Home / Romansa / Penjaga Hati Sang Nyonya / Terkuaknya Identitas Bisma

Share

Terkuaknya Identitas Bisma

Author: Erumanstory
last update publish date: 2026-09-24 20:10:21

Dewi melangkah mundur perlahan, menyeka pelipisnya yang basah oleh keringat tipis. Cambuk kulit tebal yang baru saja digunakannya digeletakkan begitu saja di atas lantai beton bunker yang dingin. Napasnya masih terengah-engah, namun dadanya terasa jauh lebih lapang setelah melampiaskan separuh amarah yang membendung selama ini. Dewi menatap Bisma dengan pandangan mantap, lalu mengangguk pelan. Dia memberikan seluruh panggung kepada pria itu untuk menuntaskan dendam pribadi yang telah membakar h
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penjaga Hati Sang Nyonya   Pernikahan Dan Pengumuman Pewaris (Tamat)

    Ballroom utama di hotel bintang lima paling megah di pusat kota malam itu disulap menjadi tempat resepsi yang amat fantastis. Rangkaian bunga impor berwarna putih, krem, dan aksen emas menghiasi setiap sudut ruangan, memancarkan aroma harum yang lembut dan segar. Lampu-lampu kristal berukuran raksasa tergantung megah di langit-langit ruangan, memantulkan kilauan cahaya keemasan yang mewah di atas lantai marmer yang mengilap.​Ratusan tamu undangan dari kalangan elit berkumpul di dalam ruangan tersebut. Tampak hadir para pengusaha papan atas, pejabat pemerintah, jajaran direksi perbankan, hingga relasi bisnis internasional. Di luar aula utama, puluhan awak media dan wartawan sibuk mengabadikan momen pernikahan yang disebut-sebut sebagai pesta paling megah dan berpengaruh tahun ini.​Di dalam kamar rias utama yang luas dan eksklusif, Dewi berdiri anggun di depan cermin tinggi berbingkai ukiran emas. Dia mengenakan gaun pengantin berwarna putih bersih yang dirancang khusus oleh perancang

  • Penjaga Hati Sang Nyonya   Dilamar

    Empat bulan berlalu sejak seluruh urusan rekayasa kematian Heru dan renovasi rumah selesai dilakukan. Kehidupan Dewi sudah benar-benar kembali normal. Setiap hari, Dewi disibukkan dengan berbagai kegiatan mengelola perusahaan keluarga bersama Kakek Sudrajat. Rasa cemas dan ketakutan yang dulu kerap membayangi pikirannya kini telah sepenuhnya menghilang.​Suasana sore itu di kediaman Kakek Sudrajat sangat tenang. Angin sejuk dari area perbukitan berembus pelan menerpa dedaunan di halaman depan. Dewi duduk di teras samping rumah bersama Kakek Sudrajat dan ibunya, Hanum. Di atas meja kayu, tersaji cangkir teh hangat dan beberapa piring kue tradisional.​"Laporan keuangan kuartal ini sangat bagus, Dewi," kata Kakek Sudrajat seraya meletakkan cangkir tehnya ke atas tatakan. "Para pemegang saham sangat puas dengan keputusanmu memotong jalur distribusi yang tidak efisien bulan lalu."​Dewi tersenyum tipis. "Semua berkat bimbingan Kakek. Dewi hanya menerapkan apa yang Kakek ajarkan."​"Jangan

  • Penjaga Hati Sang Nyonya   Mengunjungi Makam Ayah

    Beberapa minggu setelah kabar kecelakaan Heru di dasar jurang menghebohkan media nasional, seluruh urusan administrasi dan hukum akhirnya selesai. Di dalam ruang kerja serba kayu jati milik pengacara senior keluarga Sudrajat, beberapa lembar berkas resmi tertata rapi di atas meja.​Dewi duduk menatap lembaran-lembaran kertas itu dengan pandangan tenang. Di bagian atas salah satu dokumen, tertera keputusan resmi dari pengadilan dan catatan sipil yang menyatakan bahwa status hukum pernikahan antara Heru dan Dewi telah berakhir karena kematian Heru. Secara hukum negara, Dewi kini resmi menyandang status sebagai seorang janda.​"Semua urusan aset yang tersisa, pembekuan rekening Heru, dan pengalihan kepemilikan sudah selesai dibersihkan oleh tim kami," kata pengacara senior itu seraya menyodorkan sebuah pulpen hitam ke hadapan Dewi. "Heru tidak memiliki ahli waris lain yang sah. Berkas ini memastikan bahwa sisa harta dan kekayaan yang masih bersih sepenuhnya menjadi milik Anda. Anda juga

  • Penjaga Hati Sang Nyonya   Akhirnya Bebas

    Suara mesin kendaraan yang menderu pelan terdengar masuk ke area halaman belakang yang tersembunyi. Bisma dan Dewi menaiki tangga beton perlahan, meninggalkan bunker bawah tanah yang pengap dan berbau darah. Di atas permukaan, udara malam yang dingin menyapu wajah mereka, membawa rasa segar yang sudah lama tidak mereka rasakan.​Sebuah minibus hitam tanpa pelat nomor berhenti tepat di dekat pintu keluar bunker, diiringi dua mobil sedan berwarna gelap. Pintu minibus bergeser terbuka secara halus. Dari dalamnya, turun enam orang pria bersetelan serba hitam tanpa atribut. Mereka mengenakan sarung tangan lateks, sepatu tertutup rapat, dan membawa beberapa tas perlengkapan dekontaminasi berukuran besar.​Merekalah tim ahli dari klan Sudrajat—kelompok profesional yang secara khusus terlatih untuk menangani situasi-situasi kritis, pembersihan jejak, dan rekayasa skenario tanpa meninggalkan kecurigaan sedikit pun.​Pria yang menjadi pemimpin tim melangkah mendekati Dewi dan Bisma. Dia menundu

  • Penjaga Hati Sang Nyonya   Hutang Nyawa Dibayar Nyawa

    Trigger warning! Buat kalian yang tidak suka membaca adegan kekerasan disarankan melewati bab ini! Besi pipa tebal di tangan Bisma terasa begitu dingin, tetapi telapak tangannya memegang batang besi itu dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Bau amis darah yang menguar di dalam bunker bawah tanah terasa semakin pekat, bercampur dengan hawa lembap dari dinding-dinding beton yang tidak tersentuh cahaya matahari.​Di atas kursi besi yang terikat rantai, Heru gemetaran hebat. Ketakutan yang teramat sangat menguasai seluruh pikirannya. Mata Heru yang bengkak bergerak liar menatap pipa besi di tangan Bisma, lalu beralih menatap wajah Bisma yang sama sekali tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.​"Bisma... listened to me, Bisma!" teriak Heru dengan suara parau yang bergetar hebat. Air mata ketakutan mengalir deras di pipinya, membasahi luka-luka memar bekas sabetan cambuk Dewi. "Aku punya sertifikat tanah, deposito, saham di perusahaan utama... semuanya! Aku bisa alihkan semu

  • Penjaga Hati Sang Nyonya   Terkuaknya Identitas Bisma

    Dewi melangkah mundur perlahan, menyeka pelipisnya yang basah oleh keringat tipis. Cambuk kulit tebal yang baru saja digunakannya digeletakkan begitu saja di atas lantai beton bunker yang dingin. Napasnya masih terengah-engah, namun dadanya terasa jauh lebih lapang setelah melampiaskan separuh amarah yang membendung selama ini. Dewi menatap Bisma dengan pandangan mantap, lalu mengangguk pelan. Dia memberikan seluruh panggung kepada pria itu untuk menuntaskan dendam pribadi yang telah membakar hidupnya.​Dewi mengambil posisi beberapa langkah di belakang, bersandar pada dinding beton yang lembap dan dingin. Dia tahu, ini adalah saatnya bagi Bisma untuk menghadapi pria yang telah menghancurkan masa depan dan mencabut nyawa kakak kandungnya.​Bisma melangkah maju. Setiap pijakan sepatu boots kulitnya di atas lantai semen menghasilkan bunyi berdentum yang berat dan teratur, menggema di seluruh sudut bunker yang sunyi. Aura di sekitar tubuh Bisma mendadak berubah menjadi sangat pekat, ding

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status