ログイン“Tidurlah denganku, sebulan sekali.” *** Masih perawan setelah 72 tahun, Catherine van Lammington memilih opsi reinkarnasi. Dia, yang kini bernama Catherine Ethenburough, tiba-tiba menarik perhatian seorang lelaki tampan dan kaya raya bernama Sean Lamiore. Namun saat Sean menawarkan kehangatan yang dia dambakan, Catherine justru ragu karena di pertemuan pertama mereka … “Masih perawan?” Sean bertanya tanpa filter. Tanpa menunggu respon Catherine, dia bertanya lagi sambil mulai memajukan wajah, “Keberatan kalau aku cium?” Karena itu, Catherine merasa Sean cuma cowok mesum yang haus akan belaian wanita! Padahal, Sean tidak bermaksud begitu. Ada rahasia yang dia sembunyikan, berkaitan dengan alasannya meminta Catherine menjadi penghangat ranjangnya *** Cover free for commercial use by Andres Hernandez (Unsplash) & Wyxina Tresse (Pexels)
もっと見る“Dimana ini?”
Catherine van Lammington bergumam seraya mengedar pandang ke sekeliling, menemukan dirinya terjebak di sebuah ruangan sempit. Bahkan sepertinya, hanya muat untuknya duduk dan berbaring.
“Ugh!”
Catherine menepuk dada yang terasa sesak. Hal ini wajar sebetulnya, mengingat dia hanya bisa mengandalkan celah di bebatuan dinding sebagai akses keluar masuk udara.
“Mungkinkah Dewi Silencia salah mengirimku untuk reinkarnasi ke sini? Bagaimana mungkin seorang dewi agung sepertinya tega—”
Belum sempat Catherine menyelesaikan ucapannya, seberkas cahaya terang tiba-tiba menerobos masuk. Seolah hendak menerangi seisi ruangan.
Perempuan berambut coklat almond itu pun mengangkat tangan, memblokir cahaya yang menyilaukan mata.
“A-apa apaan ini?”
Catherine terkejut saat mendapati bahwa sekarang, dia terbaring di atas sebuah ranjang mewah. Ruangan ini juga luas, sangat kontras dengan penjara gelap nan pengap yang dilihatnya tadi.
“Ck! Apa otakmu ikut membusuk di dalam sana? Sampai-sampai, kau tak mengenali sihir.”
Suara dingin penuh penghinaan itu berasal dari seorang lelaki bernama Arley yang berada di atasnya. Lalu dalam sekali sentakan, gaun lusuh Catherine robek hingga sebatas perut, menampilkan pemandangan indah yang tersembunyi di baliknya.
“Loh?” kaget Catherine begitu sadar akan apa yang Arley lakukan.
Semua sudah terlambat ketika Arley mendaratkan bibir miliknya di sana. Catherine refleks menutup mulutnya dengan tangan, mencegah suara sekecil apa pun lolos dari sana.
“Tidak ada perkenalan, pernyataan cinta, atau apapun? Bukankah dia terlalu merendahkan wanita?” batin Catherine.
Dengan pipi yang mulai merona, Catherine sedikit mencuri pandang ke arah Arley. “Sial! Padahal wajahnya tampan.”
Melihat Catherine yang malah tersipu, Arley mendengus. “Manusia memang makhluk rendahan!”
“Ah, sudahlah. Toh habis ini, dia akan mati.”
Arley bertingkah bagai bayi kelaparan bukan karena dia kurang kasih sayang atau pun bersenang-senang. Dia lakukan semata-mata untuk menyerap esensi kehidupan milik Catherine. Dengan begitu, umur Arley bisa diperpanjang hingga 2 atau 3 purnama berikutnya.
“Hm? Rasa manis apa ini?” heran Arley.
Selama 500 tahun hidupnya, belum pernah sekalipun dia menjumpai hal semacam ini. Arley pun berpikir sejenak. Hingga akhirnya, kedua bola matanya membulat sempurna. “Mungkinkah dia …?!”
“Hei, apa kau lahir di tanggal 7, bulan 7?” Arley bertanya cepat.
“I-iya,” sahut Catherine gugup.
Begitu mendapatkan konfirmasi, Arley tersenyum licik ala villain. Dari sela bibirnya, terlihat sepasang gigi taring yang menyembul. Nampak cukup tajam dan—
Hap!
“Aargh!”
Catherine menjerit sejadinya saat merasa ada sesuatu yang menancap di leher. Rasa sakit mulai menghujam, bersamaan dengan cairan merah yang mengalir dari lukanya.
Dari sudut mata yang basah, samar Catherine melihat puas wajah Arley. Lelaki itu tidak henti-hentinya menghisap darah segar miliknya, seolah mau menguras habis tanpa sisa.
“Lepas!” pinta Catherine sembari mulai mendorong tubuh lelaki itu.
Arley menyeringai. Dengan mulut yang masih dipenuhi darah, dia bertanya, “Mau melawan sekarang? Sudah terlambat untuk itu.”
“Mulai malam ini, kau cuma milikku,” bisik lelaki itu dengan suara serak, seolah tengah menahan sesuatu.
Bulu kuduk Catherine meremang sebadan-badan. Apalagi sekarang, pakaian Arley terbakar dan lenyap begitu saja ke udara. Mulai memperlihatkan lekuk tubuhnya yang bisa dibilang cukup atletis.
“Tidak! Aku tidak sudi memberikan malam pertamaku pada monster sepertimu!” pekik Catherine di dalam hatinya.
Tanpa perlu berpikir untuk kedua kali, Catherine berteriak lantang,
“SILENCIA!”
Cahaya terang muncul dari antah berantah, melingkupi seisi ruangan. Catherine memejamkan mata, hingga cahayanya pudar sempurna.
Catherine bernapas lega saat mendapati dirinya diteleport ke sebuah ruang kosong. Lalu dengan tangan gemetar, dia memberanikan diri untuk memeriksa leher.
“Aku selamat,” lirih perempuan itu saat mendapati bekas luka di lehernya sudah menghilang. Seolah tidak pernah ada sejak awal.
“Sisa 2 kesempatan lagi. Apa aku benar-benar bisa menemukan kisah cinta yang cocok untukku?” batin perempuan itu lagi.
Di tengah kebingungannya itu, sebuah layar muncul tepat di hadapannya. Memperlihatkan beberapa potong adegan berisi garis besar kehidupan yang akan dia jalani selanjutnya.
“Tadi aku nyaris mati oleh vampir, sekarang aku mau dibunuh oleh calon suami sendiri? Astaga! Apa tidak ada satupun kehidupan yang lurus-lurus saja?” ujar Catherine frustasi.
“Pilihannya memang terbatas. Tapi di kehidupan yang ini, kamu punya kesempatan mencegah kematianmu, ‘kan?” sahut Dewi Silencia yang muncul secara tiba-tiba, lengkap dengan kabut tebal di sekeliling kakinya.
Silencia lalu memberi informasi yang terdengar menggiurkan, “Kalau berhasil, kamu punya kesempatan untuk mendapatkan perhatian seseorang di pesta itu. Kepribadiannya lumayan, dia juga tidak akan memaksamu melakukan ini itu.”
“Dia tidak seperti monster yang aku— hamba temui barusan, ‘kan?” Catherine bertanya memastikan.
“Tidak! Aku bisa menjaminnya kali ini,” sahut Dewi Silencia dengan tegas.
Hati Catherine sedikit lega. Perempuan itu pun setuju bereinkarnasi ke sana. Tapi …
“Dewi Silencia, bolehkah hamba meminta satu hal lagi?”
Tanpa berpikir panjang, Silencia menganggukkan kepala. “Katakan saja padaku, anggap saja sebagai kompensasi karena Alfrey? Arley? membuatmu begitu ketakutan.”
***
Kali ini, Catherine terbangun di sebuah sofa mewah. Penampilannya begitu elegan dalam balutan gaun off shoulder berwarna merah, terlihat bagai mawar yang sedang merekah.
“Hm, malam perjamuan sebelum pernikahan, ya?” desis Catherine sambil mengingat kembali adegan yang tadi dia lihat di layar.
Perempuan itu lantas mengedar pandang ke sekeliling, sekadar melihat-lihat tamu undangan. Namun sebuah tepukan ringan di bahu membuyarkan konsentrasi Catherine, disusul munculnya sebuah suara,
“Sedang mencari sesuatu?”
Catherine pun menoleh. Seulas senyum langsung terkembang di bibir merahnya saat dia mengenali siapa pemilik wajah itu.
James Bradford, calon suami yang harus dia singkirkan malam ini juga.
“Aku mencarimu,” bohong Catherine. Perempuan itu lantas menunjuk pada sebotol wine di meja sembari berkata, “Mau minum denganku?”
“Ck, tidak perlu menyentuh anggur murahan itu. Aku sudah menyiapkan yang lebih enak untukmu,” tolak James.
“Oh ya? Dimana? Bisa aku minum sekarang? Aku haus,” desak Catherine.
James menyipitkan mata. “Kau memang tidak sabaran.”
“Ikuti aku,” ujar James sembari berbalik.
Catherine mengekor kemana James pergi, hingga mereka sampai di tangga utama. Di sana James bersikap seperti gentleman, menggandeng Catherine hingga mencapai lantai dua.
Di sana, MC sudah bersiaga. Lelaki itu langsung meminta perhatian dari tamu undangan, membuat James dan Catherine menjadi sorotan utama.
“Konon, anggur ini difermentasi selama 100 tahun. Sengaja kupilih untuk melambangkan harapanku pada pernikahan kami.”
Terdengar tepuk tangan yang meriah terdengar, membuat James tidak sabar menuju ke tahap selanjutnya. Segera dia menuang wine premium tersebut ke dua gelas berbeda. Lantas, menyerahkan salah satunya pada Catherine.
“Kau pasti suka rasanya,” ujar James, diikuti kerlingan mata penuh makna.
Catherine tersenyum simpul untuk menanggapi bualan menjijikkan itu. Dia bahkan meminum wine-nya dengan tenang. Sengaja, untuk membuat James lengah dan mengira bahwa semua berada di dalam kendalinya.
“Haha! Sebentar lagi riwayatmu akan tamat, jalang sialan!” senang James di dalam hatinya.
Tanpa sadar, James sedikit menyeringai. Terburu-buru dia merayakan kemenangannya dengan menyesap wine beraroma vanila dalam genggaman.
“Uhuk!”
Belum sempat wine tersebut masuk tenggorokan, James menyemburkannya keluar. Gelasnya pun dia buang, jatuh menggelinding di tangga.
James berteriak dengan wajah panik, “Beri aku air!”
Catherine berpura-pura terkejut. “Ada apa?”
“Air!”
James tidak menggubris pertanyaan Catherine. Disambarnya sebotol air minum yang tergeletak di meja MC. Tanpa peduli airnya sudah berkurang separuh, James menggunakannya untuk berkumur.
“Menjijikkan,” batin Catherine saat melihat James memuntahkan air kumurnya begitu saja. Dia juga refleks mencincing gaunnya.
Beberapa saat kemudian, James merasa sensasi pahit dan pedas di lidahnya sudah hilang. Lelaki itu bernapas lega, tapi juga bertanya-tanya, “Bagaimana bisa hal ini terjadi?”
“James? Kenapa denganmu? Apa ada yang salah dengan wine itu?” Catherine menepuk bahunya lembut sembari bertanya.
Mendengar sederet pertanyaan itu, benih kecurigaan langsung muncul di benak James. Dia pun mengangkat pandangannya. Menatap nyalang ke arah Catherine.
“Kau!” tuding James dengan napas tersengal. “Apa yang kau campurkan di minumanku, hah?!”
Catherine mengernyitkan dahi. “Hah? Bukannya botol wine ini masih tersegel saat baru saja kau buka. Mana bisa aku mencampurkan sesuatu tanpa kau ketahui.”
“Lagipula, aku ikut minum dan tidak kenapa-napa,” imbuh Catherine seraya menggembungkan pipi, seolah sedang merajuk.
Darah James tambah mendidih mendengar penyangkalan Catherine. “Kalau begitu, kau pasti menukar gelasnya!”
“Gelas apa lagi? Dari tadi aku cuma duduk diam, menunggu kamu menyapa beberapa tamu penting,” debat Catherine. “Kedua gelas kita juga baru diantar dari dapur. Kamu juga yang memberiku gelas untuk minum.”
Emosi James makin tersulut. Ditamparnya Catherine dengan kencang sembari berteriak, “Omong kosong! Kau pasti tahu kalau gelasku sudah diberi penawar, makanya kau menyuap pelayanku untuk menukar posisinya!”
Tanpa peduli dengan pipinya yang terasa panas, Catherine berlagak ternganga. Menutup mulutnya tak percaya sembari berujar terbata, “Pe-penawar apa? Jangan-jangan … wine itu memang beracun?”
Deg!
Jantung James seolah berhenti berdetak ketika mendengar ucapan Catherine. Langsung dia mengalihkan pandangan. Terlihat olehnya seluruh tamu undangan yang terpana tak percaya, ikut menjadi saksi bisu atas ucapan gegabahnya barusan.
“Bu-bukan begitu … maksudku— aargh! Lepas! Berani sekali kau menyentuhku!”
James berteriak saat kedua tangannya tiba-tiba ditekuk oleh seseorang, persis seperti penjahat yang akan diborgol oleh polisi. Genggaman lelaki itu juga sangat kuat, membuat James sulit melepaskan diri.
“Kukira kau pebisnis handal, ternyata cuma serangga bodoh yang numpang lewat,” hina sebuah suara dingin, namun penuh dengan wibawa.
Mengenali suara yang tidak asing di telinga, tengkuk James meremang seketika. Lelaki itu juga menoleh sambil berdesis tak percaya, “Se-Sean?”
“Jangan buat pikiranku jadi liar begini, Cathie,” lirih Sean. Suara seraknya itu sebetulnya nyaris tidak terdengar. Namun di saat yang tepat, berhembus angin sepoi yang nakal. Menghantarkan pesan memalukan itu pada Catherine.“Hah?” respon Catherine sambil menaikkan sebelah alis.Melihat wajah Catherine yang bingung maksimal, Sean jadi sadar kalau pemikirannya masih polos. Berbanding terbalik dengan otaknya yang gampang memikirkan aneka hal kotor. Fakta ini pun membuatnya malu sendiri.“K-kau tidak perlu tahu,” ujar Sean kemudian.Supaya rasa malunya ini tidak berlarut-larut, Sean mengajak, “Bisa kita lakukan sekarang?”Menggaruk kepala yang tidak gatal, Catherine lalu membalas, “Boleh saja. Tapi memangnya kau punya jarum?”“Ada.”Sean memasukkan tangan ke dalam saku. Diam-diam menggerakkan jarinya untuk menciptakan sebuah jarum tajam. Sambil mengeluarkannya, Sean berkata, “Nih.”“Tidak bisa dipercaya!” kaget Catherine di dalam hati. Dia bahkan mengucek-ngucek kedua mata, saking tida
“Sederhananya, kita ciuman di sini,” ujar Sean, mengakhiri keheningan yang sempat menguasai ruangan ini ketika melamunkan ingatannya semalam. Mata Catherine melotot seketika. Ditunjuknya patung Dewi Silencia sambil berujar tak percaya, “Ini tempat— maksudku ruangan suci, ‘kan? Bukankah ini sedikit tidak pantas?”“Ini bukan ciuman karena hasrat, Cathie. Lagipula bukankah orang-orang yang baru saja menikah, juga bisa ciuman di gereja? Disaksikan banyak orang pula.”Sean berusaha bersabar meski sekarang, pipinya mulai memunculkan semburat merah muda.“Tapi kita nggak nikah, Sean. Mana bisa disamakan,” protes Catherine. Sedikit menyiratkan kalau dia ingin Sean memberinya penjelasan yang memuaskan. Sean mengelap wajahnya gusar.“Kau pernah dengar blood contract?” tanyanya lamat setelah berpikir beberapa saat.“Emm … kontrak darah?” jawab Catherine penuh keraguan. Dahinya bahkan berkerut sempurna.Catherine tidak melanjutkan ucapannya. Sibuk memikirkan apa sebenarnya yang dimaksud oleh Se
“Kau kecanduan menciumku atau bagaimana?” heran Sean di dalam hatinya.“Oh, astaga!” batin lelaki itu begitu sekelebat ingatan tiba-tiba terputar di kepala. “Pasti karena ucapanku tadi.”Andaikan Catherine tidak menutup mata, maka dia bisa melihat tampang Sean yang begitu licik. Sudut bibirnya bahkan terangkat sebelah.Sean lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Kepalanya sedikit menunduk ketika menekan bibir Catherine dengan jari telunjuk,“Tidak di sini, Cathie,” lirih Sean. Suara rendahnya itu entah ditujukan untuk menggoda Catherine, atau ada maksud lain.Giliran Catherine yang terkesiap. Sepasang mata bulatnya mengedip-ngedip tak percaya ketika Sean menghentikan surprise yang dia rencanakan secara mendadak.“Apa mungkin, dia cuma mau ganti tempat?” pikir Catherine lagi, merujuk pada kalimat yang baru saja Sean ucapkan. Sementara Catherine sibuk memeras otak, Sean mulai melancarkan aksinya.“Agresif sekali.”Cup!“Umm.”Suara memalukan itu lolos begitu saja dari bibir mu
“Apa-apaan sikapnya itu? Sebentar romantis, terus tiba-tiba dingin. Juga ada saatnya dia menggila atau bersikap menjengkelkan. Aku benar-benar tidak bisa memahami isi pikiran Sean,” batin Catherine sambil sedikit meremas kemeja krem pemberian Sean.Diam-diam, dia mencuri pandang ke arah lelaki itu. Sayangnya hanya punggung Sean yang bisa dia lihat. Selebihnya tersembunyi dibalik pintu.Meskipun begitu, kesibukannya jelas terlihat oleh mata Catherine. Pelahan, Catherine menelusupkan tangannya pada lengan kemeja. Karena berjalan lancar, dia masukkan tangan satunya juga. Sehingga sekarang, kemeja itu benar-benar terpakai olehnya.“Tanpa perlu memasang kancingnya, ukurannya memang pas,” komentar Catherine. “Tapi, bagaimana bisa Sean punya kemeja seukuran ini? Tidakkah hal ini terlalu mencurigakan?”“Haruskah aku bertanya? Atau—”“Apa lagi yang sedang kau pikirkan?” keluh Sean.Tadinya Sean mau memberikan celana untuk Catherine. Namun Sean membatalkan niatnya ketika mendapati sosok Cather
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.