Share

Bab 2

Penulis: AnindYa
Ini adalah pertama kalinya Keisha mengajukan tuntutan setegas itu kepada Samuel. Setelah keheningan yang panjang, suara rendah dan serak pria itu terdengar dalam kegelapan.

"Tunggu sebentar lagi, sampai kakiku sembuh."

Tenggorokan Keisha terasa kering. Dia bergumam seolah sedang bermimpi, "Aku nggak keberatan untuk bergerak sendiri."

Keisha sudah menunggu selama lima tahun. Dia tidak bisa lanjut menunggu lima tahun lagi.

Samuel duduk dan memeluknya dari belakang. Napas hangatnya menyapu leher Keisha. "Keisha, kita masih punya banyak waktu. Aku harap pengalaman pertama kita itu cukup sempurna."

Keisha tersenyum getir. Dia sudah bisa menduga jawaban ini. Samuel terlalu licik dan tahu bahwa kelumpuhannya itu bagaikan kartu bebas dari hukuman mati bagi Keisha. Samuel yakin Keisha tidak bisa berbuat apa-apa.

"Gimana dengan Maxwell? Kamu mau dia jadi anak haram selamanya?"

Keisha tidak menyukai Monica, tetapi anak itu tidak berdosa. Dia sudah kehilangan orang tuanya pada usia delapan tahun. Dalam setengah tahun selama dia berpindah-pindah dari rumah kerabat yang satu ke yang lain, dia selalu dikucilkan dan ditolak.

Setelahnya, Keisha memang dibawa ke Kediaman Keluarga Wiratama dan dibesarkan oleh Linda. Dia juga melewati kehidupan yang kaya dan nyaman. Namun, dia tetap merindukan orang tuanya dan mendambakan keluarga sendiri.

Orang di belakang Keisha melepaskan pelukannya dan berbaring kembali di tempat tidur secara perlahan. Dia tetap diam untuk waktu yang lama.

Kegelapan yang pekat ini terasa seperti rawa yang hendak menelan mereka berdua.

Keisha tetap tak bergerak dan berkata, "Kak Sam, sebaiknya kita cerai. Kamu bisa punya keluarga yang lengkap."

Sejak menikah, ini adalah pertama kalinya Keisha memanggil Samuel "Kak Sam". Dia bukannya harus tetap bersama Samuel. Mungkin sudut tergelap hatinya sudah menyuruhnya untuk pergi sejak awal.

Di sisi Samuel, Keisha berperan sebagai istri yang sempurna. Namun, pada akhirnya, dia tidak hidup seperti dirinya sendiri. Meskipun sudah bercerai, dia tetap bisa memenuhi janjinya kepada Linda dengan status sebagai keluarga Samuel.

Terdengar tawa dingin dari belakang Keisha. Hawa dingin itu segera menyebar di dalam kamar.

"Keisha, apa hakmu mengatur hidupku? Ingat, keluarga yang ada kamu barulah yang kuinginkan."

Suara Samuel terdengar tenang, tetapi Keisha merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Dia merasa seolah-olah ada seekor binatang buas dalam dalam kegelapan yang sedang mengintainya dengan mata posesif, juga menganggap dirinya sebagai miliknya. Samuel ini terasa sangat asing.

"Sam!"

Suara Monica yang cemas tiba-tiba terdengar dari luar pintu dan mengejutkan Keisha. Ini adalah pertama kalinya dia merasa senang mendengar suara Monica.

"Momo, ada apa?"

Suara Samuel terdengar serak dan agak ambigu.

Monica menjawab dengan suara tercekat, "Nggak apa-apa, maaf sudah mengganggumu."

Langkah kaki di luar dengan cepat menghilang di kejauhan. Samuel buru-buru duduk di kursi rodanya. Kemudian, dia membuka pintu di ujung koridor. Maxwell sedang meringkuk dalam pelukan Monica. Keduanya sedang menangis.

"Apa yang terjadi?"

"Max mimpi buruk dan nggak berhenti panggil papa."

Monica memalingkan wajah. Dia tidak menatap Samuel.

Samuel mengangkat Maxwell dari pelukan Monica dan berujar, "Max, Paman Sam ada di sini."

"Ada monster yang mengejarku. Aku suruh Papa menyelamatkanku, tapi aku nggak punya papa. Huhuhu ...."

Maxwell mencengkeram pakaian Samuel dan menangis tersedu-sedu.

"Maaf, aku terlalu panik. Aku nggak tahu kamu lagi ...." Monica menoleh dan melirik Samuel. Matanya dipenuhi kesedihan.

Samuel merasa sedikit bersalah, lalu berbisik tanpa sadar, "Momo, kamu satu-satunya wanita yang pernah kusentuh."

Kilatan gembira melintas di mata Monica. Setelah merasa terkejut, yang tersisa hanya kesedihan. Dia menengadahkan kepalanya, lalu menyeka air mata dan menghela napas. Salah satu tali gaun tidurnya melorot dari bahunya karena gerakan itu.

"Sam, aku tinggal di rumah ini bukan memisahkan kalian berdua."

Samuel menunduk. Maxwell dalam pelukannya sudah tertidur lelap. "Jangan khawatir, aku nggak akan biarkan kalian hidup menderita."

"Aku percaya padamu." Monica membungkuk untuk menggendong Maxwell. Gaun longgar itu hampir tidak dapat menutupi tubuhnya yang memikat.

"Kembalilah, jangan biarkan Keisha menunggu."

Tatapan Samuel tetap tertuju pada wajah kecil Maxwell. "Oke, panggil aku kalau kamu butuh sesuatu."

Namun, Maxwell mencengkeram pakaian Samuel dengan erat. Begitu disentuh, dia langsung merengek.

"Aku akan membangunkannya."

"Nggak usah." Samuel menghentikan Monica dan mendekat ke tempat tidur. "Aku akan tidur di sebelahnya."

Monica berujar dengan ragu, "Tapi Max sudah terbiasa dengan aromaku. Dia nggak bisa tidur nyenyak tanpaku."

Samuel menyahut dengan tenang, "Kamu nggak perlu pergi."

"Gimana kalau Keisha salah paham?"

"Dia paling pengertian dan perhatian. Dia akan memahamiku." Mata Samuel berbinar dengan penuh senyum saat mengucapkan kata-kata itu.

Pengertian dan perhatian.

Samuel tidak kembali untuk waktu yang lama. Keisha pun ragu apakah dia harus pergi mengeceknya. Dua kata itu juga melintasi benaknya.

Sejak kecil, pengertian dan perhatian telah menjadi label yang melekat pada Keisha. Setiap orang yang dia temui di Keluarga Wiratama menggambarkannya seperti itu. Mereka tidak tahu bahwa sebagai seorang yatim piatu yang tinggal di bawah atap orang lain, tidak pengertian berarti tidak tahu berterima kasih.

Keisha yang pengertian dan perhatian juga tidak mampu melepaskan label itu malam ini. Dia memilih untuk menutup pintu kamarnya, lalu mundur ke dunianya sendiri.

Keisha bermimpi sepanjang malam. Dia bermimpi orang tuanya melambaikan tangan kepadanya, bermimpi Linda bertanya kenapa dia tidak menepati janjinya, bermimpi menghadiri pernikahan Samuel dan Monica, dan bahkan memimpikan sepasang mata biru yang mendalam itu ....

Ketika bangun di pagi hari, kepala Keisha terasa berat, seolah-olah terbebani oleh terlalu banyak hal.

Hanya ada Samuel yang berada di ruang makan. Monica dan putranya masih tidur. Keisha duduk di seberang Samuel dan menikmati sarapannya dalam diam.

Samuel memberinya air hangat. "Semalam ...."

"Aku mau cari kerja."

Keisha tidak ingin membahas kejadian semalam. Jadi, dia hanya menyampaikan pemikirannya. Tidak lama setelah lulus kuliah, dia langsung menikah dengan Samuel dan tidak pernah bekerja.

Sebenarnya, Keisha hanya perlu mengurus Samuel ketika Samuel berada di rumah. Dari pagi sampai sore hari kerja adalah waktu pribadinya. Yang paling penting, dia belum menyerah pada gagasan perceraian.

Jika Monica cukup hebat, Samuel mungkin akan berinisiatif mengajukan perceraian. Manusia tidak seharusnya terpaku di satu tempat. Terlepas dari apakah perceraian ini berjalan lancar atau tidak, Keisha tidak akan tinggal di rumah dan bertengkar dengan Monica.

Samuel ragu sejenak, lalu membantah dengan suara berat, "Nggak boleh."

Akibat dorongan psikologis yang menyimpang, Samuel secara tidak sadar menolak Keisha meninggalkannya.

Keisha tidak berkompromi. "Kalau begitu, suruh Monica dan putranya pindah. Aku nggak mau melihat mereka."

Samuel mengerutkan kening. "Keisha, apa ini masa puber yang datang terlambat?"

Dari kecil hingga dewasa, Keisha tidak pernah membantah Samuel.

Keisha meletakkan peralatan makannya, lalu menyeka mulut. Dia mengangkat matanya yang terlihat cerah dan cerdas. "Samuel, tolong hormati aku."

Melihat ekspresi keras kepala Keisha, Samuel mau tak mau mengalah. "Oke, aku akan aturkan posisi untukmu di perusahaan."

Keisha belum pernah bekerja. Selain itu, kepribadiannya juga lembut dan polos. Samuel tidak percaya Keisha mampu bertahan di dunia kerja. Tidak ada salahnya membiarkan dia merasakan sedikit penderitaan. Setelah melihat kejamnya dunia, dia akan kembali dengan sendirinya.

"Nggak usah. Aku sudah punya jadwal wawancara."

Keisha tidak pernah berpikir untuk bekerja di perusahaan Samuel. Dia ingin meninggalkan Samuel, bukan mendekatinya. Samuel memang terlihat peduli padanya, tetapi sebenarnya sudah membuat pilihan ketika dia tidak tega memutuskan hubungan dengan Monica dan Maxwell.

Klontang!

Samuel dengan marah melemparkan garpunya ke piring. Keisha mengabaikannya dan lanjut berjalan keluar rumah dengan mengenakan sepatu hak tinggi. Sekarang, menghibur Samuel adalah masalah Monica.

Samuel memijat pelipisnya dan menelepon asistennya.

"Beri tahu semua perusahaan untuk jangan mempekerjakan Keisha."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 50 

    Pintu terkunci dan pagar pembatas di sisi pengemudi sepenuhnya menjebaknya. Suara Keisha bergetar karena takut. "Aku akan beri kamu uang. Berapa banyak uang yang kamu mau? Tolong lepaskan aku ...." Tidak ada respons. Sopir itu bersikap seperti patung hingga membuat orang merinding. Mobil melaju kencang menuju pinggiran kota dan makin jauh dari kota.Menyadari bahwa tidak ada gunanya dia memohon, Keisha memaksa dirinya untuk tenang. Dia dengan cepat mencari sesuatu yang bisa dipakainya di kursi belakang, tetapi tidak menemukan apa-apa. Setelah berpikir sejenak, dia melepas sepatu hak tingginya dan memukul tepi kaca jendela dengan sekuat tenaga menggunakan tumitnya yang keras.Melihat ini melalui kaca spion, sopir itu pun menggeram, "Berhenti!" Keisha seperti tidak mendengarnya dan lanjut memukul jendela dengan sekuat tenaga. Kekuatan yang telah dikembangkan untuk merawat Samuel melalui olahraga teratur selama lima tahun di rumah, kini sepenuhnya digunakan di sini.Sebuah retakan muncu

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 49

    Samuel mengerutkan kening sambil menatap Keisha yang diapit oleh Geoffrey di sebelah kiri dan Frans di sebelah kanan.Geoffrey buru-buru menjelaskan, "Pak Frans orang yang kuundang. Kami punya hubungan kerja sama." Geoffrey selalu merasa Samuel menaruh permusuhan terhadap Frans, sedangkan Frans sepertinya juga tidak menyukai Samuel. Dia tidak tahu kapan kedua orang ini mulai bermusuhan. Untuk saat ini, dia hanya bisa memastikan bahwa hal itu tidak akan menimbulkan keributan."Pak Samuel, duduklah di sini." Geoffrey memberikan tempat duduknya dan Samuel duduk tanpa sungkan.Keisha yang terjebak di antara Samuel dan Frans pun merasa sangat canggung. Jika tahu mereka akan datang, dia tidak akan datang.Monica duduk di sebelah Samuel sehingga Geoffrey mau tak mau menggeser satu tempat duduk lagi."Tadi, Keisha dan Pak Frans sepertinya lagi ngobrol dengan asyik. Kalian berdua seharusnya cukup dekat, 'kan?" Keisha pura-pura tidak mendengar. Monica telah melihat lukisannya, sedangkan Frans

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 48 

    Malam keakraban itu diadakan di auditorium panti asuhan anak-anak penyandang disabilitas. Keisha dan Geoffrey datang lebih awal untuk melihat apakah ada yang dapat mereka bantu.Di panti asuhan, anak-anak ini dirawat dengan baik. Mereka juga ceria dan lincah. Seorang gadis yang kedua kakinya diamputasi mengenakan kaki palsu. Dia terlihat sangat bersemangat. Saat Keisha sedang merias wajahnya, dia terus mengoceh tanpa henti."Kakak, aku akan menari tarian robot malam ini! Menari dengan kaki palsu. Keren 'kan?""Tahun lalu, aku masih nggak bisa jalan, tapi tahun ini aku bisa menari! Paman Geoffrey hebat banget! Dia macam pesulap!" Kaki palsu yang dikenakan gadis ini dibuat khusus untuknya oleh Geoffrey. Melihat senyumnya yang berseri-seri, Keisha merasakan sesuatu yang aneh. Inilah makna dari pekerjaannya.Sebelum ini, tujuan Keisha hanyalah membantu Samuel berjalan normal. Seperti sinar matahari setelah kegelapan yang panjang, dia menemukan tujuan yang lebih luas dan lebih membahagiaka

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 47

    Keisha tetap tidak terpengaruh. Dia tidak ingin punya anak dengan Samuel, juga tidak membutuhkan perhatiannya yang datang terlambat.Samuel menunduk dan berkata dengan nada pelan, "Ada enam lepuhan. Aku akan transfer 12 miliar kepadamu. Anggap saja itu kompensasi atas rasa sakitnya. Oke?" Keisha mengangkat tangannya yang terluka dan meliriknya dengan tenang. Lepuhan dan kemerahan di tangannya terlihat sangat mengerikan, sedangkan rasa sakitnya juga belum berkurang sedikit pun."12 miliar? Pak Samuel benar-benar murah hati." Suara Keisha tidak keras, tetapi mantap dan tegas. "Aku akan terima uang itu. Gimanapun, anak kalian yang melukaiku." Samuel terlihat seperti sedang memberi kompensasi kepada Keisha, tetapi sebenarnya sedang melindungi Monica dan Maxwell. Tangannya sudah terbakar, tetapi mereka bahkan tidak perlu meminta maaf karena ada orang yang akan menangani masalah ini untuk mereka.Jika 12 miliar bisa membuat Keisha bungkam, juga menyelamatkan Monica dan Maxwell dari penderi

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 46

    "Kamu pergi ke mana hari ini?" Mata Samuel melembut dan nadanya mengandung keakraban yang alami. Dia mendorong kursi rodanya ke arah Keisha dan memberi isyarat agar Keisha membawanya ke ruang makan."Aku pergi bantu Dinda. Dia baru buka toko di mal," jawab Keisha sambil mendorong kursi roda. Nadanya terdengar tenang.Keisha tidak sepenuhnya berbohong. Dia benar-benar menghadiri upacara pemotongan pita sebelum pergi bekerja."Bagus juga. Kamu suka binatang. Kelak, kamu boleh lebih sering ke sana untuk bersantai." Samuel tidak curiga. Dia juga sudah mendengar tentang pembukaan toko Dinda. Dinda adalah sahabat terbaik Keisha. Keisha pasti hadir.Keisha menggumamkan "emm" dengan pelan, lalu mendorong kursi roda Samuel ke depan meja. Samuel memang seperti ini, sangat percaya diri hingga terkesan arogan. Hanya karena sudah memberi perintah pada Keisha untuk mengundurkan diri, dia berasumsi Keisha akan dengan patuh meninggalkan Kira Memoria. Sementara Samuel dan Monica sibuk bekerja dan per

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 45 

    Ketika melihat kesedihan di mata Keisha, hati Samuel terasa seperti tertusuk panah."Satu tahun. Kalau kamu masih ingin pergi setelah satu tahun, aku akan biarkan kamu pergi. Selama setahun itu, kamu nggak boleh ungkit tentang perceraian lagi." Samuel tidak percaya Keisha bisa meninggalkannya. Dia hanya merasa bahwa kemunculan Monica dan Maxwell sudah membuat Keisha kehilangan akal sehatnya untuk sementara. Setelah menangani urusan Monica dan Maxwell, mereka bisa kembali seperti semula, saling bergantung dan saling memiliki."Oke. Sepakat, ya." Dibandingkan dengan puluhan tahun kehidupan, satu tahun bukanlah apa-apa. Keisha setuju tanpa ragu. Selama bisa membebaskan diri dari belenggu, dia rela menunggu.Samuel menatap wajah Keisha yang cantik. Meskipun sedang membahas tentang perceraian, raut wajahnya tetap lembut dan tenang seperti biasanya. Dia tidak bisa menahan diri dan mengulurkan tangan untuk menyentuh Keisha. Namun, Keisha sudah berpaling. Langkahnya ringan dan siluetnya perl

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status