LOGINDengan lihai, Sean menelusupkan tangannya di pinggang Catherine. Hal itu sukses membuat Catherine mereguk saliva dengan susah payah.
Sapuan napas hangat Sean saja sudah berhasil membuat jantungnya berdetak kacau, eh sekarang datang lagi masalah baru.
“Sial! Ini bukan waktunya berdebar-debar seperti orang yang sedang jatuh cinta, bodoh!” Catherine mengecam dirinya sendiri.
Sambil menahan malu, Catherine meneguhkan hati. Ternyata dalam sekali coba, Catherine berhasil menarik handle pintu. Namun …
“Terkunci?”
Catherine memalingkan wajah. Sepasang matanya terlihat berkilat, menyiratkan amarah yang sudah mau meledak.
Ekspresi Catherine membuat Sean tidak sanggup menahan tawa. Alhasil sekarang, tawa lelaki itu bergema di seisi kabin.
“Sudah kubilang, ‘kan? Kau tidak bisa masuk dan keluar seenaknya.”
Tangan Catherine terkepal erat. Bahkan buku-buku jarinya memutih. Sudah gatal ingin menonjok wajah Sean.
Akan tetapi, Catherine berusaha mengendalikan diri. Takut menyebabkan Sean menemukan alasan lain untuk kembali meminta ganti rugi. Atau lebih parahnya, mencium paksa seperti tadi.
“Tiket keluarnya sudah kubayar lunas, jadi biarkan aku pergi!” Catherine berujar dengan pipi merona. Sulit dikatakan apakah rona itu disebabkan oleh marah atau malu.
“Belum,” sahut Sean sambil mengeratkan dekapannya di pinggang. Lalu dengan santai, menopangkan dagunya di bahu Catherine.
Refleks Catherine melipat bibirnya rapat-rapat. Geli.
“Astaga, lelaki kurang waras ini!” Catherine hanya bisa merutuk di dalam hati.
Kalau bisa, Catherine ingin menyugar rambutnya untuk meluapkan emosi. Sayang sekali pergerakannya terbatas. Tangan kanannya masih digenggam Sean, sedangkan tangan kiri terhimpit antara tubuhnya dan kursi mobil. Tak bisa bergerak bebas.
“Apa aku salah sudah menerima tawaran reinkarnasi dari Dewi Silencia? Mungkinkah aku seharusnya mendengarkan nasihat Dewi Astressia untuk langsung menuju alam baka?”
Ingatan Catherine pun kembali di saat dimana dia terbangun di sebuah ruang kosong dalam bentuk bola jiwa. Meski dalam wujud itu dia tidak memiliki telinga, akan tetapi dia bisa mendengar ucapan penuh simpati yang dilontarkan oleh Dewi Astressia.
“Menikah selama 72 tahun tapi masih perawan? Bukankah itu sangat disayangkan?”
Kalau saja waktu itu Catherine van Lammington berada dalam wujud manusia, sudah pasti dia mengembangkan senyum pahit.
“Kalau itu aku, sudah pasti aku melayangkan surat cerai. Lagipula dengan kemampuan yang kau miliki itu, banyak penguasa yang mau menerimamu secara sukarela,” imbuh sang dewi agung.
Dengan penuh hormat, Catherine membalas, “Bukankah itu artinya, hamba melanggar sumpah pernikahan seumur hidup yang saya ucapkan atas nama Anda?”
Astressia menghela napas. “Apakah kau tahu? Setiap harinya, ada saja yang melanggar sumpah yang sudah mereka ucapkan atas namaku.”
“Hamba tidak berani berbuat demikian.”.
Respon Catherine sungguh membuat Astressia kehilangan kata-kata. “Baiklah. Karena kau begitu teguh memegang prinsip, silahkan menyeberangi jembatan itu untuk sampai di alam baka. Aku sudah menyediakan banyak hal untukmu disana. Anggap saja kompensasi karena—”
“Kau menyebut hal seperti itu sebagai kompensasi? Membosankan.”
Belum sempat Astressia menyelesaikan ucapannya, Silencia muncul. Kabut ungu gelap miliknya menyebar di sekitar kaki, bagai pijakan lembut yang selalu menemani.
Astressia menyambut kedatangan Silencia dengan wajah sinis. “Apakah urusan di dunia Syllibis-mu terlalu simpel, sampai membuat kau berkeliaran di wilayah dewa milikku?”
“Bukankah kau yang kurang kerjaan? Setiap hari berbincang dengan ratusan bola jiwa. Padahal lebih mudah kalau kau langsung mengirimkan mereka ke alam baka,” balas Silencia seraya menunjuk pada ribuan bola jiwa yang mengambang di luar ruangan.
Untuk kedua kali, Astressia menghela napas. “Aku tidak punya waktu meladenimu.”
Astressia, yang tak lain adalah dewi agung pengelola dunia Astrea —dunianya Catherine, mengalihkan tatapan pada bola jiwa di hadapannya. Dia lalu memberi perintah, “Kau boleh pergi.”
“Tunggu! Aku punya perlu dengannya!” cegah Dewi Silencia.
Astressia mengerutkan dahi. “Kepentingan macam apa yang bisa kau punya dengan dia? Jangan membual di tempatku, Silencia.”
Silencia berdecak kesal sebelum memberitahu, “Aku bisa memberinya kesempatan kedua.”
“Aku tahu kalau kau ingin punya pengalaman yang mendebarkan dengan laki-laki. Hal itu bisa aku berikan padamu,” imbuh Silencia sembari menatap lurus ke arah Catherine.
“Kesempatan kedua?” beo Catherine.
“Benar,” sahut Silencia dengan disertai anggukan kepala. “Kebetulan aku memiliki tiga pilihan untukmu. Kalau kau tidak suka lelaki yang pertama, tinggal teriakkan namaku sekuat tenaga. Maka, aku akan mengirimkan kamu ke yang kedua.”
Penawaran dari Dewi Silencia terdengar menjanjikan. Bohong kalau Catherine berkata bahwa dia sama sekali tidak tertarik. Tapi,
“Apakah ada hal yang bisa hamba lakukan untuk Anda, Dewi Agung Silencia?”
Catherine ingin memastikan alasan dibalik kemurahan hati sang dewi. Sebab menurutnya, mana mungkin Silencia begitu bermurah hati memberikan kesempatan berharga seperti ini secara cuma-cuma.
“Duniaku perlu diubah sedikit. Dengan pemikiran dan keteguhan hatimu itu, menurutku kau adalah kandidat terbaik,” ungkap Silencia.
Karena situasi sudah berkembang menjadi seperti ini, Silencia merasa bahwa dia tidak perlu menyembunyikan apa pun. Makanya dia tidak ragu untuk menambahkan,
“Jujur saja, aku juga sudah lama memperhatikan dirimu. Aku benar-benar menunggu waktu dimana kau akhirnya memasuki ruangan Astressia. Dengan begitu, aku bisa menawarkan ini padamu.”
Mendengar ucapan jujur Silencia, Astressia bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Dewi itu bahkan memijit kening seraya menggeleng-gelengkan kepala.
“Kau itu seorang dewi, tapi selalu mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan masalah,” omel Astressia.
Silencia menutup telinga. Bersikap seolah tidak peduli akan cercaan yang baru saja dia dengar.
Sementara dua dewi itu ribut sendiri, Catherine fokus mempertimbangkan tawaran dari Dewi Silencia dengan matang. Setidaknya, sampai dia mendengar satu nasihat dari Dewi Astressia.
“Catherine, kau tolak saja permintaan tidak masuk akal itu. Entah apa yang Silencia rencanakan, tapi pasti bukan hal yang baik.”
Wajah Dewi Astressia memang dilingkupi oleh sinar terang, sampai tidak ada satu pun fitur wajahnya yang dapat dilihat oleh mata manusia biasa seperti Catherine. Namun, Catherine bisa merasakan ketulusan yang dia ucapkan.
“Hamba sungguh menghargai niat baik Anda, Dewi Astressia. Namun hamba tidak berani menolak anugerah dari Dewi Silencia. Terlebih Dewi Silencia bersedia menunggu hamba agar semuanya berjalan secara alami.”
Dengan nada yang sendu, Catherine menambahkan, “Nyawa hamba yang begitu tidak berharga ini … bukankah bisa dicabut kapan saja?”
“Ayolah. Bagi dewi abadi seperti kami, menunggu kematianmu itu sama cepatnya dengan menghela napas,” ujar Astressia, mencoba mengubah pendirian Catherine.
“Sudahlah, Astressia. Tekadnya sudah bulat. Bahkan kau selaku dewi pelindung dunianya, juga tidak akan bisa menghalangi.” Silencia mengungkapkan pendapatnya.
Astressia menghela napas, entah untuk keberapa kalinya hari ini. Dia lantas berujar, “Berjanjilah padaku untuk mengembalikan Catherine kalau dia gagal dalam tiga pilihan yang kau sebut itu.”
“Tentu. Aku bisa menjamin ini,” balas Silencia penuh percaya diri.
Silencia lantas mengulurkan tangannya ke depan. Bukan untuk meraih bola jiwa Catherine, melainkan untuk menciptakan seberkas cahaya terang.
“Kondisi tempatmu bereinkarnasi akan jauh berbeda dengan keadaan di zamanmu. Namun jangan khawatir. Dalam perjalanan, perlahan aku akan memasukkan semua informasi yang kamu butuhkan untuk berbaur dengan orang-orang di sekitar. Dengan begitu, tidak akan ada yang sadar kalau kamu datang dari zaman, atau bahkan dunia yang berbeda,” ucap Silencia, yang langsung disambut anggukan kepala oleh Catherine.
“Ingat, Catherine. Segera teriakkan namaku kalau kau merasa tidak cocok dengan lelaki pilihanku. Tidak perlu pakai embel-embel dewi,” pesan Dewi Silencia. Nada bicaranya begitu serius.
“Hamba akan mengingat nasihat Anda,” jawab Catherine, tidak berani meremehkan pesan yang sudah disampaikan dua kali.
Silencia mengangguk senang. Lalu dengan lembut, ditiupnya cahaya di dalam genggaman. Perlahan, sinar terang itu melingkupi bola jiwa Catherine. Menemaninya melintasi dimensi ruang dan waktu. Yang juga berarti mengirimkan Catherine dengan selamat ke sisi Arley. Adapun kelanjutan kisahnya, sungguh ingin Catherine hapus dari ingatan.
Hanya dengan mengingat pertemuan mengerikannya dengan Arley, Catherine mendesah jengkel. Napas tipisnya meninggalkan embun tipis di jendela, sedikit membuatnya kabur.
“Haruskah aku kembali menggunakan mantra yang diberikan oleh Dewi Silencia?” bimbang Catherine di dalam hati.
Mengepalkan tangan dengan erat. “Sial! Padahal aku sudah meminta ini itu pada Dewi Silencia supaya berhasil lolos dari jebakan maut yang dipasang James. Tapi, kenapa aku malah terjebak di sisi orang gila ini? Sean … dia tidak mungkin adalah lelaki yang dimaksud oleh Dewi Silencia, ‘kan?”
“Hoahm!”
Suara nyaring itu langsung menyita perhatian Catherine. Pelakunya siapa lagi kalau bukan Sean.
“Dia menganggapku sebagai bantal, hah?! Benar-benar menyebalkan!” gemas Catherine.
Kembali menghembuskan napas kesal, Catherine lantas mencoba peruntungan selagi Sean masih terjaga, “Apa aku sudah boleh pergi sekarang? Jujur saja, bahuku sudah pegal.”
Sean masih dikuasai oleh kantuk. Oleh karena itu, dia mengeratkan dekapannya sambil meminta lirih, “Sebentar lagi.”
“Ungh, apa ini?” desis Catherine ketika merasa ada sesuatu yang menempel di pinggangnya. Terasa agak berat dan hangat.Didorong oleh rasa penasaran, Catherine memaksakan diri mengusir rasa kantuk yang menggelayuti kelopak mata. Samar, dia melihat ada tangan yang ukurannya jelas melebihi miliknya.Dalam keadaan setengah sadar, Catherine meraba tangan tersebut. Terasa begitu nyata dengan beberapa bulu halus yang tersentuh oleh jemari lentik miliknya.“Heumm.”Suara berat itu terdengar familiar. Diiringi dengan hembusan napas hangat yang menyapu tengkuk lehernya. Catherine terkesiap seketika. Buru-buru dia bangkit. Sepasang mata yang semula maunya terpejam saja, kini membelalak lebar. Menatap horor ke arah tubuh seorang lelaki yang tengah berbaring santai di ranjang.“S-sean?” lirih Catherine tanpa ada niatan memanggil, apalagi membangunkan si lelaki.Detik berikutnya, dahi Catherine dibuat berkerut. Sementara otaknya berpikir keras. “Bagaimana mungkin Sean bisa menerabas masuk? Bukank
“Hoahm!”Catherine menguap ketika sinar mentari pagi yang menyelinap masuk melalui celah jendela, jatuh tepat di kelopak matanya. Memberikan efek silau yang langsung membuatnya terjaga.“Astaga. Apa aku salah tidur semalam? Kenapa badanku rasanya begitu pegal?” heran gadis itu seraya mulai merenggangkan otot tangannya yang kebas.Menganggap ini hal yang biasa, Catherine tidak menanggapinya dengan serius. Tanpa tahu menahu mengenai alasan sebenarnya dari rasa pegal yang dia rasakan, Catherine menjalani hari Minggu ini dengan santai.Sesekali, Catherine turun ke taman untuk memikirkan langkah apa yang sebaiknya diambil terlebih dahulu. Dia benar-benar serius ingin memperbaiki taman di kastil bobrok ini.“Nona rajin sekali,” komentar Ren yang tak sengaja lewat. Catherine membalasnya dengan senyum hangat. “Daripada menganggur, lebih baik kerjakan apa saja yang ada.”“Ngomong-ngomong, kau mau kemana?” tanya Catherine kemudian.“Oh astaga, saya hampir lupa!” seru Ren seraya menepuk jidatny
“Mau aku gendong atau jalan sendiri ke kamar, Cathie?” tawar Sean.Sebetulnya hatinya tidak rela. Ingin bermain-main dengan Catherine lebih lama. Sayangnya, mereka belum menyempurnakan blood contract yang telah terjalin. Sean takut kebablasan mencium bibir Catherine dan membuat tubuhnya mendapatkan serangan balik yang lebih menyakitkan dibanding tersambar petir.“Aku bisa sendiri.” Catherine menyahut cepat.Begitu Catherine turun dari pangkuannya, Sean mengingatkan, “Jangan lupa tanda tangani dulu kontraknya, Cathie. Sudah kau periksa isinya, ‘kan?”“Sudah,” jawab Catherine singkat. “Oh ya, apa kau bisa membantuku bertanya pada Ren?”“Soal apa?”Catherine hanya bisa menjelaskan, “Sikapnya cukup aneh. Kulihat Ren mengusap tengkuk berulang kali, seperti sedang gugup. Tapi dia tidak mau mengaku.”“Oh, mungkin masalah pribadi. Atau dia memang lelah.”Meski Sean mengucapkannya dengan penuh keyakinan, sebetulnya dia sendiri juga tidak yakin. Dia hanya berharap Catherine tidak terlalu kepik
“Catherine?” desis Sean yang mengenali suara itu. Dengan panik, Sean menyerahkan amplop ke tangan Zea. Belum sempat Zea bereaksi, tubuhnya telah diubah Sean menjadi segumpal kabut. Kegilaan Sean tidak hanya sampai di situ. Karena setelahnya, Sean meniupkan angin untuk menghempasnya ke balik pohon besar. Kebetulan tempatnya gelap, sehingga Zea dapat bertransformasi dengan aman. “Sebaiknya aku pergi dari sini supaya tidak menambah masalah,” pikir Zea sambil mengepakkan sepasang sayap coklatnya.Sementara itu, Sean menyambut kedatangan Catherine dengan tatapan dingin. “Kenapa mencariku?” tanyanya datar.“Jelaskan—”Tanpa memberi kesempatan bagi Catherine untuk menjawab, Sean menatap Ren yang berdiri gugup di sampingnya. Dan kebetulan, hal itu memberinya ide untuk sembarangan menuduh,“Oh, apakah Ren membuat kesalahan?”Catherine yang tadinya mau marah-marah pun membatalkan niatnya. Langsung mencoba meluruskan kesalahpahaman ini sebelum terlambat.“Bukan begitu, Sean. Dengarkan aku dul
“Itu … udang?” Catherine tak bisa menahan rasa penasarannya pada salah satu menu yang dibawa oleh Ren.“Ya, tapi jangan khawatir. Aku tahu kalau kau alergi udang. Makanan yang lain dijamin tidak terkontaminasi,” balas Sean.Dada Catherine seolah tertohok. Antusiasme yang semula terpancar di kedua bola matanya, kini perlahan redup.“Bagaimana bisa aku lupa soal ini? Catherine Ethenburough memang alergi dengan udang. Karena aku telah bereinkarnasi ke tubuhnya, sudah pasti aku akan mendapat reaksi alergi kalau nekat memakannya.”Untuk menyelamatkan diri dari kecurigaan Sean, Catherine langsung memasang senyum lebar ketika menoleh ke arahnya sambil berucap, “Kau pengertian sekali.”“Cuma perkara kecil,” sahut Sean yang tak menyadari perubahan ekspresi Catherine.Setelah semua siap dihidangkan, Catherine memilih untuk menyantap cheesy chicken casserole yang terlihat menggugah selera meski penampilannya sungguh sangat asing. Pada zamannya, belum ada yang membuat makanan itu.“Umm … kejunya
“Kau tahu semua itu dan masih berani menggodaku, Cathie?” Sean balas berbisik.Usai mengucapkan itu, Sean bergegas menuju kasir. Sama sekali tidak memperdulikan Catherine yang dibuatnya terkejut di tempat.“Sial!” geram Catherine begitu Sean menjauh. “Untung saja reaksinya cuma begitu. Kalau tiba-tiba mencium, mukaku ini mau ditaruh di mana?”***Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir, Catherine mengira mereka akan langsung pulang. Namun saat melintas di lantai dua, Sean tiba-tiba berkata,"Mampir dulu ke depan sana."Mendengar ucapan Sean, segera Catherine menelusuri kemana sorot mata Sean mengarah. Tepatnya, pada sebuah gerai makanan. Saat mulai mendekat, terasa sekali kalau bau harumnya menyebar kemana-mana."Dia mau mengajakku makan? Dermawan sekali," batin Catherine kemudian.Begitu memasuki gerai makanan cepat saji itu, Sean berkata, "Kau tunggu saja di sini.""Ya," patuh Catherine seraya duduk di kursi yang menurutnya nyaman. Sementara itu, Sean langsung pergi ke kasir untuk







