Short
Terlahir Kembali: Tumbal Kekejaman Suami Bengis

Terlahir Kembali: Tumbal Kekejaman Suami Bengis

By:  SoraCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Menjelang hari perkiraaan lahir, pembukuan senjata Keluarga Gumar tiba tiba mengalami kebocoran besar. Petinggi keluarga langsung mengambil keputusan. Mereka menyuruhku, istri pemimpin yang katanya tidak ada kerjaan, pergi sendiri ke gudang senjata untuk melakukan pemeriksaan. Aku kira itu hanya tugas rutin biasa. Tak kusangka, adik angkat suamiku, Mikha, memanfaatkan kesempatan itu untuk meledakkan seluruh gudang senjata. Ledakannya memekakkan telinga dan kobaran api menelan seluruh langit. Aku tertindih di bawah reruntuhan yang roboh, rasa sakit di perutku seperti disayat pisau. Namun, aku tidak menghubungi Justin lewat jalur pribadinya yang berprioritas paling tinggi. Aku malah memilih mengirim sinyal minta tolong kepada ayahku. Karena di kehidupan sebelumnya, pada detik pertama ledakan terjadi, aku menggunakan jalur prioritas itu untuk menghubunginya. Anakku akhirnya selamat. Namun, Mikha hancur tak bersisa dalam ledakan itu. Justin memang berkata tidak menyalahkanku. Dia mengatakan bahwa Mikha hanyalah orang luar, tidak sepenting ahli waris. Dia bahkan menghabiskan sejumlah besar uang untuk mendatangkan ahli kandungan yang menjagaku 24 jam dan menyuruhku tenang menunggu persalinan. Namun, tepat pada hari aku melahirkan. Dia sendiri yang mengunci aku dan anakku di dalam gudang kosong yang disiram bensin, lalu membakar kami hidup-hidup. Sebelum kesadaranku lenyap, lewat kobaran api yang menjulang tinggi, aku melihat wajahnya yang kejam seperti iblis. "Kalau bukan karena kamu sengaja mengulur waktu, Mikha nggak akan mati. Kamu pikir kamu bisa menipuku dengan pura-pura jadi korban tak bersalah? Mimpi!" "Kamu suka bermain api, 'kan? Baik, akan kubiarkan kamu merasakan sendiri keputusasaan terakhir Mikha!" Saat aku membuka mata lagi, aku sudah kembali ke lokasi ledakan gudang senjata itu.

View More

Chapter 1

Bab 1

Gelombang panas dan asap membuatku terbatuk-batuk hingga paru-paruku terasa tersiksa. Rasa nyeri di perut menyeretku paksa kembali dari ingatan yang bergejolak ke kenyataan. Aku tidak menekan jalur prioritas yang bisa langsung tersambung ke ponsel Justin.

Sebaliknya, dengan sisa tenagaku, aku meremas hingga hancur chip komunikasi darurat di dalam antingku. Sinyal itu terkirim paksa, langsung terhubung ke saluran komunikasi pribadi ayahku.

Tim penyelamat untuk Mikha datang lebih cepat dari yang kubayangkan.

Dari kejauhan, aku melihat sosok yang sangat kukenal melangkah mendekat, dikelilingi sekelompok bawahan berbaju hitam. Justin langsung mengunci lokasi sudut tempat Mikha terjebak, lalu membawa orang orangnya berlari ke sana.

Dia memakaikan rompi antiledakan untuk Mikha dengan hati-hati, lalu mengangkatnya keluar dari bawah lempengan batu yang berguncang.

Setelah memastikan Mikha ditempatkan dengan aman di atas tandu, barulah aku meminta tolong kepada anggota keluarga yang masih membersihkan lokasi di sekitar dengan suara serakku.

Tidak ada jawaban.

Hanya beberapa tatapan dingin yang menyapu ke arahku dengan penuh ejekan.

"Istri Bos lagi main sandiwara apaan, sih? Justin sudah pergi menyelamatkan Nona Mikha. Mau teriak sampai tenggorokanmu pecah juga nggak ada gunanya."

"Siapa yang nggak tahu kamu selalu menargetkan Nona Mikha? Semua orang juga tahu gimana gudang senjata ini meledak."

"Sebaiknya kamu berdoa Nona Mikha baik-baik saja. Kalau sampai terjadi sesuatu, Justin orang pertama yang nggak akan melepaskanmu."

Rasa nyeri di bawah perutku semakin lama semakin hebat. Cairan hangat mengalir di sepanjang pahaku dan membasahi rokku. Aku mencoba menggerakkan tubuh, ingin menjauh sedikit dari area runtuhan ini.

Detik berikutnya, sebongkah batu jatuh dari atas kepalaku dan menghantam keras perutku yang sedang hamil. Aku menyemburkan darah dan pandanganku menghitam berulang kali.

"Anakku ...." Suaraku hampir tak terdengar saat berteriak, "Tolong ... selamatkan anakku ...."

Penasihat yang paling dekat denganku akhirnya mendengar suaraku dan menunduk menatapku. Dia tidak membantuku bangun, hanya mengangkat kaki dan menendangku ringan.

"Nyonya, aktingmu benar benar meyakinkan. Aku hampir saja percaya."

"Sampai menyiksa diri begini demi merebut perhatian, memangnya sepadan, ya?"

Anggota mafia ini memang selalu pandai membaca situasi dan melihat siapa yang sedang berkuasa. Sikap mereka adalah sikap sang pemimpin.

Aku meringkuk di atas tanah. Kehilangan darah dan rasa sakit yang hebat sedikit demi sedikit merenggut kesadaranku. Semua orang yang datang untuk menyelamatkan hanya mengelilingi Mikha.

Ada yang memberinya obat, ada yang membersihkan lukanya. Tidak ada satu pun yang peduli apakah aku hidup atau mati.

Dalam kesadaranku yang samar, aku mendengar seseorang berseru kaget. "Kenapa di bawah tubuh Nyonya ada banyak sekali darah? Jangan-jangan, benaran terjadi sesuatu?"

"Apa yang bisa terjadi? Paling juga dia lagi cari perhatian Justin, supaya dia datang melihatnya."

"Sudahlah, kasih tahu Justin saja, biar dia berhenti pura-pura."

Tak lama kemudian, aku mencium aroma parfum maskulin yang sangat kukenal mendekat. Sebuah tangan menepuk pipiku dengan keras seperti tamparan.

"Yulie, bangun. Jangan pura pura lagi, aku sudah datang."

Itu suara Justin. Dia tertawa pelan, tak terdengar emosi apa pun.

"Waktu meledakkan gudang senjata bukannya kamu hebat sekali? Sekarang kenapa terbaring di sini dengan pura-pura menyedihkan."

Aku ingin membela diri, ingin meminta tolong, tapi tenggorokanku hanya bisa mengeluarkan suara napas serak. Perutku terasa sakit seolah tubuhku akan terkoyak hidup-hidup.

Dengan sisa tenaga terakhir, ujung jariku mengait ujung celana panjangnya. Dia terdiam sesaat, tatapannya menyapu wajahku yang pucat pasi.

Sekilas ada keraguan yang sangat cepat melintas di matanya, tapi segera digantikan rasa tidak sabar. Dia mengulurkan tangan dan menekan perutku yang hamil, memastikan anak itu masih ada di dalam.

"Kemampuan aktingmu meningkat. Sayangnya, Mikha sudah bilang padaku, kamulah yang menyalakan api itu sendiri lalu bersembunyi. Sekarang mau sandiwara untuk siapa lagi ini?"

Setelah berkata demikian, dia melepaskan diri tanpa ragu dan berjalan menuju area aman tempat Mikha berada.

Di belakangnya, akhirnya ada bawahan yang pernah melihat proses persalinan menyadari ada yang tidak beres, suaranya dipenuhi ketakutan yang nyata. "Pak Justin! Nyonya kehilangan darah terlalu banyak! Apa jangan-jangan ahli waris akan ...."

Langkah Justin bahkan tidak berhenti. Suaranya yang santai terbawa angin kembali.

"Kenapa harus panik? Pantas saja Mikha bilang cairan penanda merah bahan bakar di gudang hilang, ternyata Yulie mencurinya untuk pura-pura dijadikan darah."

"Anak di usia kehamilan tua nggak semudah itu gugur. Dia suka berakting, biarkan saja dia berakting sampai puas."

Rasa sakit dan keputusasaan akhirnya menelan sisa kesadaranku sepenuhnya.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status