مشاركة

Bab 6

مؤلف: Richy
Namun, Paman Tobi semakin berani. Dia sepertinya yakin bahwa aku tidak akan berani mengadu, sehingga tindakannya semakin liar.

Kemarin petang, dia bahkan berjongkok di samping tumpukan kayu bakar di luar pagar rumahku. Sambil mengayunkan botol arak, dia menyeringai ke arahku. "Soraya, mau minum satu gelas dengan Paman?"

Aku mencengkeram ujung celemekku kuat-kuat hingga kukuku menusuk telapak tangan. Saat itu terdengar teriakan ibu mertuaku dari dalam rumah, "Soraya! Bersihkan abu di dalam tungku
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Pengobatan Khusus Tabib Desa   Bab 7

    "Soraya, apa yang terjadi? Kenapa kamu membunuh Paman Tobi?" Suamiku melihat cangkul berdarah di tangan Yohan, lalu refleks mundur selangkah. Suaranya gemetar saat berkata, "Yohan ... apa kamu sudah gila?"Ibu mertuaku gemetar hebat dan bertanya, "Yohan, kenapa kamu membunuhnya? Ini dosa besar! Kamu itu masih kuliah, kalau sampai orang tahu, bagaimana nasibmu nanti?" Ibu mertua menangis tersedu-sedu hingga jatuh terduduk di tanah sambil mencengkeram bajunya sendiri.Yohan melemparkan cangkul itu ke samping dan berkata dengan nada tidak terima, "Aku hanya membela diri. Tadi Paman Tobi melecehkan Kakak Ipar, menindihnya di tanah, dan hampir saja berhasil!"Suami dan ibu mertuaku melihat ke arahku, mendapati penampilanku yang acak-acakan dengan kerah baju yang robek. Mereka segera menghampiri dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Sambil menangis, aku menceritakan semua perbuatan Paman Tobi padaku selama beberapa hari terakhir ini.Mendengar itu, suamiku menjadi sangat marah. "Baj

  • Pengobatan Khusus Tabib Desa   Bab 6

    Namun, Paman Tobi semakin berani. Dia sepertinya yakin bahwa aku tidak akan berani mengadu, sehingga tindakannya semakin liar.Kemarin petang, dia bahkan berjongkok di samping tumpukan kayu bakar di luar pagar rumahku. Sambil mengayunkan botol arak, dia menyeringai ke arahku. "Soraya, mau minum satu gelas dengan Paman?"Aku mencengkeram ujung celemekku kuat-kuat hingga kukuku menusuk telapak tangan. Saat itu terdengar teriakan ibu mertuaku dari dalam rumah, "Soraya! Bersihkan abu di dalam tungku!"Aku terpaksa menyahut dan segera berbalik pergi saat Paman Tobi memasukkan botol pada mulutnya. Aku tidak menghiraukannya dan masuk ke dapur untuk membersihkan sisa pembakaran. Abu beterbangan, membuatku batuk-batuk dan mataku perih. Sebenarnya aku tidak pernah melakukan pekerjaan orang desa yang kotor seperti ini.Aku tidak pernah menyentuh tungku sebelumnya, apalagi abu. Namun saat ini, aku justru berharap bisa mengerjakannya lebih lambat agar waktu bisa terulur sedetik demi sedetik.Nam

  • Pengobatan Khusus Tabib Desa   Bab 5

    Aku menyentakkan tanganku dan menatapnya tajam. "Paman Tobi! Apa yang kamu lakukan?" Suaraku bergetar karena ngeri dan marah, tapi aku tidak berani berteriak terlalu keras karena takut menarik perhatian orang sekitar.Paman Tobi hanya menarik tangannya dengan santai. Dia meminum tehnya perlahan dengan tatapan mengejek. "Aduh, Paman ‘kan cuma melihat aliran darahmu nggak lancar, jadi Paman bantu melancarkan garis sarafmu. Kenapa? Malu?"Dia tertawa seperti rubah tua yang berhasil menjalankan tipu muslihatnya. Tangannya bahkan mencoba menyelinap masuk ke kerah bajuku, tapi langsung kutepis."Paman Tobi, tolong jaga batasanmu!" ancamku.Namun, Paman Tobi tetap tidak menyerah. Dia berkata dengan sangat tidak tahu malu, "Bukannya waktu itu kamu cukup agresif? Tubuhmu pasti sangat lapar, ‘kan? Datang saja ke rumahku nanti malam, biar aku obati kamu lagi."Mendengar hal itu, aku merasa sedikit malu pada diriku sendiri. Aku benci tubuhku yang begitu payah. Bagaimana bisa hanya karena seoran

  • Pengobatan Khusus Tabib Desa   Bab 4

    Namun bagaimanapun juga, dia adalah adik suamiku. Seberapa pun kesepiannya aku, tidak mungkin aku mengincarnya. Jadi, aku tidak menghiraukannya dan melewatinya begitu saja.Beberapa hari kemudian, aku bertemu lagi dengan Paman Tobi di desa. Begitu melihat tidak ada orang di sekitar, dia tanpa ragu mengulurkan tangan dan merangkul pinggangku."Terima kasih karena kemarin nggak mengadukanku. Apa kamu mau kita melanjutkan urusan yang waktu itu?" "Aku tahu gairahmu besar, dan aku pun nggak punya wanita. Bukannya kita ini seperti kayu kering yang bertemu api unggun?"Aku menepis tangannya dan berkata dengan nada jijik, "Jangan berpikir macam-macam, ya! Aku hanya merasa kamu itu orang yang dihormati di desa ini dan aku nggak mau memicu skandal, makanya aku diam saja."Namun, aku meremehkan betapa tidak tahu malunya Paman Tobi. Dia justru nekat meraba dadaku. "Sudahlah, jangan pura-pura. Waktu itu, aku sendiri yang melihatmu 'basah', masih mau bilang nggak mau?"Aku terlalu marah untuk bic

  • Pengobatan Khusus Tabib Desa   Bab 3

    Melihat Paman Tobi yang memanggul kedua kakiku sambil berlutut di tempat tidur mencari posisi yang pas, hatiku merasa tegang. Tadinya ini hanya soal sakit perut biasa, tapi sekarang pengobatannya justru merembet ke urusan biologis. Aku merasa gugup sekaligus bergairah.Sudah lama aku tidak merasakan kenikmatan sebagai wanita. Suamiku selama bertahun-tahun ini seperti terung layu yang tidak bisa memuaskanku. Aku sangat ingin mencoba ukuran Paman Tobi yang luar biasa itu.Tak lama, Paman Tobi telah menemukan posisi yang tepat. Dia menumpu kedua kakinya dan mengangkat kakiku tinggi-tinggi, lalu mulai membungkukkan pinggangnya. "Gadis manis, aku akan membantumu melancarkannya. Kamu akan segera merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya."Aku menggigit bibir rapat-rapat, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun, menantikan badai yang akan diberikan Paman Tobi.Namun di saat yang krusial itu, suara ibu mertua dan suamiku terdengar dari luar pintu. "Soraya, apa kamu di dalam?"Mendengar s

  • Pengobatan Khusus Tabib Desa   Bab 2

    Melihat keraguanku, Paman Tobi menjawab dengan tenang, "Tadi kamu sudah minum obat, aku perlu membantunya mengalir ke perut agar efeknya terasa."Setelah berkata demikian, salah satu tangannya menyentuh leherku. Sambil menekan dadaku, telapak tangannya meluncur perlahan ke bawah, seolah ada sesuatu di tenggorokanku yang didorong menuju perut. Mungkin obat yang kuminum tadi mulai bereaksi, karena perut bagian bawahku berangsur-angsur menjadi panas.Hanya saja, teknik Paman Tobi ini ... sepertinya ada yang salah. Kedua tangannya meremas sepasang benda kenyal yang kini terekspos itu dengan bertenaga.Uh! Sensasi ini terasa sangat nyaman. Seluruh tulangku terasa lemas, dan darahku mulai mendidih. Tidak boleh, aku ke sini untuk mengobati sakit perut, kenapa malah jadi seperti sedang melakukan "hal itu"?Untungnya, aku masih mengenakan bra, jadi tidak terlalu vulgar. Namun detik berikutnya, tangan Paman Tobi justru menjangkau punggungku untuk melepas pengait bra tersebut.Aku tidak ta

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status