Compartilhar

Bab 2 

Autor: Sianna
Kelvin menemani Kelly kembali ke rumah sakit. Mereka berdua lebih terlihat seperti pasangan yang saling mencintai.

"Kelvin, apa Vanessa membenciku, makanya dia bersembunyi? Aku nggak seharusnya kembali ke dalam negeri atau berpikir untuk bertemu denganmu sebelum meninggal. Kamu nggak perlu temani aku di rumah sakit, pulanglah dan hibur Vanessa. Kalian akan berdamai setelah aku meninggal."

Kelly yang wajahnya sudah dibasahi air mata dengan lemah mendorong Kelvin menjauh dari ranjang pasien.

Kelvin mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang.

"Bodoh, kamu cuma anemia. Kamu nggak akan mati. Meski Vanessa nggak mendonorkan sumsum tulangnya, aku akan melakukan apa saja untuk temukan donor yang cocok untukmu."

Kelly sangat terharu. "Terima kasih, Kelvin. Bertemu denganmu adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku. Aku nggak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan hidup, atau apa aku mampu tunggu sampai temukan pendonor lain yang cocok. Dokter bilang, sumsum tulang Vanessa sangat cocok denganku. Dia belum pernah melihat kecocokan sesempurna itu."

Nada Kelvin tegas dan penuh harapan. "Kalau begitu, demi kamu, aku akan temukan dia meski harus mencari sampai ke ujung dunia!"

Pada saat ini, hatiku terasa sakit. Mereka berdua terlihat seperti lukisan yang indah. Kenangan dari tahun-tahun lalu kembali terlintas di benakku.

Lima tahun lalu, seorang temanku mengadakan aktivitas pendakian gunung bersalju yang ekstrem. Ketika mencapai titik tengah, kami bertemu Kelvin yang sedang melakukan perjalanan sendiri.

Setelah mengobrol, aku mengetahui bahwa Kelvin baru saja putus dengan pacarnya. Cinta pertama Kelvin menganggap Kelvin tidak cukup mampu untuk memberikannya kehidupan nyaman, jadi dia secara sepihak memutuskan hubungan dengan Kelvin dan pergi ke luar negeri.

Aku merasa kasihan pada Kelvin dan lebih banyak mengobrol dengannya. Melalui percakapan kami, aku menemukan bahwa kami memiliki banyak kesamaan dan minat yang sama.

Itu adalah pertemuan yang menyenangkan. Namun, karena waktunya terlalu terburu-buru, kami berdua lupa bertukar informasi kontak.

Aku pikir aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Tak disangka, aku bertemu dengannya di peluncuran produk seminggu kemudian. Dia memberitahuku bahwa dia telah menemukan pekerjaan baru. Bosnya sangat baik dan menghargainya.

Kebetulan, pekerjaannya di perusahaan baru adalah berkoordinasi denganku dalam proyek kerja sama kedua perusahaan. Seiring waktu yang kami habiskan bersama, perasaan kami pun berkembang secara alami.

Dia mengatakan bahwa aku adalah cahaya yang menenangkan luka yang ditinggalkan oleh cinta pertamanya. Kemudian, kami menikah. Dia berjanji untuk merawatku seumur hidup.

Awalnya, Kelvin memang memenuhi janjinya. Namun, cita-cita tidak selalu dapat bertahan melawan kenyataan.

Tiga tahun lalu, Kelvin memulai bisnisnya sendiri. Aku mengundurkan diri dari perusahaanku untuk membantunya. Berhubung bisnis yang tumpang tindih, aku mau tak mau bertemu dengan mantan bosku, Jeremy.

Kelvin memang cakap dan merebut beberapa pesanan dari Jeremy. Dia sangat marah dan sengaja menargetkan perusahaan kami. Untuk menyelesaikan konflik, aku harus pergi ke perusahaannya untuk memohon perdamaian.

Jeremy menunjuk ke arah alkohol di atas meja, "Kalau kamu habiskan minuman itu, aku akan ampuni dia."

Perusahaan kami masih sangat kecil. Kami tidak mungkin bisa bersaing dengan mantan bosku. Ini adalah fondasi yang dibangun Kelvin dengan susah payah. Aku tidak bisa berpangku tangan dan melihatnya hancur. Jadi, malam itu, aku menghabiskan semua alkohol di meja.

Keesokan harinya, aku dirawat di rumah sakit karena keracunan alkohol. Saat melakukan pemeriksaan, pihak rumah sakit menemukan bahwa aku telah hamil satu bulan. Namun, karena asupan alkohol yang terlalu banyak, anak itu berkemungkinan besar akan lahir dengan keadaan tidak sehat.

Dengan berat hati, aku mau tak mau memilih untuk menggugurkannya. Kelvin sangat marah. Dia pun pergi untuk mencari masalah dengan Jeremy. Namun, dia bahkan tidak bisa masuk ke perusahaan.

Dengan perasaan bersalah, Kelvin bersumpah kepadaku bahwa dia akan berhasil dan memberiku kehidupan yang nyaman. Dia berkata bahwa jika dia sudah berhasil suatu hari nanti, dia tidak akan pernah membiarkan siapa pun menindasku.

Memang, setelah dia berhasil, tidak ada orang lain yang menindasku lagi. Namun, dia malah menjadi orang yang menindasku.

...

Kenanganku terputus oleh panggilan telepon. Itu panggilan dari nomor tak dikenal. Kelvin dengan enggan menjawab setelah berdering lama.

Entah apa yang dikatakan orang di ujung telepon, Kelvin sangat marah. "Siapa kamu? Apa kamu aktor lain yang disewa Vanessa? Dia masih hidup dan sehat, kenapa aku perlu mengidentifikasi mayatnya?"

Aku kira-kira bisa menebak siapa yang menelepon. Itu seharusnya adalah tim penyelamat yang menemukan jasadku.

Ibuku sudah meninggal dan Kelvin adalah satu-satunya anggota keluargaku di dunia ini. Jadi tim penyelamat menghubunginya. Sayangnya, dia sudah terlalu salah paham padaku dan menolak untuk memercayai berita apa pun tentangku.

Kelly menatapnya dengan cemas. Dia menepuk bahu Kelly untuk menenangkannya, tetapi pandangannya terus tertuju pada ponselnya.

Apa yang dia harapkan? Ingin aku menelepon, lalu mengatakan bahwa aku berada di rumah sakit dan bisa mendonorkan sumsum tulang kapan saja? Maaf, aku tidak akan pernah bisa melakukannya lagi.

"Istirahatlah dengan baik. Aku akan belikan kamu makanan yang enak."

Kelvin meninggalkan kamar rawat inap dengan memegang ponselnya. Aku dipaksa mengikutinya.

Aku melihatnya menghubungi kembali nomor yang baru saja menelepon. Dia menghubungi nomor itu beberapa kali, tetapi selalu sibuk. "Huh, ternyata memang cuma bohongi aku. Karena takut aku bongkar kebohongan itu, makanya orangnya nggak berani angkat telepon? Vanessa, Vanessa. Kamu mau ngambek sampai kapan?"

Aku tidak mengerti kenapa dia terus berpikir aku sedang mengambek. Apa di matanya, aku adalah wanita gila yang suka bertindak semena-mena?

Ponsel Kelvin berdering lagi, juga dari nomor tak dikenal lainnya.

Kelvin mengerutkan kening, tetapi tetap menjawab. "Pemeriksaan kehamilan? Aku nggak menjadwalkan pemeriksaan kehamilan."

"Istriku yang membuat janji temu? Kamu pasti salah. Dia sama sekali nggak hamil."

"Aku tahu, kalian cuma aktor yang dia sewa, 'kan? Apa sebenarnya maunya? Kenapa dia berulang kali membohongiku?"

Dia berjalan mondar-mandir dengan marah di koridor. "Ini terakhir kalinya aku peringati kalian. Kalau kalian temani dia permainkan aku lagi, aku akan lapor polisi!"

Setelah menutup telepon, dia segera menonaktifkan ponselnya sehingga melewatkan panggilan dari tim penyelamat.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Penyesalan yang Dimulai dari Pemakaman   Bab 6 

    Akhir-akhir ini, momen aku memiliki kesadaran makin singkat. Sebagian besar waktu, aku berada dalam pelukan ibuku dan tertidur lelap. Sesekali, ketika pikiranku jernih, aku melihat Kelvin bertingkah seperti orang gila dan berbicara dengan udara. Kemudian, dia menangis sebentar dan tiba-tiba tertawa.Para tetangga mengira dia benar-benar sudah gila dan sempat menelepon polisi beberapa kali karena ketakutan.Pada hari ketujuh dia bersembunyi di rumah, Kelly datang.Dia menatap Kelvin dan berkata pelan, "Aku meneleponmu selama beberapa hari terakhir ini, tapi kamu nggak menjawab. Ternyata kamu ada di rumah?" Kelvin tidak menjawab, hanya melanjutkan pekerjaannya dengan tenang.Kelly bergegas maju dan memeluk Kelvin. "Kelvin, apa maksudmu? Kamu sudah baikan sama Vanessa? Tapi, kamu berjanji akan tetap bersamaku sampai aku sembuh." Kelvin mendorongnya menjauh. "Aku nggak bisa berbaikan lagi dengannya." Kelly pun terkejut. "Lalu, apa yang kamu lakukan di sini? Dokter bilang, aku perlu jala

  • Penyesalan yang Dimulai dari Pemakaman   Bab 5 

    Di kamar mayat, staf itu membuka dua lemari pendingin. Aku melihat jasad aku dan ibuku terbaring di sana dengan tenang. Berhubung terkubur di salju saat meninggal, tubuhku tidak membengkak atau membusuk. Namun, tubuh ibuku tidak begitu utuh karena dicabik-cabik oleh serigala. Yang tersisa hanya kepalanya."Vanessa, jangan lihat." Ibuku memelukku dengan lembut dan menutupi mataku dengan tangannya. Entah kenapa, aku merasa seolah bisa merasakan kehangatan jiwanya.Kelvin menatap wajahku dan langsung terpaku di tempat. Dia agak kehilangan kendali."Mustahil. Dia baik-baik saja waktu aku pergi. Aku baru pergi setengah jam." Petugas itu merasa iba, tetapi tetap melakukan tugasnya. "Pak Kelvin, ini barang-barang pribadi Bu Vanessa. Silakan diperiksa." Kelvin memeluk ranselku dan mulai menangis.Ibuku duduk bersamaku di atas meja di pojok ruangan dan menyanyikan lagu anak-anak dari masa kecilku."Nak, jangan sedih. Ibumu nggak pernah menyesal menjadi ibumu. Di kehidupanmu selanjutnya, waktu

  • Penyesalan yang Dimulai dari Pemakaman   Bab 4

    Kelvin tiba di rumah sakit tempat ibuku dirawat. Dia bolak-balik tiga kali untuk mencari ibuku di kamar rawat, tetapi tetap tidak menemukannya.Saat ini, seorang perawat kebetulan lewat. Dia pun meraih tangannya dan bertanya, "Di mana Bu Christina yang seharusnya dirawat di kamar ini?" Perawat itu meliriknya, lalu berpikir sejenak sebelum menjawab, "Oh, wanita tua yang mengidap kanker stadium akhir itu? Dia sudah dipulangkan 13 hari yang lalu. Dia bilang, dia mau pergi merayakan ulang tahun pernikahan putrinya.""Apa hubunganmu dengan Bu Christina? Kankernya menyebar terlalu cepat dan dia nggak punya banyak waktu lagi. Kalian harus merawatnya dengan baik." Kelvin tidak percaya. "Mana mungkin? Bukannya kanker Bu Christina baru stadium menengah dan bisa dikendalikan dengan pengobatan yang tepat?""Aku juga nggak tahu jelas. Kalau kamu itu anggota keluarganya, tanya saja langsung ke dokter utamanya." Perawat itu segera pergi, sedangkan Kelvin bersandar lemas di dinding dan merosot hing

  • Penyesalan yang Dimulai dari Pemakaman   Bab 3 

    Batas waktu tiga hari yang Kelvin berikan telah berlalu, tetapi aku masih belum muncul di rumah sakit.Setiap hari, Kelly tidak berhenti mengatakan bahwa dirinya akan segera meninggal. Kelvin yang sangat kesal pun pulang ke rumah. Keadaan di rumah masih sama seperti sebelumnya, kecuali ada tagihan listrik baru di pintu.Aku melihat Kelvin berdiri di depan pintu dan meneleponku. Terdengar suara operator yang memberitahunya bahwa nomor yang dihubunginya tidak aktif.Dia mengerutkan kening, lalu membuka aplikasi WhatsApp. Dia membaca pesan yang dia kirimkan kepadaku tiga hari yang lalu, yang isinya mendesakku untuk mendonorkan sumsum tulang kepada Kelly sesegera mungkin.Tentu saja, aku tidak bisa membalasnya.Kemudian, dia membuka akun media sosialku. Ketika melihat foto yang kuposting 13 hari lalu, tangannya berhenti sejenak. Dalam foto itu, aku berdiri di puncak gunung bersalju dengan matahari terbit di belakangku. Keterangannya hanya satu baris.[ Ulang tahun pernikahan ke-3. ]Tangan

  • Penyesalan yang Dimulai dari Pemakaman   Bab 2 

    Kelvin menemani Kelly kembali ke rumah sakit. Mereka berdua lebih terlihat seperti pasangan yang saling mencintai."Kelvin, apa Vanessa membenciku, makanya dia bersembunyi? Aku nggak seharusnya kembali ke dalam negeri atau berpikir untuk bertemu denganmu sebelum meninggal. Kamu nggak perlu temani aku di rumah sakit, pulanglah dan hibur Vanessa. Kalian akan berdamai setelah aku meninggal." Kelly yang wajahnya sudah dibasahi air mata dengan lemah mendorong Kelvin menjauh dari ranjang pasien.Kelvin mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang."Bodoh, kamu cuma anemia. Kamu nggak akan mati. Meski Vanessa nggak mendonorkan sumsum tulangnya, aku akan melakukan apa saja untuk temukan donor yang cocok untukmu." Kelly sangat terharu. "Terima kasih, Kelvin. Bertemu denganmu adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku. Aku nggak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan hidup, atau apa aku mampu tunggu sampai temukan pendonor lain yang cocok. Dokter bilang, sumsum tulang Vanessa sangat cocok

  • Penyesalan yang Dimulai dari Pemakaman   Bab 1

    Sepuluh hari yang lalu, aku dan suamiku, Kelvin, berencana untuk bermain ski di Sanlora. Aku duduk di lobi untuk menunggu instruktur setelah mengenakan perlengkapan ski. Kemudian, Kelvin muncul di hadapanku bersama cinta pertamanya, Kelly. Dia menyerahkan formulir persetujuan donor sumsum tulang dan menyuruhku menandatanganinya. "Vanessa, sumsum tulangmu dan Kelly cocok. Setelah kembali, kita langsung jalani operasinya." Kelly yang berwajah pucat menggenggam tanganku dengan penuh rasa terima kasih. "Vanessa, terima kasih kamu bersedia donorkan sumsum tulangmu. Aku dan Kelvin akan sangat berterima kasih padamu."Aku menarik tanganku, lalu menatap Kelvin dengan ragu sambil menyahut, "Kelvin, aku lagi hamil. Bisa nggak kita menundanya?"Aku ingin melepas perlengkapan ski untuk mengambil hasil tes kehamilan dari pakaianku. Namun, Kelly menatapku dengan berlinang air mata. "Vanessa, Kelvin selalu menemaniku di rumah sakit selama beberapa bulan terakhir. Mana mungkin kamu hamil? Aku tahu

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status