เข้าสู่ระบบHeru yang melihat Dewi sempat melemparkan cambuk itu ke lantai justru merespons dengan cara yang salah. Mengira wanita di hadapannya terlalu lemah dan penakut untuk melukai manusia lain, rasa percaya diri gila Heru mendadak bangkit kembali secara membabi buta dari sisa-sisa kesadarannya yang terdesak.Heru mendongakkan kepalanya yang lebam, menyunggingkan senyum parau yang dipaksakan. Tawa kepahitannya yang sumbang bergema pelan di dalam bunker kedap suara tersebut."Aku tahu... aku tahu kamu tidak akan pernah berani, Dewi!" rintih Heru dengan nada suara yang penuh ejekan kasar. "Kamu itu wanita lemah! Dari dulu kamu hanya bisa menangis dan berlutut di depanku! Kamu tidak akan pernah punya keberanian untuk menyentuhku!"Tawa dan intonasi meremehkan dari mulut Heru yang bersimbah darah itu seketika menghentikan langkah kaki Dewi.Dewi menghentikan gerakannya. Dia menyadari satu hal yang amat mendasar: manusia iblis seperti Heru tidak akan pernah mengerti arti kemurahan hati atau ra
Suasana di dalam bunker terasa semakin pekat dan menekan begitu pintu besi tebal itu terkunci rapat dari luar. Bisma menggenggam erat gagang kayu dari cambuk kulit hitam yang berada di tangannya. Matanya menatap Heru dengan pandangan penuh amarah yang tertahan selama bertahun-tahun, siap melampiaskan seluruh dendam darah atas kematian Amira dan penderitaan wanita yang dicintainya.Namun, sebelum Bisma mengayunkan langkahnya, sebuah tangan lembut mendarat pelan di atas lengan kanannya.Bisma menoleh dan mendapati Dewi sudah berdiri sejajar di sampingnya. Wajah wanita itu terlihat sangat tenang, namun matanya memancarkan ketegasan yang belum pernah Bisma lihat sebelumnya."Bisma... biarkan aku yang memegang cambuk itu," kata Dewi dengan suara pelan tetapi sangat mantap.Bisma sempat ragu sejenak. Ada rasa khawatir yang terbayang di matanya, takut jika melihat benda itu kembali akan membuka luka trauma lama di dalam jiwa Dewi. Namun, saat Bisma menatap lurus ke dalam manik mata Dewi,
Rasa dingin yang menggigit kulit dan bau busuk semen basah menjadi hal pertama yang menyadarkan Heru dari pingsannya. Kepalanya berdenyut hebat, bagaikan dihantam oleh beban tonan yang amat berat. Setiap kali dia mencoba menarik napas, dada bagian kirinya terasa sangat nyeri—tulang rusuknya yang retak akibat tendangan pasukan khusus terus memberikan rasa sakit yang membakar.Heru perlahan-lahan membuka kelopak matanya yang bengkak dan terasa amat berat. Penglihatannya kabur, tertutup oleh lapisan darah kering dan keringat dingin. Cahaya terang dari sebuah lampu neon tunggal yang menggantung di langit-langit tepat di atas kepalanya membuat matanya terasa silau dan perih.Dia mencoba mengangkat tangan kanannya untuk mengusap wajahnya, namun sebuah tarikan keras menahan pergelangan tangannya.CRANG!Suara gemerincing besi tebal bergema nyaring di dalam ruangan yang sunyi itu. Heru tersentak kaget dan mencoba menggerakkan kedua kaki serta tangannya secara bersamaan, namun usahanya sia
Setengah detik yang sangat krusial itu akhirnya tiba. Ketika Heru mengusap matanya yang perih dengan tangan kiri, perhatian dan kewaspadaannya terpecah. Ujung revolver di tangan kanannya sedikit bergeser dari pelipis Dewi.Dewi yang sudah bersiap sejak awal tidak membuang peluang sekecil apa pun. Mengikuti sinyal rahasia dari Bisma, Dewi mendadak menekuk kedua lututnya dan menjatuhkan seluruh berat badannya ke bawah secara drastis.Secara bersamaan, Bisma meluncur bagaikan seekor harimau yang melompat dari semak-semak. Kecepatan geraknya sebagai mantan prajurit terlatih luar biasa cepat. Dalam waktu kurang dari satu detik, Bisma sudah memangkas jarak empat langkah di antara mereka.Sebelum Heru menyadari apa yang sedang terjadi, tangan kiri Bisma sudah mencengkeram pergelangan tangan kanan Heru yang memegang senjata api. Bisma memutarnya ke atas dengan teknik kuncian sendi yang mematikan.KLEK!"AAAGH!" jerit Heru histeris saat tulang pergelangan tangannya dipaksa berputar melebi
Heru mencengkeram lengan kanan Dewi dengan amat kasar, menyeretnya keluar dari kamar menuju lorong lantai dua. Ujung moncong pistol revolver berkaliber 38 itu terus menempel ketat di pelipis kanan Dewi. Langkah kaki Heru yang tidak stabil membuat mereka berdua terhuyung-huyung saat menuruni anak tangga menuju area ruang tamu utama di lantai bawah."Jalan yang benar!" bentak Heru dengan suara serak melengking. Pria itu terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling lorong dengan raut wajah paranoia yang sangat parah. Napasnya memburu, bersimbah keringat dingin yang membasahi kemeja mewahnya. Dewi tidak meringis sedikit pun meski cengkeraman Heru di lengannya sangat menyakitkan. Dia mengatur napasnya agar tetap teratur, mengendalikan detak jantungnya agar tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan. Di mata Dewi, Heru yang berada di sampingnya saat ini bukan lagi sosok suami menakutkan seperti dahulu, melainkan seorang penjahat yang sedang sekarat dan terdesak di ujung tanduk.Begitu merek
Suasana di dalam mansion mewah Heru terasa amat lengang dan mencekam. Sebagian besar asisten rumah tangga dan pekerja bangunan sudah melarikan diri sejak beberapa hari lalu karena takut tidak digaji dan cemas melihat perilaku Heru yang makin gila. Hanya tersisa beberapa pengawal bayaran Heru yang berjaga di luar dengan wajah cemas dan tidak tenang.Heru baru saja kembali dari kantornya dengan wajah keruh, pakaian berantakan, dan napas memburu. Belum sempat dia melangkah jauh dari pintu utama menuju ruang tamu, sebuah mobil sedan hitam mewah ber-plat nomor khusus berhenti di pelataran depan, disusul oleh sebuah mobil van hitam bertuliskan badan hukum resmi.Dari dalam sedan hitam tersebut, keluar tiga orang pria berjas rapi yang membawa tas dokumen tebal dari kulit tebal. Pria paruh baya yang memimpin rombongan itu adalah Haris Utama, kepala tim pengacara senior kepercayaan klan Sudrajat. Mereka didampingi oleh dua orang petugas jurusita dari Pengadilan Negeri serta empat orang petug







