LOGIN"Gery, itu putriku! Ke mana tanganmu meraba-raba?" Di dalam ruangan tempat karaoke, rekanku Gery mabuk berat dan salah mengira putriku sebagai gadis pemandu lagu. Tangannya meraba-raba paha putriku, bahkan hampir menyelinap ke balik roknya. Yang tidak masuk akal, putriku justru tampak haus dan menikmati rabaan itu. Aku melirik putri Gery yang duduk di samping, dadanya yang seputih salju seolah hampir meledak menembus pakaiannya. Jika situasinya begini, jangan salahkan aku kalau aku pun mengincar putrimu!
View MoreSeketika Gery terdiam kaku, lalu menatap Lulu dengan wajah tak percaya. Lulu tampak menyusut di sudut, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Gery melirikku dan langsung menginterogasiku, "Morgan, kamu benar-benar licik! Mana mungkin putriku menggodamu?!"Melihat Gery tidak percaya, aku menarik Lulu dan mendesaknya, "Cepat katakan, kamu yang menggodaku, ‘kan?"Lulu, seorang gadis muda yang belum pernah menghadapi situasi seperti ini, gemetar hingga bibirnya memucat dan tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Di tengah suasana yang mencekam itu, putriku yang berdiri di belakang tiba-tiba mengalami tekanan mental. Dia berteriak histeris dan membentakku, "Ayah! Apa yang sebenarnya terjadi antara Ayah dan Lulu?! Apa semua ini benar?!"Melihat putriku yang tampak hancur, aku tidak boleh membuatnya semakin menderita. Aku segera menariknya masuk dan membujuknya dengan lembut, "Putriku sayang, kami tadi hanya bercanda. Jangan dianggap serius."Aku menarik tangan putriku dengan paksa masuk ke da
Namun, baru saja aku melangkah keluar pintu, pintu rumah sudah terbuka. Dua orang keluar dari sana satu tinggi dan satu pendek, seorang pria dan seorang wanita. Aku mengerjapkan mata untuk memastikan siapa yang datang.Ternyata Gery yang datang! Di sampingnya, berdiri putrinya, Lulu. Begitu melihatku, Gery yang tampak murka langsung mencengkeram kerah bajuku dan merangsek maju dan hendak memukulku."Bajingan, Morgan! Apa yang sudah kamu lakukan pada putriku?!"Aku menyentak tangannya hingga terlepas dan membalas dengan kemarahan yang sama besarnya. "Kamu masih berani cari gara-gara denganku? Memangnya kamu nggak sadar apa yang sudah kamu lakukan sendiri, hah?"Mendengar keributan itu, Meisya keluar dari rumah. Dia menatap kami dengan heran dan bertanya dengan hati-hati, "Paman Gery, kenapa Paman ke sini? Apa yang kalian lakukan di sini?"Melihat Meisya, Gery langsung bertanya padanya, "Kamu datang di waktu yang tepat. Ayo, katakan padaku, apa aku melakukan 'hal itu' padamu?"Meisy
Sepertinya pertemanan ini harus berakhir. Jika benar begitu, aku pasti akan menjebloskan Gery ke penjara. Melihat ekspresiku yang aneh, putriku segera bertanya, "Ayah, ada apa? Wajah Ayah pucat sekali."Aku memegang bahu Meisya dan bertanya dengan cemas, "Coba kamu pikirkan baik-baik sekarang, apa ada perasaan nggak nyaman di bagian bawahmu?"Meisya merenung sejenak, lalu berkata, "Rasanya ... bagian bawahku agak pegal dan penuh. Ayah, kenapa tiba-tiba bertanya begitu? Itu ‘kan sangat pribadi."Mendengar jawaban putriku, hatiku terasa dingin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku terduduk lemas di lantai. Meisya segera membantuku berdiri. "Ayah! Ayah kenapa?"Aku melambaikan tangan dengan lemas. "Putriku ... si Gery itu ... dia memerkosamu saat kamu mabuk!"Mendengar kalimat itu, Meisya menutup mulutnya karena terkejut. Dia menatapku dengan penuh kengerian. "Nggak mungkin! Paman Gery seharusnya bukan orang seperti itu. Rasanya pegal mungkin karena aku minum terlalu banyak dan in
Terakhir kali kami pergi ke tempat pijat, Gery pernah berkata padaku, "Sekarang di panti pijat isinya cuma 'daun kering', nggak ada gadis muda sama sekali. Aku benar-benar ingin cari yang segar satu kali saja."Sepertinya sejak saat itu dia sudah mengincar putriku. Pantas saja kali ini dia setuju merayakan ulang tahun Lulu di tempat karaoke, ternyata tujuannya adalah agar putriku juga ikut datang. Melihatku menatapnya dengan tatapan tajam dan bengis, Gery justru tampak bingung."Morgan, jelas-jelas kamu yang menyentuh putriku, kenapa malah menatapku begitu?"Aku ingin sekali menumpahkan segalanya saat itu juga. Namun, aku berpikir kembali, putriku dan Lulu ada di sini. Jika aku membongkar semuanya terlalu terang-terangan, semua orang akan menanggung malu. Aku terpaksa menelan amarah itu dan berkata pada Gery, "Bukan apa-apa. Acara ulang tahun hari ini sampai di sini saja. Aku dan Meisya pulang duluan."Gery menatapku dengan amarah yang meluap. Saat aku hendak pergi, dia bahkan sem
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.