Mag-log inKehancuran Henry tak hanya berimbas pada reputasinya sebagai pemilik Deluxe Corp, tapi juga pada kepemimpinannya di Harold Times. Baru satu bulan sejak kursi kepemimpinan jatuh ke tangannya, berbagai isu skandal terus mencuat hingga membuatnya mulai merasa tidak nyaman. Banyak yang mengajukan gugatan agar Henry menyerahkan kursi itu pada Damian, demi menyelamatkan nama perusahaan. Henry tentu saja tak terima. Ia menggebrak meja lalu berkata dengan lantang pada seluruh jajaran direksi, "Hanya aku yang layak memegang jabatan ini. Apa kehebatan Damian, selain wajahnya yang datar itu? Apa kalian terpesona pada wajah seperti itu?" Suasana ruang rapat langsung menegang. Terlihat wajah para direksi berubah merah padam karena merasa dilecehkan keberadaannya, tak dihormati sama sekali oleh Henry. Tuan Domsley perlahan berdiri dari duduknya. Tatapannya terlihat penuh rasa kecewa atas orang yang dulu didukung olehnya. "Aku menyesal telah membantumu. Seharusnya, aku percaya pada Damian," ujar
Satu minggu berlalu sejak pemecatan tak hormat Erik dari kursi kepemimpinan di Harold times. Sejak itu pula berita isu perselingkuhan Henry merebak di jagat media sosial. Ada banyak foto dan video perselingkuhan Henry dan Rose yang beredar luas dengan berbagai versi pemberitaan. Dua hari setelah berita itu memanas, Henry muncul. Dengan wajah tak bersalah, ia membantah isu yang menyudutkannya sebagai pria tak bermoral dan menyebut itu adalah ulah orang tak bertanggung jawab yang ingin menjatuhkan dirinya. 'Apa ini ulah Damian?' tuduh Henry dalam hati. Tepat saat ia tengah memikirkan pelaku di balik isu perselingkuhannya, ponselnya berdering nyaring. "Ada apa, Rose? Kau jangan menghubungiku dulu. Aku masih menyelidiki pelaku yang menyebarkan foto dan video kita berdua.""Ini pasti ulah Damian. Musuhmu hanya dia. Cepat bereskan," gertak Rose. "Aku tak mungkin menghabisinya. Kau tahu kan berapa lapis pengawal di rumahnya?" geram Henry frustasi. "Kau culik saja istrinya. Dia pasti aka
Damian menghela napasnya. Beberapa hari ini ia tak bisa tidur nyenyak. Banyak sekali masalah yang terus menggelayutinya. Mulai dari perombakan manajemen sampai peretasan data yang dimulai dari pengkhianat terdekatnya. Seberapa ketat pengawasannya, tetap saja banyak yang ingin menjatuhkannya dari dalam. Carol tentunya bisa merasakannya dari jauh. Selama ini, Damian yang terkenal ramah, mulai menunjukkan tanda-tanda arogansinya kembali. Hal ini tentunya membuat Carol sedih. "Tidurlah, ini sudah malam." Carol datang menghampiri Damian yang masih diam di meja kerjanya. "Kantung matamu menebal. Kau tampak lelah." "Besok ada pertemuan dengan pemilik saham. Mereka menuntut agar Erik diturunkan dari jabatannya. Menurutmu, aku harus bagaimana?" tanya Damian dengan suara lemah. Tatapan mata yang dominan itu membuat hati Carol sedikit menciut. Antara ketakutan dan juga rasa iba. "Kau lakukan apa yang harus kau lakukan. Damian, aku percaya padamu." Carol meletakkan telapak tangannya di atas t
"Henry, kau mau ke mana? Hari ini ada pemeriksaan kehamilan. Bulan kemarin, kau berjanji akan ikut denganku." Lucy berdiri sambil merentangkan tangannya mencegah Henry pergi melangkahkan kakinya ke luar rumah. Pria dingin itu hanya diam, matanya menelisik setiap sudut tubuh Lucy. Ini baru pertama kalinya ia terlihat misterius. Lucy memang nampak berbeda, ia mengenakan pakaian rapi dengan riasan tipis namun terlihat cantik. "Aku akan pergi ke kantor. Ada rapat pemegang saham," ujarnya dingin. Henry menepis tangan Lucy dan hampir membuat wanita itu terjatuh. Beruntung Lucy berpegangan pada sisi dinding di sebelahnya. "Kau, bisa pergi sendiri." Henry pergi begitu saja tanpa menghiraukan keadaan Lucy. Wanita itu menangis tersedu-sedu melihat kepergian suaminya. Tanpa menoleh, ataupun sekedar kata maaf. 'Apa mungkin yang dikatakan oleh Hailey adalah fakta?'"Nyonya, nyonya tidak apa-apa?" tanya salah satu asisten Lucy membuyarkan lamunannya tentang Henry. Lucy menggelengkan kepalanya.
Damian lengah. Setelah sibuk seharian, ia baru tersadar jika istri dan adik tirinya tak menampakkan wajah sama sekali di hadapannya. Erik sempat berdebat dengannya lalu pergi tanpa pamit entah kemana. Ponselnya ditaruh di atas meja, itu yang membuat Damian merasa curiga. Menjelang malam, Erik dan Carol pulang ke rumah dengan membawa dua tas besar pakaian dan sepatu bermerk mahal. Keduanya berjalan sambil terus tertawa. Entah apa yang tengah mereka bicarakan. Hanya saja, Damian memandang keduanya dengan tatapan tak nyaman. "Dari mana kalian berdua?" tanya Damian dengan nada dingin. Erik dan Carol terdiam menghentikan langkahnya, menatap bersamaan ke arah Damian yang tengah memainkan arloji di tangan kanannya. "Kau lupa membawa ponselmu atau—" "Ponselku ada." Carol menunjukkan ponsel di tangannya yang menyala. "Ada apa?" "Kenapa kau tak menghubungiku?" "Aku lupa. Terlalu bersemangat berjalan-jalan dengan adikku yang sedang bersedih. Be
Erik mengadu pada Carol tentang keputusan Damian yang menurunkan jabatannya hari ini. Keputusan yang diambil secara tergesa-gesa tanpa pertimbangan matang, pikirnya. Bahkan, Damian juga menyerahkan leher Erik pada Henry secara cuma-cuma dengan menjadikannya sebagai wakil direktur. Bukankah itu sama saja dengan membunuh dirinya secara langsung? Carol juga tak habis pikir dengan keputusan yang telah diambil oleh Damian. Ia tak bisa terus berpangku tangan, apalagi ini menyangkut nyawa adik tirinya yang sangat berharga. Untuk itu ia memutuskan kembali ke Dustin House, membicarakan langkah selanjutnya dengan keluarga besarnya. Selama ini, mungkin Damian akan mengira jika Carol dan Erik adalah sisa dari keruntuhan keluarga Dustin di masa lalu. Ternyata, tidak. Mereka hanya mengubur diri agar tak terlibat langsung dengan perkelahian di luar sana. Bagaimanapun juga, mereka akan mendukung Carol dan Erik diam-diam tanpa sepengetahuan Damian. "Kau menyembunyikan ini dariku, Carol?" tanya Erik
Hailey senang berpesta. Ia juga gemar bersolek seperti wanita sosialita pada umumnya. Begitu mendengar keluarga Parker akan diundang ke pesta topeng di balai kota, ia segera pergi ke butik terkenal di Amberfest untuk membeli gaun cantik yang tak dimiliki oleh satupun wanita di kota ini.
David Easton kembali ke kediamannya setelah mengunjungi rumah Damian siang hari tadi. Seorang pelayan menunduk memberikan sebuah surat berlogo balai kota kepadanya. David sudah memastikan dari jauh sebelum surat itu jatuh ke tangannya. Itu adalah surat undangan pesta topeng yang diadakan tiga har
Setelah memastikan kehamilan Carol yang baru berusia lima minggu, Damian segera memberitahu ayahnya. Ini adalah berita besar bagi keluarga Easton yang sangat menginginkan pewaris untuk kelangsungan dinasti mereka ke depannya. Sebagai penerus klan Easton, tentunya Damian adalah yang paling diharapka
Carol sengaja bangun lebih pagi hari ini. Damian tadi mengajaknya pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan dokter Vinna, dokter yang direkomendasikan oleh Vivian. Wanita cantik itu menyarankan Carol menemui dokter kandungan yang telah bersertifikat terbaik di Amberfest. Maka, tanpa banyak pertimba







