تسجيل الدخول"Paman, apa pijat itu memang harus melepas celana juga?" Saat merayakan Hari Raya di desa, aku tidak sengaja salah makan hingga perutku sakit. Di daerah pelosok yang jauh dari rumah sakit ini, aku tidak punya pilihan selain mencari tabib tua di desa untuk memijatku. Siapa sangka, tiba-tiba dia menanggalkan celanaku dan berkata, "Kamu nggak mengerti, hanya dengan cara inilah hawa jahat di tubuhmu bisa dikeluarkan!" Padahal, tubuh bagian bawahku sudah basah kuyup. Saat celana itu terlepas, dia menyadari segalanya. Nafsu binatangnya memuncak, dan dalam sekejap, dia menerjangku.
عرض المزيد"Soraya, apa yang terjadi? Kenapa kamu membunuh Paman Tobi?" Suamiku melihat cangkul berdarah di tangan Yohan, lalu refleks mundur selangkah. Suaranya gemetar saat berkata, "Yohan ... apa kamu sudah gila?"Ibu mertuaku gemetar hebat dan bertanya, "Yohan, kenapa kamu membunuhnya? Ini dosa besar! Kamu itu masih kuliah, kalau sampai orang tahu, bagaimana nasibmu nanti?" Ibu mertua menangis tersedu-sedu hingga jatuh terduduk di tanah sambil mencengkeram bajunya sendiri.Yohan melemparkan cangkul itu ke samping dan berkata dengan nada tidak terima, "Aku hanya membela diri. Tadi Paman Tobi melecehkan Kakak Ipar, menindihnya di tanah, dan hampir saja berhasil!"Suami dan ibu mertuaku melihat ke arahku, mendapati penampilanku yang acak-acakan dengan kerah baju yang robek. Mereka segera menghampiri dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Sambil menangis, aku menceritakan semua perbuatan Paman Tobi padaku selama beberapa hari terakhir ini.Mendengar itu, suamiku menjadi sangat marah. "Baj
Namun, Paman Tobi semakin berani. Dia sepertinya yakin bahwa aku tidak akan berani mengadu, sehingga tindakannya semakin liar.Kemarin petang, dia bahkan berjongkok di samping tumpukan kayu bakar di luar pagar rumahku. Sambil mengayunkan botol arak, dia menyeringai ke arahku. "Soraya, mau minum satu gelas dengan Paman?"Aku mencengkeram ujung celemekku kuat-kuat hingga kukuku menusuk telapak tangan. Saat itu terdengar teriakan ibu mertuaku dari dalam rumah, "Soraya! Bersihkan abu di dalam tungku!"Aku terpaksa menyahut dan segera berbalik pergi saat Paman Tobi memasukkan botol pada mulutnya. Aku tidak menghiraukannya dan masuk ke dapur untuk membersihkan sisa pembakaran. Abu beterbangan, membuatku batuk-batuk dan mataku perih. Sebenarnya aku tidak pernah melakukan pekerjaan orang desa yang kotor seperti ini.Aku tidak pernah menyentuh tungku sebelumnya, apalagi abu. Namun saat ini, aku justru berharap bisa mengerjakannya lebih lambat agar waktu bisa terulur sedetik demi sedetik.Nam
Aku menyentakkan tanganku dan menatapnya tajam. "Paman Tobi! Apa yang kamu lakukan?" Suaraku bergetar karena ngeri dan marah, tapi aku tidak berani berteriak terlalu keras karena takut menarik perhatian orang sekitar.Paman Tobi hanya menarik tangannya dengan santai. Dia meminum tehnya perlahan dengan tatapan mengejek. "Aduh, Paman ‘kan cuma melihat aliran darahmu nggak lancar, jadi Paman bantu melancarkan garis sarafmu. Kenapa? Malu?"Dia tertawa seperti rubah tua yang berhasil menjalankan tipu muslihatnya. Tangannya bahkan mencoba menyelinap masuk ke kerah bajuku, tapi langsung kutepis."Paman Tobi, tolong jaga batasanmu!" ancamku.Namun, Paman Tobi tetap tidak menyerah. Dia berkata dengan sangat tidak tahu malu, "Bukannya waktu itu kamu cukup agresif? Tubuhmu pasti sangat lapar, ‘kan? Datang saja ke rumahku nanti malam, biar aku obati kamu lagi."Mendengar hal itu, aku merasa sedikit malu pada diriku sendiri. Aku benci tubuhku yang begitu payah. Bagaimana bisa hanya karena seoran
Namun bagaimanapun juga, dia adalah adik suamiku. Seberapa pun kesepiannya aku, tidak mungkin aku mengincarnya. Jadi, aku tidak menghiraukannya dan melewatinya begitu saja.Beberapa hari kemudian, aku bertemu lagi dengan Paman Tobi di desa. Begitu melihat tidak ada orang di sekitar, dia tanpa ragu mengulurkan tangan dan merangkul pinggangku."Terima kasih karena kemarin nggak mengadukanku. Apa kamu mau kita melanjutkan urusan yang waktu itu?" "Aku tahu gairahmu besar, dan aku pun nggak punya wanita. Bukannya kita ini seperti kayu kering yang bertemu api unggun?"Aku menepis tangannya dan berkata dengan nada jijik, "Jangan berpikir macam-macam, ya! Aku hanya merasa kamu itu orang yang dihormati di desa ini dan aku nggak mau memicu skandal, makanya aku diam saja."Namun, aku meremehkan betapa tidak tahu malunya Paman Tobi. Dia justru nekat meraba dadaku. "Sudahlah, jangan pura-pura. Waktu itu, aku sendiri yang melihatmu 'basah', masih mau bilang nggak mau?"Aku terlalu marah untuk bic






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.