyantap cheesy chicken casserole yang terlihat menggugah selera meski penampilannya sungguh sangat asing. Pada zamannya, belum ada yang membuat makanan itu.“Umm … kejunya
“Kau tahu semua itu dan masih berani menggodaku, Cathie?” Sean balas berbisik.Usai mengucapkan itu, Sean bergegas menuju kasir. Sama sekali tidak memperdulikan Catherine yang dibuatnya terkejut di tempat.“Sial!” geram Catherine begitu Sean menjauh. “Untung saja reaksinya cuma begitu. Kalau tiba-tiba mencium, mukaku ini mau ditaruh di mana?”***Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir, Catherine mengira mereka akan langsung pulang. Namun saat melintas di lantai dua, Sean tiba-tiba berkata,"Mampir dulu ke depan sana."Mendengar ucapan Sean, segera Catherine menelusuri kemana sorot mata Sean mengarah. Tepatnya, pada sebuah gerai makanan. Saat mulai mendekat, terasa sekali kalau bau harumnya menyebar kemana-mana."Dia mau mengajakku makan? Dermawan sekali," batin Catherine kemudian.Begitu memasuki gerai makanan cepat saji itu, Sean berkata, "Kau tunggu saja di sini.""Ya," patuh Catherine seraya duduk di kursi yang menurutnya nyaman. Sementara itu, Sean langsung pergi ke kasir untuk







