เข้าสู่ระบบLintang mundur selangkah demi selangkah, tubuhnya terasa lemas, pandangan matanya kabur. Lintang pingsan.
Melia segera berlari ke ruang tamu dan memanggil dokter yang selama ini menangani penyakit Lintang. Ya! Keluarga Wang tahu itu adalah pukulan terbesar bagi Lintang, jadi sebelum mengenalkan Brayen mereka juga telah mempersiapkan dokter dan ambulance jika terjadi sesuatu pada Lintang. Dokter langsung saja memeriksa keadaan Lintang dan tersenyum. “Dia hanya shock saja, jangan khawatir.” “Ini tidak mengganggu kondisinya, kan, dokter? Aku tidak ingin putraku kenapa-napa,” tanya Melia khawatir. “Tenang saja, Lintang tidak apa-apa. Sepertinya hati pendonor diterima baik oleh tubuh Lintang, hingga pulih lebih cepat dari perkiraan,” jelas dokter. Semua yang berada di dalam ruangan itu dapat bernafas lega, kecuali Brayen. Sial! Ternyata kasih sayang Shan Yue dan Melia tidak terkikis meski tahu kalau orangtuanya telah menukar kami secara sengaja. Lintang kamu telah merebut apa yang harusnya aku nikmati selama ini, dan kamu masih mau merebut kasih sayang ayah dan ibu kandungku? Tidak akan aku biarkan! Meskipun hati Brayen panas, tapi dia tetap saja tenang, bahkan jelas-jelas terlihat mengkhawatirkan Lintang. Berlahan-lahan Lintang membuka mata, mencari sesuatu. Pandangan matanya jatuh pada Lintang. Lintang memilih posisi duduk dan mengulurkan tangannya setelah sadar kejadian yang menimpahnya adalah kenyataan. “Selamat datang, Brayen.” Brayen menyambut ukuran tangan Lintang. “Maaf kalau membuat kamu terkejut, harusnya aku tidak meminta ini pada ayah dan ibu.” Kepala Brayen menunduk dalam-dalam, jelas sekali perasaan bersalah dari nada bicaranya. “Kamu tidak salah, to cepat atau lambat Lintang akan tau yang sebenarnya,” kata Melia mencoba menenangkan brayen. “Sekarang putra kami ada dua, bukan lagi satu. Jadi ayah harap, kalian berdua bisa saling mengerti dan memahami,” kata Shan Yue tersenyum. Shan Yue langsung membubarkan para pekerja. Dokter juga memilih meninggalkan rumah keluarga Wang setelah memastikan kondisi Lintang dalam keadaan baik. Setelah merasa aman, Shan Yue dan Melia memilih berangkat ke kantor. “Jangan pernah bermimpi menjadi saudaraku, Lintang!” Langkah kaki Lintang langsung terhenti ketika mendengar perkataan Brayen, berlahan dia membalikkan badan menatap brayen. “Maksudnya?” “Jangan berpura-pura bodoh! Bukankah kamu sekolah di tempat elit, kuliah pun diluar negeri. Pantaskah kamu bertanya apa maksud ucapanku?” kata Brayen mencibir. “Jadi sikap yang kamu tunjukan tadi, semuanya palsu?” Lintang terkejut. Keterkejutan Lintang bertambah ketika Brayen justru berlutut di lantai. “Orangtuamu bukan hanya menukar kehidupan kita, tapi mereka juga tidak bertanggung jawab akan apa yang telah mereka lakukan. Harusnya mereka bersikap baik padaku, tapi apa? Mereka justru memperlakukanku seperti sampah!” ujar Brayen. “Maafkan aku, Lintang. Harusnya aku tidak mengatakan ini padamu. Aku mohon jangan tinggalkan rumah ini. Walaupun aku anak kandung ayah dan ibu, tapi kamu juga anaknya,” lanjut Brayen dengan mata berkaca-kaca. Lintang diam membisu, dia benar-benar dibuat bingung oleh kelakukan Brayen yang tiba-tiba berubah drastis. Lintang menatap Brayan dengan bingung. Apa mungkin Brayen juga shock dengan kenyataan yang ada? Sampai-sampai dia berbicara tidak karuan? “Aku tahu ini tidak adil bagimu, tapi posisi kita sama. Haruskah aku mencium kakimu agar kamu tidak meninggalkan rumah ini?” tanya Brayen. Lintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apakah Brayen berpikir aku akan meninggalkan rumah, setelah dia berbicara kasar padaku tadi? Tidak mau terus mengira-ngira Lintang langsung membantu brayen berdiri, ketika lelaki tampan itu hendak mendekat dan berlutut. “Kamu tenang saja, aku akan tetap tinggal di rumah ini. Kamu tidak perlu memanggilku kakak atau adik, karena kita sendiri tidak tahu siapa yang lebih dulu dilahirkan. Kita cukup memanggil nama saja,” kata Lintang memegang pundak brayen. “Maafkan aku, Lintang. Tidak seharusnya aku mengatakan perlakukan buruk orangtua kandungmu. Apalagi menyalahkan mereka, apalagi sekarang mereka sudah menghadap sang pencipta,” ujar Brayen. “Lupakanlah perkataanku tentang perlakukan orangtua kandungmu. Aku sudah memaafkan mereka, walaupun tidak bisa ku pungkiri rasa kecewa itu masih membekas dihati,” lanjut Brayen. Lintang langsung menuntun Brayen duduk di sofa. “Ungkapkanlah semua rasa yang selama ini kamu pendam, dengan begitu kamu akan merasakan kelegaan,” kata Lintang tanpa melepaskan matanya pada brayen. “Tidak ada apa-apa, sebaiknya kamu istirahat. Maaf kalau kata-kataku sempat membuatmu terkejut,” kata Brayen menunduk. Lintang yang masih penasaran harus mengurunkan niatnya bertanya, ketika Brayen bersikeras memintanya untuk beristirahat. Begitu pintu kamar di kunci, bibi yang selama ini membantu membesarkan Lintang mendekati brayen. “Apakah Tuan Muda Brayen tidak mau jujur pada Tuan Muda Lintang?” tanya bibi kalem. “Aku tidak seharunya mengatakan perlakuan orangtua kandung Lintang padaku. Aku takut itu justru berdampak negative pada kondisinya, Bi. Saat dia pingsang tadi aku benar-benar ketakutan,” kata Brayen menunduk. Shan Yue dan Melia yang hendak masuk ke dalam mengurunkan niat mereka. “Sebaiknya kita pergi sekarang, brayen pasti masih sedih,” bisik Melia. “Kalau saja mereka masih hidup, sudah aku buat pasangan suami istri itu mendekam di penjara!” geram Shan Yue pelan. Mereka memilih tidak mengambil berkas yang tertinggal dan langsung menuju kantor. “Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu, ingat … kamu di sini hanyalah pelayan, bukan anggota keluarga!” bentak Brayen. Belum selesai keterkejutan sang bibi dengan perubahan mendadak dari brayen, tiba-tiba …. Auw … Bibi menjerit pelan ketika tubuhnya jatuh menyentuh lantai, akibat dorongan brayen. “Tempatmu cocok berada di lantai! Awas saja kalau kamu berani melapor kepada ayah dan ibuku. Dalam sekejap, aku bisa membuatmu kehilangan pekerjaan! Paham?!” bentak Lintang dan segera meninggalkan ruang keluarga. Ya! Sikap brayen berubah baik ketika ekor matanya melihat kemunculan ayah dan ibunya, maka dia langsung memainkan sandiwara anak baik. Brayen menatap langit-langit kamarnya dengan geram. “Aku akan membuat kamu ditendang secara tidak hormat dari keluarga ini, Lintang!” Berlahan dia berdiri dari kasur, mengambil kartu hitam yang diberikan oleh orangtuanya, menatap sebentar dan tersenyum. “Aku harus menjadi sosok yang sempurna untuk ayah dan ibu, selamat tinggal kartu hitam. Aku ingin menggunakan kamu sesuka hati, tapi belum saatnya. Aku tidak akan menyentuhmu sama sekali!” kata Brayen, kemudian melemparkan kartu hitam itu ke dalam laci meja yang ada dalam kamarnya. Brayen menyusun rencana untuk membuat Lintang ditendang dari rumah itu dan tidak punya kesempatan untuk kembali.Pengacara sambung almarhumah ibu Diana Ludwig berdiri dan meraih microphone yang ada di atas meja."Selamat datang semuanya, tentunya Pak James Lee sudah memberitahukan kepada kalian tujuan diadakannya pertemuan ini. Jujur saja saya tidak tahu tentang hal ini, tapi ketika para pemegang saham secara bulat menyetujui penandatanganan berkas pengalihan saham kepada cucu kandung almarhum ibu Diana Ludwig harus melibatkan wartawan dan lainnya, maka saya menghormati keputusan bersama ini," kata sang pengacara yang kemudian mengeluarkan sejumlah berkas.Namun, ketika Lintang hendak menantangi berkas itu tiba-tiba terdengar suara tegas, "Tunggu!""A-a-ayah? Ka-ka-kamu masih hidup? Apakah aku sedang bermimpi?" tanya James pura-pura terkejut. Dia berdiri dari tempat duduknya, menatap haru sang ayah, airmata mengalir dari pelupuk mata pria munafik itu.Para pemegang saham terkejut, "Pak James masih hidup? Terus siapa yang dikuburkan waktu itu?""Saya hilang ingatan karena dia," tegas Stiven sambi
"Kamu benar.""Sekarang waktunya kita memikirkan cara agar bisa mengendalikan pihak kepolisian seperti dulu," kata James."Untuk mengendalikan pihak kepolisian seperti dulu, hanya ada satu cara. Aku harus bisa menduduki posisi tertinggi di Kenangga Group yaitu CEO dan membuktikan si Brengsek itulah yang membuatku kecelakaan hingga lupa ingatan dan menjadikan James sebagai batu loncatan untuk menduduki posisi CEO Kenangga Group," kata Stiven Lee tersenyum.James langsung bertepuk tangan, "Waw ... ayah benar-benar hebat. Ibu pasti senang mendengar itu, dengan kejadian itu para pemegang saham akan berhati-hati dan meminta ayah untuk menunjuk aku sebagai penerus CEO Kenangga Group," kata James."Benar dibandingkan kakak dan adikmu, kamu satu-satunya yang memenuhi syarat untuk memegang perusahaan sebesar Kenangga Group. Ayah yakin para pemegang saham akan menentang keras keputusan ku untuk menyerahkan warisan kepada putra Chu Yan, karena itu hanya akan membuka peluang bagi penipu untuk men
"Bagus, mana buktinya?" tanya Lintang."Ambilkan buktinya, Fandy."Tidak butuh waktu lama kini Fandy telah kembali membawa berkas ditangannya. "Ini, Yah."Pria paruh baya itu langsung menyerahkan bukti itu ke tangan Lintang.Lintang membaca bukti-bukti itu dengan geram. Bukti itu lebih dari cukup untuk menjebloskan Stiven Lee dan istrinya ke penjara. "Benar-benar pasangan yang kejam!" geram Lintang."Ya, mereka kejam. Tapi semua orang berpengaruh di pihak kepolisian berada dalam kendali Stiven, jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kami juga masih menjalankan amanat almarhumah ibu Diana untuk menjaga Perusahaan NN dan memastikan semua warisan jatuh ke tangan yang tepat."Lintang hanya dapat menarik nafas panjang, kemudian mengambil ponsel dari saku jasnya dan menelepon."Halo, Pak Lintang," terdengar suara dari seberang."Apakah kamu telah menyelidikinya?" tanya Lintang."Sudah, Pak Lintang. Hampir semua polisi berada dalam kendali Stiven.""Apa kamu tahu yang harus dilakukan?
"Aku tahu tempat ini rahasia, jadi di mana aku bisa mengajak Fandy bertemu kalian?" tanya Widya."Di perusahaan yang baru Lintang beli. Bagaimana?" Aurelia memberi saran.Setelah mempertimbangkan dengan matang, akhirnya semua setuju mengadakan pertemuan di perusahaan milik Aurelia.***"Widya ada apa? Kenapa kamu mengajakku bertemu secara mendadak dan meminta ku menunda jadwalku? Bukan hanya itu saja, kamu bahkan meminta ayahku ikut serta begitu pun dengan pengacara sambung ibu Diana Ludwig?" tanya Anggara setelah tiba di perusahaan Aurelia."Apa terjadi sesuatu dengan Lintang? Apa James merencanakan sesuatu yang membahayakan nyawa penerus Kenangga Group?" tanya ayah Fandy, jelas sekali sinar matanya menunjukkan kekhawatiran."Ada yang ingin bertemu dengan bapak," kata Widya menunduk hormat kepada pria paruh baya yang berdiri disamping Fandy."Siapa?" Tiba-tiba Selin memasuki ruangan dan berkata tegas, "Saya."Pria paruh baya itu berbalik menatap asal suara, dia menatap wanita itu se
Laptop di atas meja langsung digunakan Selin untuk memutar isi flashdisk itu.Semua yang berada dalam ruangan itu terkejut menyaksikan isi video itu. Di layar terpampang jelas bagaimana Stiven Lee bersama seorang wanita membakar sebuah rumah mewah yang di dalamnya berisi satu keluarga besar keluarga Ludwig.Di sana juga terlihat dua orang wanita keluar dari kepulan asap tebal, salah satunya memegang pergelangan tangan seorang remaja berusia enam belas tahun. Bak pahlawan kesiangan Stiven Lee langsung berlari dan mengambil alih tangan sang anak kemudian bertanya dengan panik, "Sayang di mana yang lainnya? Kau tidak apa-apa, kan, Nak? Aku baru pulang, tiba-tiba dari jauh aku melihat rumah kebakaran. Aku menambah kecepatan mobil ku. Aku baru saja mau berlari masuk ketika melihat kalian keluar."Wanita itu tidak menjawab, hanya airmata yang mengalir dari wajah cantiknya.Pemadam dan polisi datang hampir bersamaan, tapi terlambat. Semua telah menjadi abu, hanya tiga orang yang selamat."M
"Aku akan tahu apa kamu berkata jujur atau tidak," kata Lintang dan meminta Aurelia untuk membawa Selin turun.Aurelia menuju lantai dua, menemui Selin Widyawati."Kenapa kamu kembali? Bukankah sudah ku katakan, aku sama sekali tidak kenal dengan Stiven Lee, apalagi keluarga Ludwig," kata Selin datar."Maaf, Bu. Saya hanya ingin membawamu menemui seseorang," kata Aurelia.Cukup lama Aurelia membujuk Selin, akhirnya wanita itu mengikuti Aurelia keluar kamar menuruni anak tangga menuju lantai satu.Begitu sampai di lantai satu Selin menatap wanita yang terikat di kursi dalam diam. Namun, detik berikutnya dia terkejut melihat kalung yang dikenakan gadis itu.Dengan cepat dia berlari mendekat dan menarik krah kemeja wanita itu, airmata mengalir dari wajah kusamnya ketika melihat tanda lahir berbentuk bulat di pundak gadis itu.Selin berlutut dan memohon kepada Lintang, "Saya mohon lepaskan anakku, aku akan menjawab semua yang ku tahu tentang Stiven Lee, juga keluarga Ludwing.""Apa? Anak?




![MY CEO [Hate And Love]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)


