MasukKenapa?
Dia tidak menyinggung siapa pun, kan? Siapa dia? Kenapa menculik dirinya? Sebelum sempat berpikir, tubuhnya tiba-tiba ditindih. Wajahnya memucat ketakutan, dan begitu ia sadar apa yang terjadi, ia hanya bisa melawan sekuat tenaga. Ciuman pria itu menyapu habis seluruh napasnya—kuat, mendominasi, dan kejam. Bibirnya dipaksa, digigit, dihajar tanpa ampun. Di bawah tubuh pria itu, ia tersiksa hingga menangis tersedu-sedu. Suaranya habis. Air matanya jatuh sia-sia tanpa pernah menerima belas kasih sedikit pun. Malam itu, ia dihancurkan hingga tak berdaya, seperti boneka kain. Demamnya makin parah. Ia terbakar panas selama tiga hari dan tidak sadarkan diri. Ketika bangun… ia sudah menjadi boneka milik Saga yang harus selalu ada diranjang panas pria itu. Ia dikendalikan sepenuhnya oleh pria itu. Hidupnya diatur. Setiap langkahnya diawasi. Saga adalah sosok tanpa perasaan. Yang ia inginkan hanyalah tubuh Yeni. Hanya penjarahan, pemaksaan, dan kendali. Yeni sama sekali tidak tahu siapa Saga, bagaimana latar belakang dan kekuasaannya. Dengan wajah setampan itu, pasti banyak wanita yang menginginkan dia. Lalu kenapa dirinya? Kenapa harus dia? Malam itu, Saga sedang sangat kesal. Ditambah obat yang ia konsumsi… dia sepenuhnya lepas kendali. Keesokan harinya, Yeni bangun hampir siang. Di samping tempat tidur duduk seorang pria tampan bernama Rev, tersenyum kecil dengan ekspresi menggoda. “Selamat pagi,” katanya santai. Penolong iblis itu…. Yeni panas dingin melihat wajahnya. Saat menatap Rev dengan wajah polos dan tatapan kosong, Yeni mengerutkan kening dan menggeleng cepat, menolak bicara. Rev tidak terlalu memperhatikan sikapnya. Ia hanya tersenyum jahil. “... Berapa kali kalian melakukannya tadi malam?” “A-aku tidak tahu…” suara Yeni parau. “Kamu pingsan lagi, ya?” Rev mengangkat bahu seolah itu hal biasa. “Sepertinya kamu masih belum terbiasa. Tubuhmu masih butuh waktu buat beradaptasi. Aku taruh obat baru di meja. Ingat minum setiap hari.” Yeni menggigit bibirnya, wajahnya memucat. Kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri, tapi ia bahkan tidak peduli dengan rasa sakitnya. “Aku… tidak mau minum obat,” katanya lirih, hampir tak terdengar, namun penuh ketegaran kecil yang tersisa. Rev memandangnya lama. Gadis itu cantik, kulitnya putih pucat, rambut panjangnya tergerai lembut. Tapi wajah kecil itu… keras kepala dan penuh luka. Sama sekali tidak seperti gadis seusianya. Baru delapan belas tahun. Usia bunga, tapi hidupnya sudah hancur. Namun tak ada belas kasihan dalam mata Rev. Yang terlihat hanya… rasa puas karena bisa melihatnya tersiksa. Jika ingin menyalahkan, maka salahkan saja kenyataan karena Yeni memiliki wajah yang diinginkan Saga. Itu saja. Hanya sial. Rev menyilangkan tangan dan berkata datar, “Percuma keras kepala. Kalau kamu tidak minum obat dan tidak menjaga tubuhmu, Saga akan terus membangunkan kamu sepanjang malam. Pada akhirnya kamu yang jebol.” Tubuh Yeni bergetar. Bahunya mengecil. Wajahnya memucat lagi. Ia hanya menggigit bibir tanpa berani menjawab. Dulu dia gadis yang ceria, manja, mudah marah dan keras kepala. Dua bulan saja hidup bersama Saga sudah mengikis semua itu. Kegembiraan, kemarahan, dan kesedihannya seakan dipotong menjadi serpihan kecil. Orang tuanya sudah tua dan tiba-tiba di-PHK. Kakaknya, bermasalah di ketentaraan. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Tapi Saga tiba-tiba menyelesaikan semuanya. Urusan pekerjaan orang tuanya. Masalah kakaknya di militer. Sebagai gantinya, dia harus tinggal bersama Saga. Harus patuh. Harus tunduk. Harus menyerahkan hidupnya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain kompromi. Dan yang paling menyakitkan: Orang yang menghancurkan keluarganya… adalah orang yang sama yang tidur dengannya setiap malam. Yeni bukan orang suci. Ia manusia biasa. Dia sangat membencinya. Namun dia juga terjebak. Di usia 18 tahun, hidupnya sudah layu sebelum sempat mekar. Rev tidak bertanya apa-apa lagi. Dia hanya pergi, meninggalkan Yeni yang hampir roboh. Setelah berganti pakaian dan turun ke bawah, tubuhnya masih lemah, gemetar setiap melangkah. Rev sudah pergi. Hanya Saga yang duduk di sofa, membaca dokumen-dokumen. “Kemari,” katanya tanpa mengangkat wajah. Nada suaranya dingin, datar, dan merupakan perintah yang tidak bisa ditolak. Yeni menegang. Tapi dia tetap berjalan pelan, lalu duduk di sampingnya dengan hati-hati. Sebuah lengan kuat merangkul bahunya, membuatnya berbaring menyamping di dalam pelukan itu. Pria itu masih menatap dokumen di tangannya, namun aura maskulin yang dingin dan mendominasi memenuhi seluruh ruangan. “Apa kamu lapar?” “Ehm.” “Nanti Rev akan mengantarkan makanan.” “Oh.” “Tidak ada kelas hari ini, apa rencanamu?” “Aku tidak akan keluar dari villa.” Saga sudah bilang, jangan keluar jika tidak perlu. Dan dia tidak akan mengizinkannya keluar dengan mudah. Yeni tentu saja tahu. Terlebih lagi, setiap malam minggu tubuhnya hancur karena perlakuan Saga. Untung saja obat merah muda itu hanya diberikan padanya tiap Sabtu malam. Dia bersandar lembut di pelukannya, matanya terpejam, kelelahan masih menempel. “Aku ingin pulang waktu Tahun Baru… boleh?” “Kenapa?” Kenapa? Yeni ingin tertawa pahit. Ya, siapa yang bisa memberinya alasan? Kenapa dia harus mencari-cari alasan agar diizinkan pulang? Kalau dia tidak setuju, ya sudah… dia tidak bisa memaksa. “Bukankah ada pesta sekolah saat Tahun Baru?” “Sepertinya begitu.” Pria itu membelai rambut panjangnya. Wajah tampannya tetap dingin dan tegas. “Kalau orang tuamu menelepon dan memintamu pulang, kamu sudah tahu apa yang harus kamu katakan?” Yeni menunduk pelan. “Iya, aku tahu…” Saga masih tidak ingin membiarkannya kembali ke rumah. Yeni tidak berani membantah. Tidak berani marah. Karena keluarganya akan membayar harga atas sikapnya. Faktanya, keadaan sekarang jauh lebih baik. Orang tuanya bekerja di perusahaan Saga setelah dipecat, Ayah menjadi Wakil Manajer Kepegawaian, Ibu menjadi Deputi Manajer Keuangan. Karena jaraknya jauh, perusahaan bahkan memberikan mereka apartemen besar dekat kantor. Adik laki-lakinya juga berjalan mulus di sekolah militer. Sebenarnya… tidak ada yang buruk. Yeni duduk di sofa sepanjang sore, memegang buku, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Kenapa? Bagaimana dia bisa terlibat dengan Saga sampai sejauh ini? Tidak masuk akal. Sama sekali tidak masuk akal. Padahal mereka jarang bicara. Tapi dia adalah “kekasih”-nya. Dua bulan tinggal satu atap, tidur bersamanya, dipeluk, dicium, disentuh… Tapi hubungan mereka seperti tertutup lapisan tipis tak kasat mata, dingin, jauh, dan mencekik. Sore itu Saga keluar karena ada urusan, dan malamnya dia tidak pulang. Keesokan harinya, Yeni pergi ke sekolah. Kalau ada orang yang mengenalnya, mereka pasti bisa merasakan: suasana hatinya buruk, berat. Langkahnya pun goyah. Barusan dia menerima telepon dari ibunya. Orang tuanya meminta Yeni tidak pulang saat Tahun Baru karena ada acara perusahaan di pantai. Semua eksekutif akan liburan bersama di sana, semua biaya ditanggung perusahaan. Jelas-jelas itu rekayasa Saga. Agar dia tidak pulang. Yeni menunduk, tersenyum pahit. Dia dijaga layaknya tahanan 24 jam, selalu dicegah melarikan diri. Dia merasa pintu hidupnya dicekik rapat, tidak ada ruang bernapas. Saking kosongnya pikiran, dia menyeberang tanpa memperhatikan lampu merah. GRAAAK! Suara rem keras menjerit. Tubuhnya terhempas hingga terjatuh, dahinya membentur pinggir trotoar. Sakitnya menusuk. “Yeni, kamu tidak apa-apa?!” Suara penuh kekhawatiran terdengar. Yeni mendongak, melihat wajah orang yang membantunya kabur dari mobil itu. Mindo? __Pria dan wanita itu saling menempel tanpa malu, di meja, di bar, di lantai, di kursi, di sofa.Semua orang telanjang. Brutal. Tanpa batas.Ini adalah pesta yang menghancurkan seluruh pemahaman Yeni tentang dunia.Saat itu juga, dia akhirnya mengerti aturan tempat ini.Setiap wanita yang masuk ke klub ini, tanpa peduli latar belakang dan identitasnya akan menjadi bagian dari permainan. Siapa pun bisa menyentuh kapan pun.Ada ratusan orang di bawah sana.Dunia yang begitu kejam dan menyesakkan ini bahkan tidak pernah terlintas di pikirannya.Hal paling mengerikan yang pernah Yeni alami sebelumnya hanyalah malam kelam dua tahun lalu.Namun ini… jauh lebih buruk.Saga mencengkeram pundaknya, memaksanya terus menatap ke bawah.Dia berbisik lembut di telinganya, suaranya seperti racun,“Kalau kamu berani kabur lagi, aku akan meninggalkanmu di sini. Aku bisa melakukannya.”Tubuh Yeni
Yeni berusaha melepaskan diri dari pelukannya, tetapi Saga memegangnya terlalu erat. Sedikit saja dia memberontak, pinggang rampingnya terasa bisa remuk di tangan pria itu.“Aku mau minum air,” ucapnya lirih.Saga melepaskannya begitu saja.Agar Yeni bisa bergerak di dalam rumah, Saga menambah panjang rantai di kakinya, cukup untuk berkeliling ruang tamu.Sesampainya di dapur, Yeni bersandar ke dinding dengan tubuh lemas, napasnya terengah. Dulu Saga sudah memperingatkannya agar tidak mencoba kabur. Jika nekat, akibatnya tak terbayangkan, dia akan melakukan hal-hal gila.Kini, semua itu terbukti.Rantai di kakinya. Kalung pelacak di lehernya. Tubuhnya yang tak lagi bebas. Saga tidak perlu lagi mengancam Mindo atau Dwi. Dia sudah memegang kartu tawar-menawar yang jauh lebih efektif.Yeni tidak pernah mengerti bagaimana seseorang bisa mencintai dengan cara segila ini.“Yeni…”Suara tidak sabar Saga terdengar dari ruang tamu.Yeni gemetar dan segera menuangkan air. Saat kembali membawa d
Dia berusaha menghindar, namun Saga tetap mengaitkan kalung itu di lehernya.Pada pengaitnya tertera kode kecil yang nyaris tak terlihat. Dia tahu, dirinya tidak akan mampu melepaskannya.Saat itu, Yeni benar-benar merasa tercekik.Jika suatu hari dia mencoba melarikan diri lagi, Saga akan menjadi lebih kejam dan tak terkendali.Kekuasaan memberinya kebebasan untuk menjadi sesat.Tiba-tiba, tercium aroma manis yang asing. Sebelum dia sempat bereaksi, Saga mendekat. Yeni hanya menyadari ada sesuatu yang tertelan tanpa dipahami sepenuhnya.Dia segera menjauh, matanya penuh ketakutan. Tangannya refleks melindungi perutnya.Anak…Tatapan Saga langsung berubah dingin.“Kemarilah.”Yeni menggeleng, tubuhnya gemetar, air mata jatuh tanpa suara.Saga mengangkat ponselnya, suaranya rendah dan kejam.“Haruskah aku menyuruh Leo membawa Zinnia pergi lebih jauh?”Wajah Yeni langsu
Dengan suara dingin, Saga berkata pada Leo, “Bawa putriku pulang.”Putrinya.Dia tahu.Yeni akhirnya tersadar sepenuhnya. Dia bergegas maju dan menahan mereka.“Saga… kembalikan Zinnia padaku!”Tubuh tinggi Saga menghalangi jalannya. Dia menatap Leo yang membawa Zinnia pergi tanpa ekspresi.Saga lalu menarik pinggang Yeni, menahannya dalam pelukan, dan mencengkeram dagunya dengan satu tangan.Tatapan matanya gelap dan kejam.“Aku bahkan bisa menerima jika pengkhianatan itu dari Leo dan Rev,” katanya dingin.“Tapi kamu, tidak.”Yeni berusaha mendorongnya, namun rasa takut jauh lebih kuat.“Aku—”Dia mencoba menjelaskan, tetapi Saga tidak memberinya kesempatan.“Aku sudah memberimu kesempatan,” katanya sambil tersenyum pahit.“Aku terus mengatakan pada diriku sendiri, selama kamu datang ke rumah sakit menemuiku saat aku tidak muncul di publik, aku akan memaafkanmu.”Dia tertawa kecil, penuh ejekan pada dirinya sendiri.“Tapi Yeni, sikapmu membuatku sadar… aku tidak punya tempat di hatim
Yeni tidak lagi memperhatikan berita tentang Saga. Dia membawa Zinnia ke sebuah kota kecil dan menyewa rumah untuk hidup tenang.Hidupnya kembali sunyi dan sederhana.Sedangkan Saga…Seolah lenyap tanpa jejak sejak penembakan itu.Di Kota X, Yeni tidak bisa menghubungi siapa pun. Leo dan Rev juga tidak dapat dihubungi.Kota X berada dalam status darurat militer. Menurut Mindo, seseorang sedang mencarinya, sehingga dia tidak berani kembali.Tentang SagaYeni sendiri tidak tahu perasaan apa yang ada di hatinya.Ada saat-saat di mana dia ingin kembali padanya, tanpa peduli apa pun.Yeni hidup sederhana di kota kecil itu. Dia menolak tawaran Mindo untuk merawat ibu dan anaknya. Dia tahu, tidak ada kemungkinan lagi antara mereka.Karena di dalam hatinya… hanya ada Saga.Bagaimanapun juga, dia dan Mindo tidak memiliki masa depan.Yeni tinggal di kota kecil itu selama tiga bulan. Har
Bahkan Xia dan Xiu yang biasanya selalu berada di sekitarnya pun tidak diketahui keberadaannya.Seolah-olah dalam sekejap, semua jejak Saga di sisinya lenyap begitu saja.Yeni meminta Mindo dan Dwi untuk mencari kabar tentang Saga, tetapi mereka tidak mampu berbuat apa-apa.Saat pikirannya sedang kacau dan panik, Arini tiba-tiba datang.Yeni sedang duduk di ruang tamu sambil menatap ponsel dan membaca berita terbaru. Dia terkejut saat melihat Arini masuk.Arini justru tersenyum.“Ada apa? Sepertinya kamu terkejut melihatku?”Senyum di sudut bibir Arini tampak jahat. Jelas-jelas dia masih memiliki hubungan darah dengan Saga, namun tidak ada sedikit pun kemiripan di antara mereka.Jika Saga adalah iblis yang berdiri terang-terangan, maka Arini adalah iblis yang tersembunyi di balik kulit manis.Penampilannya lembut dan cantik, tetapi hatinya penuh niat buruk.“Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?”







