Share

Bab 3

Author: Melati
Aku mengucapkan terima kasih lalu menutup telepon. Kemudian aku mulai membereskan barang-barang. Saat berdiri di balkon, aku melihat dua bayangan di bawah sana. Raul dan Joanne.

"Kamu nggak bisa temani aku malam ini?" tanya Joanne dengan nada memelas sambil menarik tangannya.

"Joanne, yang kucintai hanya Rivela. Jangan melewati batas."

"Tapi aku mengandung anakmu!"

Boom. Seolah sebuah bom meledak di kepalaku.

Jadi, anak itu milik Raul. Jadi, pengkhianatan Raul ternyata sudah dimulai sejak lama.

"Aku sudah peringatkan kamu. Soal ini hanya kita berdua yang tahu, nggak boleh ada orang lain yang tahu, apalagi Rivela! Aku sudah memberimu status. Jangan bermimpi terlalu banyak! Kalau Rivela sampai tahu, aku akan langsung menceraikanmu dan mengusirmu dari Keluarga Ghazali!"

Melihat sikapnya yang tegas, Joanne segera melunak dan memohon dengan suara lembut.

"Aku mengerti, jangan marah .... Aku nggak perlu kamu temani lagi, aku pulang sendiri saja ...."

Saat itu, ekspresi Raul baru melunak. "Asal kamu menurut, semuanya bisa dibicarakan. Yang kucintai hanya Rivela. Kalau dia sampai meninggalkanku karena kamu, itulah akhir hidupmu."

Setelah berkata demikian, dia membuat isyarat menembak dengan jarinya, lalu berbalik dan naik ke atas.

Joanne yang tak berhasil menahannya, mengentakkan kaki dan menoleh ke arah lantai dua. Aku buru-buru bersembunyi kembali ke kamar dan berbaring di ranjang. Air mata membasahi seprai.

Tak lama kemudian, Raul memelukku dari belakang.

"Sayang, aku sangat merindukanmu. Lusa adalah hari pernikahan kita. Senang nggak?"

"Kenapa menangis?"

Saat menyentuh bantal yang basah, dia memelukku erat dengan panik. "Siapa yang sakitin kamu? Kasih tahu aku, aku akan membereskan dia." Sambil menyeka air mata di sudut mataku, dia menatapku dengan penuh rasa sayang.

"Nggak ada siapa-siapa. Aku hanya membaca sebuah novel. Ceritanya tentang seorang pria yang menyembunyikan fakta bahwa dia menikah dan mendaftarkan pernikahan dengan orang lain. Pacarnya malah tiba-tiba jadi orang ketiga. Kasihan sekali pacarnya itu."

Setelah mendengarnya, Raul jelas tertegun sejenak. Lalu, dia mencubit hidungku ringan. "Itu cuma novel. Karangan ngawur untuk menarik perhatian."

"Raul, kalau suatu hari kamu selingkuh, atau ingin bersama orang lain, katakan padaku. Aku akan merelakanmu dan kita berpisah dengan baik. Jangan mengkhianatiku, ya?"

"Kamu ngomong apa sih. Yang kucintai hanya kamu. Aku juga nggak akan berselingkuh." Dia langsung memelukku dan menggesekkan pipinya di leherku dengan manja. "Seumur hidup ini, yang kucintai hanya kamu. Wanita lain nggak akan kulirik sedikit pun."

"Lalu kapan kita pergi mendaftarkan pernikahan?"

Aku bisa merasakan pelukannya sedikit mengendur sejenak, lalu dia kembali memasang ekspresi penuh cinta. "Besok juga bisa."

"Benarkah? Baik!"

Padahal dia jelas sudah mendaftarkan pernikahan dengan orang lain. Lalu, bagaimana mungkin dia masih bisa mendaftarkan pernikahan denganku?

Aku belum sempat memikirkan jawabannya ketika dia mengusap kepalaku. "Kamu tidur dulu. Jangan bergadang. Sebentar lagi kamu akan jadi pengantin, kondisi kulitmu harus prima. Aku mau selesaikan sebuah kontrak sama pemasok."

Aku mengangguk.

Melihat dia masuk ke ruang kerja, aku berbaring di tempat tidur, tetapi sama sekali tidak bisa terlelap. Aku berniat mengambil air minum, lalu mendengar alasan yang sama sekali tak pernah terbayangkan olehku.

"Bos, pegawai loket nomor delapan di balai kota, sudah setuju membantu menguruskan surat nikah palsu. Nanti dia akan pura-pura mengoperasikan komputer, lalu memberimu selembar dokumen palsu."

Raul menghela napas panjang. "Setelah semuanya selesai, aku akan memberinya sebuah vila dengan taman sebagai imbalan."

Mendengar kebenaran itu, aku hampir menangis tersedu-sedu. Jadi, inilah alasan dia berani mendaftarkan pernikahan denganku.

Setelah kembali ke kamar, aku menatap langit-langit, berusaha sekuat tenaga menahan air mata agar tidak jatuh. Padahal aku sudah lama tahu dia menipuku, tetapi mengapa saat dia kembali berbohong, hatiku tetap terasa sakit?

Raul, satu kebohongan memang membutuhkan banyak kebohongan lain untuk menopangnya. Aku tidak tahu masih berapa banyak kebohongan lagi yang telah dia siapkan untukku.

Aku tidak tahu kapan akhirnya tertidur. Saat terbangun lagi, waktu sudah mendekati tengah hari.

Raul sudah menyiapkan sarapan dengan penuh perhatian, juga dokumen-dokumen yang diperlukan untuk pendaftaran pernikahan.

"Setelah makan, kita langsung pergi mendaftar." Dia menatapku dengan lembut, ekspresinya tetap sedalam biasanya. Dulu, aku pasti akan terhanyut oleh tatapan penuh cinta itu. Hari ini, yang kurasakan hanya kesedihan yang dingin.

Ternyata tanpa menjadi aktor pun, seseorang bisa memerankan sosok yang begitu penuh cinta.

Setelah makan, kami menuju kantor catatan sipil. Dengan sikap seolah santai, dia memilih loket nomor delapan.

Pegawai di sana benar-benar mengoperasikan komputer. Untuk membuatnya terlihat nyata, dia bahkan sengaja mengobrol dengan kami. Dia mengatakan bahwa kami tampak sangat serasi.

Menatap dokumen hasil kebohongan itu di tanganku, aku ingin merobeknya. Namun pada akhirnya aku tetap menahannya. Aku tidak boleh membuat Raul menyadari perubahan dalam diriku. Jika sampai dia mengetahuinya, aku sama sekali tidak akan bisa lolos dari kendalinya.

Awalnya dia berniat pulang bersamaku, tetapi setelah menerima sebuah panggilan telepon, dia pergi dengan tergesa-gesa. Aku mengembuskan napas lega. Jika dia tidak pergi, malah aku yang harus memutar otak mencari alasan agar dia meninggalkanku.

Sesampainya di rumah, aku mengambil identitas baru dan dokumen-dokumen terkait dari kotak surat.

Sabrina. Mulai sekarang, inilah identitas baruku.

Menjelang sore, Raul menelepon dan mengatakan bahwa dia akan mengadakan pesta lajang sebelum pernikahan, jadi dia akan pulang agak larut dan memintaku tidur lebih dulu. Besok, kami langsung bertemu di jamuan pernikahan.

Sempurna. Itu malah memudahkanku untuk pergi.

Aku hanya mengemasi beberapa potong pakaian. Saat baru hendak berangkat ke bandara, pesan anonim itu datang lagi, sebuah video.

Di dalam ruangan tampak banyak orang, semuanya adalah tokoh-tokoh berpengaruh dari keluarga mafia Keluarga Ghazali. Mereka semua memberi selamat kepada Raul karena akan segera menjadi ayah, memberi selamat atas kelahiran calon pewaris baru.

Sudut bibirku terangkat membentuk senyum pahit. Semua orang tahu, Joanne-lah yang sah di sisinya. Sedangkan aku hanyalah keberadaan yang tak boleh terlihat.

Tiba-tiba perutku bergerak sedikit.

"Tenang saja, Nak. Ibu nggak akan membiarkanmu menjadi keberadaan yang tak terlihat."

Aku pergi ke dapur, membuka aliran gas, lalu menutup semua pintu dan jendela. Setelah menyeret koper keluar, aku naik ke mobil milik sahabatku. Dia menempatkan kerangka tubuh manusia palsu yang ukurannya dibuat menyerupai tubuhku di kamar tidur.

"Mulai hari ini, nggak ada lagi orang bernama Rivela di dunia ini."

Dia mengantarku menuju bandara.

Saat kobaran api menjulang ke langit dan melahap seluruh vila, aku telah sepenuhnya menghilang dari kekuasaan kerajaan sang pemimpin mafia itu.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengkhiatan yang Tak Pernah Diduga   Bab 8

    Keterikatan obsesif Raul akhirnya berubah menjadi api yang membakar dirinya sendiri, melukainya hingga hancur tak bersisa.Di dalam kelompoknya terjadi pemberontakan. Orang kepercayaannya membawa bukti kolusi Raul dengan kelompok lawan dan menariknya turun dari posisi pemimpin. Kekuasaan Raul runtuh dalam sekejap.Seluruh aliran dana diam-diam dialihkan. Sementara itu, bos mafia yang baru memalsukan bukti kejahatannya dan menyerahkannya kepada kepolisian internasional.Surat perintah penangkapan internasional terpampang di mana-mana. Dia berubah menjadi buronan yang terus dikejar. Terakhir kali aku melihatnya adalah pada suatu siang yang cerah.Aku dan Dean sedang berjalan-jalan di taman bersama Andini. Dean menyuapi Andini es krim dengan sabar. Wajah kecilnya belepotan dan aku tertawa sambil merapikan kerah baju Dean.Raul berdiri tidak jauh, di bawah pohon. Setelannya kusut, rambutnya tak lagi terurus, dan janggutnya juga berantakan. Seluruh tubuhnya tampak lelah dan rapuh, jauh dari

  • Pengkhiatan yang Tak Pernah Diduga   Bab 7

    Saat mendengar kabar Raul dibebaskan dengan jaminan, aku sedang membetulkan pita kupu-kupu di rambut Andini yang terikat miring.Tiba-tiba kaca jendela dihantam benda keras hingga retak, serpihan kaca berjatuhan ke ambang jendela. Dean langsung menarikku ke dalam pelukannya. Tangis Andini bercampur dengan suara sirene polisi yang meraung."Dia sudah gila." Suara Dean menegang, jemarinya mencengkeram pergelangan tanganku. "Aku sudah menghubungi pesawat pribadi. Kita pergi malam ini."Aku menggeleng, ujung jariku menyentuh bayangan gelap di bawah matanya. "Saham Grup Hermone sedang turun. Kamu sudah tiga hari nggak tidur."Dia tiba-tiba terkekeh pelan, napas hangatnya menyapu daun telingaku. "Itulah sebabnya aku harus membawa kalian ke tempat yang aman."Suara tembakan membelah senja.Raul tersandung keluar dari balik pepohonan, jasnya penuh lumpur. Di tangannya tergenggam sebuah gantungan kunci yang warnanya telah memudar. Di tepi logamnya masih ada ukiran miring bertuliskan "RVL", sing

  • Pengkhiatan yang Tak Pernah Diduga   Bab 6

    Melihat cara paksa tidak membuahkan hasil, Raul lalu mulai mengerahkan kekuatan mafia untuk menyerang dari sisi pekerjaanku.Suatu hari, pimpinan rumah sakit tiba-tiba memanggilku ke kantor. Wajahnya serius saat mengatakan ada laporan anonim yang menuduhku lalai dalam pekerjaan dan menuntut pemecatanku. Aku langsung paham, ini pasti ulah Raul.Saat aku benar-benar terpojok, Dean muncul. Dia berdiri di depanku sambil menatap pimpinan rumah sakit dengan sikap tenang dan bermartabat."Saya adalah penjamin Sabrina. Saya bisa membuktikan kemampuan profesional dan etika kerjanya. Kalau rumah sakit bersikeras memecatnya, saya akan menggunakan seluruh sumber daya saya untuk menyelidiki kebenaran dan mengembalikan nama baiknya."Dengan jaminan dari Dean, pihak rumah sakit tidak berani bertindak gegabah. Masalah itu pun sementara ditunda.Belakangan aku baru tahu, Dean bukan hanya menjadi penjaminku, tetapi juga diam-diam mengerahkan kekuatan keluarganya untuk memutus seluruh upaya infiltrasi Ra

  • Pengkhiatan yang Tak Pernah Diduga   Bab 5

    Hari demi hari berlalu, dan interaksiku dengan Dean pun semakin sering.Suatu kali saat mengobrol santai, aku menanyakan latar belakang keluarganya dengan setengah bercanda. Dia terdiam sejenak, lalu tersenyum dan berkata, "Aku ini sebenarnya hanya berasal dari keluarga biasa di Swiss."Namun, aura elegan yang tanpa sadar terpancar darinya membuatku merasa semuanya tidak sesederhana itu. Hingga suatu hari, secara kebetulan aku mendengar dari rekan kerja bahwa dia ternyata adalah satu-satunya pewaris dari sebuah konglomerat keuangan papan atas di Swiss.Aku benar-benar terkejut. Aku mencarinya untuk memastikan hal itu. Dia menggaruk kepalanya, tampak sedikit canggung. "Aku nggak ingin bergantung pada keluarga. Aku hanya ingin menjadi dokter dan melakukan apa yang kusukai."Dalam kebersamaan kami, sepertinya dia menyadari bahwa aku sengaja menyembunyikan luka dari masa lalu, tetapi dia tidak pernah bertanya lebih jauh. Saat aku lembur, dia diam-diam membawakan makanan hangat. Saat Andini

  • Pengkhiatan yang Tak Pernah Diduga   Bab 4

    Api di vila baru berhasil dipadamkan menjelang pagi. Saat petugas pemadam menemukan sisa-sisa jasadku, mereka menelepon Raul. Telepon itu dijawab oleh Joanne. Namun, dia tidak memberi tahu Raul apa pun.Pada hari pernikahan, Raul mengirim pesan kepadaku, menanyakan apakah aku sudah siap. Namun, pesan itu tidak pernah mendapatkan balasan.Di lokasi pernikahan, Joanne muncul mengenakan gaun pengantin. Seketika suasana menjadi kacau. Para tamu saling berbisik, gumaman memenuhi ruangan.Raul seolah tidak mendengarnya sama sekali. Dia menerobos ke depan dan mencengkeram pergelangan tangan Joanne yang mengenakan gaun pengantin. Cengkeramannya begitu kuat, hingga hampir menghancurkan tulang Joanne."Aku tanya sekali lagi, di mana Rivela?" katanya perlahan.Joanne kesakitan hingga wajahnya pucat, tetapi dia menahan diri agar tidak berteriak. Bibirnya digigit kuat, air mata menggenang di pelupuk mata."Aku ... aku nggak tahu ....""Nggak tahu?" Raul mencibir dan mencengkeram dagunya. "Kalau ngg

  • Pengkhiatan yang Tak Pernah Diduga   Bab 3

    Aku mengucapkan terima kasih lalu menutup telepon. Kemudian aku mulai membereskan barang-barang. Saat berdiri di balkon, aku melihat dua bayangan di bawah sana. Raul dan Joanne."Kamu nggak bisa temani aku malam ini?" tanya Joanne dengan nada memelas sambil menarik tangannya."Joanne, yang kucintai hanya Rivela. Jangan melewati batas.""Tapi aku mengandung anakmu!"Boom. Seolah sebuah bom meledak di kepalaku.Jadi, anak itu milik Raul. Jadi, pengkhianatan Raul ternyata sudah dimulai sejak lama."Aku sudah peringatkan kamu. Soal ini hanya kita berdua yang tahu, nggak boleh ada orang lain yang tahu, apalagi Rivela! Aku sudah memberimu status. Jangan bermimpi terlalu banyak! Kalau Rivela sampai tahu, aku akan langsung menceraikanmu dan mengusirmu dari Keluarga Ghazali!"Melihat sikapnya yang tegas, Joanne segera melunak dan memohon dengan suara lembut."Aku mengerti, jangan marah .... Aku nggak perlu kamu temani lagi, aku pulang sendiri saja ...."Saat itu, ekspresi Raul baru melunak. "As

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status