LOGINLia menarik napas tajam. "Dia bilang aku aman untuk malam ini."
"Di rumah ini, keamanan adalah apa yang Tuan Arka definisikan pada detik itu juga, Nona," jawab Benyamin datar sembari memberikan isyarat ke arah tangga melingkar yang menuju ke lantai atas, sayap paling privat dari mansion tersebut.
Lia tidak membantah. Ia tahu bahwa dalam permainan ini, keraguan adalah kelemahan. Ia mengikuti Benyamin melewati koridor yang lebih gelap, di mana dindingnya dilapisi panel kayu ek tua yang memancarkan aroma sejarah dan kekuasaan. Detak jantung Lia berdentum di telinganya, seirama dengan langkah sepatunya di atas karpet Persia yang tebal. Ketika mereka sampai di depan pintu kayu jati ganda yang menjulang tinggi, Benyamin berhenti dan membukanya tanpa ketukan.
"Masuklah," perintah pria tua itu pelan.
Lia melangkah masuk, dan pintu di belakangnya tertutup dengan bunyi klik yang final. Ruang kerja itu sangat luas, dengan langit-langit setinggi dua lantai dan dinding yang sepenuhnya tertutup oleh rak buku berisi ribuan jilid tua. Namun, pusat gravitasi ruangan itu berada di ujung sana—sebuah meja kerja dari marmer hitam yang terletak di depan dinding kaca raksasa.
Arka tidak duduk di balik meja. Ia berdiri membelakangi pintu, menatap cahaya kota Jakarta yang berkelap-kelip dari kejauhan. Ia sudah menanggalkan kemeja luarnya, kini hanya mengenakan kaus dalam singlet hitam ketat yang menonjolkan otot-otot punggung dan bahunya yang luar biasa kokoh. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah gelas kristal berisi cairan amber yang pekat.
"Kamu terlalu lama," suara Arka bergema di ruangan yang sunyi itu, berat dan penuh dengan vibrasi yang membuat perut Lia bergejolak.
"Saya pikir Anda meminta saya istirahat," balas Lia, suaranya tetap stabil meskipun kakinya terasa lemas. Ia berjalan mendekat, membiarkan gaun hitamnya yang berani menyapu lantai, hingga ia berdiri hanya beberapa meter di belakang pria itu.
Arka berbalik perlahan. Di bawah pencahayaan yang sangat minimal, wajahnya tampak seperti pahatan batu yang keras dan tanpa ampun. Matanya yang abu-abu gelap menyapu penampilan Lia dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan intensitas yang lebih mematikan daripada saat makan malam. Ia meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan bunyi dentuman pelan.
"Istirahat adalah untuk mereka yang sudah menyerah, Lia," Arka melangkah maju, merambah ruang pribadi Lia hingga gadis itu terpaksa mendongak. "Dan kamu ... kamu tidak terlihat seperti wanita yang ingin menyerah. Kamu datang ke mejaku dengan gaun yang berteriak meminta perhatian, lalu kamu bicara soal kehancuran pamanmu seolah kau adalah dewi kematian itu sendiri."
Arka berhenti tepat di depan Lia. Jarak mereka begitu dekat hingga Lia bisa merasakan panas yang terpancar dari kulit Arka dan aroma wiski yang bercampur dengan parfum kayu cendana yang mahal. Arka menunduk, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Lia.
"Kamu mencoba mengintimidasi aku di rumahku sendiri, Lia Sanjaya?" bisik Arka, suaranya mengandung ancaman yang seksi sekaligus mematikan.
Lia tidak mundur. Ia justru menegakkan punggungnya, membiarkan punggungnya yang terbuka terpapar udara dingin ruangan itu, sementara matanya mengunci mata Arka.
"Saya tidak mengintimidasi. Saya hanya menunjukkan bahwa Anda tidak sedang berhadapan dengan barang mati. Jika Anda ingin jaminan yang berkualitas, Anda harus siap dengan konsekuensi bahwa jaminan itu memiliki nyawa."
Arka menyipitkan matanya. Ia tiba-tiba mengulurkan tangannya yang besar dan kasar, bukan untuk menyentuh wajah Lia, melainkan untuk mencengkeram rahang gadis itu dengan satu tangan. Cengkeramannya tidak sampai menyakiti, namun sangat mendominasi, memaksa Lia untuk terus menatapnya.
"Konsekuensi?" Arka mendesis, ibu jarinya menekan bibir bawah Lia hingga bibir itu terbuka sedikit. "Kamu bicara soal konsekuensi kepadaku? Aku adalah orang yang menciptakan konsekuensi bagi orang-orang seperti pamanmu. Kamu hanyalah butiran kecil di dalam mekanisme kekuasaanku."
"Kalau begitu, mengapa Anda begitu terganggu oleh 'butiran kecil' ini sampai Anda memanggil saya ke sini di tengah malam?" tantang Lia, suaranya serak namun penuh keberanian.
Lia bisa merasakan kemarahan sekaligus gairah yang meledak dari tubuh Arka. Pria itu tidak terbiasa dilawan, dan perlawanan Lia tampaknya menyulut sesuatu yang jauh lebih primitif dalam dirinya. Tiba-tiba, Arka menarik rahang Lia lebih dekat, hingga bibir mereka hampir bersentuhan.
"Karena aku ingin melihat seberapa jauh keberanianmu ini bertahan sebelum kamu mulai memohon," ujar Arka.
Tangan Arka yang bebas bergerak ke belakang leher Lia, jemarinya membelai kulit halus di sana sebelum perlahan meluncur turun ke punggung Lia yang terbuka. Sentuhan kulit ke kulit yang mendadak itu membuat Lia merinding hebat. Ia menahan napas saat tangan Arka meraba lekuk tulang belakangnya dengan gerakan yang sangat posesif, seolah-olah pria itu sedang memetakan wilayah barunya.
Lia menarik napas tajam. "Dia bilang aku aman untuk malam ini.""Di rumah ini, keamanan adalah apa yang Tuan Arka definisikan pada detik itu juga, Nona," jawab Benyamin datar sembari memberikan isyarat ke arah tangga melingkar yang menuju ke lantai atas, sayap paling privat dari mansion tersebut.Lia tidak membantah. Ia tahu bahwa dalam permainan ini, keraguan adalah kelemahan. Ia mengikuti Benyamin melewati koridor yang lebih gelap, di mana dindingnya dilapisi panel kayu ek tua yang memancarkan aroma sejarah dan kekuasaan. Detak jantung Lia berdentum di telinganya, seirama dengan langkah sepatunya di atas karpet Persia yang tebal. Ketika mereka sampai di depan pintu kayu jati ganda yang menjulang tinggi, Benyamin berhenti dan membukanya tanpa ketukan."Masuklah," perintah pria tua itu pelan.Lia melangkah masuk, dan pintu di belakangnya tertutup dengan bunyi klik yang final. Ruang kerja itu sangat luas, dengan langit-langit setinggi dua lantai dan dinding yang sepenuhnya tertutup ole
"Makanlah," kata Arka, suaranya kini sedikit lebih lembut namun tetap memiliki nada perintah yang tak terbantahkan. "Kamu akan butuh energi untuk apa yang akan terjadi selanjutnya."Lia tersenyum misterius dan mulai menikmati hidangan mewah di depannya. Di setiap suapannya, ia merasakan kekuasaan yang mulai bergeser. Ia bukan lagi tawanan. Ia adalah tamu yang berbahaya. Dan ia akan memastikan bahwa Arka Dirgantara tidak akan pernah bisa melupakan malam di mana Lia Sanjaya masuk ke dalam hidupnya dengan mengenakan gaun pemancing yang mematikan itu.Sepanjang makan malam, percakapan mereka adalah rangkaian serangan dan pertahanan verbal yang cerdik. Arka mencoba menggali masa lalu Lia, mencoba mencari titik lemahnya, namun Lia selalu berhasil membelokkan pertanyaan itu kembali kepada Arka atau menjawabnya dengan kejujuran yang justru semakin membuat Arka terpesona. Mereka bicara tentang kekuasaan, tentang pengkhianatan, dan tentang bagaimana dunia ini hanya milik mereka yang berani meng
Satu jam kemudian, Benyamin kembali mengetuk pintunya.Lia bangkit dari tempat tidur, merapikan gaun hitamnya yang tidak kusut sedikit pun, dan mengenakan kembali sepatunya. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah yang lebih mantap dari sebelumnya. Saat ia melangkah keluar, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai Lia Sanjaya sang guru TK. Ia adalah sebuah entitas baru. Seorang wanita yang lahir dari pengkhianatan dan ditempa oleh ambisi.Ia dibawa menuju ruang makan yang sangat mewah, di mana sebuah meja panjang yang bisa menampung tiga puluh orang telah disiapkan hanya untuk mereka berdua. Arka sudah duduk di ujung meja, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan otot lengannya yang kuat dan jam tangan mahal yang melingkari pergelangan tangannya.Cahaya lilin di atas meja memberikan nuansa yang sangat intim sekaligus mencekam. Arka menengadah saat Lia masuk, matanya kembali menelusuri penampilannya dengan intensitas yang sama."Duduklah, Nona Sanjaya," per
"Dengarkan aku baik-baik, Nona Sanjaya," bisik Arka, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Lia. Lia bisa merasakan napas hangat Arka di bibirnya. "Kamu bukan penentu cara di sini. Kamu adalah jaminan. Dan jaminan tidak memiliki hak untuk bernegosiasi. Kamu mungkin punya keberanian, dan gaun ini ... gaun ini memang melakukan tugasnya dengan sangat baik. Tapi jangan pernah berpikir sekejap pun bahwa kau memegang kendali atas apa yang akan terjadi di antara kita."Lia menatap balik ke dalam mata abu-abu Arka yang gelap. Alih-alih merasa takut oleh dominasi fisik itu, ia justru merasakan dorongan adrenalin yang luar biasa. Ia merasakan tantangan di balik kata-kata Arka. Pria ini ingin menghancurkan pertahanannya, ingin melihatnya tunduk. Dan Lia tahu, semakin ia melawan, semakin Arka akan terobsesi padanya."Kita lihat saja nanti, Tuan Arka," balas Lia pelan, hampir berupa bisikan. "Terkadang, jaminan yang paling berharga adalah jaminan yang paling sulit untuk dikuasai."Arka t
Mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda besar yang terbuat dari kayu jati berukir. Benyamin mengetuk perlahan, lalu membukanya."Nona Sanjaya sudah tiba, Tuan," lapor Benyamin.Lia melangkah masuk ke dalam ruangan itu sebelum dipersilakan. Ruang kerja Arka jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan rak buku setinggi langit-langit, sementara di ujung ruangan terdapat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah sana. Arka sedang berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela dengan segelas cairan berwarna amber di tangannya.Ruangan itu dipenuhi dengan aroma maskulin yang kuat—campuran antara tembakau mahal, kulit, dan aroma hutan setelah hujan. Aura kekuasaan di sini begitu pekat hingga Lia merasa seolah-olah ia sedang masuk ke dalam wilayah predator yang paling mematikan."Kamu boleh pergi, Benyamin," suara Arka terdengar rendah, berwibawa, dan dingin.Pintu di belakang Lia tertutup dengan bunyi
"Siapkan mobilnya sekarang," perintah Lia tanpa kompromi. "Aku tidak ingin menghabiskan satu detik pun lagi di rumah yang penuh dengan bau bangkai ini."Rina bergegas keluar untuk memanggil sopir, sementara Lia berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang mantap. Ia tidak butuh waktu lama untuk berkemas. Ia hanya membawa beberapa potong pakaian sederhana dan sebuah foto kecil orang tuanya yang ia selipkan di balik saku bajunya.***Saat ia berdiri di depan cermin besar di kamarnya, Lia menatap bayangannya sendiri. Ia melihat seorang wanita yang baru saja membuat kesepakatan dengan iblis untuk melindungi kehormatan orang-orang yang ia cintai. Pacing hidupnya yang tenang sebagai seorang guru TK telah berakhir dalam semalam. Kini, ia sedang bertransformasi menjadi sesuatu yang lain."Ayah ... Ibu ... maafkan aku," bisiknya pada bayangan di cermin. "Aku akan menjaga nama kalian, meskipun aku harus kehilangan diriku sendiri di mansion itu."Lia keluar dari kamarnya dan menuruni tangg







