Share

Bahuku Pegal, Sean

last update publish date: 2026-06-02 22:54:08

“Harus banget tidur di bahuku? Disini kan ada kursi yang lebih empuk! Lagian kalau udah ngantuk berat, kenapa nggak pulang ke rumah, sih? Ngerepotin orang aja!”

Catherine menarik napas panjang, berusaha memadamkan emosi yang sempat membara di dalam hati. “Oke, Cathie … tahan sebentar lagi. Setelah itu, lebih baik jangan terlibat dengan orang gila ini!”

Tepat pukul 9 malam, Sean terbangun dari mimpi indahnya. Hal yang pertama kali dia lakukan adalah mengucek mata. Tak lupa melonggarkan dekapannya di pinggang ramping milik Catherine.

“Aku mau pergi sekarang.” Catherine berucap tegas ketika melihat kesempatan emas.

“Sana.” Sean menyahut singkat. Tidak menghalangi ataupun memiliki niat untuk mempersulit Catherine. Lalu dengan santai, Sean merebahkan punggungnya di sandaran kursi yang terasa nyaman.

Catherine mengepalkan tangannya dengan erat. Sambil tersenyum karir, dia berujar lambat, “Kau mengunci pintunya.”

“Apa kau bodoh?” tanya Sean.

“Aku tidak bodoh!” sangkal Catherine dengan kedua mata yang melotot. Agaknya dia sudah tidak sanggup lagi menahan amarah yang sedari tadi mengendap di dalam dada. 

Karena tidak mau memperpanjang masalah sepele ini, Sean segera menunjuk pada sederet tombol yang berada tak jauh dari handle pintu. “Tinggal tekan tombol itu.”

“Apa?!” batin Catherine menjerit histeris. Otaknya juga langsung berpikir, “Jadi tadi dia sengaja menggenggam tanganku untuk mengalihkan perhatian, supaya aku tidak sadar dia sedang mengunci pintu? Oh, astaga!”

Catherine memijat kening. Tidak tahu harus bagaimana lagi merutuki kebodohan serta kecerobohan yang sudah dia lakukan.

Di sampingnya, Sean menatap heran. Sebelah alisnya bahkan terangkat saat mendapati Catherine yang malah melamun, alih-alih turun dari mobil.

“Tidak jadi pergi?”

“Aku mau! Tapi tidak tahu harus menekan yang mana,” bohong Catherine. Dia terlalu malu mengakui hal yang dia lamunkan tadi.

Sean langsung tersedak karena terkejut. Bahkan saking kagetnya, rasa kantuk seolah lenyap begitu saja. Berganti dengan rasa penasaran yang mulai merayapi hati kecilnya.

“Seperti belum pernah naik mobil saja,” cibir Sean. Lelaki itu lantas mencondongkan tubuhnya, bermaksud meraih tombol di pintu. 

Melihat tangan Sean yang terulur ke arahnya, otak Catherine menyalakan alarm bahaya. Oleh karena itu, segera dia memundurkan diri sejauh mungkin. Bahkan punggungnya benar-benar menempel di kursi. Kedua mata terpejam takut, sedangkan hatinya bersiap untuk menghadapi situasi terburuk.

“Ada apa dengannya? Bukankah ini terlalu berlebihan kalau dia mau menyisihkan sedikit ruang bagiku?” bingung Sean.

Tanpa menanyai sikap aneh Catherine, Sean memutuskan untuk menyelesaikan apa yang dia mulai. Sekalian menarik handle pintunya, anggap saja sebagai bonus. 

“Turun, sana. Jangan sisakan aura bodohmu sedikit pun! Aku tidak mau mobilku tercemar!” usir Sean 

Ucapan Sean sontak membuat Catherine terkejut. Sepasang mata bulatnya berkedip cepat sambil membatin, “Barusan, dia mendekat karena mau membukakan pintu? Aku kira … ah, sudahlah! Lebih baik aku buru-buru turun sebelum dia berubah pikiran.”

Tanpa mengucapkan apa pun, Catherine melangkahkan kakinya turun. Namun baru saja bergerak, dia merasa kesemutan.

“Sial! Sudah berapa lama aku duduk di sana?”

Menatap kesal ke arah Sean, Catherine berkata dengan suara terpaksa, “Biarkan aku duduk sebentar. Kakiku pegal.”

Sean menyipitkan mata. Sepatah kata meluncur dari bibir merahnya, “Manja.”

“Kau yang manja!” Catherine berseru penuh emosi. Bahkan tangannya menuding lurus ke arah Sean.

Tanpa diduga, Sean menjulurkan lidah. Seolah sedang mengejek Catherine. “Kalau kubilang kamu, ya kamu!”

Dibutakan oleh emosi, Catherine bergegas melepas high heels yang dia kenakan. Lalu, langsung dia lemparkan ke arah Sean.

“Hei!” seru Sean begitu sepatu Catherine nyaris mengenai kepala.

Catherine berdecak tak puas ketika sasarannya berhasil menghindar. Segera dia melepas high heels satunya.

“Cukup!” cegah Sean. Lelaki itu bahkan repot-repot mencekal lengan Catherine.

Sambil menjaga jarak, Sean berkata, “Yang ini tidak akan aku perhitungkan denganmu. Sekarang pergi, jangan buat masalah lagi!”

Catherine masih berdiri tegak di tempatnya. Sepasang matanya terlihat menyala, bagaikan kobaran api unggun di kegelapan malam.

“Ambilkan sepatuku!” perintah Catherine dengan nada seriusnya.

“Dikasih hati, malah minta jantung! Kau kira, aku ini pembantumu?!” geram Sean yang merasa terhina. Dia menganggap bahwa menyanggupi perintah Catherine berarti dia mengakui bahwa kedudukan Catherine lebih tinggi dari dia.

Catherine mendengus. “Bukankah aku yang seharusnya mengatakan itu?” tanyanya geram.

Ucapan Catherine semakin membuat Sean jengkel. Segera dia berteriak, “Erick!”

“Siap, Tuan!” jawab Erick yang bersiaga tidak jauh dari sana. Tergopoh lelaki itu mendekat. 

Tanpa berani bertanya tentang perseteruan tuannya dengan Catherine, Erick berkata, “Silahkan beri perintah Anda, Tuan.”

Jujur, suasana hati Sean menjadi sedikit lebih baik mendengar ucapan Erick yang penuh oleh kepatuhan dan ketulusan. Dengan suara yang sedikit lunak, Sean menyampaikan perintah, “Kita pulang sekarang.”

“Kau! Kembalikan dulu sepatuku!” tuntut Catherine.

“Malas!” balas Sean sembari menghempaskan tubuh Catherine dengan kasar, membuat gadis itu terhuyung ke belakang. Berakhir jatuh terduduk di parkiran.

Sean tersenyum sinis. Lalu tanpa menaruh rasa belas kasih sedikit pun, lelaki itu menutup pintu. Tidak lupa untuk menguncinya. Siapa tahu Catherine nekat mau menerobos masuk.

Tatapan Sean kini beralih ke depan. Dia juga memberikan perintah dengan nada dingin, “Jalan!”

“Baik, Tuan!” sahut Erick yang sama sekali tidak berani membantah.

Roda kendaraan mewah itu pun mulai bergulir ke jalan raya. Dari kaca spion, Sean bisa melihat wajah frustasi Catherine. Seulas senyum tipis terkembang di bibir merahnya ketika Catherine mulai bangkit. Berusaha mengejar laju mobilnya.

“Tingkah lakunya memang gampang ditebak” lirih Sean di dalam hati. Lelaki itu lantas memejamkan mata, mencoba rileks.

***

“Keterlaluan! Sikapnya sungguh kekanak-kanakan!” 

“Aargh! Seharusnya aku tidak menahan diri melempar sepatu ini biar cat mobilnya tergores! Aku justru ingin melihat apakah dia berani menghentikan mobilnya atau cuma berteriak dari jendela seperti pengecut rendahan!”

Untuk sedikit menghibur diri atas kegagalannya menyusul mobil Sean, Catherine meluapkan emosinya dengan cara memaki Sean semaunya. Setelah puas, barulah Catherine mengelap keringat yang bercucuran di wajah. 

Saat itu pula, sekujur tubuhnya terasa lelah. Napas pun tersengal. Padahal tadi, semua itu sama sekali tidak terasa.

“Huh! Aku pasti akan membuat dia membayar semua ini!” seru Catherine sambil berkacak pinggang. “Jangan kira cuma kau yang perhitungan sama orang! Aku juga bisa seperti itu!”

Catherine lantas berbalik, berjalan ke gedung yang sudah ditinggalkan oleh tamu undangan. Dia juga terlihat tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitar saat mereka melihatnya menenteng sebelah high heels secara terang-terangan di tangan. Sebab baginya sekarang, fokusnya terpusat untuk menyusun rencana balas dendam.

“Nona!”

Seruan penuh nada kekhawatiran itu membuyarkan konsentrasi Catherine. Dia menaikkan pandangan, menemukan sosok Albrighton yang menuruni tangga dengan tergesa.

Sebelum lelaki tua itu menghampirinya, Catherine menyempatkan diri untuk mengedar pandang ke sekitar. Sekarang, ruangan mewah berdekorasi megah ini terlihat sangat sepi. Hanya ada staf gedung yang berlalu lalang untuk membereskan ruangan.

“Anda memiliki keperluan dengan saya?” Catherine berusaha bersikap sesopan mungkin pada Albrighton. Karena meskipun dia memiliki dendam dengan Sean, lelaki tua ini sama sekali tidak terlibat apa-apa. Begitulah pikirnya.

“Apakah Tuan saya mempersulit Anda?” Albrighton bertanya khawatir.

Jujur saja, Catherine ingin tertawa. Bagaimana bisa Sean yang tidak punya hati nurani itu bisa memiliki seorang bawahan yang baik seperti Albrighton? 

“Lumayan,” jawab Catherine seraya menurunkan pandangan, menatap high heels di tangan.

“I-ini?”

Wajah Albrighton berubah pucat. Keringat dingin bahkan mulai nampak di pipi.

Catherine berujar menenangkan, “Sudahlah, cuma sebuah sepatu. Aku masih punya yang lain … mungkin.”

“Nona, sebagai permintaan maaf, tolong izinkan saya—”

“Tidak perlu,” potong Catherine cepat. Suaranya terdengar lebih tegas. Sengaja, supaya Albrighton segan untuk memaksa.

Catherine juga berusaha mengalihkan topik, “Bagaimana dengan rekaman CCTV nya? Apakah Anda menemukan sesuatu?”

Alih-alih langsung membalas, Albrighton justru mencuri pandang ke lantai. Melihat gerak-gerik Albrighton itu tentu membuat Catherine curiga.

“Apakah tidak ada?” Catherine memutuskan untuk bertanya untuk menjawab rasa penasaran di dalam hati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kok Bisa Masuk?

    “Ungh, apa ini?” desis Catherine ketika merasa ada sesuatu yang menempel di pinggangnya. Terasa agak berat dan hangat.Didorong oleh rasa penasaran, Catherine memaksakan diri mengusir rasa kantuk yang menggelayuti kelopak mata. Samar, dia melihat ada tangan yang ukurannya jelas melebihi miliknya.Dalam keadaan setengah sadar, Catherine meraba tangan tersebut. Terasa begitu nyata dengan beberapa bulu halus yang tersentuh oleh jemari lentik miliknya.“Heumm.”Suara berat itu terdengar familiar. Diiringi dengan hembusan napas hangat yang menyapu tengkuk lehernya. Catherine terkesiap seketika. Buru-buru dia bangkit. Sepasang mata yang semula maunya terpejam saja, kini membelalak lebar. Menatap horor ke arah tubuh seorang lelaki yang tengah berbaring santai di ranjang.“S-sean?” lirih Catherine tanpa ada niatan memanggil, apalagi membangunkan si lelaki.Detik berikutnya, dahi Catherine dibuat berkerut. Sementara otaknya berpikir keras. “Bagaimana mungkin Sean bisa menerabas masuk? Bukank

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Eksistensi Reinkarnasi

    “Hoahm!”Catherine menguap ketika sinar mentari pagi yang menyelinap masuk melalui celah jendela, jatuh tepat di kelopak matanya. Memberikan efek silau yang langsung membuatnya terjaga.“Astaga. Apa aku salah tidur semalam? Kenapa badanku rasanya begitu pegal?” heran gadis itu seraya mulai merenggangkan otot tangannya yang kebas.Menganggap ini hal yang biasa, Catherine tidak menanggapinya dengan serius. Tanpa tahu menahu mengenai alasan sebenarnya dari rasa pegal yang dia rasakan, Catherine menjalani hari Minggu ini dengan santai.Sesekali, Catherine turun ke taman untuk memikirkan langkah apa yang sebaiknya diambil terlebih dahulu. Dia benar-benar serius ingin memperbaiki taman di kastil bobrok ini.“Nona rajin sekali,” komentar Ren yang tak sengaja lewat. Catherine membalasnya dengan senyum hangat. “Daripada menganggur, lebih baik kerjakan apa saja yang ada.”“Ngomong-ngomong, kau mau kemana?” tanya Catherine kemudian.“Oh astaga, saya hampir lupa!” seru Ren seraya menepuk jidatny

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kecurigaan Ren

    “Mau aku gendong atau jalan sendiri ke kamar, Cathie?” tawar Sean.Sebetulnya hatinya tidak rela. Ingin bermain-main dengan Catherine lebih lama. Sayangnya, mereka belum menyempurnakan blood contract yang telah terjalin. Sean takut kebablasan mencium bibir Catherine dan membuat tubuhnya mendapatkan serangan balik yang lebih menyakitkan dibanding tersambar petir.“Aku bisa sendiri.” Catherine menyahut cepat.Begitu Catherine turun dari pangkuannya, Sean mengingatkan, “Jangan lupa tanda tangani dulu kontraknya, Cathie. Sudah kau periksa isinya, ‘kan?”“Sudah,” jawab Catherine singkat. “Oh ya, apa kau bisa membantuku bertanya pada Ren?”“Soal apa?”Catherine hanya bisa menjelaskan, “Sikapnya cukup aneh. Kulihat Ren mengusap tengkuk berulang kali, seperti sedang gugup. Tapi dia tidak mau mengaku.”“Oh, mungkin masalah pribadi. Atau dia memang lelah.”Meski Sean mengucapkannya dengan penuh keyakinan, sebetulnya dia sendiri juga tidak yakin. Dia hanya berharap Catherine tidak terlalu kepik

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kenapa Butuh Darahku?

    “Catherine?” desis Sean yang mengenali suara itu. Dengan panik, Sean menyerahkan amplop ke tangan Zea. Belum sempat Zea bereaksi, tubuhnya telah diubah Sean menjadi segumpal kabut. Kegilaan Sean tidak hanya sampai di situ. Karena setelahnya, Sean meniupkan angin untuk menghempasnya ke balik pohon besar. Kebetulan tempatnya gelap, sehingga Zea dapat bertransformasi dengan aman. “Sebaiknya aku pergi dari sini supaya tidak menambah masalah,” pikir Zea sambil mengepakkan sepasang sayap coklatnya.Sementara itu, Sean menyambut kedatangan Catherine dengan tatapan dingin. “Kenapa mencariku?” tanyanya datar.“Jelaskan—”Tanpa memberi kesempatan bagi Catherine untuk menjawab, Sean menatap Ren yang berdiri gugup di sampingnya. Dan kebetulan, hal itu memberinya ide untuk sembarangan menuduh,“Oh, apakah Ren membuat kesalahan?”Catherine yang tadinya mau marah-marah pun membatalkan niatnya. Langsung mencoba meluruskan kesalahpahaman ini sebelum terlambat.“Bukan begitu, Sean. Dengarkan aku dul

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Perlu Cap Darah?

    “Itu … udang?” Catherine tak bisa menahan rasa penasarannya pada salah satu menu yang dibawa oleh Ren.“Ya, tapi jangan khawatir. Aku tahu kalau kau alergi udang. Makanan yang lain dijamin tidak terkontaminasi,” balas Sean.Dada Catherine seolah tertohok. Antusiasme yang semula terpancar di kedua bola matanya, kini perlahan redup.“Bagaimana bisa aku lupa soal ini? Catherine Ethenburough memang alergi dengan udang. Karena aku telah bereinkarnasi ke tubuhnya, sudah pasti aku akan mendapat reaksi alergi kalau nekat memakannya.”Untuk menyelamatkan diri dari kecurigaan Sean, Catherine langsung memasang senyum lebar ketika menoleh ke arahnya sambil berucap, “Kau pengertian sekali.”“Cuma perkara kecil,” sahut Sean yang tak menyadari perubahan ekspresi Catherine.Setelah semua siap dihidangkan, Catherine memilih untuk menyantap cheesy chicken casserole yang terlihat menggugah selera meski penampilannya sungguh sangat asing. Pada zamannya, belum ada yang membuat makanan itu.“Umm … kejunya

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Ayamnya Terlalu Menggoda

    “Kau tahu semua itu dan masih berani menggodaku, Cathie?” Sean balas berbisik.Usai mengucapkan itu, Sean bergegas menuju kasir. Sama sekali tidak memperdulikan Catherine yang dibuatnya terkejut di tempat.“Sial!” geram Catherine begitu Sean menjauh. “Untung saja reaksinya cuma begitu. Kalau tiba-tiba mencium, mukaku ini mau ditaruh di mana?”***Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir, Catherine mengira mereka akan langsung pulang. Namun saat melintas di lantai dua, Sean tiba-tiba berkata,"Mampir dulu ke depan sana."Mendengar ucapan Sean, segera Catherine menelusuri kemana sorot mata Sean mengarah. Tepatnya, pada sebuah gerai makanan. Saat mulai mendekat, terasa sekali kalau bau harumnya menyebar kemana-mana."Dia mau mengajakku makan? Dermawan sekali," batin Catherine kemudian.Begitu memasuki gerai makanan cepat saji itu, Sean berkata, "Kau tunggu saja di sini.""Ya," patuh Catherine seraya duduk di kursi yang menurutnya nyaman. Sementara itu, Sean langsung pergi ke kasir untuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status