MasukSaat merasakan aura maskulin yang sudah lama tidak dia rasakan dari tubuh Bradford, wajah Sissy langsung memerah hingga terasa panas. Dia berusaha bangkit, tetapi seluruh tubuhnya terasa lemas.Kontak jarak sedekat itu dengan lawan jenis membuat tubuhnya tanpa sadar menjadi lemah."Sissy, kamu nggak apa-apa? Perlu aku bantu bangun?" Melihat Sissy yang tampak canggung, Bradford pun bertanya lebih dulu.Harus diakui, saat sedang malu, Sissy benar-benar terlihat seperti orang yang berbeda.Mendengar pertanyaan itu, Sissy hanya menjawab pelan, "Ya."Dengan Bradford melindunginya dari bawah, tentu saja Sissy tidak terluka. Namun, dia sendiri jelas tidak menemukan titik tumpu untuk bangkit.Setiap kali dia mencoba mengerahkan tenaga, yang pertama kali dia rasakan adalah kehangatan dari tubuh Bradford. Ketika Bradford melepaskan kedua lengannya, Sissy seketika merasa bagian depan tubuhnya terasa kosong.Dengan bantuan Bradford, akhirnya mereka berdua berhasil keluar dari posisi canggung itu.
"Ya."Setelah mendengarnya, Sissy tanpa sadar mengangguk. Bahkan dia sendiri sedikit heran mengapa bisa bereaksi seperti itu. Kata-kata Bradford seolah memiliki kekuatan mistis yang memberinya rasa tenang."Oh ya, di mana batu nirbana bintang yang terakhir aku titipkan padamu?"Setelah urusan Framly untuk sementara selesai, Bradford bersiap mengurus hal yang penting."Hah? Oh! Di kantor desa banyak orang keluar masuk, jadi kotak itu aku simpan di lantai dua. Aku ambilkan sekarang!" jawab Sissy segera setelah tersadar.Setelah berkata demikian, dia langsung berjalan menuju tangga di sudut ruangan."Aku bantu."Melihat itu, Bradford segera mengikuti.Kotak berisi batu nirbana bintang setidaknya berbobot 25 kg. Meski Sissy mungkin bisa mengangkatnya, pasti akan sangat berat. Sissy tidak menolak niat baik Bradford. Keduanya pun naik tangga ke lantai dua.Kantor Desa Moza adalah bangunan dua lantai yang sudah berdiri cukup lama. Saat mereka naik, tangga yang agak tua itu mengeluarkan suara
"Kamu punya waktu mengkhawatirkanku, lebih baik khawatirkan dirimu sendiri. Jangan sampai waktu aku datang lagi nanti, kamu sudah dirampas preman itu dan dijadikan istri." Mendengar ucapannya, Bradford menjawab dengan wajah santai sambil bercanda.Bagi Sissy, Keluarga Witansa mungkin adalah gunung besar yang harus dijunjung tinggi. Namun bagi Bradford, mereka paling-paling hanya batu kecil yang mengganjal kaki. Kalau dia mau, sekali tendang saja batu itu bisa lenyap tanpa jejak."Kamu saja yang jadi istrinya! Sudah saat seperti ini, kamu masih sempat bercanda, benar-benar, deh!" balas Sissy langsung dengan kesal."Kalau dipikir-pikir, menurutku Framly itu lumayan juga. Wajahnya tampan, keluarganya kaya, bahkan rela datang jauh-jauh ke sini khusus untukmu. Kamu benar-benar nggak mau pertimbangkan dia?" Bradford berpura-pura serius memberi saran.Bradford memang tidak punya cara untuk menjelaskan terlalu banyak terhadap kekhawatiran Sissy, jadi dia hanya bisa mengalihkan perhatian dengan
Tindakan Bradford yang secepat kilat itu benar-benar membuat nyali Framly menciut. Tanpa izin dari Bradford, Framly bahkan tidak berani pergi begitu saja."Kalau menurutmu seperti ini masih belum cukup, aku nggak keberatan membuatmu berguling untuk keluar." Melihat Framly berdiri terpaku tanpa suara, Bradford langsung menimpali dengan nada dingin.Saat berbicara, tatapannya melirik ke arah kedua kaki Framly.Mendengar ucapannya, Framly seolah mendapat pengampunan. Terutama ketika menyadari arah tatapan Bradford, dia langsung kabur tanpa menoleh. Saat ini, dia bahkan tidak sempat melontarkan ancaman lagi.Padahal ucapannya sebelumnya sudah sekasar itu, tapi Bradford tetap saja bertindak tanpa ragu. Di mata Framly, Bradford hanyalah bocah kasar yang mengandalkan kekuatan semata. Kalau dia masih mencoba pamer latar belakang di depan orang seperti ini, bukankah dirinya ini yang malah akan terlihat seperti lelucon?Tentu saja, Framly tidak lupa menyeret kedua pengawalnya saat pergi. Sebab,
"Hati-hati!" Setelah dua anak buah Framly bergerak, Sakti refleks berteriak mengingatkan.Sementara itu, Sissy yang berada di samping kepala desa tua malah tidak bersuara. Sissy pernah melihat kemampuan Bradford di acara lelang batu. Dua orang di belakang Framly itu kemungkinan besar tidak akan berhasil.Meski begitu, di wajahnya masih tampak kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. Berbeda dengan Sakti, yang dikhawatirkan Sissy jelas bukan hanya dua orang itu.Saat dua pengawal itu hampir menyentuh Bradford, mereka bahkan sudah bisa melihat bayangan diri mereka di mata lawan."Ah ...."Dua pria bertubuh besar itu tiba-tiba terpental tanpa tanda apa pun. Bahkan sampai saat itu, senyum di wajah mereka belum sempat menghilang.Disertai suara berat karena terjatuh ke tanah, kedua pengawal Framly meringkuk sambil memegangi perut mereka dengan wajah penuh kesakitan.Di mata para warga yang menyaksikan, Bradford seolah tidak melakukan gerakan apa pun. Hanya Framly yang samar-samar melihat
Hari ini Framly datang ke Desa Moza dengan membawa orang-orangnya. Tujuannya adalah membawa Sissy pulang untuk menikah. Dulu saat mengetahui tentang perjodohan ini, Sissy langsung menyatakan penolakan.Sejak kecil sampai sekarang, Sissy bahkan belum pernah menjalani hubungan cinta yang serius. Bagaimana mungkin dia rela menikah dengan pria yang bahkan belum pernah dia temui?Namun, keluarga Sissy sudah bulat tekad untuk mewujudkan pernikahan itu. Karena tidak mampu melawan, Sissy diam-diam melarikan diri dari rumah dan pergi ke Desa Moza.Sebenarnya Framly seharusnya sudah datang sejak lama, tetapi tertunda oleh beberapa urusan hingga baru tiba hari ini. Bradford datang membawa giok yin-yang, dan kebetulan bertemu dengan situasi ini."Sissy, pantas saja kamu kabur ke tempat terpencil begini. Ternyata kamu punya simpanan di sini! Padahal Paman bilang kamu masih gadis suci. Hah, benar-benar nggak tahu malu!" Framly memarahi Sissy dengan wajah muram.Kali ini untuk pertama kalinya, Framly







