Home / Romansa / Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku / bab 97. Dinding Transparan. 

Share

bab 97. Dinding Transparan. 

Author: Ucing Ucay
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-05 18:42:26

​Suasana di dalam mansion Dirgantara pagi itu terasa sangat berbeda, seolah-olah seluruh oksigen telah dihisap keluar dan digantikan oleh gas nitrogen yang membekukan segalanya. Setelah badai emosi yang meledak di hotel—antara gairah yang menghancurkan dan tirani yang membinasakan—Lia Sanjaya terbangun di kamar barunya dengan perasaan seolah ia baru saja dipindahkan ke dimensi lain. Kamar ini bukan lagi sekadar kamar tamu yang mewah; ini adalah mahakarya arsitektur yang dirancang khusus oleh Ar
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 245. Happy Ending. 

    ​"Ini bukan sekadar tentang masa depan finansial, Lia, ini adalah deklarasi kekuasaan yang menyatakan bahwa kamu adalah pemilik sah dari seluruh fondasi kekaisaran yang kubangun di atas darah pengkhianat," tegas Arka, kalimatnya langsung dan tajam tanpa ada keraguan sedikit pun.​"Apakah dengan adanya akta abadi ini, kamu akan membiarkan aku membawa mereka berjalan-jalan ke luar kota tanpa pengawalan barikade enam pengawal wanita itu?" tanya Lia, tatapan matanya menuntut jawaban yang murni dari balik topeng proteksi suaminya.​"Kebebasan fisik di luar sana adalah ilusi yang sangat berbahaya bagi seorang Ratu Dirgantara, Lia, tugasmu hanyalah berada di sini, menjadi poros dari seluruh pergerakan hidupku," jawab Arka, langkah kakinya bergeser mendekat hingga dada bidangnya yang keras menyentuh permukaan punggung ramping Lia.​"Kamu memberikan seluruh dunia ini ke dalam genggaman tanganku, namun di saat yang sama kamu mengunci pintu sangkar ini dengan rantai besi yang kian hari kian mene

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 244. Obsesi Abadi

    ​Sinar matahari pagi yang hangat menerpa permukaan lantai balkon lantai dua mansion utama Dirgantara, memantulkan kilau kemewahan dari pagar pembatas berbahan besi tempa berlapis perunggu. Setahun telah berlalu sejak badai di ruang persalinan itu reda, meninggalkan kedamaian yang sunyi di atas tanah Menteng yang kini telah bersih dari jejak para pengkhianat masa lalu. Lia berdiri tegak bersandar pada tepian balkon, mengenakan gaun sutra panjang berwarna putih gading yang melambai halus ditiup angin pagi yang membawa aroma esens vanila hitam. Sepasang mata jernihnya menatap lurus ke arah hamparan rumput hijau di taman belakang, tempat dua bocah laki-laki berusia satu tahun sedang bergerak aktif merangkak di atas karpet khusus luar ruangan.​Arjuna dan adiknya, dengan pakaian katun senada bermotif garis biru muda, sesekali tertawa kecil saat jemari mungil mereka mencoba meraih bayangan daun yang bergoyang. Di sekeliling area bermain anak kembar tersebut, enam pengawal wanita terlatih te

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 243. Diagnosa Dokter. 

    ​"Pertahankan tekanannya, Nyonya, jangan lepaskan energinya sekarang, sedikit lagi!" perintah dokter spesialis utama dengan gerakan tangan yang cekatan membantu melebarkan jalan lahir.​"Eughhh!!! Ohhh!!!" jeritan terakhir Lia terdengar lebih pendek, disusul oleh suara embusan napas panjang yang melepas seluruh ketegangan otot tubuhnya.​Lengkingan tangisan kedua kembali terdengar, kali ini dengan nada yang lebih berat dan konstan, bersahut-sahutan dengan suara tangisan bayi pertama yang berada di meja sebelah kiri. Bayi kedua telah lahir, menandakan berakhirnya seluruh proses perjuangan fisik yang menguras sisa darah dan air mata dari tubuh sang Ratu Sanjaya. Suara mesin kardiotokografi mendadak kembali ke ritme normal, menyisakan bunyi detak jantung Lia yang melambat seiring dengan hilangnya rasa sakit yang merongrong tubuhnya.​Arka Dirgantara yang sejak awal berdiri kokoh menopang tubuh istrinya mendadak kehilangan seluruh kekuatan di kedua belah lututnya. Tubuh kekarnya yang tega

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 242. Tangisan Sang Penakluk

    ​Cahaya lampu operasi yang berpijar putih keperakan di atas langit-langit ruang bersalin memantulkan bayangan tubuh tegap Arka Dirgantara yang masih berdiri kaku bagaikan patung batu di sisi ranjang ginekologi. Cengkeraman jemari tangan Lia Sanjaya pada punggung tangannya terasa kian menguat, kuku-kuku tajam istrinya menembus kulit ari hingga menyisakan gurat-gurat merah yang mengeluarkan rembesan darah segar. Suara dengung konstan dari mesin kardiotokografi berbaur dengan deru napas Lia yang kian pendek dan tersengal-sengal menahan gelombang kontraksi kedua yang datang menghantam tanpa memberikan jeda istirahat sedikit pun. Ruangan itu terasa begitu dingin, dipenuhi bau antiseptik yang pekat, namun peluh mengalir deras membasahi dahi tegap Arka hingga melewati batas masker kain hijau yang menutup sebagian wajahnya.​"Tarik napas lebih dalam lagi, Nyonya, kepala bayi pertama sudah berada di pintu panggul, dorong sekuat tenaga dalam hitungan ketiga," instruksi dokter spesialis obgyn de

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 241. Proses Lahiran. 

    ​Lia mengerang lebih keras, kedua kakinya menekuk ke atas menahan dorongan alami dari dalam rahimnya yang kian agresif, membuat permukaan perut buncitnya menegang keras bagai permukaan batu lava. "Arka ... hmmm ... sakit sekali ... rasanya bagian bawahku seperti terbakar api ... Ohhh ... Ssshhh."​Arka langsung menundukkan kepalanya, mengecup bibir Lia yang kering berulang kali sambil menyeka air mata yang terus mengalir membasahi pipi porselen istrinya dengan jemarinya yang gemetar. "Aku mohon bertahanlah, Lia ... demi aku ... demi seluruh sisa duniaku ... jangan tinggalkan aku di dalam kegelapan lagi."​"Ponsel Anda terhubung dengan Direktur Utama Rumah Sakit Dirgantara Medica, Tuan Besar," ujar Elena dari kursi depan seraya menyerahkan sebuah gawai yang layarnya sudah menampilkan wajah panik seorang pria paruh baya berjas putih.​"Dengarkan aku baik-baik, Profesor Wijaya! Kosongkan seluruh lantai tiga gedung rumah sakit sekarang juga! Siapkan tim dokter spesialis obgyn terbaik yang

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 240. Badai di Ruang Persalinan

    ​Cairan bening dalam volume yang cukup besar mendadak merembes membasahi gaun tidur sutra gading yang dikenakan oleh Lia Sanjaya, menciptakan noda basah yang meluas dengan cepat di atas hamparan seprai kasmir abu-abu muda. Rasa mulas yang sangat tajam, panas, dan datang beruntun bagai hantaman ombak badai seketika mencengkeram seluruh dinding rahimnya, memutus aliran napas wanita muda itu dalam satu sentakan rasa sakit yang luar biasa masif. Kedua tangan Lia bergerak refleks mencengkeram pinggiran pilar tempat tidur kayu jati, sementara tubuh rampingnya melengkung kaku menahan kontraksi dini yang datang jauh lebih awal dari estimasi kalender medis Dokter Gunawan. Jeritan parau yang sarat akan penderitaan fisik spontan lolos dari sela bibir Lia yang mendadak memutih kering, memecah keheningan sepertiga malam di dalam Royal Suite yang kedap suara.​"Arka ... Ssshhh ... ketubanku pecah ... rasanya sangat sakit ... Ahhh!" pekik Lia dengan mata yang membelalak lebar menahan denyutan yang s

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 140. Keintiman yang Berbeda. 

    ​Pagi itu, dunia di luar jendela mansion Dirgantara seolah memudar, menyisakan hanya sebuah ruang sakral yang dibatasi oleh empat dinding sutra dan aroma kayu cendana yang menenangkan. Cahaya matahari yang masuk tidak lagi terasa menyilaukan, melainkan jatuh seperti tirai tipis yang menyelimuti ran

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 119. Badai di Kamar.

    ​Langkah kaki Arka yang menghantam lantai marmer koridor lantai atas mansion itu terdengar seperti suara guntur yang mendahului badai besar. Ia tidak lagi menggunakan sisa-sisa kesopanan yang biasanya ia tunjukkan di depan para pelayan. Tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan Lia Sanjaya de

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 96. Sangkar Emas yang Menguat. 

    ​Matahari sudah menggantung tinggi di atas langit Jakarta, namun bagi Lia Sanjaya, cahaya itu tidak membawa kehangatan, melainkan ketajaman yang menelanjangi realitas baru dalam hidupnya. Di dalam suite yang masih menyisakan aroma parfum Arka dan jejak badai semalam, Lia berdiri terpaku saat pintu

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 93. Cemburu Arka yang Berlebihan. 

    ​Lia berjalan ke arah meja rias, menatap produk-produk perawatan kulit mahal yang telah disiapkan Arka untuknya. Semuanya bermerek Dirgantara atau mitra eksklusifnya. Tidak ada satu pun hal di hidupnya sekarang yang tidak memiliki sidik jari Arka di dalamnya. Ia meraih sebuah botol parfum, menghiru

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status