LOGINDia ragu berkali-kali, tetapi pada akhirnya tetap tidak memiliki keberanian untuk mengakui hubungan mereka. Bagaimanapun juga, dia belum pernah bertemu langsung dengan Keluarga Taniwan, dan dalam pemahaman Keluarga Taniwan, dirinya pun sudah lama dianggap meninggal.Setelah Bernard dan Kaley pergi, Bradford berjalan perlahan dan duduk di kursi yang tadi diduduki Bernard. Pikirannya terasa kacau.Tanpa terasa, lebih dari satu jam berlalu. Tiba-tiba, ponsel Bradford berdering.Bradford mengeluarkan ponselnya. Ternyata yang menelepon adalah Aulia, pramugari bertubuh proporsional yang dia kenal di pesawat hari ini.Bradford mengangkat telepon. "Halo.""Pak Bradford, aku nggak mengganggu Bapak, 'kan?" Suara Aulia terdengar lembut dan enak didengar."Nggak, silakan," jawab Bradford.Aulia berkata dengan sopan, "Pak Bradford, siang ini aku ada rapat di bandara, baru saja selesai kerja. Aku ingin menanyakan, kapan Bapak punya waktu? Aku ingin mengundang Bapak ke rumahku untuk memeriksa kondisi
Tempat tinggal Bernard di Gang Jarayu memang sudah tua dan rusak, tetapi pemandangan di sekitarnya benar-benar indah.Sebagai contoh, taman kecil di hadapannya. Taman itu berdiri di tengah kepungan gedung-gedung tinggi, tetapi malah memancarkan nuansa tenang bak surga tersembunyi.Di sisi kiri dan kanan jembatan kecil serta aliran air yang jernih, tumbuh bambu hijau dan bunga-bunga merah. Di air yang berwarna hijau zamrud itu, tampak ikan koi, burung gagak, serta dua ekor angsa putih yang besar.Bernard berjalan ke tepi sungai kecil itu. Dengan tangan gemetar, dia mengeluarkan segenggam pakan ikan dari sakunya lalu menaburkannya ke dalam air. Dalam sekejap, ada banyak ikan koi yang berebut makanan.Setelah itu, dia mencari sebuah kursi dan duduk. Dia mulai berbicara sendiri. Ekspresinya begitu beragam, kadang serius, kadang penuh kasih.Bradford mendengar setiap kata yang diucapkan Bernard tanpa terlewat satu pun. Apa yang dia ucapkan terdengar acak dan terputus-putus, kebanyakan berka
Namun, wajahnya yang telah meninggalkan jejak usia itu selalu tampak tersenyum, seolah ada sesuatu yang membuatnya bahagia.Di bawah pohon dedalu di ujung gang, beberapa orang lansia duduk bersama bermain catur. Salah satu dari mereka melihat lelaki tua itu lalu tersenyum dan bertanya, "Pak Bernard, hari ini keluar jalan-jalan sendiri? Bawa nomor telepon istrimu nggak?""Untuk apa aku bawa nomor telepon dia?" Bernard melirik lawan bicaranya dengan wajah sedikit bingung.Orang itu tertawa dan berkata, "Ya siapa tahu kamu nyasar.""Aku sudah setua ini, cuma jalan-jalan di depan rumah sendiri, mana mungkin bisa nyasar?" Bernard mendengus kesal."Ya juga sih, aku cuma bercanda saja." Lelaki tua itu menggeleng tak berdaya, lalu tiba-tiba menampakkan senyum licik dan menggoda, "Oh ya, Pak Bernard, anak ketiga keluargamu sudah pulang belum?""Hampir, hampir. Anak ketiga kami sebentar lagi lulus kuliah. Begitu dia lulus, dia bisa pulang," jawab Bernard.Begitu mendengar orang lain menyinggung
Saat itu, Divya mengantar Bradford dan Hasna, sementara Yahya mengemudi mobilnya sendiri dan mengikuti dari belakang. Mereka tiba di Rumah Sakit Afiliasi Universitas Kedokteran Jiramo.Setelah serangkaian pemeriksaan, hasil pemeriksaan Divya akhirnya keluar. Ternyata benar, dia tidak mengidap penyakit jantung. Bahkan, kondisi jantungnya lebih baik daripada orang normal.Sambil memegang hasil pemeriksaan, Divya meneteskan air mata. Hasna pun ikut bergembira. "Penyakit Ibu sudah sembuh! Penyakit Ibu sudah sembuh! Hebat sekali!""Gimana? Sekarang kamu sudah puas? Dengan hasil pemeriksaan ini, kita nggak perlu takut sekalipun dibawa ke pengadilan," ujar Bradford dingin sambil melirik Yahya. Setelah itu, dia membawa Divya dan Hasna pergi.Yahya menatap punggung mereka yang menjauh dengan wajah penuh ketidakpercayaan. Tak lama kemudian, dia pun memutuskan untuk menjalani pemeriksaan sendiri.Lebih dari satu jam kemudian, dia memegang hasil diagnosisnya dengan tatapan kosong.[ Herpes ganas,
Bradford berkata dengan nada datar, "Coba kamu lihat, apa dia kelihatan seperti orang yang punya penyakit jantung? Kamu menekannya sampai seperti ini, membuatnya begitu emosional, tapi bukankah dia tetap berdiri baik-baik saja di sana?"Yahya mendadak tertegun, menatap Divya dengan ekspresi terkejut. Bahkan Divya sendiri baru tersadar akan hal ini.Dia tidak boleh mengalami gejolak emosi yang hebat karena penyakit jantungnya. Jika tidak, pasti akan menyebabkan napas menjadi pendek, suplai darah tidak mencukupi, lalu syok hingga pingsan.Sekarang, meskipun hatinya diliputi kesedihan, dia tetap berdiri dengan stabil dan tubuhnya sama sekali tidak merasakan ketidaknyamanan apa pun.Saat ini, Divya tak bisa menahan diri untuk teringat pada perkataan Bradford saat mereka makan di lantai atas sebelumnya. Mungkinkah ... penyakit jantungnya benar-benar telah disembuhkan oleh Bradford?Memikirkan hal itu, dengan perasaan campur aduk antara terkejut, gembira, dan ragu, Divya menatap Bradford dan
"Kurang ajar, kamu benar-benar berani memukulku?" Yahya menutupi wajahnya sambil menatap Bradford dengan tak percaya, marah, dan kaget."Orang tak berperikemanusiaan sepertimu bahkan lebih rendah dari binatang. Kenapa aku nggak boleh memukulmu?" tanya Bradford dengan dingin. "Istri sahmu sakit parah, pilihan pertamamu justru cerai. Nggak punya sedikit pun rasa tanggung jawab dan komitmen. Kamu sama sekali nggak pantas disebut manusia!"Di sekitar mereka, cukup banyak orang yang menonton. Saat itu, mereka pun ikut bersuara."Benar! Istrinya sakit, dia langsung minta cerai. Sekarang malah mau merampas anak dari tangan mantan istrinya. Masih pantaskah dia disebut manusia?""Nggak tanggung jawab sekali. Sekalipun anak diserahkan kepadanya, pasti nggak akan dia rawat dengan baik. Bisa jadi suatu hari anaknya sakit, dia malah tega membuangnya."Yahya murka, berteriak ke arah orang-orang di sekitarnya, "Ini urusan keluargaku sendiri! Kalian semua diam!"Setelah itu, dia menoleh ke Divya, meng







