LOGIN“Dia sudah tidur secepat ini?” gumam Sean yang muncul begitu saja di tepi peraduan Catherine.
Sambil duduk santai di ranjang yang digunakan oleh Catherine, sepasang mata Sean menatap penuh selidik. Barangkali tidur Catherine ini cuma pura-pura, demi menghindari murka. Tapi setelah sekian lama mengintai, Sean menarik kesimpulan yang sama.
“Betulan tidur rupanya,” batin Sean seraya menghela napas.
Menekuk kedua tangan di pinggang, Sean lantas mengomel, ”Untuk apa aku buru-buru berpakaian? Membuang sihirku saja! Huh!”
Karena sebal, Sean ikut berbaring di peraduan. Samar, aroma manis mulai menyapa indra penciumannya. Seolah menggodanya untuk segera mencicipi.
Sean berusaha keras menahan diri karena tadi, dia sudah menghisap terlalu banyak esensi kehidupan milik Catherine. Tanpa adanya kontrak, Sean tidak mau mengambil resiko. Akibatnya memang fatal, Catherine dapat meregang nyawa sewaktu-waktu.
“Hmm … sepertinya aku sudah menemukan hukuman yang pas untukmu,” desis lelaki itu kemudian.
Sambil tersenyum licik, Sean menelusupkan tangannya ke pinggang milik Catherine. Dengan hati-hati dia menarik tubuh mungil itu ke dekapannya.
“Jangan harap kau bisa kabur malam ini,” lirih Sean.
Bersamaan dengan itu, Sean mendaratkan sebuah kecupan kecil di kening Catherine.
“Hmm,” desah Catherine ketika tidurnya sedikit terusik.
Sean buru-buru menurunkan pandangan. Menatap pada sepasang kelopak mata Catherine yang masih terpejam.
“Bikin kaget saja,” batin Sean sambil memundurkan wajahnya.
Lelaki itu lantas ikut memejamkan mata. Berniat menghabiskan malam panjang ini bersama dengan Catherine.
***
“Hoahm!”
Catherine menguap ketika merasa ada cahaya yang menyusup dari celah tirai, berakhir menyinari sepasang matanya yang masih terpejam.
“Tidur lagi, ah. Lagipula si Ethenburough ini sudah dipecat dari kantornya, ‘kan? Jadi, buat apa aku terburu-buru meninggalkan tempat tidur?” batinnya kemudian.
Dalam keadaan mengantuk itu, Catherine menggeliat. Bermaksud meregangkan otot sebentar. Namun ketika berbalik …
“Aduh!” seru Catherine ketika merasa keningnya terantuk sesuatu. Memang tidak keras, tapi cukup untuk membuatnya terkejut.
Merasa hal ini cukup ganjil, Catherine mengulurkan tangan. Mencoba meraba benda apa pun itu. Namun saat tangannya merasakan sesuatu, keningnya tambah berkerut.
“Lengket? Teksturnya juga mirip kulit?” bingung Catherine.
Bersamaan dengan itu, Catherine juga mulai merasa ada sesuatu di pinggang. Akhirnya karena penasaran, Catherine akhirnya membuka kedua mata. Tidak jadi melanjutkan mimpi indahnya.
Catherine mematung seketika. Kedua bola mata juga membulat sempurna, bagai mata milik burung hantu yang mengintai di kegelapan malam.
“I-ini?” kaget Catherine.
Perlahan, perempuan bergaun merah itu menurunkan pandangan. Perhatiannya lantas tertuju pada tubuh atas Sean yang hanya dilapisi selembar selimut tipis, memperlihatkan otot-otot bahunya yang terlihat cukup padat.
“Aku masih mimpi atau …?”
Dari sudut matanya, Catherine dapat melihat sebuah kemeja putih yang teronggok begitu saja di sudut ranjang. Catherine pun langsung terpikir kalau kemeja itu milik Sean. Dia juga jadi berasumsi bahwa detail seperti ini cukup mustahil ditemukan di ‘mimpi’. Dengan kata lain, semua ini adalah kenyataan.
Catherine mereguk saliva dengan susah payah. Pipinya mulai bersemu merah, seiring dengan jantung yang berdegup tidak karuan. Bahkan kali ini, perutnya tidak ketinggalan memeriahkan suasana. Catherine merasa ada banyak kupu-kupu yang beterbangan di perutnya.
“Kenapa Sean bisa ada di sini? Kapan dia sampai? Terus … astaga! Bagaimana pakaianku?”
Begitu menyadari tampilan Sean Lamiore yang shirtless, Catherine panik sendiri. Segera dia memastikan bahwa gaun merah miliknya masih melekat pada tubuh.
“Oh, syukurlah!” Catherine mendesah lega saat menjumpai bahwa pakaiannya masih lengkap. Tidak kurang suatu apa.
Mencuri pandang ke arah Sean yang masih terlelap sembari membatin, “Suka banget bikin anak orang jantungan.”
Hela napas Catherine mulai terasa berat seiring waktu. Perasaan gelisah juga mulai muncul di dada.
“Kenapa? Apa yang salah denganku?” gumam gadis itu di dalam hati kecilnya. “Tunggu … aku tidak mulai menaruh rasa pada lelaki gila ini, ‘kan? Sialan!”
Catherine langsung merutuk saat menyadari adanya kemungkinan itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, dia memundurkan tubuh. Berusaha menjauhkan diri dari Sean.
Baru saja bergerak sedikit, Catherine merasakan dekapan Sean semakin erat. Bahkan, tangan lelaki itu sedikit meremas gaunnya.
“Sudah puas menatapku?”
Suara lembut yang sedikit berat itu mengejutkan indra pendengaran Catherine. Sepasang mata miliknya juga langsung membelalak, adapun batinnya menebak kaget, “Dia sudah bangun dari tadi?”
Rasanya sekarang Catherine ingin lenyap menjadi butiran debu. Dia sungguh tidak kuat menanggung rasa malu.
“Si-siapa yang menatapmu? Aku melihat ke dinding dan pintu, bukan ke arahmu!” dalih Catherine. Rela berbicara asal demi menyelamatkan reputasinya di hadapan Sean.
Mendengar suara Catherine yang sempat tersendat, Sean menaikkan sebelah sudut bibirnya. Mencetak seulas senyum sinis di sana.
“Yakin?” tanya Sean sambil terus mengeratkan dekapan, membuat Catherine makin panik.
Selanjutnya, Catherine seolah sedang menonton drama. Adapun adegan yang tengah ditampilkan adalah slow motion spesial dari Sean. Dimulai dari sepasang kelopak mata lelaki itu yang terbuka lambat. Begitu bola mata miliknya yang berwarna coklat almond itu tersinari oleh cahaya mentari, Sean merespon dengan kedipan. Lagi-lagi, kedipan lelaki itu sepelan jalannya siput.
Sean mulai bangkit dari tidurnya. Selimut putih yang sedari dari melingkupi tubuhnya pun jatuh, menyingkap otot-otot perutnya yang terlihat menawan.
“So damn hot!” batin Catherine yang mengamati semuanya tanpa sadar.
Mulut gadis itu sedikit terbuka, memberi akses bagi lidahnya untuk membasahi bibirnya. Serangkaian gerakan tidak biasa itu diakhiri dengan satu tegukan penghilang dahaga.
Dari sudut matanya, Sean juga dapat melihat seluruh tingkah Catherine.
“Apa-apaan itu?” batinnya, sedikit malu.
Sambil berusaha mengesampingkan perasaan itu, Sean memanfaatkan kesempatan ini untuk menangkupkan tangannya. Jemari miliknya juga mulai aktif membelai pipi Catherine, mengukir pola abstrak yang membuat Catherine tersadar dari kekagumannya.
“Sial! Pagi-pagi begini sudah dibuat salting!”
Begitu akal sehatnya kembali, Catherine langsung mencengkeram tangan Sean yang seenaknya mampir di pipi. Sepasang mata biru miliknya juga melotot tajam, seolah ingin menguliti, lalu memanggang Sean hidup-hidup di perapian.
“Singkirkan tangan kotormu!” pinta Catherine dengan nada yang tidak bersahabat.
“Kenapa? Bukankah kau menikmatinya?” tanya Sean. Baik suara maupun wajahnya terlihat tenang. Tidak terprovokasi sama sekali.
Gigi Catherine gemeretak seketika. “Minggir!” serunya lagi. Kali ini, sambil mulai menekan kukunya ke tangan Sean. Berharap Sean akan kesakitan dan membuatnya lengah untuk sesaat. Dengan begitu, dia bisa kabur.
Sayangnya bagi Sean, rasa sakit itu bukanlah apa-apa. Terlebih kuku Catherine termasuk tumpul.
“Mulutmu bisa saja berbohong, tapi bagaimana kau menjelaskan rona merah ini?” tanya Sean sambil kembali menyapukan jarinya di pipi Catherine.
Catherine buru-buru menyangkal, “Pipiku merah karena marah!”
“Oh, baiklah. Ternyata kau cukup pintar,” desis Sean, merasa kalau percakapan mereka akan semakin menarik. “Lalu bagaimana dengan tingkahmu yang tiba-tiba menjilat bibir dan menelan ludah?”
“Te-tentu saja karena kering! Begitu saja perlu ditanyakan! Apa kau bodoh?” balas Catherine tanpa berani bertatap mata dengan Sean.
“Kalau begitu, kebetulan sekali. Bibir dan tenggorokanmu terasa kering di waktu yang mencurigakan.” Sean kembali memprovokasi.
Catherine berusaha untuk tidak terpancing. Dengan tegas dia mengatakan, “Itu menurutmu, ‘kan?”
“Ck, kau saja yang terlalu percaya diri! Kau kira, seluruh dunia berpusat padamu seorang? Tidak, ‘kan? Aku juga tidak mempunyai alasan yang bagus untuk menatapmu!” omel Catherine kemudian.
Sean menyimak semua itu tanpa mengucap sepatah kata pun. Membiarkan Catherine melampiaskan amarah yang terpendam akibat ulah jahilnya.
Setelah Catherine selesai berbicara, barulah Sean berkomentar, “Kau sungguh pandai membual. Mungkin kalau kau membuka toko ramalan, seluruh pelangganmu akan tertipu dengan mudahnya.”
Wajah Catherine merah padam seketika. “Itu bukan urusanmu! Sekarang lepas! Aku mau makan!”
“Jangan terburu-buru begitu. Aku tidak kemari dengan tangan kosong. Bicarakan bisnis dulu denganku,” ucap Sean, berusaha menahan.
Catherine langsung merotasikan bola mata. “Bisnis? Huh! Itu namanya memperalat, bukan bisnis!”
“Aku tidak bicara soal tawaran yang semalam.” Sean buru-buru mengklarifikasi.
“Lantas?” tanya Catherine seraya menaikkan sebelah alisnya.
Merasa bahwa dia sudah berhasil memancing Catherine, Sean pun mengembangkan senyum kemenangan. Dengan segera, dia menelusupkan tangan ke saku celana. Ponsel yang aslinya berada di meja, dia pindahkan ke saku dengan menggunakan sedikit sihir.
“H-hei, kenapa dia malah mengeluarkan ponsel? Lelaki gila ini bukan mau mengambil foto, ‘kan?” Catherine membatin resah.
Ekspresi Catherine berubah tegang. Jantung pun dag dig dug tidak karuan. Menanti apa yang akan Sean lakukan selanjutnya.
Sementara Catherine dibuat ketar-ketir, Sean menggulir layar ponselnya dengan tenang. Begitu screen lock dibuka, tampillah sebuah foto yang dia siapkan tadi malam.
“Coba lihat ini baik-baik,” ucap Sean sambil membalik ponsel miliknya. Dengan begitu, Catherine akan dapat melihat foto tersebut.
“Ungh, apa ini?” desis Catherine ketika merasa ada sesuatu yang menempel di pinggangnya. Terasa agak berat dan hangat.Didorong oleh rasa penasaran, Catherine memaksakan diri mengusir rasa kantuk yang menggelayuti kelopak mata. Samar, dia melihat ada tangan yang ukurannya jelas melebihi miliknya.Dalam keadaan setengah sadar, Catherine meraba tangan tersebut. Terasa begitu nyata dengan beberapa bulu halus yang tersentuh oleh jemari lentik miliknya.“Heumm.”Suara berat itu terdengar familiar. Diiringi dengan hembusan napas hangat yang menyapu tengkuk lehernya. Catherine terkesiap seketika. Buru-buru dia bangkit. Sepasang mata yang semula maunya terpejam saja, kini membelalak lebar. Menatap horor ke arah tubuh seorang lelaki yang tengah berbaring santai di ranjang.“S-sean?” lirih Catherine tanpa ada niatan memanggil, apalagi membangunkan si lelaki.Detik berikutnya, dahi Catherine dibuat berkerut. Sementara otaknya berpikir keras. “Bagaimana mungkin Sean bisa menerabas masuk? Bukank
“Hoahm!”Catherine menguap ketika sinar mentari pagi yang menyelinap masuk melalui celah jendela, jatuh tepat di kelopak matanya. Memberikan efek silau yang langsung membuatnya terjaga.“Astaga. Apa aku salah tidur semalam? Kenapa badanku rasanya begitu pegal?” heran gadis itu seraya mulai merenggangkan otot tangannya yang kebas.Menganggap ini hal yang biasa, Catherine tidak menanggapinya dengan serius. Tanpa tahu menahu mengenai alasan sebenarnya dari rasa pegal yang dia rasakan, Catherine menjalani hari Minggu ini dengan santai.Sesekali, Catherine turun ke taman untuk memikirkan langkah apa yang sebaiknya diambil terlebih dahulu. Dia benar-benar serius ingin memperbaiki taman di kastil bobrok ini.“Nona rajin sekali,” komentar Ren yang tak sengaja lewat. Catherine membalasnya dengan senyum hangat. “Daripada menganggur, lebih baik kerjakan apa saja yang ada.”“Ngomong-ngomong, kau mau kemana?” tanya Catherine kemudian.“Oh astaga, saya hampir lupa!” seru Ren seraya menepuk jidatny
“Mau aku gendong atau jalan sendiri ke kamar, Cathie?” tawar Sean.Sebetulnya hatinya tidak rela. Ingin bermain-main dengan Catherine lebih lama. Sayangnya, mereka belum menyempurnakan blood contract yang telah terjalin. Sean takut kebablasan mencium bibir Catherine dan membuat tubuhnya mendapatkan serangan balik yang lebih menyakitkan dibanding tersambar petir.“Aku bisa sendiri.” Catherine menyahut cepat.Begitu Catherine turun dari pangkuannya, Sean mengingatkan, “Jangan lupa tanda tangani dulu kontraknya, Cathie. Sudah kau periksa isinya, ‘kan?”“Sudah,” jawab Catherine singkat. “Oh ya, apa kau bisa membantuku bertanya pada Ren?”“Soal apa?”Catherine hanya bisa menjelaskan, “Sikapnya cukup aneh. Kulihat Ren mengusap tengkuk berulang kali, seperti sedang gugup. Tapi dia tidak mau mengaku.”“Oh, mungkin masalah pribadi. Atau dia memang lelah.”Meski Sean mengucapkannya dengan penuh keyakinan, sebetulnya dia sendiri juga tidak yakin. Dia hanya berharap Catherine tidak terlalu kepik
“Catherine?” desis Sean yang mengenali suara itu. Dengan panik, Sean menyerahkan amplop ke tangan Zea. Belum sempat Zea bereaksi, tubuhnya telah diubah Sean menjadi segumpal kabut. Kegilaan Sean tidak hanya sampai di situ. Karena setelahnya, Sean meniupkan angin untuk menghempasnya ke balik pohon besar. Kebetulan tempatnya gelap, sehingga Zea dapat bertransformasi dengan aman. “Sebaiknya aku pergi dari sini supaya tidak menambah masalah,” pikir Zea sambil mengepakkan sepasang sayap coklatnya.Sementara itu, Sean menyambut kedatangan Catherine dengan tatapan dingin. “Kenapa mencariku?” tanyanya datar.“Jelaskan—”Tanpa memberi kesempatan bagi Catherine untuk menjawab, Sean menatap Ren yang berdiri gugup di sampingnya. Dan kebetulan, hal itu memberinya ide untuk sembarangan menuduh,“Oh, apakah Ren membuat kesalahan?”Catherine yang tadinya mau marah-marah pun membatalkan niatnya. Langsung mencoba meluruskan kesalahpahaman ini sebelum terlambat.“Bukan begitu, Sean. Dengarkan aku dul
“Itu … udang?” Catherine tak bisa menahan rasa penasarannya pada salah satu menu yang dibawa oleh Ren.“Ya, tapi jangan khawatir. Aku tahu kalau kau alergi udang. Makanan yang lain dijamin tidak terkontaminasi,” balas Sean.Dada Catherine seolah tertohok. Antusiasme yang semula terpancar di kedua bola matanya, kini perlahan redup.“Bagaimana bisa aku lupa soal ini? Catherine Ethenburough memang alergi dengan udang. Karena aku telah bereinkarnasi ke tubuhnya, sudah pasti aku akan mendapat reaksi alergi kalau nekat memakannya.”Untuk menyelamatkan diri dari kecurigaan Sean, Catherine langsung memasang senyum lebar ketika menoleh ke arahnya sambil berucap, “Kau pengertian sekali.”“Cuma perkara kecil,” sahut Sean yang tak menyadari perubahan ekspresi Catherine.Setelah semua siap dihidangkan, Catherine memilih untuk menyantap cheesy chicken casserole yang terlihat menggugah selera meski penampilannya sungguh sangat asing. Pada zamannya, belum ada yang membuat makanan itu.“Umm … kejunya
“Kau tahu semua itu dan masih berani menggodaku, Cathie?” Sean balas berbisik.Usai mengucapkan itu, Sean bergegas menuju kasir. Sama sekali tidak memperdulikan Catherine yang dibuatnya terkejut di tempat.“Sial!” geram Catherine begitu Sean menjauh. “Untung saja reaksinya cuma begitu. Kalau tiba-tiba mencium, mukaku ini mau ditaruh di mana?”***Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir, Catherine mengira mereka akan langsung pulang. Namun saat melintas di lantai dua, Sean tiba-tiba berkata,"Mampir dulu ke depan sana."Mendengar ucapan Sean, segera Catherine menelusuri kemana sorot mata Sean mengarah. Tepatnya, pada sebuah gerai makanan. Saat mulai mendekat, terasa sekali kalau bau harumnya menyebar kemana-mana."Dia mau mengajakku makan? Dermawan sekali," batin Catherine kemudian.Begitu memasuki gerai makanan cepat saji itu, Sean berkata, "Kau tunggu saja di sini.""Ya," patuh Catherine seraya duduk di kursi yang menurutnya nyaman. Sementara itu, Sean langsung pergi ke kasir untuk







