Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh

Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh

Oleh:  AnindYaBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
50Bab
23Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Demi membalas budi, Keisha meninggalkan cinta pertamanya dan menikahi Samuel yang "lumpuh". Selama lima tahun pernikahan, Samuel adalah suaminya, kakak kedua dari masa kecilnya, dan satu-satunya tambatan hidupnya di dunia. Keisha adalah istri yang lembut dan pengertian, juga bagaikan bayangan setia yang selalu berada di belakang kursi roda Samuel. Samuel yakin bahwa tidak peduli betapa pun dia memihak mantan tunangannya yang pulang dengan membawa putranya, Keisha tidak akan meninggalkannya. Namun, Samuel tidak tahu bahwa yang tersisa dalam hati Keisha hanyalah rasa terima kasih. Pada hari kebenaran terungkap, Keisha dengan tegas melempar surat perjanjian cerai ke hadapan Samuel. Namun, Samuel malah panik. Dia langsung berlinang air mata dan tidak bersedia melepaskan Keisha, bagaikan orang gila. Keisha menatap Samuel yang berdiri tegak. Hatinya terasa dingin. Samuel telah berbohong padanya selama lima tahun, juga menyebabkannya kehilangan cinta sejatinya. Dia tidak mungkin memaafkan Samuel. Pria yang dulunya begitu angkuh berlutut dengan satu lutut dan berkata dengan mata berkaca-kaca, "Keisha, aku cuma punya kamu." Keisha terlihat acuh tak acuh dan sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan. Dia berdiri di samping cinta sejatinya dan menjawab dengan tatapan tegas, "Tapi, aku bukan cuma punya kamu, Kak Sam." Pria itu adalah seorang konglomerat misterius yang ingin didekati para kaum elite, juga cinta pertama dan orang yang keberadaannya bagaikan cahaya di masa muda Keisha. Pemuda blasteran Aurevia yang terlihat berkelas itu tetap diam. Dia hanya menyematkan cincin berlian yang sangat mahal di jari Keisha. Dia telah menunggu lima tahun lamanya untuk hari ini. Keisha seharusnya memiliki hari ini dari lima tahun yang lalu.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

"Kalau kalian ingin kembali bersama, aku bisa restui hubungan kalian."

Keisha Sutandi mengepalkan tangannya dengan erat. Matanya yang indah sedang tertuju pada pria yang duduk di kursi roda.

Mendengar ucapan itu, mata muram pria itu langsung diselimuti kedinginan yang mengerikan. "Kamu nyesal karena menikahiku?"

Keisha menjawab tanpa ragu, "Aku nggak nyesal. Nenek punya jasa dalam membesarkanku."

"Kamu menikahiku untuk balas budi? Karena bersimpati padaku?"

Mata Samuel Wiratama menyipit. Tatapannya terlihat tajam, dan wajah tampannya dipenuhi amarah yang mendalam. Meskipun duduk di kursi roda, dia memancarkan aura yang mendominasi.

Keisha merasa tidak nyaman ditatap seperti itu. Dia menggigit bibirnya dan menunduk.

Lima tahun lalu, sebuah kecelakaan mobil membuat kedua kaki Samuel lumpuh. Saat itu, Samuel memiliki tunangan, sedangkan Keisha juga memiliki pacar. Setelah keluarga tunangan Samuel membatalkan pertunangan mereka, Linda, nenek Samuel yang menderita penyakit terminal pun berlutut di hadapan Keisha dan memohon padanya untuk menikah dengan Samuel.

Keisha tidak punya pilihan lain. Orang tuanya meninggal ketika dia berusia delapan tahun. Linda yang merupakan guru orang tuanya memungutnya dari jalanan dan memberinya tempat tinggal. Setelah Keisha dan Samuel menikah, Linda baru meninggal dengan tenang.

Keisha menyetujui pernikahan ini memang karena ingin membalas budi. Namun, setelah lima tahun bersama, dia sudah terbiasa dengan kehadiran Samuel, bahkan mulai bergantung pada Samuel. Samuel adalah satu-satunya keluarganya di dunia, juga satu-satunya ikatan yang dimilikinya.

Keisha merasa bahwa menjalani hidup seperti ini selama sisa hidupnya juga merupakan hal yang cukup baik.

Sampai seminggu yang lalu, mantan tunangan Samuel, Monica Wijaya, kembali ke dalam negeri. Dia juga membawa seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun.

Anak laki-laki itu memiliki kulit pucat, mata yang mendalam, dan bibir tipis berwarna merah yang merupakan ciri khas keturunan Keluarga Wiratama. Meskipun gemuk, dia sangat mirip dengan kakak beradik Keluarga Wiratama.

Kakak laki-laki Samuel, Matthew Wiratama, telah menikah selama delapan tahun, juga memiliki hubungan yang harmonis dengan istrinya. Mustahil baginya untuk berselingkuh dengan tunangan adiknya.

Anak itu pasti adalah darah daging Samuel.

"Gimana dengan anak itu?" tanya Keisha.

"Aku punya rencana sendiri." Samuel jelas tidak ingin melanjutkan diskusi ini dan menatap Rita, pembantu yang sedang berdiri di pintu masuk.

"Ada apa?"

"Bu Monica dan anaknya sudah datang."

Rita sudah masuk dari sekitar setengah menit yang lalu. Akan tetapi, karena merasakan suasana yang tegang, dia tidak berani berbicara.

Kerutan di kening Samuel langsung sirna, dan matanya melembut.

"Paman Sam!"

Baru saja Rita selesai berbicara, sebuah sosok kecil berlari masuk dari luar dan melemparkan diri ke pelukan Samuel. Bocah bernama Maxwell Wijaya itu menyenggol Rita dan hampir membuatnya terjatuh.

"Max, kamu harus sopan."

Monica juga berjalan masuk sambil tersenyum penuh kasih sayang. Tatapannya yang penuh kelembutan tertuju pada Samuel.

"Sam, terima kasih sudah menampung kami."

Sopir Keluarga Wiratama, Wisnu, membawa masuk dua koper besar. Samuel menginstruksikannya untuk membawa koper itu ke kamar di sisi kiri lantai tiga.

Keisha pun mengerutkan kening. Tidak ada yang memberitahunya bahwa Monica dan putranya akan menetap di rumah ini. Apakah yang dimaksud dengan rencana Samuel adalah membiarkan Monica dan putranya tinggal di rumah mereka tanpa berdiskusi dengannya?

Lantai tiga adalah tempat mereka tinggal. Biasanya, tamu selalu tinggal di lantai dua. Keisha membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi akhirnya tidak mengatakan apa-apa. Samuel tidak berhenti mengobrol dengan Monica dan putranya, seolah-olah dia tidak ada.

Ketiga orang itu lebih seperti keluarga. Kehadiran Keisha di samping mereka terasa bagaikan sesuatu yang merusak pemandangan.

Keisha berbalik untuk pergi. Namun, baru berjalan dua langkah, Samuel sudah menghentikannya. "Keisha, siapkan dulu kamarnya. Pastikan Momo dan Max bisa tinggal dengan nyaman."

Momo, panggilan itu sudah terlalu akrab.

Keisha menghentikan langkahnya dan menyahut, "Aku sudah capek. Mau mandi dan tidur."

Keisha merawat Samuel karena janjinya terhadap Linda. Jika dia juga melayani Monica dan Maxwell, apa bedanya dia dengan seorang pembantu? Lagi pula, mana ada nyonya rumah yang menyiapkan tempat tidur untuk "penyusup"?

"Nggak apa-apa. Biar Bi Rita saja yang menyiapkannya."

Monica mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dan memberikannya kepada Rita dengan murah hati. "Bi Rita, ini perhiasan unik yang kubawa pulang dari luar negeri. Nih, buat kamu."

Rita langsung melangkah mundur seolah-olah sudah disambar petir. Dia melambaikan tangannya berulang kali sambil menyahut, "Nggak usah, nggak usah. Ini kewajibanku."

Sebelum Monica sempat berbicara lagi, Rita langsung menaiki tangga dengan terburu-buru untuk menyiapkan kamar di lantai tiga. Dia sama sekali lupa bahwa ada lift di rumah ini.

Monica dengan canggung menarik tangannya. "Sam, sepertinya aku dan putraku nggak disambut di sini."

Samuel menjawab dengan lembut, "Mana mungkin? Keisha selalu memikirkanmu dan Max."

Keisha pura-pura tidak mendengar dan berjalan menuju lift. Bukan dia yang memikirkan mereka, melainkan Samuel.

Sejak Monica dan putranya kembali, Samuel yang biasanya dingin sepertinya sudah sepenuhnya berubah. Dia mengajak Monica ke mana-mana, juga memilihkan hadiah untuk Monica dan Maxwell secara pribadi. Tas dan perhiasan Monica sudah memenuhi seluruh dinding, sedangkan mainan Maxwell menumpuk di sebuah ruangan.

Samuel tidak pernah peduli pada siapa pun seperti ini sebelumnya. Oleh karena itu, Keisha tahu semuanya telah berubah.

"Bu Keisha, Sam bilang kamu selalu menginginkan anak dan akan menyukai Max."

Suara Monica terdengar dari belakang, tetapi Keisha tidak menoleh.

"Yang penting Sam suka."

Seusai berbicara, Keisha langsung masuk ke lift. Ternyata Samuel tahu bahwa dia menginginkan anak. Berhubung tidak ingin membebani Samuel, dia tidak pernah mengungkit tentang hal ini. Samuel tahu, tetapi berpura-pura tidak tahu.

Lift kaca itu perlahan-lahan naik. Di bawah cahaya terang, mata Samuel menunjukkan kelembutan dan kasih sayang yang belum pernah dilihat Keisha sebelumnya.

Keisha telah merawat Samuel dengan sangat baik dan secara pribadi selama lima tahun. Namun, Samuel tidak pernah menunjukkan sedikit pun kasih sayang terhadapnya. Tanpa disadari, dia sendiri juga lupa bahwa dia tidak perlu melakukan hal sejauh itu.

Lift berhenti di lantai tiga, dan suara Monica terdengar dari bawah.

"Lima tahun lalu, orang tuaku paksa aku untuk akhiri pertunangan kita, juga kirim aku ke luar negeri. Setelah tiba di luar negeri, aku baru tahu aku hamil anak kamu. Ini darah daging kita. Aku nggak sanggup menggugurkannya."

Suara Monica berangsur-angsur terdengar tercekat. Dia berjongkok dan membenamkan kepalanya di pangkuan Samuel. Tubuhnya gemetar karena menangis.

Samuel perlahan-lahan mengulurkan tangan dan meletakkannya di bahu Monica. Monica mendongak. Matanya yang dipenuhi air mata membuatnya terlihat menyedihkan.

"Kupikir setelah Max besar, orang tuaku akan menerimanya. Tapi begitu aku kembali, mereka malah memblokir kartu kreditku dan mengusir kami dari rumah. Sam, kalau bukan karena nggak ada jalan lain, aku nggak akan mengganggumu. Aku nggak takut hidup susah, tapi Max masih begitu kecil ...."

Ujung jari Samuel menyentuh pipi Monica dan menyeka air matanya.

"Jangan takut, ada aku."

Keisha berdiri di pagar lantai tiga dan menyaksikan pemandangan ini. Rasa dingin seketika menjalar di hatinya. Kuku jarinya tanpa sadar menggores pagar dengan begitu kuat hingga hampir patah.

"Jangan khawatir, Nyonya. Aku pasti akan selalu ada di pihakmu."

Rita yang muncul entah sejak kapan menatap Keisha dengan khawatir. Dia telah bekerja di Keluarga Wiratama selama lebih dari 20 tahun. Sebelumnya, dia melayani Linda.

Sebelum meninggal, Linda sudah berpesan pada Rita untuk lanjut melayani Samuel dan Keisha. Rita juga menyaksikan Keisha tumbuh dewasa. Dia tahu bahwa Keisha adalah anak yang baik dan pengertian.

Keisha tersenyum tipis. Samuel bukanlah benda mati, melainkan manusia. Jika dia harus berebut "hak milik" Samuel dengan Monica, itu berarti Samuel sebenarnya bukan miliknya.

Keisha kekurangan rasa aman. Dia tidak menginginkan apa pun yang tidak bisa sepenuhnya menjadi miliknya. Dia tidak ingin selalu terjebak dalam kecemasan dan kekhawatiran yang tidak diperlukan.

...

Pada larut malam, saat Keisha hampir tertidur, Samuel masuk ke kamar. Dia duduk di kursi roda dengan keadaan sudah mandi dan berganti pakaian tidur. Dia memiliki kamar mandi pribadi, juga dilayani oleh seorang perawat pendamping laki-laki yang tuli dan bisu.

Berhubung sudah terbiasa, Keisha bangun dan membantu Samuel naik ke tempat tidur.

Kursi roda yang dipakai Samuel berteknologi tinggi dan dibuat secara khusus. Kursi roda itu bisa memenuhi semua kebutuhan Samuel, tetapi dia lebih suka dirawat oleh Keisha.

Keisha berbaring di samping Samuel dengan hati tertekan. Dia tidak memiliki keluarga dan mendambakan lebih banyak ikatan dalam hidupnya. Oleh karena itu, dia menginginkan satu atau dua anak.

Samuel hanya lumpuh dan kelumpuhan itu sama sekali tidak memengaruhi kemampuannya untuk melakukan hubungan suami istri. Keisha pernah berinisiatif menyiratkan Samuel tentang hal itu beberapa kali, tetapi selalu ditolak.

Kemudian, Keisha berasumsi bahwa harga diri Samuel terlalu kuat dan dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya tidak dapat memegang kendali. Jadi, Keisha tidak pernah membicarakan tentang hal itu lagi.

Dari ucapan Monica malam ini, Keisha baru tahu bahwa Samuel selalu tahu dia menginginkan anak. Namun, Samuel hanya dengan dingin mengamati hasratnya yang membara dan mengabaikannya dalam kegelapan seperti sekarang.

Saat Keisha tenggelam dalam pikirannya, sebuah tangan melingkari pinggangnya yang lembut dan menariknya ke dalam pelukan hangat.

Samuel memeluk Keisha dengan erat. Dagunya bertumpu di atas kepala Keisha dan bergerak pelan.

"Waktu hamil, Momo masih adalah tunanganku. Aku nggak selingkuh, dan dia bukan orang ketiga. Kami berdua memiliki kesulitan masing-masing dalam hal ini. Max itu anakku. Sebagai seorang pria, aku nggak bisa mengabaikan mereka. Itu tanggung jawabku. Sayang, jangan marah. Mereka cuma tinggal di rumah ini. Benar-benar cuma sebatas itu."

Pada malam sebelum pernikahannya dengan Monica, Samuel mabuk hingga tak sadarkan diri. Ketika bangun, Monica ada di atas ranjangnya. Meskipun hanya sekali itu, Monica langsung mengandung Maxwell.

Setiap memikirkan hal ini, Samuel tidak dapat mendeskripsikan emosi yang berkecamuk di dalam dirinya. Entah itu penyesalan atau rasa bersalah.

Keisha menepis tangan Samuel dan duduk dalam kegelapan. "Kamu bisa pilih mau cerai atau beri aku anak."
Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status