Beranda / Romansa / Ranjang Panas Tuan Saga / Bab 3. Saga Tidak Bisa Dibantah

Share

Bab 3. Saga Tidak Bisa Dibantah

Penulis: Any Anthika
last update Tanggal publikasi: 2025-12-23 09:53:59

Wajah Mindo pucat, seragam sekolah hitamnya rapi tapi sekarang berantakan. Kalau dia tidak menarik Yeni barusan, dia pasti sudah mati tertabrak mobil sport itu.

Mobil mewah itu sudah maju beberapa meter, tapi kemudian berhenti dan mundur lagi. Di dalamnya ada seorang pria dan wanita berseragam sekolah warna putih, kelas atas.

Pria itu memandang Yeni dan Mindo dari atas ke bawah, melecehkan.

Ia bersiul rendah lalu mengambil segepok uang, melemparkannya tepat ke wajah mereka.

“Hari ini, meski aku menabrak kalian sampai mati, aku cuma perlu bayar uang segini.”

Wanita di sampingnya tertawa mengejek.

Mobil melaju pergi meninggalkan mereka.

Uang beterbangan di udara lalu jatuh berhamburan di aspal. Mindo gemetar karena marah. Yeni hanya menunduk, memegangi tubuhnya.

Dulu, Yeni pasti sudah berdiri dan membalas hinaan mereka. Dia tidak pernah takut.

Tapi sekarang… dia tidak bisa berkata apa-apa.

Orang-orang mulai berkumpul, menunjuk-nunjuk, berbisik-bisik. Suara-suara itu menusuk telinganya.

Yeni menggenggam baju Mindo erat-erat. “Mindo… ayo pergi dari sini…”

Cederanya tidak fatal, dahi memar, lutut luka, siku tergores. Tapi hatinya jauh lebih sakit.

Mindo juga terluka cukup parah karena melindunginya.

Yeni menatapnya penuh sesal. “Maaf…”

“Itu bukan salahmu,” kata Mindo pelan. “Mereka yang salah, mereka yang melanggar lampu merah. Kamu nggak perlu merasa bersalah.”

Yeni melihat beberapa bekas luka kecil di wajah Mindo. Dadanya terasa sesak.

Dulu, dia gadis yang ceria, suka menyentuh dan mengganggu Mindo, manja, banyak tingkah. Sering membuatnya marah sampai ingin menjambaknya, tapi pada akhirnya Mindo selalu luluh.

Sekarang… semuanya hilang.

“Yeni, kamu…”

Mindo belum sempat melanjutkan kata-katanya ketika pintu ruang perawatan terbuka keras. Seorang wanita berseragam putih berlari masuk.

“ Mindo! Mindo—!”

Yeni melihat seseorang masuk. Seketika matanya meredup dan ia menundukkan kepala.

Arini, yang tidak menyadari keberadaan Yeni, langsung bergegas ke sisi ranjang tempat Mindo duduk. Raut wajahnya penuh kecemasan saat memperhatikan luka-luka di tubuh Mindo.

“Mindo, aku dengar kamu kecelakaan mobil! Bagaimana? Lukanya serius? Ayo, aku bawa kamu ke rumah sakit untuk pemeriksaan lengkap.”

“Tidak perlu,” Mindo menolak sopan. Ia menarik tangannya pelan dari genggaman Arini. “Aku tidak apa-apa, hanya lecet sedikit. Tinggal diberi salep. Tapi Yeni… sepertinya kondisinya lebih parah.”

Arini tertegun, baru menyadari bahwa ada Yeni di ruang perawatan. Seketika terlihat ketidaksukaan samar di matanya, namun ia tetap berkata sopan, “Yeni, maaf, aku tidak sadar kamu juga ada di sini.”

Yeni sedikit menggeleng dan tersenyum lemah. “Aku baik-baik saja.”

Dia datang ke Universitas Boyuan demi Mindo. Mindo tiga tahun lebih tua, kakak dari sahabat masa kecilnya. Sejak kecil Yeni menyukai Mindo dan mengikuti apa pun yang dilakukannya. Saat Yeni masih SD, Mindo SMP. Saat Yeni SMP, Mindo SMA. Saat Yeni SMA, Mindo masuk universitas.

Dengan keras kepala, ia mengikuti jejak itu sampai ke kampus ini.

Dulu Mindo sering berkata bahwa Yeni itu keras kepala dan kadang menyebalkan.

Namun sejak kecil sampai dewasa, Yeni tidak pernah menyerah. Ia tahu perasaannya adalah cinta. Ia berniat menembus batas itu suatu hari.

Namun semuanya berubah ketika ia masuk universitas dan melihat seorang wanita cantik berdiri di sisi Mindo. Wanita itu lembut, elegan, dan sangat cocok dengannya. Hitam dan putih—kontras namun menyatu. Saat itu perasaan Yeni seketika tenggelam.

Tiga tahun tidak bertemu, dan ia kira Mindo sudah punya pacar.

Betapa bodohnya dirinya.

Belakangan, ia bertanya setengah bercanda kepada Mindo apakah Arini pacarnya.

Mindo hanya tersenyum sambil mengacak rambut Yeni. “Aku dan Arini cuma teman sekelas, partner kerja. Bukan pacar.”

Seketika dunia Yeni kembali bercahaya.

Ia masih punya harapan.

Arini memang partner yang sangat cocok dengan Mindo. Mereka pernah tampil bersama dalam satu acara kampus, bekerja sama sangat mulus. Arini bisa menebak apa yang akan Mindo lakukan hanya dari gerakan kecil, dan Mindo langsung memahami maksud Arini hanya dengan satu lirikan.

Mereka sangat serasi.

Tidak lama kemudian, dokter keluarga Arini yang ternyata juga dokter keluarga Saga datang. Yeni sedikit terkejut melihatnya, tetapi ia segera mengerti. Arini dan Saga satu keluarga besar. Tidak aneh jika dokter mereka sama.

Dokter Bae memeriksa cepat, menaruh salep, lalu pergi tanpa banyak bicara.

Arini segera mengambil salep itu dan mengoleskannya ke luka Yeni dengan hati-hati.

“Dua-duanya benar-benar bikin orang cemas,” omel Arini lembut. “Mindo sih laki-laki, tidak apa-apa. Tapi Yeni, kamu ini gadis. Bagaimana kalau tadi benar-benar tertabrak?”

Ia lanjut mengomel seperti ibu-ibu, “Kamu itu sudah besar. Kalau jalan jangan melamun. Harus hati-hati.”

Yeni menunduk seperti anak yang dimarahi, sementara tubuhnya sedikit gemetar. Di tangannya, ia menggenggam ponsel yang baru saja menerima pesan.

(Ruang kopi seberang kampus. Ruangan nomor 8.)

Saga….

Yeni membeku.

Ia meloncat turun dari ranjang. “Maaf, aku baru ingat ada kelas yang belum kuhadiri. Aku pergi dulu!”

“Yeni! Yeni!”

Mindo memanggil panik, tapi Yeni tak berhenti.

Ia tidak tahu bagaimana menutupi luka-lukanya. Kalau Dokter Bae tidak bilang, mungkin Saga tidak tahu.

Tapi dalam dua bulan terakhir, ia sudah terbiasa: jika Saga memberi perintah, apa pun yang ia lakukan harus berhenti. Ia harus datang. Tidak boleh terlambat.

Yeni sangat takut pada pria itu.

Saga…

Saat melihat langit biru sekalipun, ia hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri:

Kapan ia bisa bebas darinya?

Kapan Saga akan bosan?

Kapan semua ini berakhir?

Begitu pintu ruang nomor delapan dibuka, hawa dingin menyergap dari ujung kaki hingga kepala.

Saga duduk tegak di sofa. Garis wajahnya tajam, kejam, dan dingin. Aura dominannya memenuhi ruangan, membuat Yeni gemetar bahkan sebelum melangkah masuk.

Ia mendekat pelan. Untung sekarang sudah bulan Desember—cuaca dingin membantu menyembunyikan luka-lukanya. Namun luka di dahinya tetap terlihat.

Yeni berdiri di depannya dengan kepala tertunduk, seperti pelayan yang menunggu keputusan tuannya.

Saga mengangkat wajah dan matanya langsung menangkap luka di dahi Yeni. Sorotnya meredup, bukan lembut—tetapi gelap dan berbahaya.

“Ke sini. Duduk.”

Yeni duduk dengan kaku.

Saga menariknya ke dalam pelukan. Ia menatap luka itu dengan dingin. Plester yang menutupinya ia robek begitu saja. Kulit putih Yeni tampak tergores dalam, dan sisa darah masih terlihat.

Kening Saga berkerut dalam.

“Yeni,” suaranya dingin dan berbahaya. “Lepaskan bajumu.”

Yeni terkejut, menatapnya dengan panik.

Saga menatap balik dengan sinis. “Atau kamu ingin aku merobeknya di sini?”

Wajah Yeni memucat.

“A-a… aku…”

“Lepaskan.”

Nada suaranya turun satu oktaf, penuh ancaman.

“Jangan buat aku mengatakan untuk ketiga kalinya.”

Tubuh Yeni gemetar. Dengan bibir yang tergigit, ia membuka kancing seragamnya perlahan—sangat perlahan—sementara Saga menatapnya dari samping, matanya gelap seperti jurang tak berdasar.

Jaket terlepas.

Kaos dalam terlepas.

Lapisan demi lapisan…

Hingga akhirnya Yeni hanya berdiri dengan pakaian dalam.

Seluruh tubuhnya gemetar.

Bukan karena dingin.

Tapi karena rasa malu dan ketakutan.

---

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ranjang Panas Tuan Saga   Yanzi Datang

    Pria dan wanita itu saling menempel tanpa malu, di meja, di bar, di lantai, di kursi, di sofa.Semua orang telanjang. Brutal. Tanpa batas.Ini adalah pesta yang menghancurkan seluruh pemahaman Yeni tentang dunia.Saat itu juga, dia akhirnya mengerti aturan tempat ini.Setiap wanita yang masuk ke klub ini, tanpa peduli latar belakang dan identitasnya akan menjadi bagian dari permainan. Siapa pun bisa menyentuh kapan pun.Ada ratusan orang di bawah sana.Dunia yang begitu kejam dan menyesakkan ini bahkan tidak pernah terlintas di pikirannya.Hal paling mengerikan yang pernah Yeni alami sebelumnya hanyalah malam kelam dua tahun lalu.Namun ini… jauh lebih buruk.Saga mencengkeram pundaknya, memaksanya terus menatap ke bawah.Dia berbisik lembut di telinganya, suaranya seperti racun,“Kalau kamu berani kabur lagi, aku akan meninggalkanmu di sini. Aku bisa melakukannya.”Tubuh Yeni

  • Ranjang Panas Tuan Saga   Panggil Papa

    Yeni berusaha melepaskan diri dari pelukannya, tetapi Saga memegangnya terlalu erat. Sedikit saja dia memberontak, pinggang rampingnya terasa bisa remuk di tangan pria itu.“Aku mau minum air,” ucapnya lirih.Saga melepaskannya begitu saja.Agar Yeni bisa bergerak di dalam rumah, Saga menambah panjang rantai di kakinya, cukup untuk berkeliling ruang tamu.Sesampainya di dapur, Yeni bersandar ke dinding dengan tubuh lemas, napasnya terengah. Dulu Saga sudah memperingatkannya agar tidak mencoba kabur. Jika nekat, akibatnya tak terbayangkan, dia akan melakukan hal-hal gila.Kini, semua itu terbukti.Rantai di kakinya. Kalung pelacak di lehernya. Tubuhnya yang tak lagi bebas. Saga tidak perlu lagi mengancam Mindo atau Dwi. Dia sudah memegang kartu tawar-menawar yang jauh lebih efektif.Yeni tidak pernah mengerti bagaimana seseorang bisa mencintai dengan cara segila ini.“Yeni…”Suara tidak sabar Saga terdengar dari ruang tamu.Yeni gemetar dan segera menuangkan air. Saat kembali membawa d

  • Ranjang Panas Tuan Saga   Rantai Besi

    Dia berusaha menghindar, namun Saga tetap mengaitkan kalung itu di lehernya.Pada pengaitnya tertera kode kecil yang nyaris tak terlihat. Dia tahu, dirinya tidak akan mampu melepaskannya.Saat itu, Yeni benar-benar merasa tercekik.Jika suatu hari dia mencoba melarikan diri lagi, Saga akan menjadi lebih kejam dan tak terkendali.Kekuasaan memberinya kebebasan untuk menjadi sesat.Tiba-tiba, tercium aroma manis yang asing. Sebelum dia sempat bereaksi, Saga mendekat. Yeni hanya menyadari ada sesuatu yang tertelan tanpa dipahami sepenuhnya.Dia segera menjauh, matanya penuh ketakutan. Tangannya refleks melindungi perutnya.Anak…Tatapan Saga langsung berubah dingin.“Kemarilah.”Yeni menggeleng, tubuhnya gemetar, air mata jatuh tanpa suara.Saga mengangkat ponselnya, suaranya rendah dan kejam.“Haruskah aku menyuruh Leo membawa Zinnia pergi lebih jauh?”Wajah Yeni langsu

  • Ranjang Panas Tuan Saga   Cinta Mereka Terlalu Rapuh

    Dengan suara dingin, Saga berkata pada Leo, “Bawa putriku pulang.”Putrinya.Dia tahu.Yeni akhirnya tersadar sepenuhnya. Dia bergegas maju dan menahan mereka.“Saga… kembalikan Zinnia padaku!”Tubuh tinggi Saga menghalangi jalannya. Dia menatap Leo yang membawa Zinnia pergi tanpa ekspresi.Saga lalu menarik pinggang Yeni, menahannya dalam pelukan, dan mencengkeram dagunya dengan satu tangan.Tatapan matanya gelap dan kejam.“Aku bahkan bisa menerima jika pengkhianatan itu dari Leo dan Rev,” katanya dingin.“Tapi kamu, tidak.”Yeni berusaha mendorongnya, namun rasa takut jauh lebih kuat.“Aku—”Dia mencoba menjelaskan, tetapi Saga tidak memberinya kesempatan.“Aku sudah memberimu kesempatan,” katanya sambil tersenyum pahit.“Aku terus mengatakan pada diriku sendiri, selama kamu datang ke rumah sakit menemuiku saat aku tidak muncul di publik, aku akan memaafkanmu.”Dia tertawa kecil, penuh ejekan pada dirinya sendiri.“Tapi Yeni, sikapmu membuatku sadar… aku tidak punya tempat di hatim

  • Ranjang Panas Tuan Saga   Bertemu Kembali

    Yeni tidak lagi memperhatikan berita tentang Saga. Dia membawa Zinnia ke sebuah kota kecil dan menyewa rumah untuk hidup tenang.Hidupnya kembali sunyi dan sederhana.Sedangkan Saga…Seolah lenyap tanpa jejak sejak penembakan itu.Di Kota X, Yeni tidak bisa menghubungi siapa pun. Leo dan Rev juga tidak dapat dihubungi.Kota X berada dalam status darurat militer. Menurut Mindo, seseorang sedang mencarinya, sehingga dia tidak berani kembali.Tentang SagaYeni sendiri tidak tahu perasaan apa yang ada di hatinya.Ada saat-saat di mana dia ingin kembali padanya, tanpa peduli apa pun.Yeni hidup sederhana di kota kecil itu. Dia menolak tawaran Mindo untuk merawat ibu dan anaknya. Dia tahu, tidak ada kemungkinan lagi antara mereka.Karena di dalam hatinya… hanya ada Saga.Bagaimanapun juga, dia dan Mindo tidak memiliki masa depan.Yeni tinggal di kota kecil itu selama tiga bulan. Har

  • Ranjang Panas Tuan Saga   Ternyata Bukan Ulah Saga

    Bahkan Xia dan Xiu yang biasanya selalu berada di sekitarnya pun tidak diketahui keberadaannya.Seolah-olah dalam sekejap, semua jejak Saga di sisinya lenyap begitu saja.Yeni meminta Mindo dan Dwi untuk mencari kabar tentang Saga, tetapi mereka tidak mampu berbuat apa-apa.Saat pikirannya sedang kacau dan panik, Arini tiba-tiba datang.Yeni sedang duduk di ruang tamu sambil menatap ponsel dan membaca berita terbaru. Dia terkejut saat melihat Arini masuk.Arini justru tersenyum.“Ada apa? Sepertinya kamu terkejut melihatku?”Senyum di sudut bibir Arini tampak jahat. Jelas-jelas dia masih memiliki hubungan darah dengan Saga, namun tidak ada sedikit pun kemiripan di antara mereka.Jika Saga adalah iblis yang berdiri terang-terangan, maka Arini adalah iblis yang tersembunyi di balik kulit manis.Penampilannya lembut dan cantik, tetapi hatinya penuh niat buruk.“Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status