Share

Pengobatan Khusus Tabib Desa
Pengobatan Khusus Tabib Desa
Author: Richy

Bab 1

Author: Richy
Namaku Soraya Maria, seorang istri yang kesepian.

Aku tipe wanita yang akan merasa tidak nyaman di sekujur tubuh jika tidak melakukan hal “itu” sehari saja.

Sudah tujuh tahun aku menikah dengan suamiku, tapi dia seperti daun layu yang sama sekali tidak bisa memuaskanku.

Tubuhku terasa kian kering, sangat membutuhkan badai hebat untuk melembapkannya.

Menjelang akhir tahun, suamiku membawaku pulang ke kampung halamannya untuk merayakan tahun baru.

Tak kusangka, ibu mertuaku sangat jorok. Air yang digunakan untuk mencuci piring saja sampai berbau busuk.

Makanan pun sudah hampir basi.

Baru makan beberapa suap, aku langsung merasa tidak enak badan.

Perutku melilit hebat, rasanya seperti sedang diaduk-aduk.

Aku pun bergegas lari ke toilet.

Toilet di desa sangat sederhana, bahkan tidak ada pintunya. Jika melepas celana, bokong yang polos bisa terlihat jelas oleh orang lain.

Karena terburu-buru, aku lupa membawa tisu, sehingga terpaksa meminta adik iparku untuk mengantarkannya.

Adik iparku masih mahasiswa jurusan olahraga. Tubuhnya kekar berotot dengan kulit gelap.

Saat dia membawakan tisu, matanya langsung terbelalak menatapku.

Aku baru sadar bahwa bagian bawahku telah terlihat sepenuhnya olehnya.

Perasaan saat area pribadiku diperhatikan dengan lekat itu, justru membuatku merasa bergairah sekaligus malu.

Tubuhku mulai terasa panas, ada rasa gatal yang membuatku sangat menginginkannya.

Setelah keluar dari toilet, perutku masih saja terasa sakit.

Aku bertanya pada suamiku, "Rumah sakit di sekitar sini ada nggak? Aku pasti salah makan, sudah sakit banget!"

Suamiku menggelengkan kepala dengan raut wajah tidak sabar.

"Kenapa cuma kamu yang sakit perut padahal kita makan makanan yang sama? Di desa mana ada rumah sakit. Jangan cari-cari masalah, bisa nggak?"

Di saat aku merasa kecewa, ibu mertuaku memberi tahu, "Di desa kita ada tabib tua. Kami biasanya berobat ke sana kalau sakit, lebih manjur daripada dokter-dokter itu."

"Dia tinggal di ujung barat desa. Sesampainya di sana, panggil saja Paman Tobi, katakan kalau aku yang merekomendasikannya."

Aku mengangguk. Untuk saat ini, hanya Paman Tobi satu-satunya harapanku.

Tak lama kemudian, aku tiba di rumah Paman Tobi. Dia berusia sekitar lima puluh tahunan awal, tetapi tubuhnya tampak sangat bugar.

Benar-benar tabib tua yang pandai merawat diri. Aku jadi penasaran bagaimana kemampuannya di "bidang itu".

Aku menjelaskan maksud kedatanganku dan betapa sakit perutku ini.

Setelah mendengar penjelasanku, dia mengangguk pelan dan menunjuk ke arah tempat tidur di kamar.

"Ini gampang, aku hanya perlu mengeluarkan hawa jahat dari perutmu."

"Berbaringlah di tempat tidur, aku akan memijatmu sebentar."

Hanya ada satu tempat tidur di kamar itu, jelas sekali itu adalah tempat tidurnya.

Saat aku berbaring di sana, ada rasa kegembiraan yang samar dalam hatiku.

Ini pertama kalinya aku berbaring di tempat tidur pria lain.

Di desa memang kondisinya seperti ini, jadi terpaksa dipakai seadanya dulu.

Meski tempatnya sederhana, tetapi peralatan Paman Tobi cukup lengkap.

Dia menyeduhkan secangkir ramuan obat untukku dan menyuruhku meminumnya.

"Ini obat herbal untuk sakit perutmu. Minumlah, lalu aku akan memijatmu."

Setelah meminumnya, sekujur tubuhku mendadak terasa panas membara.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah kotak peralatan yang berisi berbagai macam alat pijat.

Sekilas, aku melihat ada mainan "seperti itu" di dalamnya!

Ini benar-benar tidak beres. Ternyata layanan Paman Tobi cukup luas jangkauannya.

Detik berikutnya, dia menyingkap bajuku, memperlihatkan perutku yang mulus.

Tubuhku menegang. Sensasi saat seorang pria menyingkap bajuku terasa cukup merangsang, hingga aku mulai menantikan apa yang akan dilakukan Paman Tobi padaku.

Dia mengambil sebotol minyak esensial dan meneteskannya ke perutku.

Rasanya dingin, mengalir perlahan mengikuti lekuk pinggangku.

Paman Tobi menjulurkan kedua tangannya, lalu mulai memijat perutku dengan lembut dan perlahan.

Tangan besarnya yang kasar dan kapalan itu, justru memberikan rangsangan aneh saat menyentuh kulitku.

Tak butuh waktu lama, minyak esensial telah merata di perutku.

Sensasi licin berpadu dengan telapak tangan Paman Tobi yang hangat, membuat suhu tubuhku meningkat, bahkan area di antara kedua kakiku mulai bergejolak.

Paman Tobi memegang kedua sisi pinggangku, sementara kedua jempolnya yang besar menekan lembut di sekitar pusar.

Harus diakui, teknik Paman Tobi memang hebat, rasa sakit di perutku jauh berkurang.

Namun di detik berikutnya, telapak tangannya menyelinap ke balik bajuku dan perlahan bergerak ke atas.

Aku terkejut dan bertanya dengan panik, "Pa-Paman Tobi, apa yang Paman sentuh? Yang sakit itu perutku, bukan dadaku."

Tangan Paman Tobi sama sekali tidak berhenti. Dia justru menyingkap bajuku sepenuhnya, memperlihatkan sepasang "bukit" yang bulat sempurna.

Matanya sampai terbelalak, lalu dia memuji, "Tak kusangka, ternyata milikmu besar juga."

Aku sangat malu hingga rasanya "cairanku" hampir mengalir keluar. Melihat diriku dalam kondisi seperti ini di hadapannya membuat wajahku terasa panas.

"Paman Tobi, apa yang sedang Paman lakukan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengobatan Khusus Tabib Desa   Bab 7

    "Soraya, apa yang terjadi? Kenapa kamu membunuh Paman Tobi?" Suamiku melihat cangkul berdarah di tangan Yohan, lalu refleks mundur selangkah. Suaranya gemetar saat berkata, "Yohan ... apa kamu sudah gila?"Ibu mertuaku gemetar hebat dan bertanya, "Yohan, kenapa kamu membunuhnya? Ini dosa besar! Kamu itu masih kuliah, kalau sampai orang tahu, bagaimana nasibmu nanti?" Ibu mertua menangis tersedu-sedu hingga jatuh terduduk di tanah sambil mencengkeram bajunya sendiri.Yohan melemparkan cangkul itu ke samping dan berkata dengan nada tidak terima, "Aku hanya membela diri. Tadi Paman Tobi melecehkan Kakak Ipar, menindihnya di tanah, dan hampir saja berhasil!"Suami dan ibu mertuaku melihat ke arahku, mendapati penampilanku yang acak-acakan dengan kerah baju yang robek. Mereka segera menghampiri dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Sambil menangis, aku menceritakan semua perbuatan Paman Tobi padaku selama beberapa hari terakhir ini.Mendengar itu, suamiku menjadi sangat marah. "Baj

  • Pengobatan Khusus Tabib Desa   Bab 6

    Namun, Paman Tobi semakin berani. Dia sepertinya yakin bahwa aku tidak akan berani mengadu, sehingga tindakannya semakin liar.Kemarin petang, dia bahkan berjongkok di samping tumpukan kayu bakar di luar pagar rumahku. Sambil mengayunkan botol arak, dia menyeringai ke arahku. "Soraya, mau minum satu gelas dengan Paman?"Aku mencengkeram ujung celemekku kuat-kuat hingga kukuku menusuk telapak tangan. Saat itu terdengar teriakan ibu mertuaku dari dalam rumah, "Soraya! Bersihkan abu di dalam tungku!"Aku terpaksa menyahut dan segera berbalik pergi saat Paman Tobi memasukkan botol pada mulutnya. Aku tidak menghiraukannya dan masuk ke dapur untuk membersihkan sisa pembakaran. Abu beterbangan, membuatku batuk-batuk dan mataku perih. Sebenarnya aku tidak pernah melakukan pekerjaan orang desa yang kotor seperti ini.Aku tidak pernah menyentuh tungku sebelumnya, apalagi abu. Namun saat ini, aku justru berharap bisa mengerjakannya lebih lambat agar waktu bisa terulur sedetik demi sedetik.Nam

  • Pengobatan Khusus Tabib Desa   Bab 5

    Aku menyentakkan tanganku dan menatapnya tajam. "Paman Tobi! Apa yang kamu lakukan?" Suaraku bergetar karena ngeri dan marah, tapi aku tidak berani berteriak terlalu keras karena takut menarik perhatian orang sekitar.Paman Tobi hanya menarik tangannya dengan santai. Dia meminum tehnya perlahan dengan tatapan mengejek. "Aduh, Paman ‘kan cuma melihat aliran darahmu nggak lancar, jadi Paman bantu melancarkan garis sarafmu. Kenapa? Malu?"Dia tertawa seperti rubah tua yang berhasil menjalankan tipu muslihatnya. Tangannya bahkan mencoba menyelinap masuk ke kerah bajuku, tapi langsung kutepis."Paman Tobi, tolong jaga batasanmu!" ancamku.Namun, Paman Tobi tetap tidak menyerah. Dia berkata dengan sangat tidak tahu malu, "Bukannya waktu itu kamu cukup agresif? Tubuhmu pasti sangat lapar, ‘kan? Datang saja ke rumahku nanti malam, biar aku obati kamu lagi."Mendengar hal itu, aku merasa sedikit malu pada diriku sendiri. Aku benci tubuhku yang begitu payah. Bagaimana bisa hanya karena seoran

  • Pengobatan Khusus Tabib Desa   Bab 4

    Namun bagaimanapun juga, dia adalah adik suamiku. Seberapa pun kesepiannya aku, tidak mungkin aku mengincarnya. Jadi, aku tidak menghiraukannya dan melewatinya begitu saja.Beberapa hari kemudian, aku bertemu lagi dengan Paman Tobi di desa. Begitu melihat tidak ada orang di sekitar, dia tanpa ragu mengulurkan tangan dan merangkul pinggangku."Terima kasih karena kemarin nggak mengadukanku. Apa kamu mau kita melanjutkan urusan yang waktu itu?" "Aku tahu gairahmu besar, dan aku pun nggak punya wanita. Bukannya kita ini seperti kayu kering yang bertemu api unggun?"Aku menepis tangannya dan berkata dengan nada jijik, "Jangan berpikir macam-macam, ya! Aku hanya merasa kamu itu orang yang dihormati di desa ini dan aku nggak mau memicu skandal, makanya aku diam saja."Namun, aku meremehkan betapa tidak tahu malunya Paman Tobi. Dia justru nekat meraba dadaku. "Sudahlah, jangan pura-pura. Waktu itu, aku sendiri yang melihatmu 'basah', masih mau bilang nggak mau?"Aku terlalu marah untuk bic

  • Pengobatan Khusus Tabib Desa   Bab 3

    Melihat Paman Tobi yang memanggul kedua kakiku sambil berlutut di tempat tidur mencari posisi yang pas, hatiku merasa tegang. Tadinya ini hanya soal sakit perut biasa, tapi sekarang pengobatannya justru merembet ke urusan biologis. Aku merasa gugup sekaligus bergairah.Sudah lama aku tidak merasakan kenikmatan sebagai wanita. Suamiku selama bertahun-tahun ini seperti terung layu yang tidak bisa memuaskanku. Aku sangat ingin mencoba ukuran Paman Tobi yang luar biasa itu.Tak lama, Paman Tobi telah menemukan posisi yang tepat. Dia menumpu kedua kakinya dan mengangkat kakiku tinggi-tinggi, lalu mulai membungkukkan pinggangnya. "Gadis manis, aku akan membantumu melancarkannya. Kamu akan segera merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya."Aku menggigit bibir rapat-rapat, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun, menantikan badai yang akan diberikan Paman Tobi.Namun di saat yang krusial itu, suara ibu mertua dan suamiku terdengar dari luar pintu. "Soraya, apa kamu di dalam?"Mendengar s

  • Pengobatan Khusus Tabib Desa   Bab 2

    Melihat keraguanku, Paman Tobi menjawab dengan tenang, "Tadi kamu sudah minum obat, aku perlu membantunya mengalir ke perut agar efeknya terasa."Setelah berkata demikian, salah satu tangannya menyentuh leherku. Sambil menekan dadaku, telapak tangannya meluncur perlahan ke bawah, seolah ada sesuatu di tenggorokanku yang didorong menuju perut. Mungkin obat yang kuminum tadi mulai bereaksi, karena perut bagian bawahku berangsur-angsur menjadi panas.Hanya saja, teknik Paman Tobi ini ... sepertinya ada yang salah. Kedua tangannya meremas sepasang benda kenyal yang kini terekspos itu dengan bertenaga.Uh! Sensasi ini terasa sangat nyaman. Seluruh tulangku terasa lemas, dan darahku mulai mendidih. Tidak boleh, aku ke sini untuk mengobati sakit perut, kenapa malah jadi seperti sedang melakukan "hal itu"?Untungnya, aku masih mengenakan bra, jadi tidak terlalu vulgar. Namun detik berikutnya, tangan Paman Tobi justru menjangkau punggungku untuk melepas pengait bra tersebut.Aku tidak ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status