MasukTiga hari sebelum pernikahanku, Angga membatalkannya untuk yang ke lima puluh dua kalinya. Dia datang ke rumah mode di Paleris untuk menyetujui bordiran lambang pada gaun pengantinku, tetapi begitu aku melangkah keluar dari tirai ruang ganti, dia langsung mengambil sarung pistol dan radionya. “Bajingan Torino itu menghancurkan kebun anggur Bella, mereka mengepung perkebunannya. Luna ketakutan, jadi aku harus pergi sekarang. Pernikahannya kita tunda.” Dulu, aku pasti akan menghentikannya dan menuntut jawaban siapa yang lebih penting baginya, aku atau Bella. Kali ini, aku hanya membiarkannya saja. Tiga puluh menit kemudian, Bella mengunggah momen di media sosialnya: [Kaulah satu-satunya tempat berlindung bagiku dan putriku.] Foto itu menunjukkan gambar Angga yang sedang memeluk Bella erat-erat, dengan Luna di gendongannya dan memanggilnya papa. Mereka tampak seperti sebuah keluarga sungguhan. Orang tuaku menghela napas. “Sephia, apa pernikahanmu kali ini dibatalkan lagi? Kita sudah mengirim undangan ke setiap keluarga ternama di kota ini. Bagaimana dampaknya nanti terhadap kehormatan Keluarga Bundari?” Aku menggelengkan kepala, lalu mengetuk undangan cadangan. "Pernikahan ini tetap berjalan. Tiga hari lagi, aku akan tetap menjadi pengantin. Hanya saja, bukan dengan Angga."
Lihat lebih banyak1 Januari 2016
JALANAN Kota Banda Aceh mulai sepi. Padahal ini adalah malam yang special. Ya, malam pergantian tahun.
Jam menunjukan pukul 00.02 dini hari. Baru beberapa detik tahun berganti. Di televisi, suara kembang api meletus berulangkali terdengar. Warga Jakarta bersorak gembira. Muda-mudi menyambut letusan tersebut dengan suka cita.
Seorang pembawa acara wanita, tampil seksi. Ia berkoar-koar soal harapan dan doa di tahun baru ini. Ia diapit oleh dua pembawa acara pria yang memakai jas hitam. Acara itu di live satu jam yang lalu.
“Semoga Allah Swt memberi rezeki yang lancar di tahun baru ini. Rezeki yang halal serta bermanfaat bagi nusa bangsa dan agama,” teriak perempuan tadi bersamaan dengan layar kamera yang menyorot kembang api meledak di udara.
“Tum, tum, tum.”
“Tum, tum, tum….tum.” Suara itu terdengar berulang kali.
Kamera kemudian kembali menyorot si perempuan seksi tadi. Ia sangat rupawan dan memiliki postur tubuh yang indah. Kulitnya putih mulus. Ia menarik rok merah menyala-nya yang terbelah hingga pangkal paha.
Sedangkan dua penyiar laki-laki tersenyum sambil menatap ke arah paha seksi tadi.
“Amin, amin,” ujar mereka serentak.
“Dapat suami yang taat agama juga untuk kamu ya Say,” kata salah satunya lagi.
Haidar tersenyum geli melihat ketiga pembawa acara itu. Padahal ia sangat membenci kembang api. Ia hanya geli mendengar doa para artis ternama itu dengan pakaian dan prilakunya yang sangat kontra dengan agamanya sendiri.
“Ya tuhan, zina mata aku,” gumamnya tiba-tiba.
Beruntung Haidar tinggal di Aceh. Ia menetap sementara di Banda Aceh. Daerah yang selama ini dikenal fanatik dalam beragama.
Kota tua ini memang sedikit berbeda. Tak ada perayaan pergantian tahun di sini. Di ujung Sumatera. Ya, kota tua yang baru berhenti perang dan islami.
Mata Haidar segera beralih dari layar televisi. Ia mengamati sekeliling. Hanya ada beberapa sepeda motor yang terparkir rapi di depan Warkop, tempat ia mencari rezeki selama tiga tahun terakhir. Kendaraan tadi milik beberapa pengunjung yang sedang berselancar di dunia maya dengan memanfaatkan wifi gratis. Mereka mayoritas adalah mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di kampus-kampus seputaran Banda Aceh dan Aceh Besar. Sama sepertinya tiga tahun lalu.
Para pelanggan tadi seakan tak peduli dengan pergantian tahun baru. Mata mereka focus pada layar laptop dan handphone masing masing.
Haidar bukanlah pemilik Warkop itu. Ia juga bukan pelayan di Warkop Pinggir Kali itu. Haidar hanya pemilik satu rak di sana. Rak inilah yang menghidupinya selama ini.
Banda Aceh sebenarnya adalah kota yang ramah. Namun Tsunami membuat warga kota ini sedikit lebih matre. Tanda kutip, sedikit matre. Mayoritas kini berbicara soal uang. Dan tak sedikit dari warga kota ini, yang mengukur derajat dan harga diri seseorang itu dari uang yang dimilikinya. Walaupun tak semua berprilaku seperti tadi.
Usai tsunami, daerah ini menjadi pusat aktivitas di Aceh. Damai membuka kesempatan bagi siapapun untuk mendapat kehidupan yang layak di Banda Aceh. Tapi kota ini adalah transit baginya. Ia ingin terbang tinggi.
“Semua orang di dunia ini diciptakan dengan tubuh yang hampir sama. Punya dua mata, dua telinga, dua kaki dan dua tangan. Yang membedakan hanya pendidikan.”
Itu kata-kata yang sering diucapkan oleh ayahnya semasa hidup. Nasehat yang membuat Haidar berjuang untuk mencari ‘pembeda’ seperti kata ayahnya itu.
Namun 4 tahun menempuh pendidikan di salah satu universitas favorit di Banda Aceh, dan lulus dengan nilai terbaik, ternyata belum membuat Haidar jadi pembeda. Ia masih harus berjuang untuk hidup.
“Mungkin aku harus bekerja lebih giat. Menyerah berarti aku mengingkari apa yang diajarkan oleh orangtuaku sendiri,” gumam Haidar dalam hati.
Ada rasa sakit yang luar biasa dalam tubuhnya setiap kali ia mengenang sosok ayahnya. Sosok yang ia rindukan selama ini. Ada ruang yang kosong dalam hatinya.
“Bang burger satu ya. Pakai telur saja.”
Haidar terdiam. Ia masih larut dalam angannya sendiri.
“Bang burger satu.”
Beberapa pelayan yang sedang mengepel lantai memandang ke arah Haidar. Mereka tertawa. Mungkin mereka sadar jika temannya itu sedang merenung.
“Hoi, Thoyib. Ada orang pesan burger.”
Angga memotong perkataannya dengan geram.“Kalau bukan karena kau dan putrimu yang memanipulasiku di setiap kesempatan, Sephia tidak akan pernah meninggalkanku. Dia tidak akan pernah menikahi orang lain! Kalian berdua sudah menghancurkan segalanya. Pergi dari hadapanku sekarang juga.”Luna menangis tersedu-sedu, dia ketakutan mendengar teriakan Angga. Wajah Bella meringis karena marah.“Kau sendiri yang memohon untuk merawat kami! Kau sendiri yang menikmati perhatian dan cara kami berdua memperebutkanmu! Jangan berlagak seolah-olah kau korban sekarang! Kau memang pantas dicampakkan Sephia! Aku juga akan meninggalkanmu bertahun-tahun yang lalu kalau jadi dia! Kau itu cuma pengecut tak punya pendirian, Angga!”Setelah itu, dia meraih tangan Luna dan keluar dari ruangan dengan marah, membanting pintu hingga tertutup di belakangnya.Ruangan itu menjadi sunyi senyap. Kata-kata Bella bergema di kepala Angga. Dia tahu sudah salah, tetapi semuanya sudah terlambat.Dia menghubungi nomor Sephia,
Musik pengiring pernikahan mulai dimainkan, dan upacara pun resmi dimulai. Angga bersembunyi di balik bayangan di belakang kerumunan, menatapku yang berdiri di atas panggung. Upacara ini seharusnya menjadi miliknya. Pria yang berdiri di sampingku seharusnya adalah dirinya. Dia telah menghancurkan semuanya dengan kedua tangannya sendiri.Dia minum tanpa henti, gelas demi gelas anggur mengalir ke tenggorokannya.Baru setelah pendeta berkata kepada mempelai pria, "Kau sekarang boleh mencium mempelai wanita", kaki Angga menjadi lemas.Dia tersandung ke belakang, dan jatuh ke lantai dengan keras.Suara benturan yang memekakkan telinga membuat seluruh aula gempar."Kita butuh dokter, ada yang pingsan! Dia benar-benar mabuk, cepat panggil dokter! Dia dari keluarga mana?"Angga mendengar kekacauan di sekitarnya, tetapi matanya hanya tertuju padaku yang berdiri di atas panggung. Dia menatap mataku, putus asa mencari secercah kepedulian, kepanikan, atau apa pun untuknya.Namun tatapanku tenang d
Angga menatap kereta pengantin yang semakin menjauh, suara rodanya di jalan berbatu terdengar seperti palu godam yang menghantam dadanya.Bella melangkah maju dan meraih lengannya.“Angga, Luna sedang menunggu kita di pantai. Kita harus kembali. Aku tidak pernah menyangka Sephia akan bertemu pria lain tanpa sepengetahuanmu, apalagi menikah secepat ini. Tapi jangan khawatir. Luna dan aku akan selalu ada untukmu.”“Diam!” Itu adalah pertama kalinya Angga membentak Bella. Dia menatap wanita itu dengan mata merah. “Sephia tidak akan pernah mengkhianatiku. Dia berjanji akan menikah denganku!”Dia mendorong Bella dengan kasar, bergegas menuju ke arah mobil, dan memacunya ke arah perginya kereta pengantin tadi.Di gerbang sebuah hotel mewah di Hawana, poster pernikahanku dengan Niko berdiri tegak di tengah.Foto itu menunjukkan Niko dan aku berdampingan, dengan kebun anggur keluarga dan sebuah vila yang menjulang tinggi di belakang kami.Kaki Angga terasa seperti dipaku ke tanah, pembuluh dar
Pandanganku beralih darinya, ke wanita yang turun dari mobil. Seperti yang kuduga, itu adalah Bella. Aku tak pernah menyangka mereka bisa jatuh ke jurang tak tahu malu seperti itu.Mereka berani merebut properti mas kawin milik Keluarga Bundari yang diberikan oleh orang tuaku, dan menggunakannya sebagai tempat pernikahan mereka sendiri.Angga bergegas maju, dan berkata, “Sephia? Ini benar-benar kau. Apa yang kau lakukan di sini?”Senyumku memudar. “Kalau kau bisa ada di sini, kenapa aku tidak bisa?”“Sephia, biar aku jelaskan dulu. Bella bilang kalau dia dan Rian tidak pernah mengadakan upacara pernikahan yang layak sebelum Rian meninggal, dan dia ingin merasakannya sekali saja. Karena itu, aku setuju untuk melakukan semua itu dengannya.”“Semua itu tidak nyata. Itu hanya sandiwara untuk lingkaran dunia mafia saja. Tidak ada apa pun antara Bella dan aku. Jangan cemburu dan marah-marah karena hal itu.”Aku menggelengkan kepala perlahan. “Jangan khawatir. Aku tidak cemburu, dan aku tidak
Setelah aku tiba di Hawana, Angga kembali ke rumah tepi pantai dan mendapati bahwa rumah itu terkunci. Dia segera meneleponku, suaranya penuh amarah dan tuntutan. "Sephia, apa yang telah kau lakukan? Apa kau masih ingin aku menikahimu atau tidak?"Sebuah suara dingin dan dalam menjawab. "Siapa kau s
Aku teringat kembali pada malam dua tahun lalu. Dalam aksi pembalasan dendam lainnya dari Keluarga Tuasa, mereka menculikku yang sedang hamil lima bulan, dari jalanan Paleris yang sepi.Angga telah mengumpulkan anak buahnya untuk misi penyelamatan, namun dia berbalik meninggalkan misi tersebut karen
Saat itu, aku dikelilingi oleh anggota keluarga lain yang mengangkat ponsel mereka, rentetan cacian semakin mendekat. Kupikir dia akan mengatakan sesuatu untuk membelaku, tetapi dia justru ikut menyalahkanku, “Sephia, aku tidak menyangka kau bisa sekejam ini. Luangkan waktu untuk meminta maaf pada B
Mendengar kata-kataku, ibuku tetap sibuk menulis ulang kartu undangan, sedangkan ayahku bisa bernapas lega untuk pertama kalinya dalam enam tahun ini. "Niko itu pilihan yang bagus. Kami kan sudah bilang kalau Angga itu tidak sepadan. Kau akhirnya sadar juga."Aku sudah mencapai titik terendah, dan s












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan