Share

Pesona Sean

last update publish date: 2026-06-07 15:41:47

“Dia sudah tidur secepat ini?” gumam Sean yang muncul begitu saja di tepi peraduan Catherine.

Sambil duduk santai di ranjang yang digunakan oleh Catherine, sepasang mata Sean menatap penuh selidik. Barangkali tidur Catherine ini cuma pura-pura, demi menghindari murka. Tapi setelah sekian lama mengintai, Sean menarik kesimpulan yang sama.

“Betulan tidur rupanya,” batin Sean seraya menghela napas. 

Menekuk kedua tangan di pinggang, Sean lantas mengomel, ”Untuk apa aku buru-buru berpakaian? Membuang sihirku saja! Huh!”

Karena sebal, Sean ikut berbaring di peraduan. Samar, aroma manis mulai menyapa indra penciumannya. Seolah menggodanya untuk segera mencicipi. 

Sean berusaha keras menahan diri karena tadi, dia sudah menghisap terlalu banyak esensi kehidupan milik Catherine. Tanpa adanya kontrak, Sean tidak mau mengambil resiko. Akibatnya memang fatal, Catherine dapat meregang nyawa sewaktu-waktu.

“Hmm … sepertinya aku sudah menemukan hukuman yang pas untukmu,” desis lelaki itu kemudian. 

Sambil tersenyum licik, Sean menelusupkan tangannya ke pinggang milik Catherine. Dengan hati-hati dia menarik tubuh mungil itu ke dekapannya.

“Jangan harap kau bisa kabur malam ini,” lirih Sean.

Bersamaan dengan itu, Sean mendaratkan sebuah kecupan kecil di kening Catherine.

“Hmm,” desah Catherine ketika tidurnya sedikit terusik.

Sean buru-buru menurunkan pandangan. Menatap pada sepasang kelopak mata Catherine yang masih terpejam.

“Bikin kaget saja,” batin Sean sambil memundurkan wajahnya. 

Lelaki itu lantas ikut memejamkan mata. Berniat menghabiskan malam panjang ini bersama dengan Catherine.

***

“Hoahm!”

Catherine menguap ketika merasa ada cahaya yang menyusup dari celah tirai, berakhir menyinari sepasang matanya yang masih terpejam. 

“Tidur lagi, ah. Lagipula si Ethenburough ini sudah dipecat dari kantornya, ‘kan? Jadi, buat apa aku terburu-buru meninggalkan tempat tidur?” batinnya kemudian.

Dalam keadaan mengantuk itu, Catherine menggeliat. Bermaksud meregangkan otot sebentar. Namun ketika berbalik …

“Aduh!” seru Catherine ketika merasa keningnya terantuk sesuatu. Memang tidak keras, tapi cukup untuk membuatnya terkejut.

Merasa hal ini cukup ganjil,  Catherine mengulurkan tangan. Mencoba meraba benda apa pun itu. Namun saat tangannya merasakan sesuatu, keningnya tambah berkerut.

“Lengket? Teksturnya juga mirip kulit?” bingung Catherine. 

Bersamaan dengan itu, Catherine juga mulai merasa ada sesuatu di pinggang. Akhirnya karena penasaran, Catherine akhirnya membuka kedua mata. Tidak jadi melanjutkan mimpi indahnya. 

Catherine mematung seketika. Kedua bola mata juga membulat sempurna, bagai mata milik burung hantu yang mengintai di kegelapan malam.

“I-ini?” kaget Catherine. 

Perlahan, perempuan bergaun merah itu menurunkan pandangan. Perhatiannya lantas tertuju pada tubuh atas Sean yang hanya dilapisi selembar selimut tipis, memperlihatkan otot-otot bahunya yang terlihat cukup padat.

“Aku masih mimpi atau …?”

Dari sudut matanya, Catherine dapat melihat sebuah kemeja putih yang teronggok begitu saja di sudut ranjang. Catherine pun langsung terpikir kalau kemeja itu milik Sean. Dia juga jadi berasumsi bahwa detail seperti ini cukup mustahil ditemukan di ‘mimpi’. Dengan kata lain, semua ini adalah kenyataan.

Catherine mereguk saliva dengan susah payah. Pipinya mulai bersemu merah, seiring dengan jantung yang berdegup tidak karuan. Bahkan kali ini, perutnya tidak ketinggalan memeriahkan suasana. Catherine merasa ada banyak kupu-kupu yang beterbangan di perutnya.

“Kenapa Sean bisa ada di sini? Kapan dia sampai? Terus … astaga! Bagaimana pakaianku?”

Begitu menyadari tampilan Sean Lamiore yang shirtless, Catherine panik sendiri. Segera dia memastikan bahwa gaun merah miliknya masih melekat pada tubuh.

“Oh, syukurlah!” Catherine mendesah lega saat menjumpai bahwa pakaiannya masih lengkap. Tidak kurang suatu apa.

Mencuri pandang ke arah Sean yang masih terlelap sembari membatin, “Suka banget bikin anak orang jantungan.”

Hela napas Catherine mulai terasa berat seiring waktu. Perasaan gelisah juga mulai muncul di dada.

“Kenapa? Apa yang salah denganku?” gumam gadis itu di dalam hati kecilnya. “Tunggu … aku tidak mulai menaruh rasa pada lelaki gila ini, ‘kan? Sialan!”

Catherine langsung merutuk saat menyadari adanya kemungkinan itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, dia memundurkan tubuh. Berusaha menjauhkan diri dari Sean. 

Baru saja bergerak sedikit, Catherine merasakan dekapan Sean semakin erat. Bahkan, tangan lelaki itu sedikit meremas gaunnya.

“Sudah puas menatapku?”

Suara lembut yang sedikit berat itu mengejutkan indra pendengaran Catherine. Sepasang mata miliknya juga langsung membelalak, adapun batinnya menebak kaget, “Dia sudah bangun dari tadi?”

Rasanya sekarang Catherine ingin lenyap menjadi butiran debu. Dia sungguh tidak kuat menanggung rasa malu.

“Si-siapa yang menatapmu? Aku melihat ke dinding dan pintu, bukan ke arahmu!” dalih Catherine. Rela berbicara asal demi menyelamatkan reputasinya di hadapan Sean.

Mendengar suara Catherine yang sempat tersendat, Sean menaikkan sebelah sudut bibirnya. Mencetak seulas senyum sinis di sana.

“Yakin?” tanya Sean sambil terus mengeratkan dekapan, membuat Catherine makin panik. 

Selanjutnya, Catherine seolah sedang menonton drama. Adapun adegan yang tengah ditampilkan adalah slow motion spesial dari Sean. Dimulai dari sepasang kelopak mata lelaki itu yang terbuka lambat. Begitu bola mata miliknya yang berwarna coklat almond itu tersinari oleh cahaya mentari, Sean merespon dengan kedipan. Lagi-lagi, kedipan lelaki itu sepelan jalannya siput.

Sean mulai bangkit dari tidurnya. Selimut putih yang sedari dari melingkupi tubuhnya pun jatuh, menyingkap otot-otot perutnya yang terlihat menawan.

“So damn hot!” batin Catherine yang mengamati semuanya tanpa sadar.

Mulut gadis itu sedikit terbuka, memberi akses bagi lidahnya untuk membasahi bibirnya. Serangkaian gerakan tidak biasa itu diakhiri dengan satu tegukan penghilang dahaga. 

Dari sudut matanya, Sean juga dapat melihat seluruh tingkah Catherine. 

“Apa-apaan itu?” batinnya, sedikit malu.

Sambil berusaha mengesampingkan perasaan itu, Sean memanfaatkan kesempatan ini  untuk menangkupkan tangannya. Jemari miliknya juga mulai aktif membelai pipi Catherine, mengukir pola abstrak yang membuat Catherine tersadar dari kekagumannya.

“Sial! Pagi-pagi begini sudah dibuat salting!” 

Begitu akal sehatnya kembali, Catherine langsung mencengkeram tangan Sean yang seenaknya mampir di pipi. Sepasang mata biru miliknya juga melotot tajam, seolah ingin menguliti, lalu memanggang Sean hidup-hidup di perapian.

“Singkirkan tangan kotormu!” pinta Catherine dengan nada yang tidak bersahabat.

“Kenapa? Bukankah kau menikmatinya?” tanya Sean. Baik suara maupun wajahnya terlihat tenang. Tidak terprovokasi sama sekali.

Gigi Catherine gemeretak seketika. “Minggir!” serunya lagi. Kali ini, sambil mulai menekan kukunya ke tangan Sean. Berharap Sean akan kesakitan dan membuatnya lengah untuk sesaat. Dengan begitu, dia bisa kabur.

Sayangnya bagi Sean, rasa sakit itu bukanlah apa-apa. Terlebih kuku Catherine termasuk tumpul.

“Mulutmu bisa saja berbohong, tapi bagaimana kau menjelaskan rona merah ini?” tanya Sean sambil kembali menyapukan jarinya di pipi Catherine. 

Catherine buru-buru menyangkal, “Pipiku merah karena marah!”

“Oh, baiklah. Ternyata kau cukup pintar,” desis Sean, merasa kalau percakapan mereka akan semakin menarik. “Lalu bagaimana dengan tingkahmu yang tiba-tiba menjilat bibir dan menelan ludah?”

“Te-tentu saja karena kering! Begitu saja perlu ditanyakan! Apa kau bodoh?” balas Catherine tanpa berani bertatap mata dengan Sean.

“Kalau begitu, kebetulan sekali. Bibir dan tenggorokanmu terasa kering di waktu yang mencurigakan.” Sean kembali memprovokasi.

Catherine berusaha untuk tidak terpancing. Dengan tegas dia mengatakan, “Itu menurutmu, ‘kan?”

“Ck, kau saja yang terlalu percaya diri! Kau kira, seluruh dunia berpusat padamu seorang? Tidak, ‘kan? Aku juga tidak mempunyai alasan yang bagus untuk menatapmu!” omel Catherine kemudian. 

Sean menyimak semua itu tanpa mengucap sepatah kata pun. Membiarkan Catherine melampiaskan amarah yang terpendam akibat ulah jahilnya.

Setelah Catherine selesai berbicara, barulah Sean berkomentar, “Kau sungguh pandai membual. Mungkin kalau kau membuka toko ramalan, seluruh pelangganmu akan tertipu dengan mudahnya.”

Wajah Catherine merah padam seketika. “Itu bukan urusanmu! Sekarang lepas! Aku mau makan!”

“Jangan terburu-buru begitu. Aku tidak kemari dengan tangan kosong. Bicarakan bisnis dulu denganku,” ucap Sean, berusaha menahan.

Catherine langsung merotasikan bola mata. “Bisnis? Huh! Itu namanya memperalat, bukan bisnis!”

“Aku tidak bicara soal tawaran yang semalam.” Sean buru-buru mengklarifikasi.

“Lantas?” tanya Catherine seraya menaikkan sebelah alisnya.

Merasa bahwa dia sudah berhasil memancing Catherine, Sean pun mengembangkan senyum kemenangan. Dengan segera, dia menelusupkan tangan ke saku celana. Ponsel yang aslinya berada di meja, dia pindahkan ke saku dengan menggunakan sedikit sihir.

“H-hei, kenapa dia malah mengeluarkan ponsel? Lelaki gila ini bukan mau mengambil foto, ‘kan?” Catherine membatin resah. 

Ekspresi Catherine berubah tegang. Jantung pun dag dig dug tidak karuan. Menanti apa yang akan Sean lakukan selanjutnya. 

Sementara Catherine dibuat ketar-ketir, Sean menggulir layar ponselnya dengan tenang. Begitu screen lock dibuka, tampillah sebuah foto yang dia siapkan tadi malam.

“Coba lihat ini baik-baik,” ucap Sean sambil membalik ponsel miliknya. Dengan begitu, Catherine akan dapat melihat foto tersebut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kau Milikku Sekarang

    “Jangan buat pikiranku jadi liar begini, Cathie,” lirih Sean. Suara seraknya itu sebetulnya nyaris tidak terdengar. Namun di saat yang tepat, berhembus angin sepoi yang nakal. Menghantarkan pesan memalukan itu pada Catherine.“Hah?” respon Catherine sambil menaikkan sebelah alis.Melihat wajah Catherine yang bingung maksimal, Sean jadi sadar kalau pemikirannya masih polos. Berbanding terbalik dengan otaknya yang gampang memikirkan aneka hal kotor. Fakta ini pun membuatnya malu sendiri.“K-kau tidak perlu tahu,” ujar Sean kemudian.Supaya rasa malunya ini tidak berlarut-larut, Sean mengajak, “Bisa kita lakukan sekarang?”Menggaruk kepala yang tidak gatal, Catherine lalu membalas, “Boleh saja. Tapi memangnya kau punya jarum?”“Ada.”Sean memasukkan tangan ke dalam saku. Diam-diam menggerakkan jarinya untuk menciptakan sebuah jarum tajam. Sambil mengeluarkannya, Sean berkata, “Nih.”“Tidak bisa dipercaya!” kaget Catherine di dalam hati. Dia bahkan mengucek-ngucek kedua mata, saking tida

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Blood Contract

    “Sederhananya, kita ciuman di sini,” ujar Sean, mengakhiri keheningan yang sempat menguasai ruangan ini ketika melamunkan ingatannya semalam. Mata Catherine melotot seketika. Ditunjuknya patung Dewi Silencia sambil berujar tak percaya, “Ini tempat— maksudku ruangan suci, ‘kan? Bukankah ini sedikit tidak pantas?”“Ini bukan ciuman karena hasrat, Cathie. Lagipula bukankah orang-orang yang baru saja menikah, juga bisa ciuman di gereja? Disaksikan banyak orang pula.”Sean berusaha bersabar meski sekarang, pipinya mulai memunculkan semburat merah muda.“Tapi kita nggak nikah, Sean. Mana bisa disamakan,” protes Catherine. Sedikit menyiratkan kalau dia ingin Sean memberinya penjelasan yang memuaskan. Sean mengelap wajahnya gusar.“Kau pernah dengar blood contract?” tanyanya lamat setelah berpikir beberapa saat.“Emm … kontrak darah?” jawab Catherine penuh keraguan. Dahinya bahkan berkerut sempurna.Catherine tidak melanjutkan ucapannya. Sibuk memikirkan apa sebenarnya yang dimaksud oleh Se

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Jangan Cium di Sini

    “Kau kecanduan menciumku atau bagaimana?” heran Sean di dalam hatinya.“Oh, astaga!” batin lelaki itu begitu sekelebat ingatan tiba-tiba terputar di kepala. “Pasti karena ucapanku tadi.”Andaikan Catherine tidak menutup mata, maka dia bisa melihat tampang Sean yang begitu licik. Sudut bibirnya bahkan terangkat sebelah.Sean lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Kepalanya sedikit menunduk ketika menekan bibir Catherine dengan jari telunjuk,“Tidak di sini, Cathie,” lirih Sean. Suara rendahnya itu entah ditujukan untuk menggoda Catherine, atau ada maksud lain.Giliran Catherine yang terkesiap. Sepasang mata bulatnya mengedip-ngedip tak percaya ketika Sean menghentikan surprise yang dia rencanakan secara mendadak.“Apa mungkin, dia cuma mau ganti tempat?” pikir Catherine lagi, merujuk pada kalimat yang baru saja Sean ucapkan. Sementara Catherine sibuk memeras otak, Sean mulai melancarkan aksinya.“Agresif sekali.”Cup!“Umm.”Suara memalukan itu lolos begitu saja dari bibir mu

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Ganti Saja di Depanku

    “Apa-apaan sikapnya itu? Sebentar romantis, terus tiba-tiba dingin. Juga ada saatnya dia menggila atau bersikap menjengkelkan. Aku benar-benar tidak bisa memahami isi pikiran Sean,” batin Catherine sambil sedikit meremas kemeja krem pemberian Sean.Diam-diam, dia mencuri pandang ke arah lelaki itu. Sayangnya hanya punggung Sean yang bisa dia lihat. Selebihnya tersembunyi dibalik pintu.Meskipun begitu, kesibukannya jelas terlihat oleh mata Catherine. Pelahan, Catherine menelusupkan tangannya pada lengan kemeja. Karena berjalan lancar, dia masukkan tangan satunya juga. Sehingga sekarang, kemeja itu benar-benar terpakai olehnya.“Tanpa perlu memasang kancingnya, ukurannya memang pas,” komentar Catherine. “Tapi, bagaimana bisa Sean punya kemeja seukuran ini? Tidakkah hal ini terlalu mencurigakan?”“Haruskah aku bertanya? Atau—”“Apa lagi yang sedang kau pikirkan?” keluh Sean.Tadinya Sean mau memberikan celana untuk Catherine. Namun Sean membatalkan niatnya ketika mendapati sosok Cather

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kemeja Untukmu

    “Ruangan apa ini?”Catherine bergumam lirih ketika Sean memasuki sebuah ruangan. Sepasang matanya lalu sibuk memandang kesana kemari, mencermati setiap sudut ruangan asing itu.Merasa kalau ruangan tersebut aman untuk dia masuki, Catherine pun ikut menginjakkan kakinya ke sana. Saat tangannya tidak sengaja menyentuh dinding, jemarinya merasakan tekstur lembut yang cukup memuaskan.“Apa ini?” tanyanya penasaran sambil mulai melihat ke arah tembok.Terlihat olehnya kain berbulu warna merah pekat yang dihias dengan sulaman keemasan. Tadi dia sempat mengira kalau kain itu paling cuma barang murahan yang asal ditempelkan. Namun setelah meraba teksturnya, sekaligus menyadari bahwa kain tersebut memiliki kilau yang memikat, Catherine menyimpulkan,“Sulit dipercaya! Aku berani bertaruh kalau kain beludru ini dibuat dari sutra, sementara bulunya diambil dari cerpelai putih. Kualitasnya begitu tinggi dan sepertinya, benang emas ini juga dipintal memakai lempengan emas murni,” batin Catherine.P

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Bantu Aku, Dong!

    “Dari sekian banyak buku yang sudah kau kumpulkan, satu-satunya petunjuk yang konsisten cuma soal tanggal dan bulan kembar itu? Cih! Sungguh tidak berguna!”Bertepatan dengan berakhirnya omelan Sean itu, terdengar suara kencang yang memekakkan telinga. Asalnya dari meja yang ditendang oleh Sean sebagai pelampiasan rasa kesal.Saking kuatnya tendangan lelaki itu, meja tersebut sampai terbang. Setumpuk buku yang semula berada di atasnya, kini berhamburan tanpa arah.“Ya Tuhan!” jerit batin Ren ketika menyadari bahwa meja tersebut melayang ke arahnya.Tidak mau berakhir menjadi ayam geprek, Ren segera meloncat ke samping. Namun tanpa disangka, Ren terpeleset saat hendak mendarat. Dia pun berakhir jatuh terduduk. Ditambah satu buku tebal yang menimpa kepala.“Auw,” desis Ren.Baru saja tangannya hendak menyentuh kepala, fokus Ren teralihkan pada meja yang hancur berantakan begitu menyentuh tembok. Bahkan, serpihan kayu melesat ke arahnya.“Barrier!” Ren buru-buru merapalkan mantra, menci

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status