Compartilhar

Harga Cubitan Semalam

last update Data de publicação: 2026-06-08 10:30:51

Holy shi— uhm! Apa-apaan itu?” 

Catherine sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Sepasang matanya melotot, memandangi foto shirtless Sean yang terpampang nyata di hadapannya. 

“Dia berniat pamer ABS atau apa?” batin Catherine lagi sembari mulai menurunkan pandangan. Mencuri pandang ke arah tubuh shirtless Sean.

Beberapa saat kemudian, Catherine sibuk sendiri. Sepasang mata birunya bolak-balik mengamati foto dan tubuh Sean.

Dari observasi singkatnya itu, Catherine menyimpulkan kalau foto tersebut cukup identik dengan penampilan Sean sekarang. Matanya tidak menemukan adanya perbedaan.

“Sebenarnya, apa sih yang mau kau tunjukkan padaku?” Catherine menaikkan sebelah alisnya ketika menggumamkan itu di dalam hatinya.

Takut salah ucap dan berakhir menyinggung Sean, Catherine memutuskan untuk bertanya saja. “Apa maksudnya? Aku tidak paham.”

Sean langsung menyipitkan mata karena sebal. “Kau bolak balik mengamati foto ini dan tubuhku selama 5 menit lebih, tapi tidak menyadari perbedaannya? Apakah fokusmu tertuju pada hal lain?”

Catherine tersedak seketika. Sambil menahan malu, dia mencoba menunjukkan wajah garang. Juga menyentak, “Hal lain apa?!”

Pipi Catherine yang semula hanya seperti dipoles dengan blush on berwarna pink muda, kini sudah berubah merah sempurna. Adapun otaknya mulai berpikiran macam-macam.

“Lihat itu. Pipimu mengatakan sebaliknya,” sindir Sean di dalam hatinya.

Berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala, Sean lantas berkata, “Sia-sia aku menunjukkan foto ini padamu. Kalau tahu begini jadinya, lebih baik tadi aku langsung beraksi saja.”

“Beraksi?” kaget Catherine. Sepasang mata biru miliknya membola sempurna.

Jujur saja. Mendengar kata satu itu, Catherine sangat sulit untuk menaruh prasangka baik. Dia sangat yakin kalau Sean memiliki niat buruk padanya.

“Hm?”

Sean pura-pura tidak mendengar. Dengan lembut, dia mengalihkan tangan di pipi Catherine untuk membelai rambut pirangnya. Terasa halus meski belum tersentuh sisir. Masih apa adanya, khas orang yang baru bangun tidur.

Menyadari pergerakan Sean, Catherine langsung panik. Seolah baru sadar kalau jarak mereka terlalu dekat, dan Sean dapat melakukan apa saja adanya.

“Cih! Kalau dipegang begini, baru panik. Bukankah level survival instingnya terlalu rendah?” omel Sean di dalam hati.

Lalu tanpa memedulikan apa pun lagi, Sean merengkuh pinggang mungil milik Catherine. Tak ayal, Catherine tertarik ke depan. Berakhir dalam pelukan hangat sang Tuan dari keluarga Lamiore.

Dalam posisi tangan yang terkepal tepat di bahu Sean, Catherine kembali merasakan betapa halus dan mulusnya kulit lelaki itu. Seperti milik seorang gadis.

“Apa dia melakukan perawatan tubuh?”

Sempat-sempatnya Catherine berpikir seperti itu ketika jaraknya dengan Sean hanya tersisa beberapa senti saja. Bahkan, hembusan napas Sean terasa jelas membelai tengkuknya yang tidak tertutup oleh helai rambut.

Tanpa peduli dengan isi pikiran Catherine, Sean sedikit mendorong mundur bahu Catherine. Begitu jaraknya dirasa sudah pas, dia menundukkan kepala. Memberikan kecupan lembut di lengan, diikuti dengan gigitan kecil.

“Auw!” seru Catherine. “A-apa yang kau lakukan? Berhenti!”

Tahu kalau kesempatannya melepaskan diri tidak akan terwujud kalau dia hanya mendorong bahu Sean, Catherine melakukan hal nekat. Menggenggam sejumput rambut lelaki itu kuat-kuat. Lalu, menjambaknya dengan kencang.

“Apa dia terobsesi dengan kekerasan? Pertama, cubitan yang tidak ada ujungnya. Kedua, mencoba menimpuk kepalaku dengan high heels. Dan kali ini …”

“Ssh, sakit!” seru Sean saat merasa kulit kepalanya mau lepas akibat jambakan Catherine.

Sepasang mata Catherine menatapnya nyalang. “Kau duluan yang mulai!”

Catherine menurunkan pandangan, tepatnya pada lengan yang menjadi sasaran kecupan dan gigitan Sean. Tercipta bekas merah, lengkap dengan jiplakan gigi Sean di sana.

“Semalam kau mencubitku di berbagai tempat. Apa salahnya kalau aku membalas?” ucap Sean dengan nada tidak terima.

Catherine langsung dibuat speechless. Tenggorokannya terasa tercekat. Kata-kata mutiara yang sejatinya sudah mengantre untuk dikeluarkan satu persatu, kini tertahan begitu saja.

Menyodorkan lengan secara sukarela, Catherine lantas mempersilahkan, “Kalau begitu, cubit saja! Jangan gigit!”

Bagai seekor kucing yang diiming-imingi ikan asin, tentu saja Sean menyambutnya dengan senang hati. Digenggamnya lembut tangan Catherine, membuat gadis itu berpikir kalau Sean sudah setuju. 

Namun secepat kilat, Sean mengarahkan tangan Catherine untuk berpegangan di pinggang. Dan dalam sekejap, bibir merah miliknya beraksi di bahu Catherine.

“Dasar rubah licik!” umpat Catherine di dalam hati ketika merasakan gigitan kecil di bahu. 

“Lelaki mesum ini benar-benar pintar memanfaatkan situasi. Kalau begini, aku semakin tidak boleh menerima tawaran gilanya! Bisa-bisa, dia ingkar janji dan cuma mau memakai tubuhku seenaknya!”

Merasa bahwa dirinya sudah tidak bisa lagi melarikan diri dari situasi memalukan ini, Catherine memutuskan untuk menyerah. Meski benci, Catherine membiarkan bibir Sean menjelajah sesuka hatinya. Dia bahkan mulai berpikir. Semakin dia melawan, maka Sean akan semakin membuatnya menderita karena malu.

Namun sepertinya, keputusan Catherine ini salah. Sebab sekarang, Sean mulai memandang ke arahnya dengan tatapan penuh arti.

“Dia melihat kemana?” resah batin Catherine. Dia bahkan mencoba mengekor arah pandangan Sean. Namun belum sempat menemukan posisi tepatnya, Catherine dikejutkan dengan jari telunjuk Sean yang seenaknya menyentuh perut.

“Jangan sembarangan!” pekik Catherine sambil menepis jemari Sean. Gadis itu sungguh takut Sean berbuat lebih dari ini.

Melihat Catherine yang panik sendiri, Sean tertawa kecil. Bersikap seolah ini adalah hiburan kecil yang dia nantikan sejak tadi.

“Semalam, kau mencubitku tepat di sini. Tapi sekarang, gaunmu ini terlalu merepotkan,” ujar Sean dengan suara serak miliknya. Adapun sepasang mata coklat almond miliknya sibuk memandangi gaun merah panjang milik Catherine.

Catherine langsung tersedak mendengarnya. Otaknya juga berpikir sembarangan, “Maksudnya kalau sekarang aku cuma pakai kaus, lelaki gila ini tidak akan ragu untuk menyingkapnya, lalu mencium di sana?!”

“Sayang sekali, tapi kurasa aku harus menundanya sampai malam pertama kita,” ucap Sean lagi.

Dada Catherine tambah tertohok. Secepat kilat dia menyusun kalimat bantahan, “Kapan aku setuju untuk menerima tawaranmu? Bahkan kata Pak Bright, aku tetap boleh menginap disini untuk semalam, meski aku menolakmu.”

“Kau sungguh percaya itu?” Sean menaikkan sebelah alisnya. 

Sungguh! Sekarang ritme jantung Catherine tambah berantakan.

Batinnya mengumpat, “Sial! Rupanya lelaki ini memang tidak bisa dipercaya!”

“Aargh! Kenapa aku tidak kepikiran untuk bangun pagi dan melarikan diri dari sini? Dengan bodohnya, tadi aku bahkan sempat ingin tidur lagi!” 

Catherine hanya bisa mengumpati kecerobohannya sendiri. Namun di sisi lain, dia juga tidak percaya kalau semenjak reinkarnasi, sifat kehati-hatiannya mulai terkikis. Mungkinkah ini adalah harga yang harus dibayar karena dia terlalu serakah mendambakan cinta yang belum pernah dia rasakan sepanjang hidupnya?

“Kau benar-benar bodoh!” hina Sean sambil terkikik geli. Dia sungguh terhibur melihat wajah panik dan pucat yang diperlihatkan Catherine. 

Gadis di hadapannya tidak menyahut apa pun. Pandangannya turun, seolah menerima kekalahan telak ini.

“Hmm. Harus aku akui. Kebodohanmu itu memang menguntungkan bagiku. Bahkan, sangat menggiurkan,” ucap Sean lagi, diakhiri dengan jilatan bibir yang terdengar cukup keras. 

Mendekatkan bibirnya ke telinga Catherine, memberikan sapuan napas hangat yang menggelitik. Lalu dengan lirih, Sean berbisik, “Sayangnya, aku tidak akan membiarkan hal itu merusak reputasiku.”

“Aku terkenal jujur dan bersih. Jadi … ini kabar baik untukmu,” pungkasnya.

Meski Sean sudah berkata begitu, Catherine sama sekali tidak merasa lega. Menurutnya Sean terlalu licik untuk dipercaya. 

Rupanya insting Catherine benar.

Hanya beberapa saat setelah ruangan kamar itu dikuasai oleh keheningan, Sean kembali membuat ulah. Kali ini dia menyusupkan tangannya di belahan rok gaun Catherine. Gaun merah panjang yang dikenakan perempuan itu memang memiliki belahan yang cukup tinggi. Sekitar 2 cm di atas lutut.

“Ummh!”

Catherine refleks melipat mulutnya rapat-rapat. Takut meloloskan suara lain yang mungkin bisa membuat Sean lepas kendali.

Di hadapannya, Sean memandang sinis. Tetapi suaranya terdengar begitu menggoda ketika berkata, “Baru aku sentuh sedikit saja, reaksimu sudah seheboh itu. Bagaimana nanti saat aku cium di sana, hm?”

“Cium? Jangan bilang!”

Tebakan Catherine langsung mengarah pada satu hal. Sean belum menyerah untuk membalas dendam atas lusinan bekas cubitannya semalam.

Sambil menikmati ekspresi Catherine, Sean mulai bergerak sebelum terlambat. Meski awalnya cuma iseng, sekarang dia benar-benar penasaran. Apa yang akan terjadi kalau dia sedikit bermain-main di paha Catherine. 

Hanya dengan memikirkan hal itu, untuk sesaat tenggorokan Sean terasa kering. Seraya mereguk saliva, lelaki itu menutup matanya. Lalu cepat-cepat mendaratkan bibir di sana, sebelum pikirannya tambah berkeliaran kemana-mana.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kau Milikku Sekarang

    “Jangan buat pikiranku jadi liar begini, Cathie,” lirih Sean. Suara seraknya itu sebetulnya nyaris tidak terdengar. Namun di saat yang tepat, berhembus angin sepoi yang nakal. Menghantarkan pesan memalukan itu pada Catherine.“Hah?” respon Catherine sambil menaikkan sebelah alis.Melihat wajah Catherine yang bingung maksimal, Sean jadi sadar kalau pemikirannya masih polos. Berbanding terbalik dengan otaknya yang gampang memikirkan aneka hal kotor. Fakta ini pun membuatnya malu sendiri.“K-kau tidak perlu tahu,” ujar Sean kemudian.Supaya rasa malunya ini tidak berlarut-larut, Sean mengajak, “Bisa kita lakukan sekarang?”Menggaruk kepala yang tidak gatal, Catherine lalu membalas, “Boleh saja. Tapi memangnya kau punya jarum?”“Ada.”Sean memasukkan tangan ke dalam saku. Diam-diam menggerakkan jarinya untuk menciptakan sebuah jarum tajam. Sambil mengeluarkannya, Sean berkata, “Nih.”“Tidak bisa dipercaya!” kaget Catherine di dalam hati. Dia bahkan mengucek-ngucek kedua mata, saking tida

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Blood Contract

    “Sederhananya, kita ciuman di sini,” ujar Sean, mengakhiri keheningan yang sempat menguasai ruangan ini ketika melamunkan ingatannya semalam. Mata Catherine melotot seketika. Ditunjuknya patung Dewi Silencia sambil berujar tak percaya, “Ini tempat— maksudku ruangan suci, ‘kan? Bukankah ini sedikit tidak pantas?”“Ini bukan ciuman karena hasrat, Cathie. Lagipula bukankah orang-orang yang baru saja menikah, juga bisa ciuman di gereja? Disaksikan banyak orang pula.”Sean berusaha bersabar meski sekarang, pipinya mulai memunculkan semburat merah muda.“Tapi kita nggak nikah, Sean. Mana bisa disamakan,” protes Catherine. Sedikit menyiratkan kalau dia ingin Sean memberinya penjelasan yang memuaskan. Sean mengelap wajahnya gusar.“Kau pernah dengar blood contract?” tanyanya lamat setelah berpikir beberapa saat.“Emm … kontrak darah?” jawab Catherine penuh keraguan. Dahinya bahkan berkerut sempurna.Catherine tidak melanjutkan ucapannya. Sibuk memikirkan apa sebenarnya yang dimaksud oleh Se

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Jangan Cium di Sini

    “Kau kecanduan menciumku atau bagaimana?” heran Sean di dalam hatinya.“Oh, astaga!” batin lelaki itu begitu sekelebat ingatan tiba-tiba terputar di kepala. “Pasti karena ucapanku tadi.”Andaikan Catherine tidak menutup mata, maka dia bisa melihat tampang Sean yang begitu licik. Sudut bibirnya bahkan terangkat sebelah.Sean lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Kepalanya sedikit menunduk ketika menekan bibir Catherine dengan jari telunjuk,“Tidak di sini, Cathie,” lirih Sean. Suara rendahnya itu entah ditujukan untuk menggoda Catherine, atau ada maksud lain.Giliran Catherine yang terkesiap. Sepasang mata bulatnya mengedip-ngedip tak percaya ketika Sean menghentikan surprise yang dia rencanakan secara mendadak.“Apa mungkin, dia cuma mau ganti tempat?” pikir Catherine lagi, merujuk pada kalimat yang baru saja Sean ucapkan. Sementara Catherine sibuk memeras otak, Sean mulai melancarkan aksinya.“Agresif sekali.”Cup!“Umm.”Suara memalukan itu lolos begitu saja dari bibir mu

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Ganti Saja di Depanku

    “Apa-apaan sikapnya itu? Sebentar romantis, terus tiba-tiba dingin. Juga ada saatnya dia menggila atau bersikap menjengkelkan. Aku benar-benar tidak bisa memahami isi pikiran Sean,” batin Catherine sambil sedikit meremas kemeja krem pemberian Sean.Diam-diam, dia mencuri pandang ke arah lelaki itu. Sayangnya hanya punggung Sean yang bisa dia lihat. Selebihnya tersembunyi dibalik pintu.Meskipun begitu, kesibukannya jelas terlihat oleh mata Catherine. Pelahan, Catherine menelusupkan tangannya pada lengan kemeja. Karena berjalan lancar, dia masukkan tangan satunya juga. Sehingga sekarang, kemeja itu benar-benar terpakai olehnya.“Tanpa perlu memasang kancingnya, ukurannya memang pas,” komentar Catherine. “Tapi, bagaimana bisa Sean punya kemeja seukuran ini? Tidakkah hal ini terlalu mencurigakan?”“Haruskah aku bertanya? Atau—”“Apa lagi yang sedang kau pikirkan?” keluh Sean.Tadinya Sean mau memberikan celana untuk Catherine. Namun Sean membatalkan niatnya ketika mendapati sosok Cather

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kemeja Untukmu

    “Ruangan apa ini?”Catherine bergumam lirih ketika Sean memasuki sebuah ruangan. Sepasang matanya lalu sibuk memandang kesana kemari, mencermati setiap sudut ruangan asing itu.Merasa kalau ruangan tersebut aman untuk dia masuki, Catherine pun ikut menginjakkan kakinya ke sana. Saat tangannya tidak sengaja menyentuh dinding, jemarinya merasakan tekstur lembut yang cukup memuaskan.“Apa ini?” tanyanya penasaran sambil mulai melihat ke arah tembok.Terlihat olehnya kain berbulu warna merah pekat yang dihias dengan sulaman keemasan. Tadi dia sempat mengira kalau kain itu paling cuma barang murahan yang asal ditempelkan. Namun setelah meraba teksturnya, sekaligus menyadari bahwa kain tersebut memiliki kilau yang memikat, Catherine menyimpulkan,“Sulit dipercaya! Aku berani bertaruh kalau kain beludru ini dibuat dari sutra, sementara bulunya diambil dari cerpelai putih. Kualitasnya begitu tinggi dan sepertinya, benang emas ini juga dipintal memakai lempengan emas murni,” batin Catherine.P

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Bantu Aku, Dong!

    “Dari sekian banyak buku yang sudah kau kumpulkan, satu-satunya petunjuk yang konsisten cuma soal tanggal dan bulan kembar itu? Cih! Sungguh tidak berguna!”Bertepatan dengan berakhirnya omelan Sean itu, terdengar suara kencang yang memekakkan telinga. Asalnya dari meja yang ditendang oleh Sean sebagai pelampiasan rasa kesal.Saking kuatnya tendangan lelaki itu, meja tersebut sampai terbang. Setumpuk buku yang semula berada di atasnya, kini berhamburan tanpa arah.“Ya Tuhan!” jerit batin Ren ketika menyadari bahwa meja tersebut melayang ke arahnya.Tidak mau berakhir menjadi ayam geprek, Ren segera meloncat ke samping. Namun tanpa disangka, Ren terpeleset saat hendak mendarat. Dia pun berakhir jatuh terduduk. Ditambah satu buku tebal yang menimpa kepala.“Auw,” desis Ren.Baru saja tangannya hendak menyentuh kepala, fokus Ren teralihkan pada meja yang hancur berantakan begitu menyentuh tembok. Bahkan, serpihan kayu melesat ke arahnya.“Barrier!” Ren buru-buru merapalkan mantra, menci

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status