Home / Romansa / Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku / Bab 7. Bukan Lagi Tawanan.

Share

Bab 7. Bukan Lagi Tawanan.

Author: Ucing Ucay
last update Last Updated: 2026-01-14 04:26:30

"Makanlah," kata Arka, suaranya kini sedikit lebih lembut namun tetap memiliki nada perintah yang tak terbantahkan. "Kamu akan butuh energi untuk apa yang akan terjadi selanjutnya."

Lia tersenyum misterius dan mulai menikmati hidangan mewah di depannya. Di setiap suapannya, ia merasakan kekuasaan yang mulai bergeser. Ia bukan lagi tawanan. Ia adalah tamu yang berbahaya. Dan ia akan memastikan bahwa Arka Dirgantara tidak akan pernah bisa melupakan malam di mana Lia Sanjaya masuk ke dalam hidupnya dengan mengenakan gaun pemancing yang mematikan itu.

Sepanjang makan malam, percakapan mereka adalah rangkaian serangan dan pertahanan verbal yang cerdik. Arka mencoba menggali masa lalu Lia, mencoba mencari titik lemahnya, namun Lia selalu berhasil membelokkan pertanyaan itu kembali kepada Arka atau menjawabnya dengan kejujuran yang justru semakin membuat Arka terpesona. Mereka bicara tentang kekuasaan, tentang pengkhianatan, dan tentang bagaimana dunia ini hanya milik mereka yang berani mengambil risiko.

Lia menyadari bahwa Arka adalah pria yang sangat kesepian di puncak kekuasaannya. Pria yang dikelilingi oleh orang-orang yang hanya menginginkan uangnya atau takut padanya. Kehadiran Lia, yang tidak takut padanya dan justru menantangnya, adalah sesuatu yang segar bagi Arka.

"Kamu berbeda dari yang aku bayangkan," ujar Arka di akhir makan malam, sambil memutar gelas wiski di tangannya.

"Dan apa yang Anda bayangkan?" tanya Lia sambil menyandarkan punggungnya di kursi, membiarkan gaunnya menunjukkan lekuk tubuhnya dengan sempurna.

"Aku membayangkan seorang gadis guru TK yang akan pingsan saat melihatku. Seorang gadis yang akan memohon-mohon agar pamannya tidak dipenjara."

Lia tertawa, tawa yang merdu namun mengandung kepahitan. "Maka Anda salah menilai saya, Tuan Arka. Saya lebih suka melihat Paman Surya dipenjara daripada melihatnya bebas. Dan pingsan? Saya sudah melalui hal yang jauh lebih buruk daripada sekadar berhadapan dengan pria kaya yang berkuasa."

Arka menatap Lia dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kekaguman yang tersembunyi di balik kedinginan matanya. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan memutari meja hingga ia berdiri tepat di belakang Lia. Ia menunduk, bibirnya berada tepat di samping telinga Lia.

"Besok pagi, pengacaraku akan mengurus semua dokumen makam orang tuamu," bisik Arka. "Dan besok sore, kau akan mulai bekerja bersamaku. Aku ingin melihat apakah otakmu itu seindah tubuhmu."

Lia merasakan aliran listrik di sekujur tubuhnya. "Bekerja bersama Anda?"

"Aku tidak butuh pajangan di mansion ini, Lia. Aku butuh seseorang yang bisa membantuku menghancurkan kerajaan bisnis pamanmu dari dalam. Kamu tahu semua rahasia mereka, bukan?"

Lia menoleh sedikit, hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung Arka. "Saya tahu segalanya. Dan saya akan dengan senang hati menyerahkannya kepada Anda."

"Bagus," kata Arka, suaranya serak. Ia menatap bibir Lia lagi, kerinduan yang nyata terlihat di matanya. Namun, ia tidak menciumnya. Ia mundur, memberikan Lia jarak kembali. "Istirahatlah. Malam ini kamu aman. Tapi jangan berharap hal yang sama untuk besok."

Arka melangkah keluar dari ruang makan, meninggalkan Lia sendirian dengan detak jantung yang masih bergemuruh. Lia menarik napas panjang, merasakan kemenangan kecil di dadanya. Ia telah berhasil. Ia tidak hanya menjadi persembahan, ia telah menjadi sekutu yang dibutuhkan oleh Arka. Dan dengan perlindungan Arka, ia akan memiliki semua sumber daya yang ia perlukan untuk membalaskan dendamnya.

Keheningan yang ditinggalkan Arka di ruang makan setelah ia melangkah pergi seharusnya memberikan rasa lega bagi Lia. Namun, udara di ruangan itu tetap terasa berat, seolah-olah partikel oksigen di sana telah terkontaminasi oleh otoritas pria itu. Lia berdiri perlahan dari kursi mahoninya, jemarinya masih gemetar halus saat ia merapikan helai satin hitam dari gaunnya. Arka menyuruhnya istirahat, namun tatapan pria itu sebelum pergi mengatakan hal yang berbeda. Itu bukan tatapan seorang pria yang ingin tidur dalam kedamaian; itu adalah tatapan seorang pemburu yang baru saja menyadari bahwa mangsanya memiliki duri.

Lia baru saja melangkah keluar dari ruang makan ketika Benyamin sudah berdiri di sana, seperti bayangan yang tak pernah tidur. "Nona Sanjaya," suara pria tua itu terdengar lebih rendah dari sebelumnya. "Tuan Arka berubah pikiran. Beliau menunggu Anda di ruang kerja pribadinya sekarang."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 100. Topeng Dingin Arka. 

    Arka tetap tenang, ketenangannya justru terasa lebih menyakitkan daripada jika ia berteriak balik. "Uang adalah bahasa yang paling jujur di dunia ini, Lia. Dengan uang ini, aku memastikan kamu tidak butuh siapa pun selain aku. Aku membelikanmu keamanan, kenyamanan, dan eksklusivitas. Jika kamu merasa ini sebagai penghinaan, itu karena kamu masih melihat dunia dengan cara yang naif. Di duniaku, segalanya memiliki harga. Dan kamu ... kamu adalah sesuatu yang aku bayar sangat mahal agar tetap murni dan tidak tersentuh."​Lia tertawa getir, air mata mulai menggenang di sudut matanya, namun ia menolak untuk membiarkannya jatuh. "Jadi itu alasannya? Kamu ingin mengingatkanku kembali bahwa aku adalah barang milikmu? Kamu mendorongku menjauh dengan tumpukan uang ini karena kamu takut, kan? Kamu takut karena semalam kamu hampir kehilangan kendali atas emosimu sendiri."​Rahang Arka mengeras mendengar kata "takut", namun ia tidak membiarkan topeng dinginnya retak. "Aku tidak pernah takut, Lia.

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 99. Formalitas yang Menyakitkan. 

    ​Langkah kaki Lia Sanjaya yang biasanya ringan kini terdengar berat dan ragu saat ia melintasi koridor panjang menuju ruang kerja utama Arka Dirgantara. Karpet tebal yang membentang di bawah kakinya seolah-olah menyedot seluruh energinya, meninggalkannya dalam kondisi emosional yang kosong. Di belakangnya, Yudha berjalan dengan jarak konstan yang menjengkelkan—tiga langkah tepat di belakang bahu kirinya—menjadi pengingat fisik bahwa kebebasannya bukan lagi miliknya. Lia bisa merasakan tatapan pria itu di punggungnya, sebuah pengawasan yang terasa seperti serangga yang merayap di kulitnya.​Ketika pintu jati ganda yang megah itu terbuka, Lia disambut oleh suhu udara yang beberapa derajat lebih dingin daripada koridor di luar. Ruang kerja Arka tampak seperti kuil kekuasaan yang sunyi. Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela kaca raksasa tidak memberikan kesan hangat, melainkan menciptakan kontras yang tajam antara cahaya dan bayangan di sudut-sudut ruangan. Arka duduk di balik me

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 98. ketakutan Sang Alpha.

    ​Kesunyian di dalam ruang kerja utama Arka Dirgantara bukanlah jenis kesunyian yang membawa ketenangan, melainkan jenis kesunyian yang berat, pekat, dan tajam, seolah-olah setiap partikel udara di ruangan itu telah membeku menjadi kristal es yang siap melukai siapa pun yang berani menarik napas terlalu dalam. Di balik meja jati kuno yang luas dan gelap, Arka duduk mematung. Tubuhnya yang tegap masih terbungkus sempurna oleh setelan jas tiga lapis yang kaku, namun di balik topeng profesionalisme yang tanpa cela itu, sebuah badai sedang berkecamuk di dalam rongga dadanya. Cahaya matahari yang masuk melalui dinding kaca transparan di sampingnya kini terasa terlalu terang, terlalu jujur, memperlihatkan gurat-gurat kelelahan dan ketegangan yang biasanya ia sembunyikan dengan sangat rapi dari dunia luar.​Arka mengalihkan pandangannya ke arah monitor pengawas yang menampilkan sudut ruang makan kecil di sebelah. Di sana, ia bisa melihat Lia Sanjaya yang sedang duduk dengan bahu tegang, menus

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   bab 97. Dinding Transparan. 

    ​Suasana di dalam mansion Dirgantara pagi itu terasa sangat berbeda, seolah-olah seluruh oksigen telah dihisap keluar dan digantikan oleh gas nitrogen yang membekukan segalanya. Setelah badai emosi yang meledak di hotel—antara gairah yang menghancurkan dan tirani yang membinasakan—Lia Sanjaya terbangun di kamar barunya dengan perasaan seolah ia baru saja dipindahkan ke dimensi lain. Kamar ini bukan lagi sekadar kamar tamu yang mewah; ini adalah mahakarya arsitektur yang dirancang khusus oleh Arka untuk menjadi suaka sekaligus sel isolasi paling mutakhir. Dinding-dindingnya dilapisi kain sutra abu-abu muda yang elegan, namun di balik kelembutan itu, Lia bisa merasakan kehadiran teknologi pengawasan yang tertanam di setiap sudut.​Lia duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah pintu besar yang kini dijaga oleh dua pria berseragam hitam di luar sana. Ia menunggu Arka. Ia terbiasa dengan rutinitas Arka yang posesif, yang akan masuk tanpa mengetuk, menariknya ke dalam pelukan yang

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 96. Sangkar Emas yang Menguat. 

    ​Matahari sudah menggantung tinggi di atas langit Jakarta, namun bagi Lia Sanjaya, cahaya itu tidak membawa kehangatan, melainkan ketajaman yang menelanjangi realitas baru dalam hidupnya. Di dalam suite yang masih menyisakan aroma parfum Arka dan jejak badai semalam, Lia berdiri terpaku saat pintu ganda ruangan itu terbuka lebar. Ia mengira Arka akan masuk sendirian untuk membawanya pergi, namun yang muncul di balik daun pintu kayu jati itu adalah sebuah pemandangan yang seketika membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.​Arka berdiri di tengah, namun di belakangnya, berdiri barisan pria bersetelan jas hitam dengan postur tegap dan wajah tanpa ekspresi yang menyerupai robot. Mereka bukan lagi sekadar staf keamanan gedung atau supir yang biasa ia lihat. Mereka memiliki aura yang jauh lebih berbahaya—dingin, sigap, dan memiliki tatapan yang tidak pernah lepas dari objek tugas mereka. Ada enam orang baru, dan Lia tahu, kehadiran mereka bukan untuk menjaga hotel, melainkan untuk menjag

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 95. Jawaban Arka.

    ​Lia menelan ludah, menatap Arka dengan tatapan yang tajam sekaligus memohon. "Jika kamu bisa melakukan hal sekejam ini pada orang lain hanya karena masalah sepele ... jika kamu bisa menghancurkan hidup Adrian tanpa penyesalan hanya karena dia membuatmu kesal ... lalu bagaimana denganku?" Lia menarik napas panjang, suaranya merendah menjadi bisikan yang menghantui. "Apakah kamu akan melakukan hal yang sama padaku jika suatu hari nanti aku mengecewakanmu? Jika aku melakukan kesalahan, atau jika aku ingin pergi, apakah kamu juga akan mengaktifkan mesin penghancurmu untuk melumatku sampai tidak ada yang tersisa?"​Pertanyaan itu menggantung di udara seperti sebilah pedang yang siap jatuh. Ruangan itu seketika menjadi begitu hening hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti dentuman palu hakim. Lia menatap Arka, mencari secercah jaminan, sebuah kata-kata manis yang biasanya diberikan oleh pria yang mencintai wanitanya—janji bahwa ia tidak akan pernah menyakiti Lia, janji bahwa Li

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status