LOGIN"Makanlah," kata Arka, suaranya kini sedikit lebih lembut namun tetap memiliki nada perintah yang tak terbantahkan. "Kamu akan butuh energi untuk apa yang akan terjadi selanjutnya."
Lia tersenyum misterius dan mulai menikmati hidangan mewah di depannya. Di setiap suapannya, ia merasakan kekuasaan yang mulai bergeser. Ia bukan lagi tawanan. Ia adalah tamu yang berbahaya. Dan ia akan memastikan bahwa Arka Dirgantara tidak akan pernah bisa melupakan malam di mana Lia Sanjaya masuk ke dalam hidupnya dengan mengenakan gaun pemancing yang mematikan itu.
Sepanjang makan malam, percakapan mereka adalah rangkaian serangan dan pertahanan verbal yang cerdik. Arka mencoba menggali masa lalu Lia, mencoba mencari titik lemahnya, namun Lia selalu berhasil membelokkan pertanyaan itu kembali kepada Arka atau menjawabnya dengan kejujuran yang justru semakin membuat Arka terpesona. Mereka bicara tentang kekuasaan, tentang pengkhianatan, dan tentang bagaimana dunia ini hanya milik mereka yang berani mengambil risiko.
Lia menyadari bahwa Arka adalah pria yang sangat kesepian di puncak kekuasaannya. Pria yang dikelilingi oleh orang-orang yang hanya menginginkan uangnya atau takut padanya. Kehadiran Lia, yang tidak takut padanya dan justru menantangnya, adalah sesuatu yang segar bagi Arka.
"Kamu berbeda dari yang aku bayangkan," ujar Arka di akhir makan malam, sambil memutar gelas wiski di tangannya.
"Dan apa yang Anda bayangkan?" tanya Lia sambil menyandarkan punggungnya di kursi, membiarkan gaunnya menunjukkan lekuk tubuhnya dengan sempurna.
"Aku membayangkan seorang gadis guru TK yang akan pingsan saat melihatku. Seorang gadis yang akan memohon-mohon agar pamannya tidak dipenjara."
Lia tertawa, tawa yang merdu namun mengandung kepahitan. "Maka Anda salah menilai saya, Tuan Arka. Saya lebih suka melihat Paman Surya dipenjara daripada melihatnya bebas. Dan pingsan? Saya sudah melalui hal yang jauh lebih buruk daripada sekadar berhadapan dengan pria kaya yang berkuasa."
Arka menatap Lia dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kekaguman yang tersembunyi di balik kedinginan matanya. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan memutari meja hingga ia berdiri tepat di belakang Lia. Ia menunduk, bibirnya berada tepat di samping telinga Lia.
"Besok pagi, pengacaraku akan mengurus semua dokumen makam orang tuamu," bisik Arka. "Dan besok sore, kau akan mulai bekerja bersamaku. Aku ingin melihat apakah otakmu itu seindah tubuhmu."
Lia merasakan aliran listrik di sekujur tubuhnya. "Bekerja bersama Anda?"
"Aku tidak butuh pajangan di mansion ini, Lia. Aku butuh seseorang yang bisa membantuku menghancurkan kerajaan bisnis pamanmu dari dalam. Kamu tahu semua rahasia mereka, bukan?"
Lia menoleh sedikit, hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung Arka. "Saya tahu segalanya. Dan saya akan dengan senang hati menyerahkannya kepada Anda."
"Bagus," kata Arka, suaranya serak. Ia menatap bibir Lia lagi, kerinduan yang nyata terlihat di matanya. Namun, ia tidak menciumnya. Ia mundur, memberikan Lia jarak kembali. "Istirahatlah. Malam ini kamu aman. Tapi jangan berharap hal yang sama untuk besok."
Arka melangkah keluar dari ruang makan, meninggalkan Lia sendirian dengan detak jantung yang masih bergemuruh. Lia menarik napas panjang, merasakan kemenangan kecil di dadanya. Ia telah berhasil. Ia tidak hanya menjadi persembahan, ia telah menjadi sekutu yang dibutuhkan oleh Arka. Dan dengan perlindungan Arka, ia akan memiliki semua sumber daya yang ia perlukan untuk membalaskan dendamnya.
Keheningan yang ditinggalkan Arka di ruang makan setelah ia melangkah pergi seharusnya memberikan rasa lega bagi Lia. Namun, udara di ruangan itu tetap terasa berat, seolah-olah partikel oksigen di sana telah terkontaminasi oleh otoritas pria itu. Lia berdiri perlahan dari kursi mahoninya, jemarinya masih gemetar halus saat ia merapikan helai satin hitam dari gaunnya. Arka menyuruhnya istirahat, namun tatapan pria itu sebelum pergi mengatakan hal yang berbeda. Itu bukan tatapan seorang pria yang ingin tidur dalam kedamaian; itu adalah tatapan seorang pemburu yang baru saja menyadari bahwa mangsanya memiliki duri.
Lia baru saja melangkah keluar dari ruang makan ketika Benyamin sudah berdiri di sana, seperti bayangan yang tak pernah tidur. "Nona Sanjaya," suara pria tua itu terdengar lebih rendah dari sebelumnya. "Tuan Arka berubah pikiran. Beliau menunggu Anda di ruang kerja pribadinya sekarang."
Lia menarik napas tajam. "Dia bilang aku aman untuk malam ini.""Di rumah ini, keamanan adalah apa yang Tuan Arka definisikan pada detik itu juga, Nona," jawab Benyamin datar sembari memberikan isyarat ke arah tangga melingkar yang menuju ke lantai atas, sayap paling privat dari mansion tersebut.Lia tidak membantah. Ia tahu bahwa dalam permainan ini, keraguan adalah kelemahan. Ia mengikuti Benyamin melewati koridor yang lebih gelap, di mana dindingnya dilapisi panel kayu ek tua yang memancarkan aroma sejarah dan kekuasaan. Detak jantung Lia berdentum di telinganya, seirama dengan langkah sepatunya di atas karpet Persia yang tebal. Ketika mereka sampai di depan pintu kayu jati ganda yang menjulang tinggi, Benyamin berhenti dan membukanya tanpa ketukan."Masuklah," perintah pria tua itu pelan.Lia melangkah masuk, dan pintu di belakangnya tertutup dengan bunyi klik yang final. Ruang kerja itu sangat luas, dengan langit-langit setinggi dua lantai dan dinding yang sepenuhnya tertutup ole
"Makanlah," kata Arka, suaranya kini sedikit lebih lembut namun tetap memiliki nada perintah yang tak terbantahkan. "Kamu akan butuh energi untuk apa yang akan terjadi selanjutnya."Lia tersenyum misterius dan mulai menikmati hidangan mewah di depannya. Di setiap suapannya, ia merasakan kekuasaan yang mulai bergeser. Ia bukan lagi tawanan. Ia adalah tamu yang berbahaya. Dan ia akan memastikan bahwa Arka Dirgantara tidak akan pernah bisa melupakan malam di mana Lia Sanjaya masuk ke dalam hidupnya dengan mengenakan gaun pemancing yang mematikan itu.Sepanjang makan malam, percakapan mereka adalah rangkaian serangan dan pertahanan verbal yang cerdik. Arka mencoba menggali masa lalu Lia, mencoba mencari titik lemahnya, namun Lia selalu berhasil membelokkan pertanyaan itu kembali kepada Arka atau menjawabnya dengan kejujuran yang justru semakin membuat Arka terpesona. Mereka bicara tentang kekuasaan, tentang pengkhianatan, dan tentang bagaimana dunia ini hanya milik mereka yang berani meng
Satu jam kemudian, Benyamin kembali mengetuk pintunya.Lia bangkit dari tempat tidur, merapikan gaun hitamnya yang tidak kusut sedikit pun, dan mengenakan kembali sepatunya. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah yang lebih mantap dari sebelumnya. Saat ia melangkah keluar, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai Lia Sanjaya sang guru TK. Ia adalah sebuah entitas baru. Seorang wanita yang lahir dari pengkhianatan dan ditempa oleh ambisi.Ia dibawa menuju ruang makan yang sangat mewah, di mana sebuah meja panjang yang bisa menampung tiga puluh orang telah disiapkan hanya untuk mereka berdua. Arka sudah duduk di ujung meja, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan otot lengannya yang kuat dan jam tangan mahal yang melingkari pergelangan tangannya.Cahaya lilin di atas meja memberikan nuansa yang sangat intim sekaligus mencekam. Arka menengadah saat Lia masuk, matanya kembali menelusuri penampilannya dengan intensitas yang sama."Duduklah, Nona Sanjaya," per
"Dengarkan aku baik-baik, Nona Sanjaya," bisik Arka, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Lia. Lia bisa merasakan napas hangat Arka di bibirnya. "Kamu bukan penentu cara di sini. Kamu adalah jaminan. Dan jaminan tidak memiliki hak untuk bernegosiasi. Kamu mungkin punya keberanian, dan gaun ini ... gaun ini memang melakukan tugasnya dengan sangat baik. Tapi jangan pernah berpikir sekejap pun bahwa kau memegang kendali atas apa yang akan terjadi di antara kita."Lia menatap balik ke dalam mata abu-abu Arka yang gelap. Alih-alih merasa takut oleh dominasi fisik itu, ia justru merasakan dorongan adrenalin yang luar biasa. Ia merasakan tantangan di balik kata-kata Arka. Pria ini ingin menghancurkan pertahanannya, ingin melihatnya tunduk. Dan Lia tahu, semakin ia melawan, semakin Arka akan terobsesi padanya."Kita lihat saja nanti, Tuan Arka," balas Lia pelan, hampir berupa bisikan. "Terkadang, jaminan yang paling berharga adalah jaminan yang paling sulit untuk dikuasai."Arka t
Mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda besar yang terbuat dari kayu jati berukir. Benyamin mengetuk perlahan, lalu membukanya."Nona Sanjaya sudah tiba, Tuan," lapor Benyamin.Lia melangkah masuk ke dalam ruangan itu sebelum dipersilakan. Ruang kerja Arka jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan rak buku setinggi langit-langit, sementara di ujung ruangan terdapat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah sana. Arka sedang berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela dengan segelas cairan berwarna amber di tangannya.Ruangan itu dipenuhi dengan aroma maskulin yang kuat—campuran antara tembakau mahal, kulit, dan aroma hutan setelah hujan. Aura kekuasaan di sini begitu pekat hingga Lia merasa seolah-olah ia sedang masuk ke dalam wilayah predator yang paling mematikan."Kamu boleh pergi, Benyamin," suara Arka terdengar rendah, berwibawa, dan dingin.Pintu di belakang Lia tertutup dengan bunyi
"Siapkan mobilnya sekarang," perintah Lia tanpa kompromi. "Aku tidak ingin menghabiskan satu detik pun lagi di rumah yang penuh dengan bau bangkai ini."Rina bergegas keluar untuk memanggil sopir, sementara Lia berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang mantap. Ia tidak butuh waktu lama untuk berkemas. Ia hanya membawa beberapa potong pakaian sederhana dan sebuah foto kecil orang tuanya yang ia selipkan di balik saku bajunya.***Saat ia berdiri di depan cermin besar di kamarnya, Lia menatap bayangannya sendiri. Ia melihat seorang wanita yang baru saja membuat kesepakatan dengan iblis untuk melindungi kehormatan orang-orang yang ia cintai. Pacing hidupnya yang tenang sebagai seorang guru TK telah berakhir dalam semalam. Kini, ia sedang bertransformasi menjadi sesuatu yang lain."Ayah ... Ibu ... maafkan aku," bisiknya pada bayangan di cermin. "Aku akan menjaga nama kalian, meskipun aku harus kehilangan diriku sendiri di mansion itu."Lia keluar dari kamarnya dan menuruni tangg







