Beranda / Urban / Penyesalan Setelah Poligami / 44. Permintaan Mama Fitri

Share

44. Permintaan Mama Fitri

Penulis: Pujiati
last update Tanggal publikasi: 2022-07-08 13:12:45
"Maaf ya, belum di persilahkan masuk Mama sudah masuk," ucap Mama.

"Akram, kamu sudah siap. Ingat ya, Mama ingin lontong sayur yang itu, kamu paham kan tempatnya? Sama kue di tempat biasa, untuk lontong sayurnya kalau tidak berangkat jam segini nanti nggak dapat. Ingat, jangan sampai kamu nggak dapat!" ucap Mama serius, aku sampai bingung mencerna kalimatnya. Lontong sayur, kue? Dimana belinya? Kapan aku tau tempat itu?

"Mah, Abang belum sholat subuh,"

"Fitri, suami kamu sekalian subuh di Mas
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Tika lia
Kok ada ya, wanita seperti itu. Gregetan jadinya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Penyesalan Setelah Poligami   98. Rasa tak lagi sama

    Fitri saat ini sudah berada dibalik kemudi, harapannya setelah badai berlalu hanya tinggal kebahagiaan. Hatinya belum sepenuhnya sembuh, namun setidaknya dia masih memiliki kepercayaan dan cinta untuk mempertahankan biduk rumah tangganya. Wanita itu tidak berani berandai-andai, yang bisa dia lakukan adalah berdoa dan melakukan yang terbaik. Biarkan dikatakan bodoh sudah memberi kesempatan laki-laki yang sudah tega berselingkuh namun, dia percaya jika manusia punya kesempatan untuk berubah. "Bismillah... masih ada waktu jalannya tak perlu buru-buru," sebelum menginjak gas, dia mengirimkan pesan terlebih dahulu kepada suaminya. [aku berangkat, Bang] ia tahu suaminya masih berada di pesawat, tanpa menunggu balasan wanita itu langsung menginjak gas perlahan meninggalkan rumah. Sampai di bandara wanita itu turun dengan anggun, menuju tempat pintu keluar bergabung dengan teman-teman lainnya. Dia terus meyakinkan diri akan harapan, pertemuannya nanti akan memberikan cinta dan kehanga

  • Penyesalan Setelah Poligami   97. Rencana Menjemput Akram

    Fitri terus mondar-mandir menanti kabar suaminya. Sementara suaminya justru lupa karena kesibukannya menghadiri meeting. Sampai malam pukul 20.00 Akram baru memberi kabar kepada istrinya. "Sayang, maaf baru mengabari," kalimat pertama yang terlontar dari bibir Akram saat Video Call. "Hem ...," sahut istrinya sambil manyun. "Jangan begitu, Sayang. Abang langsung meeting begitu sampai, hanya ada waktu buat ganti baju saja," ujar Akram memberi pengertian. "Iya, Bang. Tidak apa, aku tidak apa-apa kok," sahut Fitri. "Wanita itu, ketika sedang bicara tidak apa-apa, justru sedang ada yang di rasa," ucap Akram tersenyum tipis. "Masa, ... sejak kapan tahu tentang itu?" tanya Fitri masih dengan nada kesal. "Sayang, yang penting kamu bisa lihat Abang baik-baik saja. Maaf kalau tidak sempat mengabarimu siang tadi," ungkap Akram dengan tulus dan penuh sesal. "Abang sekamar sama siapa?" tanya Istrinya. "He ... sendiri. Memang sama siapa? Maunya sama kamu, Sayang," tanya Akram. "Gombal,

  • Penyesalan Setelah Poligami   96. Keberangkatan Akram

    Akram mendekati istrinya, ia peluk dari belakang, "Sayang, Abang akan menjaga hati ini untuk istri dan anak-anak."Akram memutar tubuh istrinya sehingga keduanya saling berhadapan, "Abang tahu, kamu masih ragu dengan kesetiaan Abang. Mungkin saat inilah abang harus membuktikan," ucap Akram sambil memegang kedua pipi istrinya."Abang, maaf," cicit Fitri merasa bersalah, meragukan kesetiaan suaminya. "Tidak masalah, justru Abang senang. Tandanya istriku ini mencintai Abang," ucap Akram mencubit hidung istrinya dengan gemas."Ayo, Bang. Kasihan yang menunggu. Mobilnya di bawa saja, Bang!" ucap Fitri melanjutkan memasukan baju di koper buat suaminya. "Tidak perlu, Sayang. Buat kamu dan anak-anak saja, Abang naik pesawat," sahut Akmar. Menggeret kopernya di ikuti Fitri. "Astaghfirullah, kok aku lupa," Fitri menepuk keningnya dengan tangan kanannya."Saking galaunya di tinggal suami tercinta," sahut Akram. Membuka bagasi memasukan koper, ia menutup kembali.Setelah sabuk pengaman terpasa

  • Penyesalan Setelah Poligami   95. Kecemasan Fitri dan Syifa

    "Anak-anak sudah ngantuk, aku ke dalam dulu ajak mereka, Ma," pamit Fitri, mama mengangguk dan dia mulai mendekati anak-anak. Terlihat anak-anak membereskan mainan sebelum meninggalkan ruang bermain. Sepeninggal Fitri, Lak Farid berkata, "Kasihan Fitri penasaran tingkat tinggi, Pa.""Biarkan saja, siapa suruh kalau menyangkut suaminya penasaran sampai tidak ketulungan," sahut Papa santai."Memang apa yang Papa bicarakan dengan Akram?" tanya Mama."Apalagi, jika bukan soal pekerjaan. Masalah pribadi keluarga kita kondisi bahagia begini," sahut Papa seperti tanpa beban. "Akram, saja selama kamu bertugas anak-anak mau dimana?" tanya Papa. "Di sini saja mungkin, di rumah sendiri Bapak Ibu sedang berkunjung ke rumah adik," jawab Akram. "Mama senang banget itu, sudah senyum-senyum sendiri," sahut Farid."Berapa hari ke luar kotanya?" tanya Farid."4 hari, Kak," jawab Akram."Pa, Ma, ke dalam dulu. Fitri sendirian kasihan," pamit Akram. Akram berjalan menuju kamar anak-anak. Hilda satu

  • Penyesalan Setelah Poligami   94. Fitri Penasaran

    "Bang Akram ke dalam tadi, Pa," sahut Fitri menatap Papa dengan penuh tanya."Papa tidak melihatnya, Sayang. Barusan Papa juga dari dalam," sahut Papa.Fitri bangkit dari tempatnya duduk, mencari keberadaan suaminya. Tujuan utamanya adalah kamar, dugaan Fitri tepat. Suaminya sedang tidur pulas."Di cari ternyata tidur, Bang," gumam Fitri lirih sambil mengatur suhu kamar agar suaminya nyaman.Fitri berjalan kembali ke ruang tamu, duduk di samping Papa. Fitri menggeryit, Papa terlihat berbicara sangat serius dengan Aldo."Dimana suamimu, Sayang? Sudah ketemu," tanya Papa lagi, menyadari kehadiran putrinya."Tidur, Pa," sahut Fitri."Ya sudah, nanti kalau sudah bangun suruh menemui Papa," titah Papa melengkungkan bibirnya membetuk senyuman."Baik, Papa.""Mba Fitri jika lelah, tidak apa kami di tinggal. Lulu belum juga mau pulang," ucap Indak merasa tidak enak.Anak-anak bermain di ruang keluarga di temani Grandma dan pelayan. "Aku masih kuat, Indah. Masih semangat begini," sahut Fitri

  • Penyesalan Setelah Poligami   93. Papa Mau Bicara Dengan Akram

    Setelah mobil menepi dan berhenti, Akram memeluk erat tubuh istrinya yang masih bergetar. Memori Fitri kembali ke dua puluh tahun silam. Saat dia dan keluarganya berlibur ke Puncak dan Kakek dari Mama membicarakan kematian, seolah berpamitan dan itu merupakan pesan terakhir. Saat itu sedang dalam perjalanan akan berlibur, beberapa saat setelah kakeknya berbicara, mobilnya oleng menghindari tabrakan justru mobil menabrak pembatas jalan. Mobil tidak rusak berat, semua tidak ada yang terluka namun, Kakeknya Fitri yang mengidap jantung tidak selamat, bukan karena kecelakaan namun, jantung kambuh saat ada benturan. Sejak saat itu Fitri paling takut membicarakan kematian saat dalam perjalanan."Sayang, maafkan Abang," ucap Akram sambil menenangkan istrinya dengan lembut, di usap punggungnya dengan halus, perlahan tangisan Fitri melemah."Abang masih di sini bersama kamu, Abang akan menemanimu sampai tua nanti. Sampai kita punya cucu-cucu yang imut insyaAllah," imbuhnya sambil terkekeh."B

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status