Share

Bab 2

Author: Melati
Mata Joanne seketika berbinar, kilatan kegirangan karena rencana yang berhasil melintas cepat di matanya. Raul tetap menolak. "Nggak bisa. Dia boleh pakai yang lain, tapi yang ini nggak."

"Aku ...." Joanne masih ingin memperjuangkannya, wajahnya menampakkan ekspresi sedih saat menatap Raul, tetapi sikap pria itu tetap tegas. Bahkan, tersirat sedikit kemarahan di wajahnya.

Joanne tahu, keputusan yang sudah diambil Raul tidak mungkin diubahnya. Jadi, dia segera mengubah ucapannya. "Terima kasih, Rivela. Ini dibuat sendiri oleh Raul untukmu, aku memang nggak pantas memakainya."

Raul menyerahkan gaun pengantin itu kepada staf butik. "Kamu cepat coba dulu. Kalau ada bagian yang nggak pas, masih sempat diperbaiki. Aku tunggu kamu di luar."

Tanpa menunggu jawabanku, dia setengah mendorong membawaku pergi. Namun belum sampai beberapa menit kemudian, aku menerima sebuah pesan anonim.

[ Dia merancang gaun pengantin untukmu dengan tangannya sendiri, lalu kenapa? Identitas istri mafia sudah dia berikan kepadaku! Walaupun kamu menggelar pernikahan dengannya, itu tetap nggak ada gunanya. Kamu selamanya hanyalah wanita simpanan yang nggak diakui keluarga! Anakmu juga akan menjadi keberadaan yang nggak boleh terlihat! ]

Disertai sebuah foto berupa akta nikah yang baru saja diterbitkan.

Dadaku terasa seperti terkoyak. Meski sejak awal aku sudah tahu hasilnya akan seperti ini, ketika melihatnya dengan mata kepala sendiri, hatiku tetap remuk dan air mataku tak terbendung. Saat aku selesai berganti gaun pengantin dan keluar, Joanne sudah pergi.

Raul telah mengenakan setelan pengantin pria, lalu menggenggam lenganku dan berdiri bersamaku di depan cermin. Wajahnya dipenuhi kegembiraan dan harapan.

"Rivela, kamu cantik sekali. Bisa menikahimu adalah keberuntungan terbesar dalam hidupku."

Setelah berkata demikian, dia menggendongku dengan gaya putri dan berputar di tempat. Raut wajahnya dipenuhi kegembiraan dan semangat yang begitu nyata.

Bagi seorang pria, bisa menikahi wanita yang dia cintai rasanya seperti memenangkan sebuah pertempuran. Saat ini, dia benar-benar menampilkan ekspresi seorang pemenang.

Air mataku langsung jatuh deras.

Aku tidak sanggup melepaskan hubungan ini. Seandainya saja dia jujur padaku dan mengatakan bahwa dia akan menikahiku dalam batas waktu tertentu, aku bersedia menunggunya.

"Raul, apakah kamu mencintaiku?"

"Tentu saja aku mencintaimu. Aku paling mencintai putriku. Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu sedang mengalami kecemasan pra-nikah?" Dia menyeka air mataku dengan lembut.

"Lalu, apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?"

Wajahnya sedikit tertegun, baru saja hendak menjawab ketika nada dering ponsel berbunyi. Aku samar-samar mendengar kata Joanne, pingsan, dan pendarahan.

Wajah Raul seketika pucat.

"Joanne pingsan, aku harus pergi melihatnya."

"Sayang, jangan mikir macam-macam. Aku hanya mencintaimu dan aku nggak akan menyembunyikan apa pun darimu. Kamu persiapkan saja urusan pernikahan dengan baik."

Setelah mengecup keningku, dia bergegas pergi.

Tanganku terhenti di udara, gagal meraih ujung pakaiannya. Aku tersenyum sinis. Ternyata, bobot Joanne di hatinya sudah lama melampauiku. Aku melepas gaun pengantin lalu pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan kehamilan. Meski hubungan ini tidak lagi kuinginkan, anakku tetap harus kupilih.

Dokter memegang hasil pemeriksaan, lalu menatapku dan bertanya, "Ayah anaknya nggak ikut?"

Aku menunduk dan berkata dengan suara datar, "Dia sibuk dengan urusan, nggak sempat datang."

Setelah pemeriksaan selesai, aku membawa berkas dan keluar dari ruang praktik. Di aula rumah sakit, aku berpapasan dengan dua orang yang saat ini paling tidak ingin kulihat.

Joanne bersandar di dada Raul, tangannya mengusap perutnya dengan lembut, senyum bahagia merekah di wajahnya. Dia lebih dulu melihatku, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum penuh kemenangan dan berkata dengan suara manja.

"Rivela, kenapa kamu juga ke rumah sakit? Bukannya kamu ada di butik pengantin?"

Barulah Raul menyadari keberadaanku. Kilatan panik melintas di matanya, tetapi segera tergantikan oleh kekhawatiran. Dia pelan-pelan melepaskan Joanne, lalu melangkah ke arahku.

"Rivela, kamu nggak enak badan? Mana hasil pemeriksaannya, biar aku lihat." Dia menatapku dari atas ke bawah dengan cemas.

"Nggak apa-apa, hanya pemeriksaan rutin saja."

Dia mengembuskan napas lega. "Syukurlah. Kalau begitu kamu pulang duluan saja. Aku temani Joanne menyelesaikan pemeriksaannya, nanti kami menyusul pulang."

Aku mengangguk lalu pergi.

Begitu tiba di rumah, aku kembali menerima sebuah video.

"Aku juga ingin gaun pengantin yang kamu rancang sendiri. Kamu tahu 'kan, nggak ada perempuan yang nggak pernah memimpikan menjadi pengantin cantik."

Raul terdiam.

"Aku nggak ingin nanti saat anak kami tumbuh besar, dia menyadari ayah dan ibunya bahkan nggak punya foto pernikahan. Pasti dia akan merasa rendah diri."

"Oke, aku akan merancang satu untukmu. Nanti aku juga akan mengadakan pernikahan tambahan untukmu."

[ Lihatlah. Aku bukan hanya memiliki bukti pernikahan dengannya, tapi juga mendapatkan sebuah pernikahan. Sedangkan kamu hanyalah orang ketiga. ]

Aku mengunduh dan menyimpan video itu, lalu menerima telepon dari sahabatku.

"Identitas barumu sudah terdaftar. Dalam satu hari, dokumen-dokumennya akan dikirimkan kepadamu. Tiket pesawat sudah kupesan, besok malam pukul sebelas. Tenang saja, dengan identitas baru ini, Raul sama sekali nggak akan bisa menemukanmu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengkhiatan yang Tak Pernah Diduga   Bab 8

    Keterikatan obsesif Raul akhirnya berubah menjadi api yang membakar dirinya sendiri, melukainya hingga hancur tak bersisa.Di dalam kelompoknya terjadi pemberontakan. Orang kepercayaannya membawa bukti kolusi Raul dengan kelompok lawan dan menariknya turun dari posisi pemimpin. Kekuasaan Raul runtuh dalam sekejap.Seluruh aliran dana diam-diam dialihkan. Sementara itu, bos mafia yang baru memalsukan bukti kejahatannya dan menyerahkannya kepada kepolisian internasional.Surat perintah penangkapan internasional terpampang di mana-mana. Dia berubah menjadi buronan yang terus dikejar. Terakhir kali aku melihatnya adalah pada suatu siang yang cerah.Aku dan Dean sedang berjalan-jalan di taman bersama Andini. Dean menyuapi Andini es krim dengan sabar. Wajah kecilnya belepotan dan aku tertawa sambil merapikan kerah baju Dean.Raul berdiri tidak jauh, di bawah pohon. Setelannya kusut, rambutnya tak lagi terurus, dan janggutnya juga berantakan. Seluruh tubuhnya tampak lelah dan rapuh, jauh dari

  • Pengkhiatan yang Tak Pernah Diduga   Bab 7

    Saat mendengar kabar Raul dibebaskan dengan jaminan, aku sedang membetulkan pita kupu-kupu di rambut Andini yang terikat miring.Tiba-tiba kaca jendela dihantam benda keras hingga retak, serpihan kaca berjatuhan ke ambang jendela. Dean langsung menarikku ke dalam pelukannya. Tangis Andini bercampur dengan suara sirene polisi yang meraung."Dia sudah gila." Suara Dean menegang, jemarinya mencengkeram pergelangan tanganku. "Aku sudah menghubungi pesawat pribadi. Kita pergi malam ini."Aku menggeleng, ujung jariku menyentuh bayangan gelap di bawah matanya. "Saham Grup Hermone sedang turun. Kamu sudah tiga hari nggak tidur."Dia tiba-tiba terkekeh pelan, napas hangatnya menyapu daun telingaku. "Itulah sebabnya aku harus membawa kalian ke tempat yang aman."Suara tembakan membelah senja.Raul tersandung keluar dari balik pepohonan, jasnya penuh lumpur. Di tangannya tergenggam sebuah gantungan kunci yang warnanya telah memudar. Di tepi logamnya masih ada ukiran miring bertuliskan "RVL", sing

  • Pengkhiatan yang Tak Pernah Diduga   Bab 6

    Melihat cara paksa tidak membuahkan hasil, Raul lalu mulai mengerahkan kekuatan mafia untuk menyerang dari sisi pekerjaanku.Suatu hari, pimpinan rumah sakit tiba-tiba memanggilku ke kantor. Wajahnya serius saat mengatakan ada laporan anonim yang menuduhku lalai dalam pekerjaan dan menuntut pemecatanku. Aku langsung paham, ini pasti ulah Raul.Saat aku benar-benar terpojok, Dean muncul. Dia berdiri di depanku sambil menatap pimpinan rumah sakit dengan sikap tenang dan bermartabat."Saya adalah penjamin Sabrina. Saya bisa membuktikan kemampuan profesional dan etika kerjanya. Kalau rumah sakit bersikeras memecatnya, saya akan menggunakan seluruh sumber daya saya untuk menyelidiki kebenaran dan mengembalikan nama baiknya."Dengan jaminan dari Dean, pihak rumah sakit tidak berani bertindak gegabah. Masalah itu pun sementara ditunda.Belakangan aku baru tahu, Dean bukan hanya menjadi penjaminku, tetapi juga diam-diam mengerahkan kekuatan keluarganya untuk memutus seluruh upaya infiltrasi Ra

  • Pengkhiatan yang Tak Pernah Diduga   Bab 5

    Hari demi hari berlalu, dan interaksiku dengan Dean pun semakin sering.Suatu kali saat mengobrol santai, aku menanyakan latar belakang keluarganya dengan setengah bercanda. Dia terdiam sejenak, lalu tersenyum dan berkata, "Aku ini sebenarnya hanya berasal dari keluarga biasa di Swiss."Namun, aura elegan yang tanpa sadar terpancar darinya membuatku merasa semuanya tidak sesederhana itu. Hingga suatu hari, secara kebetulan aku mendengar dari rekan kerja bahwa dia ternyata adalah satu-satunya pewaris dari sebuah konglomerat keuangan papan atas di Swiss.Aku benar-benar terkejut. Aku mencarinya untuk memastikan hal itu. Dia menggaruk kepalanya, tampak sedikit canggung. "Aku nggak ingin bergantung pada keluarga. Aku hanya ingin menjadi dokter dan melakukan apa yang kusukai."Dalam kebersamaan kami, sepertinya dia menyadari bahwa aku sengaja menyembunyikan luka dari masa lalu, tetapi dia tidak pernah bertanya lebih jauh. Saat aku lembur, dia diam-diam membawakan makanan hangat. Saat Andini

  • Pengkhiatan yang Tak Pernah Diduga   Bab 4

    Api di vila baru berhasil dipadamkan menjelang pagi. Saat petugas pemadam menemukan sisa-sisa jasadku, mereka menelepon Raul. Telepon itu dijawab oleh Joanne. Namun, dia tidak memberi tahu Raul apa pun.Pada hari pernikahan, Raul mengirim pesan kepadaku, menanyakan apakah aku sudah siap. Namun, pesan itu tidak pernah mendapatkan balasan.Di lokasi pernikahan, Joanne muncul mengenakan gaun pengantin. Seketika suasana menjadi kacau. Para tamu saling berbisik, gumaman memenuhi ruangan.Raul seolah tidak mendengarnya sama sekali. Dia menerobos ke depan dan mencengkeram pergelangan tangan Joanne yang mengenakan gaun pengantin. Cengkeramannya begitu kuat, hingga hampir menghancurkan tulang Joanne."Aku tanya sekali lagi, di mana Rivela?" katanya perlahan.Joanne kesakitan hingga wajahnya pucat, tetapi dia menahan diri agar tidak berteriak. Bibirnya digigit kuat, air mata menggenang di pelupuk mata."Aku ... aku nggak tahu ....""Nggak tahu?" Raul mencibir dan mencengkeram dagunya. "Kalau ngg

  • Pengkhiatan yang Tak Pernah Diduga   Bab 3

    Aku mengucapkan terima kasih lalu menutup telepon. Kemudian aku mulai membereskan barang-barang. Saat berdiri di balkon, aku melihat dua bayangan di bawah sana. Raul dan Joanne."Kamu nggak bisa temani aku malam ini?" tanya Joanne dengan nada memelas sambil menarik tangannya."Joanne, yang kucintai hanya Rivela. Jangan melewati batas.""Tapi aku mengandung anakmu!"Boom. Seolah sebuah bom meledak di kepalaku.Jadi, anak itu milik Raul. Jadi, pengkhianatan Raul ternyata sudah dimulai sejak lama."Aku sudah peringatkan kamu. Soal ini hanya kita berdua yang tahu, nggak boleh ada orang lain yang tahu, apalagi Rivela! Aku sudah memberimu status. Jangan bermimpi terlalu banyak! Kalau Rivela sampai tahu, aku akan langsung menceraikanmu dan mengusirmu dari Keluarga Ghazali!"Melihat sikapnya yang tegas, Joanne segera melunak dan memohon dengan suara lembut."Aku mengerti, jangan marah .... Aku nggak perlu kamu temani lagi, aku pulang sendiri saja ...."Saat itu, ekspresi Raul baru melunak. "As

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status