LOGINTanpa terasa waktu telah sore.
Brayen segera keluar kamar dan berhenti di anak tangga ke tiga, kemudian memanggil Lintang. Lintang yang melihat brayen sudah terduduk di anak tangga langsung saja berlari menaiki tangga. “Kamu kenapa? Apakah ada yang sakit?” tanya Lintang khawatir. “Aku tidak tahu, tapi bagian punggungku terasa nyerih, seperti ditusuk-tusuk. Rasanya sakit,” kata Brayen memejamkan mata, seperti menahan sakit. Lintang yang hendak memegang punggung brayen, brayen justru terguling dari lantai dua dan berakhir di lantai satu. Brayen pingsan. Nafas Shan Yue dan Melia seperti ikut terhenti, ketika menyaksikan sendiri bagaimana putra yang baru mereka temukan jatuh dari lantai dua dan berakhir di lantai satu. Shan Yue menatap Lintang penuh amarah. Namun baginya sekarang bukan saatnya marah, keselamatan sang putra lebih penting, Tanpa menunggu lagi Shan Yue langsung mengangkat tubuh brayen dan berlari keluar rumah, membaringkan tubuh putranya di jok belakang mobil. “Jaga Brayen, Bu!” perintah Shan Yue dan langsung mengambil alih kemudi. Melia tidak menjawab, tapi langsung naik dan memastikan posisi tubuh anaknya tidak membahayakan jika mobil melaju kencang. Sepanjang perjalanan Shan Yue tidak berhenti membunyikan klakson mobil, sebagai kode kalau dalam mobilnya dalam keadaan darurat. Mobil lainnya yang sudah paham ketika ada mobil pribadi yang tidak berhenti membunyikan klakson, itu artinya sedang melarikan orang sakit ke rumah sakit, segera memberi jalan. Begitu sampai di ruang IGD perawat langsung saja mendorong brankar mendekati mobil ketika melihat darah yang tidak berhenti mengalir. Walaupun sudah ditangani oleh dokter ahli, tapi itu tidak membuat Shan Yue dan Melia tenang. Keduanya mondar mandir, panik. Sementara itu di rumah keluarga Wang. Bibi yang hanya menyaksikan adegan terakhir, dapat menebak apa yang terjadi. Aurelia yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian, bingung melihat pelayan rumah yang tidak melepaskan tatapan mata pada Lintang. “Ada apa, Bi?” Pertanyaan Aurelia langsung membuyarkan lamunan pelayan rumah itu. “Bibi tidak tahu apa yang terjadi, Non Aurel. Tadi saat bibi keluar, tuan muda brayen sudah berlumuran darah di lantai satu. Sedangkan pandangan mata tuan Shan Yue jelas-jelas emosi saat menatap tuan muda Lintang,” jelas sang bibi. Aurelia mengangguk, dia paham apa yang sedang terjadi. Dia langsung berlari menaiki anak tangga dan duduk disamping Lintang. Lintang tidak mempedulikan kehadiran Aurelia, dia masih saja menatap telapak tangannya, bingung. “Apakah telapak tanganmu dapat memberitahu keadaan brayen saat ini?” tanya Aurelia ikutan melihat telapak tangan Lintang. “Apa kamu juga menyangka aku mendorong brayen?” Lintang menatap sang istri dingin. “Apakah aku mengatakan itu? Aku sekarang sedang mempertanyakan telapak tanganmu,” Aurelia menjawab datar. Lintang segera saja menarik telapak tangannya. “Aku tidak melakukan apa-apa, aku tidak mendorongnya.” Aurelia segera menepuk punggung sang suami. “Tanpa kamu katakan, aku tahu kamu tidak sejahat itu. Apa kamu takut orangtuamu akan salah menilaimu?” “Sekarang yang ada dipikiranku hanyalah keselamatan brayen. Aku takut kalau terjadi sesuatu kepadanya,” kata Lintang khawatir. Pelayan rumah segera mengulurkan gelas yang berisikan air hangat kepada Lintang. “Tuan Muda pasti shock, sebaiknya minum dulu.” Lintang menganggukkan kepalanya dan meminum air hangat pemberian sang bibi. “Sebaiknya tuan muda Lintang dan non Aurel langsung ke rumah sakit dan lihat kondisi Brayen. Tapi … kalau boleh bibi memberi nasehat, tuan muda Lintang harus berhati-hati dengan Brayen,” kata bibi dan langsung berlalu dari hadapan Lintang dan Aurelia, setelah mengambil gelas kosong dari tangan Lintang. Lintang langsung berdiri dan sedikit berlari menuruni anak tangga, Aurelia mengekor dibelakangnya. Mobil Lintang melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Meskipun khawatir, tapi tidak ada yang dapat dilakukan oleh Lintang selain mengikuti aturan lalu lintas. “Sial! Tadi dalam perjalanan macet. Sekarang tempat parkir juga sulit,” sungut Lintangt kesal. “Itu ada mobil yang mau keluar, kamu gantiin tempat parkirnya,” kata Aurelia menunjuk mobil warna silver yang sedang ancang-ancang keluar dari tempat parkir. Akhirnya Lintang dapat bernafas lega, ketika mobilnya dapat tempat parkir. Segera saja keduanya berlari ke ruang IGD dan mencari pasien yang bernama Brayen Lei. “Bagaimana keadaan Brayen, Bu?” tanya Lintang begitu bertemu dengan ibunya. “Brayen masih berada di dalam, dia masih dalam penanganan dokter,” kata Melia khawatir. “Ayah tahu kamu shock dengan kenyataan yang ada, tapi bukan berarti kamu harus melakukan hal sekeji ini, Lintang. Ayah benar-benar kecewa padamu,” Shan Yue menatap Lintang, jelas sekali kekecewaan terancar dari sinar matanya. “Tuan muda Lintang harus berhati-hati dengan Brayen.” Kalimat sang bibi kembali terngiang-ngiang di telinga Lintang. Kalau yang sakit itu punggung Lintang, terus kenapa posisi jatuhnya seperti itu? Apakah yang sakit bukan punggungnya, tapi kakinya? Bukankah aku belum sempat menyentuh punggungnya, tapi dia tiba-tiba terjatuh? Apa mungkin brayen pingsan, hingga membuatnya tarjatuh? Memikirkan semua itu membuat Lintang semakin bingung. Dia tidak bisa menuduh brayen sengaja, baginya tidak mungkin brayen mengambil resiko mencelakakan dirinya sendiri. Namun demikian. Dia tidak bisa memungkiri apa yang dikatakan sang bibi ada benarnya. Dia harus lebih berhati-hati dengan brayen. “Kenapa diam, Lintang? Apakah kasih sayang ayah dan ibu padamu berkurang? Apa kamu masih kesal dengan setiap kalimat yang keluar dari mulut brayen tadi pagi?” Shan Yue mengoyang pundak Lintang, kecewa. Melia langsung saja menarik tangan sang suami, dia tidak tega melihat Lintang tertekan. “Ayah sudahlah, mungkin Lintang butuh waktu untuk menerima semua ini.” Lintang tidak mengeluarkan satu katapun, hatinya benar-benar hancur mendengar kalimat kedua orangtuanya yang selama ini telah membesarkannya. “Butuh waktu? Tapi sampai kapan, Bu? Apakah sampai anak kandung kita meninggal? Begitu!” suara Shan Yue meninggi.Lintang terdiam, dia bingung harus menjawab apa, karena dia sendiri bingung dengan identitas aslinya.Aurelia menarik krah kemeja Lintang.“Jawab aku! Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu bisa memegang kartu hitam ekslusif, ha? Kenapa kamu bisa masuk ke Nusakambangan begitu mudahnya? Bahkan kamu disambut selayaknya orang besar!” suara Aurelia meninggi.“Maafkan aku, Aurel. Secara tidak langsung aku membawamu ke dalam bahaya,” kata Lintang hampir tidak terdengar.“Bukan jawaban itu yang ingin ku dengar! Aku mau kepastian, siapa kamu sebenarnya?” tegas Aurel.“Aku sendiri tidak tahu identitas asliku.”“Jangan bercanda, Brengsek! Aku bukan orang bodoh!” bentak Aurel kesal.“Itulah kenyataannya, aku sendiri tidak tahu siapa aku sebenarnya!” jawab Lintang lemas.Melihat kesungguhan di wajah sang suami, membuat Aurelia yakin kalau suaminya sedang berbicara serius.“Kamu terlibat ke dalam masalah serius, jadi sebagai istri tidak menutup kemungkinan aku juga akan ditemukan. Sebelum semuanya tah
“Temanilah keponakanmu, dia pasti terkejut meyaksikan ini. Apalagi kejadian tadi tepat didepan matanya. Kalau dia seorang polwan, maka itu bukan hal baru baginya. Masalahnya dia hanya warga sipil biasa. Jadikan ini Pelajaran, lain kali jangan membawa warga sipil untuk menginap di dalam sini, tempat ini menyeramkan bagi mereka. Walaupun itu keluarga kita sendiri. Paham?”“Baik, Pak. Setelah keponakanku tenang, aku akan membawanya keluar dari sini.”“Pastikan dia merasa aman, baru antar dia pulang. Jangan biarkan dia trauma akan kejadian tadi.”“Bai, Pak,” jawab paman Aurelia tegas.Polisi yang memiliki jabatan lebih tinggi dari paman Auelia itu, langsung saja meninggalkan mereka dan menuju tahanan lainnya yang juga ketakutan.Polisi itu mengambil ponsel dan mengirim pesan.[Semua berjalan sesuai rencana, Bos. Selin Widyawati sudah tewas tertembak. Jadi masa lalu keluarga Lee juga akan terkubur bersamanya. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.]***“Apa? Tidak, Aurel! Paman tidak aka
“Sel pria semua sudah keluar, bagaimana dengan sel wanita?” teriak paman Aurel kepada rekan kerjanya.“Semua sudah,” terdengar suara teriakan balasan.Semua polisi langsung saja keluar dan menuju tempat terbuka, sedangkan bagian teknisi memeriksa apakah ada kerusakan Listrik di tempat lain, setelah dapur dinyatakan aman.Walau dalam keadaan darurat, tapi pihak kepolisian tidak mau kecolongan. Mereka tetap waspada. Mereka tidak ingin sampai terjadi kebakaran dan masih ada tahanan yang berada di dalam sel.“Gawat, ada satu tahanan yang tidak ada,” teriak salah satu polisi, panik.“Apa? Siapa?”“Selin Widyawati, wanita bisu.”Tanpa menunggu, paman Aurelia langsung saja berlari masuk ke dalam. Sang paman tidak dapat melarang keponakannya untuk ikut, dia tahu sekarang bukan waktunya berdebat. Itu karena dia tahu persis watak sang keponakan yang keras kepala.“Paman, apa dia meninggal?” tanya Aurel panik ketika melihat Selin tergeletak di lantai.Ya! Polisi memang telah membuka sel tahanan
Begitu kembali ke tempat semula Aurelia langsung mendekati sang paman. “Paman, aku tadi melihat wanita yang kerjaannya hanya diam saja. Namanya, Se-se-se …” bisik Aurelia seolah-olah sedang berpikir.“Selin Widyawati? Dia narapidana paling lama dan tidak pernah bicara. Kamu lihat, dia saja bertahan dengan kondisinya. Masa kamu kalah sama dia,” kata sang paman balas berbisik.“Belum tentu paman, aku kan tidak mengenalnya. Aku itu wanita normal dan ingin hidup seperti wanita pada umumnya. Hidup bersama orang yang aku cintai dan mempunyai anak, seperti keluarga pada umumnya. Sedangkan wanita itu? Mungkin dia tidak punya tujuan hidup. Siapa tahu dia justru suka di sini, karena mendapatkan makanan gratis, dari pada kesulitan mencari makan diluar, kan? Sedangkan aku tidak pernah merasa kesusahan, sedangkan wanita itu? Belum tentu apa yang aku rasakan dia bisa kuat. Dia saja diam begitu. Bisa jadi otaknya memang bermasalah,” bisik Aurelia.“Kamu bisa memeriksanya sendiri,” bisik sang paman.
Setelah tiba di tempat tujuan, Lintang langsung memakai kacamata hitam dan kumis tipis.Dengan langkah pasti Lintang keluar dari mobil dan melempar kunci mobil kepada anak buahnya.Helikopter membawa Lintang ke Nusakambangan dalam waktu singkat.Kepolisian yang berada di sana langsung menyambut kedatangan Lintang.Ya! Lintang meretas jaringan computer dan cctv penjara nusakambangan, kemudian mendaftarkan namanya sebagai salah satu tamu terpenting yang akan bertugas di sana dalam jangka waktu yang telah ditentukan.Kalau dalam komputer dan CCTV penjara Nusakambangan akan terlihat jelas wajah palsu Lintang, namun berbeda saat berada diluar. Diluar penjara Nusakambangan nama Lintang tidak akan ditemukan oleh pihak kepolisian manapun. Begitupun dengan CCTV, wajah Lintang tidak akan terlihat.“Selamat datang, Tuan,” sambut mereka dengan ramah.“Terima kasih. Terima kasih,” jawab Lintang dengan dialek luar. Sebagai tanda dia bukan orang Indonesia, tapi bisa berbahasa Indonesia dengan fasih.
“Apa Aurel bisa percaya pada perkataan paman? Bukankah selama ini paman tidak pernah berbohong sama Aurel?"“Baiklah, saya akan kirim lokasinya. Tapi ingat kalau sampai ayah dan ibu tahu, paman akan menemukan saya sebagai jenazah,” ancam Aurelia.“Paman janji.”“Awas kalau ingkar.”Tut … Tut … Tut …Dengan santai Aurelia mengirim lokasinya kepada sang paman.‘Lintang akan murka kalau tahu aku nekad melakukan ini, tapi aku sudah memilih jalan ini. Aku hanya akan meninggalkan petunjuk untuknya,’ guman Aurelia.Ya! Aurelia meninggalkan pesan kepada Lintang melalui surat yang hanya dapat dipahami oleh Lintang sendiri. Seperti orang yang mengalami gangguan mental, Aurel mengacak-acak rambutnya, wajahnya lesu dengan pancaran mata yang tidak biasa.Setelah hampir satu jam menunggu tiba-tiba terdengar teriakan panik. “Astaga, Aurel. Apa yang terjadi? Kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa penampilanmu menjadi kacau begini?”Aurelia menatap sang paman dengan pandangan kosong. “Kenapa semua keja







