Share

Bab 9

Author: Darmawangsa
Namun, penyakit itu benar-benar sembuh?

“Gimana kalau Johan diberi kesempatan untuk coba? Nggak akan makan banyak waktu.”

Kirana masih berusaha yakinkan semua orang.

Nabila nggak langsung berkomentar. Ia melangkah mendekati Johan, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki.

Sepanjang waktu itu, jarinya memainkan sebilah belati pendek. Pisau itu berputar-putar, bentuk kilatan bunga pisau yang dingin dan mengerikan.

Setelah lama mengamati, Nabila akhirnya tarik pandangannya dan berkata singkat, tanpa emosi, “Karena Nona Kirana bilang kamu bisa bangunkan Bagas, aku akan percayai kamu sekali ini. Jika berhasil, aku berutang satu budi ke kamu. Namun jika gagal, aku akan bunuh kamu!”

Sret!

Begitu kata-kata itu jatuh, Johan rasakan hawa dingin sentuh lehernya.

Belati yang tadi berputar kini telah menempel tepat di kulit lehernya, dinginnya menusuk hingga ke tulang.

Johan refleks mundur selangkah.

“Kamu yakin bisa?” Kirana tanya dengan cemas.

“Aku akan coba. Tapi, ada satu syarat, aku butuh lingkungan yang benar-benar sunyi,” jawab Johan dengan tenang.

Namun orang-orang kira ia sedang minta ruangan dikosongkan.

“Anak muda, baru dikasih muka sudah berani macam-macam? Kalau kamu gagal, tahu nggak apa yang sudah tunggu kamu?”

Faris menatap Johan seolah menatap mayat hidup.

Berani hina Bagas? Anak muda ini sudah mati sebelum bertarung!

Meski begitu, Kirana tetap berusaha penuhi permintaan Johan.

Nggak hanya semua orang dikeluarkan, seluruh lantai rumah sakit itu pun dikosongkan!

Seorang pengawal tiba-tiba mendekat dan berbisik, “Nona, tiga wanita yang lukai hati Johan juga ada di lantai ini.”

Srek!

Wajah Kirana langsung membeku, dingin hendak membunuh.

“Di mana mereka? Biar aku yang akan datang sendiri!”

Pikiran Kirana sederhana, balasakan amarahnya Johan!

Setelah tahu pengalaman hidup Johan, reaksi pertamanya hanyalah amarah.

Johan adalah penyelamat nyawanya, namun tiga wanita itu justru perlakukan dia seperti pengganti, seperti mainan.

Saat senang, mereka manfaatkan dia. Saat bosan, mereka tendang dia pergi.

Apa mereka benar-benar kira diri mereka putri bangsawan yang nggak tersentuh?

Kalau begitu senang injak harga diri orang lain, hari ini biar mereka merasakan sendiri gimana rasanya diinjak!

Kirana tiba di depan kamar rawat inap tempat Reza dirawat.

Saat hendak dorong pintu, ia dengar suara dari dalam.

Suara Reza bercampur dengan tawa renyah tiga nona muda.

“Ayu, gimana kalau kalian usir Kak Johan pergi?” Nada suara Reza terdengar santai, namun terselip niat menguji.

“Selama ini Kak Johan terus donorkan darah untukku, itu pasti nyusahin dia. Lagian, aku nggak ingin berbagi kalian dengan orang lain. Rasanya aneh.”

Ia bahkan tambahkan, seolah-olah bermurah hati, “Tentu maksudku bukan usir dia seperti anjing. Tapi kasih saja dia kebebasan dan jangan biarkan dia donorkan darah lagi untuk aku.”

Bukan hanya nggak merasa bersalah, ia malah ingin usir Johan?!

Wajah Kirana di balik pintu semakin gelap, matanya menatap reaksi Ayu dan dua lainnya.

“Oke … nggak … mungkin lain kali saja kita bahasnya.”

Ayu dan dua lainnya hampir saja mengangguk setuju.

Namun tepat sebelum kata itu keluar, mereka mendadak terdiam.

Di wajah mereka muncul rasa terkejut dan bingung.

Baru saat itu mereka sadar, bukannya selama ini mereka pertahankan Johan hanya karena dia pengganti Reza?

Kini Reza sudah kembali, seharusnya keberadaan Johan nggak dibutuhkan lagi.

Lalu, mengapa mereka nggak pernah benar-benar berpikir untuk biarkan dia pergi?

Perasaan mereka bertentangan, nggak ingin Johan muncul lagi ganggu hidup mereka, namun juga nggak mau lihat dia benar-benar pergi.

“Kita kan masih butuh dia untuk transfusi darah Reza.”

Mereka coba tenangkan diri, namun hati mereka telah kacau balau.

Sebaliknya, wajah Reza langsung menggelap. Di balik matanya, kilatan niat membunuh melintas.

Ia cuma sedang uji mereka, gimana sikap mereka jika Johan pergi.

Namun mereka ragu.

Keraguan itu justru menyalakan api membunuh di hatinya. Johan harus mati!

Begitu ia temukan pendonor darah lain yang cocok, ia akan bunuh Johan tanpa ragu!

BRAK!

Saat ia hendak lanjutkan ucapannya, pintu kamar terbuka dengan keras.

Seorang wanita yang sangat cantik berdiri di ambang pintu, tatapannya dingin menusuk langsung ke arah mereka.

“Reza, yah?” Kirana tanya dengan suara membeku.

Reza tertegun. “Iya, kamu siapa?”

Kirana terlalu cantik. Perhatian Reza sepenuhnya tersedot, tatapannya terpaku lurus ke Kirana.

Sementara itu, Ayu, Dewi, dan Fitri berdiri bersamaan, tatapan mereka penuh rasa waspada dan permusuhan.

“Usir mereka semua.”

Begitu kata-kata Kirana keluar, dua pengawal langsung masuk, siap usir mereka keluar dari ruangan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 50

    “Johan, ini adalah Token Napas Naga milik Pasukan Napas Naga kami!”“Johan, ini Token Harimau Putih dari Pasukan Harimau Putih!”“Johan, ini Token Taring Serigala dari Pasukan Taring Serigala!”Johan berada dalam dilema, diterima salah, ditolak pun nggak enak.“Terima saja. Nanti, ke depannya kamu akan butuh itu.”Lanny tersenyum sambil berkata demikian.Barulah Johan terima semuanya.“Kalau gitu, terima kasih kepada para kapten.”Makna dari keempat token itu terlalu besar!Itu adalah simbol kekuatan pasukan khusus yang mengguncang setengah dunia militer!Cukup untuk buat sebuah negara merasa gentar!Ke depannya, siapa lagi yang berani sentuh Johan? Dan itu bahkan belum termasuk tiga pasukan khusus lainnya!Ia telah selamatkan Bagas, artinya ia adalah Penolong Besar Tujuh Pasukan Khusus!Nggak heran semua orang ingin kasih yang terbaik.Masalah pun terselesaikan dengan sempurna.Dalam perjalanan pulang, Kirana terus menatap Lanny dengan sorot mata aneh.“Bibi, kamu suka Kak Johan, yah?

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 49

    Mana bisa ini disebut isyarat halus?Itu jelas sudah terang-terangan sekali!Namun Johan pura-pura nggak lihat apa pun.Sejak awal, ia memang nggak pernah akui kalau Nabila punya “utang budi”, hanya Nabila saja yang terus-terusan ungkit itu.Sebaliknya, Nabila justru mulai gelisah. Ia sudah kasih isyarat sejelas itu, namun Johan tetap nggak ada reaksi sama sekali?“Kamu itu kenapa sih, kok dari tadi kedip-kedip mata begitu?”Terry yang ada di sampingnya lihat perubahan ekspresi Nabila dan nggak tahan untuk tanya.“Ah? Nggak apa-apa kok ….”Nabila buru-buru tarik kembali pandangannya dan tundukkan kepala.Johan telah nolak dia.Rasa frustrasi datang bercampur dengan kekesalan.Gimanapun juga, ia adalah wanita terkenal dalam militer. Wajah cantik, tubuh proporsional, semuanya ada. Kenapa Johan nggak tertarik sama sekali?Walaupun sudah ada Kirana, masa sampai abaikan dia seperti ini?Nabila merenung sejenak, lalu merasa masalahnya ada pada kesan pertama, saat pertama kali ketemu Johan, i

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 48

    Lihat pemandangan itu, Nabila dan Xavier langsung murka.“Hei, Harvey! Terry! Kalian berdua masih punya muka, nggak?! Kita datang ke sini untuk lindungi keselamatannya Johan! Tapi kalian malah jadikan ini ajang cari muka?!”Mereka bahkan belum sempat buka mulut, dua orang yang datang belakangan ini justru sudah lebih dulu bicara tanpa sungkan!“Bukannya Johan berdiri di sini dengan sangat aman?”Terry dan Harvey masih genggam tangannya Johan, seperti genggam harta karun, nggak mau lepaskan.“Dengan kemampuan Johan yang setinggi ini, kalau berada di luar sungguh sia-siakan bakatmu. Kamu tertarik nggak untuk bergabung dengan Pasukan Taring Serigala? Seluruh saudara kami anggap kamu sebagai penyelamat. Mereka semua ingin ketemu dengan kamu! Ada banyak posisi di Pasukan Taring Serigala, kamu mau lakukan apa pun, silakan.”Harvey lontarkan undangan dengan sangat alami.Terry ikut menimpali, “Kalau nggak tertarik ke Pasukan Taring Serigala juga nggak masalah. Pasukan Harimau Putih kami juga

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 47

    Bum!Krak!Krak!Dalam sekejap mata, tiga pria berbaju hitam roboh bersamaan, leher mereka terpelintir patah.Cepat. Bersih. Mengerikan.Hanya tersisa satu orang, pemimpin mereka yang masih berdiri.“Hissh!”Pria itu tersadar, seluruh bulu kuduknya berdiri.Ia tarik napas dalam-dalam, dingin menjalar hingga ke tulang.Bahkan Nabila dan Xavier yang berada nggak jauh dari sana pun membeku di tempat.Apa yang baru saja mereka lihat?!Johan, orang yang seharusnya mereka lindungi dengan nyawa baru saja patahkan leher tiga pembunuh kelas atas dengan begitu mudah?!Terry dan Harvey yang baru pertama kali lihat Johan benar-benar terguncang!Bukannya katanya Johan perlu perlindungan?Bukannya kata mereka, dia “kelinci putih” yang nggak berdaya?Lalu apa ini?!Dia bunuh pembunuh kelas elit dalam hitungan detik?!Apa kalian bercanda?!Namun, Xavier dan Nabila pun sama terdiamnya.Ini … ini ….Bahkan Kirana dan Lanny menatap dengan mata terbelalak, nggak percaya.Sementara itu, Johan yang belum sa

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 46

    Mereka melaju secepat mungkin menuju vila pinggiran kota milik Lanny.Begitu lihat begitu banyak orang datang bersamaan, Lanny langsung terkejut.“Kenapa ini? Kalian mau apa?”“Bibi, di mana Kak Johan?”Kirana tanya dengan wajah penuh kecemasan.“Adik kecil itu? Dia sudah pergi dari tadi.”Lanny tertegun sejenak, lalu jawab dengan nada heran.“Apa?! Sudah pergi?!”Begitu dengar itu, raut wajah semua orang langsung berubah drastis.Kirana bahkan hampir nangis.“Kak Nabila, gimana ini? Kak Johan sudah lama perginya, sekarang nggak ada yang tahu dia di mana. Jangan-jangan dia sudah ….”Kalimat itu terputus di tenggorokan. Air matanya jatuh deras, seperti mutiara yang talinya putus.Wajah Nabila pucat pasi, sementara keringat dingin mengalir di pelipis Xavier.“Kenapa sebenarnya? Apa yang terjadi?”Lihat situasi semakin nggak wajar, Lanny nggak bisa nahan diri untuk tanya.Nabila terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Ada orang yang ingin bunuh Johan .…”“Apa?!”Boom!Kepala Lanny seketika

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 45

    Harvey tiba-tiba ubah nada bicaranya, menatap Bagas dan yang lainnya.Mata Nabila dan Xavier langsung berubah.Sial! Mereka diam-diam mengumpat dalam hati.Mereka sempat kira Harvey dan Terry hanya datang untuk jenguk, nggak nyangka justru singgung soal Johan!Xavier nyaris menggeram. Licik!Jelas-jelas mereka sengaja.Mereka pasti sudah lama tahu informasi tentang Johan.Selama ini, Pasukan Napas Naga dan Pasukan Kopa Cara saja sudah saling bersitegang, kalau dua orang ini ikut terlibat, situasinya bisa makin kacau!Pikirkan hal itu, raut wajah Nabila dan Xavier pun segera mengeras. Namun Bagas sama sekali nggak pikirkan urusan itu.Ia justru senang bisa ceritakan kembali pengalaman dirinya yang nyaris masuk ke gerbang kematian.“Kalian bicara soal Johan? Kalian pasti sudah dengar kabarnya, nyawa tua ini sebenarnya sudah hampir masuk ke alam baka. Tapi Johan dengan paksa tarik aku kembali dari gerbang neraka! Kalian bilang, ini ajaib atau nggak? Hahaha!”Begitu dengar kisah itu, mata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status