Share

Bab 3 

Penulis: AnindYa
Setelah tiba di lokasi wawancara, Keisha merasa sedikit gugup.

Ada banyak perusahaan di bawah kelola Grup Kira Memoria. Keisha melamar sebuah posisi di bidang teknologi biomekanik, yang merupakan bisnis inti grup tersebut.

Sejak lulus kuliah, Keisha selalu mengikuti perkembangan industri ini dan terus belajar. Dia bahkan pernah menerbitkan makalah di jurnal internasional. Namun, dia tidak memiliki pengalaman kerja.

Selama lima tahun merawat Samuel di rumah, kehidupan Keisha nyaris terputus dari dunia luar. Jika bukan karena rekomendasi sahabatnya, Dinda Antonia, dia bahkan tidak akan memiliki kesempatan untuk wawancara.

Selama wawancara, pewawancara meninjau CV Keisha dan mengajukan beberapa pertanyaan profesional. Keisha merasa telah menjawab dengan cukup baik, tetapi ekspresi pewawancara tetap acuh tak acuh.

"Bu Keisha, pengetahuan profesionalmu memang nggak perlu diragukan. Tapi, jeda jeda lima tahun tanpa pengalaman kerja ini kurang sesuai dengan kualifikasi yang kami butuhkan untuk posisi ini. Apalagi, yang mau kami rekrut itu talenta kelas atas."

"Apa kalian bisa beri aku satu kesempatan? Masa percobaan satu bulan saja sudah cukup. Kalian nggak perlu menggajiku selama masa percobaan."

Keisha tidak ingin menyerah begitu saja. Dari perspektif karier jangka panjang, tidak perlu diragukan lagi bahwa Kira Memoria adalah pilihan terbaiknya.

"Bu Keisha, ada terlalu banyak orang yang bersedia magang secara cuma-cuma di perusahaan kami. Secara keseluruhan, kualifikasimu nggak lebih baik dari mereka."

Pewawancara itu meletakkan CV Keisha. Menurutnya, Keisha hanyalah seorang kutu buku tanpa bakat asli. Kemampuannya jelas masih belum memenuhi persyaratan untuk bekerja di Kira Memoria.

"Aku masih ada urusan lain. Silakan pergi."

Keisha memperhatikan punggung pewawancara yang acuh tak acuh, lalu mengangkat bahu tanpa daya dan mengambil resumenya. Dia merasa sedikit kecewa, tetapi tidak patah semangat. Kira Memoria adalah pemimpin industri. Wajar saja dia tidak diterima.

Dinda mengatakan bahwa pencarian kerja harus dimulai dengan perusahaan terbaik, lalu baru beralih ke perusahaan terbaik berikutnya jika ditolak.

[ Dinda, aku nggak jodoh sama Kira Memoria. Hiks .... ]

Keisha mengirim pesan kepada Dinda di dalam lift. Saat berjalan keluar dengan kepala tertunduk, dia tidak sengaja menangkap sesuatu berwarna cokelat keemasan yang mencolok di lift VIP sebelah. Dia pun menoleh secara refleks, tetapi pintu lift sudah tertutup.

Keisha mengira itu hanya ilusinya dan berjalan keluar sambil termenung. Dia bahkan tidak menyadari bahwa CV-nya telah jatuh ke lantai. Ketika dia kembali untuk mencarinya, CV itu sudah hilang.

Sesampainya di rumah, Keisha curiga dirinya salah masuk rumah.

Lantai dipenuhi tumpukan mainan, sedangkan perabotannya juga sudah berubah drastis. Ada beberapa lukisan Monica tergantung di dinding. Rumah yang awalnya bergaya minimalis berubah menjadi gaya artistik yang mencolok. Tempat ini tidak seperti rumah, melainkan tempat penitipan anak kecil yang dikelola oleh seorang kurator.

Samuel yang seharusnya berada di perusahaan sedang menemani Maxwell bermain balok bangunan, sedangkan Monica sedang menggantung lukisan minyak berwarna cerah di dinding.

Keisha pun terkejut. Mungkin inilah wujud sebuah rumah yang sebenarnya, dipenuhi jejak kehidupan penghuninya di setiap sudut, bukan tertata rapi seperti rumah contoh. Dia berjalan melewati tumpukan mainan, lalu bergegas ke ruang kerja untuk mencetak ulang CV-nya dan mempersiapkan diri untuk wawancara kerja berikutnya.

"Kenapa? Gagal cari kerja?"

Samuel mendongak untuk menatap Keisha. Dia tersenyum penuh arti, seolah-olah sudah bisa menduga hasilnya.

"Cuma gagal sekali," jawab Keisha dengan nada keras kepala. Dia sama sekali tidak terdengar sedih.

"Aku sudah minta asistenku untuk aturkan posisi yang santai untukmu. Pergilah ke perusahaan bersamaku besok."

"Nggak usah. Aku akan temukan pekerjaan."

Samuel meletakkan balok bangunan yang dipegangnya, lalu berujar dengan tampang muram, "Keisha, kamu bisa sepenuhnya mengandalkanku."

"Sam." Monica menegurnya dengan nada ringan, lalu duduk di samping Samuel dan memegang lengannya secara alami. "Keisha bukan anak kecil. Dia punya hak untuk memilih."

Kemudian, Monica menatap Keisha dan tersenyum lembut. "Keisha, kalau butuh bantuanku, katakan saja. Aku punya banyak teman yang punya perusahaan sendiri."

Monica tidak lagi memanggil Keisha dengan "Bu Keisha", melainkan mengikuti cara panggil Samuel.

Keisha menatap lukisan minyak itu. Itu adalah gambar Monica menggendong Maxwell yang masih bayi. Gambar ibu dan anak itu terpampang jelas di dinding dan sangat menarik perhatian.

"Kalau begitu, kamu bisa cari pekerjaan untuk dirimu sendiri, bukannya tinggal di rumah orang lain."

Nada bicara Keisha tidak ramah. Raut wajah Monica pun berubah menjadi sangat jelek.

"Keisha, aku nggak mau mendengar ucapan seperti itu lagi." Nada bicara Samuel tidak terlalu galak, tetapi tetap mengandung sedikit teguran.

Keisha mencengkeram erat tali tasnya. Matanya dipenuhi ejekan terhadap dirinya sendiri, sedangkan hatinya terasa pahit.

Pada saat ini, Rita masuk melalui pintu belakang dan memecah suasana canggung di ruang tamu. "Nyonya, mau taruh di mana semua bunga itu?"

Keisha mengikuti arah yang ditunjuk Rita dan menoleh ke arah taman. Di atas rerumputan, tersusun pot-pot bunga dengan berbagai ukuran.

"Bukannya bunga-bunga itu selalu dipelihara di rumah kaca? Kenapa dipindah ke luar?"

Rita melirik Monica. Raut wajahnya terlihat muram, tetapi dia tetap diam.

"Momo mau sebuah studio. Ruang kaca itu tempat yang paling cocok."

Baru saja Samuel selesai berbicara, Monica langsung berseru dengan dramatis, "Astaga! Aku cuma bilang ruang kaca itu punya pencahayaan yang bagus. Aku nggak tahu itu rumah kacamu. Kalau nggak, aku akan mengembalikannya kepadamu. Ini semua salah Sam. Dia nggak menjelaskan apa-apa dan langsung memberikannya kepadaku untuk dijadikan studio."

Samuel menimpali dengan acuh tak acuh, "Bunga-bunga itu bisa dipelihara di luar ruangan. Cuma perlu buat beberapa rak bunga saja."

"Lupakan saja." Keisha menatap Rita dan berujar, "Berikan saja bunganya kepada orang lain. Aku nggak menginginkannya lagi."

Keisha awalnya mengira dirinya sudah tidak lagi hidup menumpang pada orang lain. Pada saat ini, dia baru menyadari bahwa kehidupan seperti itu belum berakhir. Di Kediaman Keluarga Wiratama, dia sama seperti bunga-bunga itu, bahkan tidak mampu melindungi sebuah rumah kaca, hanya bisa dengan patuhnya tinggal di tempat yang telah ditentukan.

"Mana bisa begitu! Nyonya sendiri yang secara cermat merawat bunga-bunga itu."

"Aku akan mulai bekerja. Kelak, aku juga nggak akan punya waktu untuk merawat mereka."

Bahkan Rita juga tahu betapa berharganya bunga-bunga itu bagi Keisha, tetapi Samuel sama sekali tidak peduli. Jika bukan karena kemunculan Monica, dia tidak akan menyadari betapa tidak berharganya hidupnya selama lima tahun terakhir.

Keisha melangkah masuk ke lift dan memaksa dirinya untuk berhenti memandang bunga-bunga itu. Namun, lift menawarkan pemandangan yang luas. Melalui pantulan di kaca, dia melihat bunga-bunga di rerumputan itu sedang mekar indah tepat di depan dadanya.

Samuel mengalihkan pandangannya dari lift dan memberi instruksi kepada Rita, "Simpan dulu bunga-bunga itu untuk sementara. Cari orang untuk buatkan rak bunga yang bagus dan pekerjakan tukang kebun profesional."

Samuel melihat keengganan dan kesedihan di mata Keisha. Dia pun tak kuasa menahan senyum. Anak yang penurut dan patuh itu, kini sudah bisa mengamuk. Itu hanya beberapa pot tanaman. Untuk apa dia marah?

...

Keisha duduk di depan laptop, tetapi tidak bisa berkonsentrasi. Sosok dari masa lalu itu selalu muncul dalam benaknya. Dia awalnya bermaksud untuk merevisi CV-nya. Namun, dia malah tanpa sadar mulai menggambar di atas kertas A4.

Itu adalah Sketsa seorang pemuda. Dia memiliki rambut cokelat keemasan yang tergerai, juga mata biru jernih. Parasnya terlihat hidup di atas kertas.

"Syut ...." Semburan air tiba-tiba masuk dari pintu, lalu memercik ke arah keyboard dan membasahi kertas gambar.

Keisha segera mematikan laptop dan menyelipkan kertas A4 itu di bawah beberapa buku.

Maxwell menerjang masuk dengan mengacungkan pistol air. "Dor, dor, dor! Aku akan menembakmu sampai mati!"

Air memercik ke mana-mana, membasahi dokumen, buku, dan pakaian Keisha.

Keisha mencoba menghentikannya. "Kamu nggak boleh main di sini."

"Pokoknya, aku mau main di sini!" Maxwell mengangkat pistol air itu dan mengarahkannya ke mata Keisha.

Keisha menghindar, lalu meraih kerah baju Maxwell, dan merebut pistol air itu sebelum membuangnya ke tong sampah.

Maxwell langsung berteriak, "Huwah! Kamu orang jahat! Aku mau habisi kamu!"

Keisha merasa kepalanya seperti akan meledak karena rengekan itu. Dia memasang wajah serius dan memperingatkan, "Kamu nggak boleh main pistol air di dalam rumah. Mengerti?"

"Ini rumahku. Aku bisa bermain sesuka hatiku! Huhuhu!" Maxwell menendangkan kedua kakinya dengan liar dan kuat ke arah Keisha.

Keisha menyeret Maxwell ke arah pintu. Tak disangka, Maxwell meraih tangannya dan menggigit punggung tangannya dengan kuat.

"Aduh ...." Keisha pun meringis kesakitan dan melepaskan cengkeramannya.

Maxwell tidak berdiri dengan baik. Berhubung tiba-tiba dilepas, dia pun jatuh ke lantai.

"Huwah!" Dia berbaring di lantai, lalu berguling-guling dan menangis. Tangisan itu terdengar sampai ke lantai bawah, dan Monica bergegas naik, lalu menggendong Maxwell.

"Max, ada apa?"

Maxwell menangis lebih keras lagi. "Wanita ini menjatuhkanku! Kepalaku sakit sekali ...."

"Ada apa ini?" Samuel mengerutkan kening sambil menatap wajah pucat Keisha. Pandangannya beralih ke ke tangan Keisha, di mana dia samar-samar melihat bercak darah.

Sebelum Samuel dapat melihat jelas, Monica menghalangi pandangannya. "Sam, kita harus bawa Max ke rumah sakit."

"Ayo jalan."

Samuel menggendong Maxwell yang masih menangis, lalu mereka bertiga turun ke lantai bawah.

Dalam sekejap, suara tangisan terdengar menjauh. Keisha melihat darah dan bekas gigitan di tangannya. Rasa sakit itu bahkan membuatnya berlinang air mata.

Melihat ini, Rita langsung pucat karena ketakutan. "Astaga, kayaknya ini perlu disuntik vaksin anti rabies deh."

Keisha pun tertawa. Dia bertanya-tanya apakah Rita bisa mengikutinya pergi setelah bercerai nanti.

"Nggak apa-apa. Suruh saja Mike datang obati lukaku."

Rita menggerutu dengan kesal, "Tuan juga sama saja. Kalau mau ke rumah sakit, ya seharusnya sekalian bawa Nyonya."

Akan bohong jika mengatakan bahwa Keisha sama sekali tidak peduli. Dia sebenarnya merasa sedih. Rasa sedih ini tidak berkaitan dengan cinta, melainkan karena kehilangan sebuah keluarga.

Yang dimiliki Keisha tidak banyak. Samuel adalah salah satunya. Pria itu adalah kakak keduanya yang tumbuh besar bersamanya, juga suaminya selama lima tahun. Selain orang itu, Samuel adalah orang terpenting dalam hidupnya.

Namun, sedikit kesedihan ini dengan cepat tertutupi oleh kegembiraan. Saat lukanya dibalut, sebuah notifikasi e-mail masuk muncul di ponselnya.

[ Bu Keisha, selamat kamu diterima di perusahaan kami. Silakan melapor ke departemen SDM kami pada pukul 10 pagi besok. ]

Pengirimnya adalah departemen SDM Grup Kira Memoria.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 50 

    Pintu terkunci dan pagar pembatas di sisi pengemudi sepenuhnya menjebaknya. Suara Keisha bergetar karena takut. "Aku akan beri kamu uang. Berapa banyak uang yang kamu mau? Tolong lepaskan aku ...." Tidak ada respons. Sopir itu bersikap seperti patung hingga membuat orang merinding. Mobil melaju kencang menuju pinggiran kota dan makin jauh dari kota.Menyadari bahwa tidak ada gunanya dia memohon, Keisha memaksa dirinya untuk tenang. Dia dengan cepat mencari sesuatu yang bisa dipakainya di kursi belakang, tetapi tidak menemukan apa-apa. Setelah berpikir sejenak, dia melepas sepatu hak tingginya dan memukul tepi kaca jendela dengan sekuat tenaga menggunakan tumitnya yang keras.Melihat ini melalui kaca spion, sopir itu pun menggeram, "Berhenti!" Keisha seperti tidak mendengarnya dan lanjut memukul jendela dengan sekuat tenaga. Kekuatan yang telah dikembangkan untuk merawat Samuel melalui olahraga teratur selama lima tahun di rumah, kini sepenuhnya digunakan di sini.Sebuah retakan muncu

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 49

    Samuel mengerutkan kening sambil menatap Keisha yang diapit oleh Geoffrey di sebelah kiri dan Frans di sebelah kanan.Geoffrey buru-buru menjelaskan, "Pak Frans orang yang kuundang. Kami punya hubungan kerja sama." Geoffrey selalu merasa Samuel menaruh permusuhan terhadap Frans, sedangkan Frans sepertinya juga tidak menyukai Samuel. Dia tidak tahu kapan kedua orang ini mulai bermusuhan. Untuk saat ini, dia hanya bisa memastikan bahwa hal itu tidak akan menimbulkan keributan."Pak Samuel, duduklah di sini." Geoffrey memberikan tempat duduknya dan Samuel duduk tanpa sungkan.Keisha yang terjebak di antara Samuel dan Frans pun merasa sangat canggung. Jika tahu mereka akan datang, dia tidak akan datang.Monica duduk di sebelah Samuel sehingga Geoffrey mau tak mau menggeser satu tempat duduk lagi."Tadi, Keisha dan Pak Frans sepertinya lagi ngobrol dengan asyik. Kalian berdua seharusnya cukup dekat, 'kan?" Keisha pura-pura tidak mendengar. Monica telah melihat lukisannya, sedangkan Frans

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 48 

    Malam keakraban itu diadakan di auditorium panti asuhan anak-anak penyandang disabilitas. Keisha dan Geoffrey datang lebih awal untuk melihat apakah ada yang dapat mereka bantu.Di panti asuhan, anak-anak ini dirawat dengan baik. Mereka juga ceria dan lincah. Seorang gadis yang kedua kakinya diamputasi mengenakan kaki palsu. Dia terlihat sangat bersemangat. Saat Keisha sedang merias wajahnya, dia terus mengoceh tanpa henti."Kakak, aku akan menari tarian robot malam ini! Menari dengan kaki palsu. Keren 'kan?""Tahun lalu, aku masih nggak bisa jalan, tapi tahun ini aku bisa menari! Paman Geoffrey hebat banget! Dia macam pesulap!" Kaki palsu yang dikenakan gadis ini dibuat khusus untuknya oleh Geoffrey. Melihat senyumnya yang berseri-seri, Keisha merasakan sesuatu yang aneh. Inilah makna dari pekerjaannya.Sebelum ini, tujuan Keisha hanyalah membantu Samuel berjalan normal. Seperti sinar matahari setelah kegelapan yang panjang, dia menemukan tujuan yang lebih luas dan lebih membahagiaka

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 47

    Keisha tetap tidak terpengaruh. Dia tidak ingin punya anak dengan Samuel, juga tidak membutuhkan perhatiannya yang datang terlambat.Samuel menunduk dan berkata dengan nada pelan, "Ada enam lepuhan. Aku akan transfer 12 miliar kepadamu. Anggap saja itu kompensasi atas rasa sakitnya. Oke?" Keisha mengangkat tangannya yang terluka dan meliriknya dengan tenang. Lepuhan dan kemerahan di tangannya terlihat sangat mengerikan, sedangkan rasa sakitnya juga belum berkurang sedikit pun."12 miliar? Pak Samuel benar-benar murah hati." Suara Keisha tidak keras, tetapi mantap dan tegas. "Aku akan terima uang itu. Gimanapun, anak kalian yang melukaiku." Samuel terlihat seperti sedang memberi kompensasi kepada Keisha, tetapi sebenarnya sedang melindungi Monica dan Maxwell. Tangannya sudah terbakar, tetapi mereka bahkan tidak perlu meminta maaf karena ada orang yang akan menangani masalah ini untuk mereka.Jika 12 miliar bisa membuat Keisha bungkam, juga menyelamatkan Monica dan Maxwell dari penderi

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 46

    "Kamu pergi ke mana hari ini?" Mata Samuel melembut dan nadanya mengandung keakraban yang alami. Dia mendorong kursi rodanya ke arah Keisha dan memberi isyarat agar Keisha membawanya ke ruang makan."Aku pergi bantu Dinda. Dia baru buka toko di mal," jawab Keisha sambil mendorong kursi roda. Nadanya terdengar tenang.Keisha tidak sepenuhnya berbohong. Dia benar-benar menghadiri upacara pemotongan pita sebelum pergi bekerja."Bagus juga. Kamu suka binatang. Kelak, kamu boleh lebih sering ke sana untuk bersantai." Samuel tidak curiga. Dia juga sudah mendengar tentang pembukaan toko Dinda. Dinda adalah sahabat terbaik Keisha. Keisha pasti hadir.Keisha menggumamkan "emm" dengan pelan, lalu mendorong kursi roda Samuel ke depan meja. Samuel memang seperti ini, sangat percaya diri hingga terkesan arogan. Hanya karena sudah memberi perintah pada Keisha untuk mengundurkan diri, dia berasumsi Keisha akan dengan patuh meninggalkan Kira Memoria. Sementara Samuel dan Monica sibuk bekerja dan per

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 45 

    Ketika melihat kesedihan di mata Keisha, hati Samuel terasa seperti tertusuk panah."Satu tahun. Kalau kamu masih ingin pergi setelah satu tahun, aku akan biarkan kamu pergi. Selama setahun itu, kamu nggak boleh ungkit tentang perceraian lagi." Samuel tidak percaya Keisha bisa meninggalkannya. Dia hanya merasa bahwa kemunculan Monica dan Maxwell sudah membuat Keisha kehilangan akal sehatnya untuk sementara. Setelah menangani urusan Monica dan Maxwell, mereka bisa kembali seperti semula, saling bergantung dan saling memiliki."Oke. Sepakat, ya." Dibandingkan dengan puluhan tahun kehidupan, satu tahun bukanlah apa-apa. Keisha setuju tanpa ragu. Selama bisa membebaskan diri dari belenggu, dia rela menunggu.Samuel menatap wajah Keisha yang cantik. Meskipun sedang membahas tentang perceraian, raut wajahnya tetap lembut dan tenang seperti biasanya. Dia tidak bisa menahan diri dan mengulurkan tangan untuk menyentuh Keisha. Namun, Keisha sudah berpaling. Langkahnya ringan dan siluetnya perl

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status