เข้าสู่ระบบKereta kuda berhentu perlahan di depan gerbang besar yang kini berdiri megah. Ekspresi Griceliene yang semula bersinar malu-malu berubah menjadi kerut kening penuh keraguan. Ia menatap tajam ke arah suaminya yang berdiri di sana dengan senyum hangat namun matanya menyimpan sesuatu yang tak terucapkan. "Apakah kau yakin membawa begitu banyak pengawal?" suara Griceliene bergetar, menahan amarah yang mulai menggelegak. Napasnya terasa sesak, seolah ruang geraknya semakin menyempit oleh sikap posesif sang suami. Tiga pelayan dan dua puluh pengawal—bukan hanya jumlah yang berlebihan, tapi simbol ketakutan dan penjagaan berlebihan yang membuatnya merasa seperti tawanan, bukan istri yang dicintai. Camille melangkah mendekat, tangannya meraih lengan Griceliene dengan lembut, mencoba meredakan ketegangan yang membara. "Aku hanya ingin melindungimu," bisiknya penuh kasih sayang, namun nada suaranya menyimpan sedikit kekhawatiran yang tersembunyi. Griceliene menghela napas panjang,
Griceliene menghembuskan napas kasar, tingkah suaminya semakin lama terlihat tidak normal, kalau begini terus. Ia bisa yakin, akhir hidupnya pasti akan sama dengan yang di katakan oleh Tristan. Kecemburuan dan rasa posesif yang tidak sehat. Bagaimana pun juga, ia tidak ingin hidupnya berakhir sia-sia dengan bunuh diri karena keputusasaan. Camille yang sedang duduk di depannya bisa menebak apa yang ada di dalam pikirannya sekarang. Intinya, Camille sekarang ini hanya memiliki dua pilihan. Kehilangan istrinya untuk sementara, atau benar-benar kehilangannya untuk selamanya. Walaupun hatinya terus memberontak keputusannya, setelah berpikir panjang dan mempertimbangkan apa yang di katakan Tristan. Camille harus mengubah sikapnya. "Istriku ... Kenapa tidak di makan?" Tanya Camille penuh perhatian, ia tersenyum tulus tanpa celah seolah-olah tidak memikirkan apapun. Camille adalah seorang transenden yang sudah mencapai kemampuan tipe max, bahkan ia juga sudah bisa mengendalikan keku
Dari awal, intuisinya mengatakan ada yang tidak beres, walaupun Griceliene tipe orang yang tidak mudah percaya dengan rumor yang keluar dari mulut orang tanpa melihatnya sendiri. Namun, waktu mendengar rumor buruk tentang suaminya, ia merasa itu bukanlah sebuah rumor belaka. Hatinya kadang berdenyut nyeri, saat membicarakan ketidak pedulian Camille padanya sebelum ia hilang ingatan. Sekarang membayangkannya pun, Griceliene merasa tak sanggup. Dari awal ia memang tidak yakin, kalau cinta suaminya itu tulus dan murni padanya. Walaupun suaminya sangat bersikap baik dan begitu memanjakannya. Awalnya, Griceliene berniat memafkan kesalahan suaminya sebelum ia hilang ingatan. Karena ia mengira, Camille selalu bersikap memanjakannya sejak menikah. Ternyata ia salah. Camille justru menyiksanya dengan kejam, membiarkannya kedinginan dan kelaparan saat hamil, bahkan tak peduli ketika para pelayan menyiksanya hingga hampir sekarat. Hanya membayangkannya saja sudah membuat air matanya ja
Griceliene tenggelam dalam lamunannya, ia tak menyangka Camille tega melakukan itu pada bayi mereka. Walaupun ia hilang ingatan, ia bisa dengan yakin kalau bayinya itu milik Camille. Otak Griceliene terus memutar ulang percakapan antara Duke Tristan Vale dan suaminya. "Benarkah? Aku pernah hidup di kehidupan sebelumnya, lalu memilih mengakhiri hidupku sendiri karena keguguran dan kematian beberapa kali anak dalam kandunganku, dan penyebab semua itu adalah suamiku sendiri ..." desah Griceliene dalam hati, matanya tampak resah. "Kenapa diam? Apakah kamu tidak mau memaafkanku? Lalu bagaimana caranya agar kita tidak canggung dan bisa bersikap seperti biasa?" tanya Camille dengan suara serak. Griceliene menjawab, "Entahlah. Aku masih bingung. Mungkin jika kamu memberiku waktu sendiri untuk berpikir, aku bisa mengambil keputusan dengan lebih jelas." Camille mengeratkan pelukannya. Istrinya meminta waktu sendiri, baginya itu sama saja dengan perpisahan. Camille merasa tak sanggup, ap
Malam sudah sangat larut, bahkan terasa menuju pagi. Udara di kastil Grand Duchy terasa dingin menusuk tulang. Sedari tadi, Camille masih berdiri terpaku di depan pintu kamar Griceliene, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, berusaha menahan gelombang penyesalan yang membuncah.Matanya merah dan sembab, menunjukkan betapa lama ia berdiri di sana, merenungi kesalahan yang mungkin tak mudah untuk dimaafkan. Jantungnya berdebar tak menentu, antara keinginan memaksa masuk dan rasa takut akan reaksi istrinya yang rapuh.Dengan napas tertahan, Camille perlahan membuka pintu, langkahnya ringan agar tidak mengganggu. Di dalam kamar yang remang oleh cahaya bulan, ia melihat Griceliene terlelap, wajahnya tenang namun menyimpan kepedihan yang dalam. Rambut warna pink yang terurai menutupi bantal, sorot matanya yang terpejam tampak begitu damai, seolah-olah luka hati itu sedang berusaha disembunyikan.Camille mendekat, hatinya sesak namun ia tak bisa menahan diri. Ia membungkus tubuh is
Sinar rembulan perlahan merambat melalui celah-celah tirai berat, menyelimuti ruangan dengan cahaya perak yang dingin dan misterius. Di teras kastil utama Grand Duchy yang baru jadi. Grand Duchess Griceliene duduk tenang di samping Kaisar Michael menghadap taman luas.Meja kecil berukir indah telah dipersiapkan dengan beberapa kudapan ringan, namun suasana malam itu terasa berat, seperti bayangan yang menyelimuti hati mereka berdua.Kaisar Michael menatap Griceliene dengan mata penuh keprihatinan, suaranya lirih namun tegas, Kamu hamil, angin malam semakin dingin. Kita bicara lain waktu saja." Kata-katanya mengandung ketulusan dan kekhawatiran yang dalam, seolah ia ingin melindungi Griceliene dari beban yang terlalu berat malam ini.Griceliene menghela napas pelan, dadanya terasa sesak seolah ada sesuatu yang meremas jantungnya. Tatapannya tertuju pada piring kecil yang berisi kudapan, namun pikirannya melayang jauh. Perasaan yang dimiliki Kaisar begitu berbeda dari suaminya, leb







