Short
Kau Bukanlah Mempelai Pengantin Prianya!

Kau Bukanlah Mempelai Pengantin Prianya!

作者:  Velvet已完成
語言: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8章節
3閱讀量
閱讀
加入書架

分享:  

檢舉
作品概覽
目錄
掃碼在 APP 閱讀

故事簡介

Plot Twist

Manis Tapi Sakit

Pelakor

Mafia

Mengejar Istri

Tiga hari sebelum pernikahanku, Angga membatalkannya untuk yang ke lima puluh dua kalinya. Dia datang ke rumah mode di Paleris untuk menyetujui bordiran lambang pada gaun pengantinku, tetapi begitu aku melangkah keluar dari tirai ruang ganti, dia langsung mengambil sarung pistol dan radionya. “Bajingan Torino itu menghancurkan kebun anggur Bella, mereka mengepung perkebunannya. Luna ketakutan, jadi aku harus pergi sekarang. Pernikahannya kita tunda.” Dulu, aku pasti akan menghentikannya dan menuntut jawaban siapa yang lebih penting baginya, aku atau Bella. Kali ini, aku hanya membiarkannya saja. Tiga puluh menit kemudian, Bella mengunggah momen di media sosialnya: [Kaulah satu-satunya tempat berlindung bagiku dan putriku.] Foto itu menunjukkan gambar Angga yang sedang memeluk Bella erat-erat, dengan Luna di gendongannya dan memanggilnya papa. Mereka tampak seperti sebuah keluarga sungguhan. Orang tuaku menghela napas. “Sephia, apa pernikahanmu kali ini dibatalkan lagi? Kita sudah mengirim undangan ke setiap keluarga ternama di kota ini. Bagaimana dampaknya nanti terhadap kehormatan Keluarga Bundari?” Aku menggelengkan kepala, lalu mengetuk undangan cadangan. "Pernikahan ini tetap berjalan. Tiga hari lagi, aku akan tetap menjadi pengantin. Hanya saja, bukan dengan Angga."

查看更多

第 1 章

Bab 1

Mendengar kata-kataku, ibuku tetap sibuk menulis ulang kartu undangan, sedangkan ayahku bisa bernapas lega untuk pertama kalinya dalam enam tahun ini. "Niko itu pilihan yang bagus. Kami kan sudah bilang kalau Angga itu tidak sepadan. Kau akhirnya sadar juga."

Aku sudah mencapai titik terendah, dan sudah waktunya untuk melepaskan.

Angga menelepon tepat setelah aku menyelesaikan detail gaunnya.

"Aku menggunakan koneksi keluarga untuk memesan koki ternama yang sudah kau minta selama berbulan-bulan. Temui aku di restoran nanti siang."

Aku hampir menolak, tetapi kami membutuhkan perpisahan yang bersih demi diri kami sendiri dan keluarga.

...

Ketika aku sampai, Angga sudah menunggu di pintu. Dia mencoba meraih tanganku. Aku bergeser ke samping untuk menghindari sentuhannya, dan berjalan lurus ke dalam restoran.

Dia menatap tangannya yang membeku di udara, lalu berbicara dengan tidak sabar, "Jangan kekanak-kanakan. Keluarga Tuasa menyerang tanpa peringatan dan Bella tidak punya siapa pun untuk diandalkan. Kau ingat aku sudah bersumpah untuk melindungi mereka setelah Rian meninggal dalam baku tembak itu, kan?"

Aku tidak berkata apa-apa dan duduk, lalu meraih menu khusus yang telah disiapkan sang koki. Dia menarik dasinya dengan frustrasi. "Kita harus memegang janji kita. Aku tidak akan mengingkari janjiku." Aku terus membolak-balik menu, mengabaikannya.

Dia menunggu, dan ketika aku tetap diam, dia menghela napas panjang. “Sudahlah, berhenti marah. Lain kali, pernikahan kita yang didahulukan. Aku janji, aku akan memberimu pernikahan termegah di Sisania. Aku akan menepatinya.” Tetapi, semua janjinya hanya untuk Bella dan Luna. Aku selalu menjadi yang nomor dua.

Seorang pelayan masuk. "Nyonya, maaf mengganggu. Nona Bella sudah memesan hidangan yang akan disajikan. Apa Anda ingin memilih sesuatu yang lain?"

Sebelum aku sempat menjawab, sebuah suara yang familiar terdengar di belakangku. "Maaf sudah membuatmu menunggu, Sephia. Aku baru saja berbicara dengan koki tentang menunya." Bella masuk bersama Luna, duduk dengan nyaman di sisi lain Angga, sementara Luna menyempitkan dirinya tepat di antara Angga dan aku.

Angga membuka mulut untuk menjelaskan, tetapi Bella sudah memotongnya terlebih dahulu, "Ini semua salah Angga. Aku hanya menyebutkan sekilas saja kalau aku sangat menginginkan hidangan khas koki ini, tapi dia mengingatnya. Dia bahkan menyuruh koki terbang lebih awal hanya untuk kita. Oh iya, apa jangan-jangan kau juga suka koki ini? Maaf, Sephia, aku sudah memesan menu lengkap dengannya. Aku tidak kepikiran mau tanya apa yang kau sukai, kau bisa memilih beberapa lauk tambahan kalau mau."

Aku tertawa. Kupikir dia buta terhadap trik Bella. Tapi sekarang aku tahu dia hanya menikmati sensasi diperebutkan. Aku menatap pelayan di sampingku. "Tidak perlu. Aku sudah tidak berselera." Kemudian aku bersiap untuk bangun dan pergi, tetapi tanpa sengaja menyentuh Luna dengan ringan.

"Papa! Tante Sephia dorong aku keras banget!" Luna berteriak, jatuh dengan luka di lengannya, lalu menangis histeris.

"Sephia, cuma menu makan siang. Kenapa kau tega menyakiti anak kecil? Dia tidak bersalah!" Mata Bella berkaca-kaca. Tatapannya lebar dan tak berdaya saat menatap Angga. "Angga, terima kasih telah merawat kami selama bertahun-tahun ini. Aku tidak menyangka Sephia sangat membenci kami. Kalau begitu, kami tidak akan mengganggumu lagi."

Dia lalu menggandeng tangan Luna untuk pergi, tetapi Luna berpegangan erat pada mantel Angga, menolak untuk melepaskannya. "Aku tidak mau meninggalkan Papa! Aku mau Mama dan Papa tetap bersama selamanya! Tante Sephia orang jahat, dia ingin merebut Papaku!"

Keributan itu menarik perhatian tamu lain di restoran. Beberapa orang bahkan mengangkat ponsel mereka, dan mengarahkan kamera langsung ke wajahku.

"Apa dia itu calon Nyonya Keluarga Muarar? Menyiksa seorang anak yatim dari anggota yang gugur tepat di depan matanya sendiri? Apa seperti itu sikap pewaris Keluarga Bundari sebenarnya?"

"Kasihan sekali anak itu. Kalau Sephia menjadi istri Ketua Angga, apa Bella dan Luna akan selamat?"

Pelayan itu juga langsung bersikap dingin.

"Nyonya, restoran ini bukan milik keluarga Anda. Tolong jaga perilaku Anda."

Situasi menjadi di luar kendali. Aku menatap Angga untuk meminta bantuan. Tetapi, dia hanya menatapku dengan dingin.

"Sephia, Luna itu masih anak-anak. Gimana kau tega melakukan itu?"

"Aku tidak mendorongnya, Angga." Aku pun menunjuk ke arah kamera pengawas di sudut ruangan. "Kita bisa lihat rekamannya sekarang juga."

Begitu kata-kata itu keluar dari mulutku, tubuh Luna tiba-tiba kaku karena kejang dan pingsan. "Angga, Luna pingsan! Panggil dokter pribadimu, sekarang!" teriak Bella. Angga pun mengangkat Luna ke dalam pelukannya dan berlari menuju pintu, lalu berhenti sejenak dan menoleh menatapku.
展開
下一章
下載

最新章節

更多章節

致讀者

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

暫無評論。
8 章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status