Share

Penyesalan yang Dimulai dari Pemakaman
Penyesalan yang Dimulai dari Pemakaman
Auteur: Sianna

Bab 1

Auteur: Sianna
Sepuluh hari yang lalu, aku dan suamiku, Kelvin, berencana untuk bermain ski di Sanlora.

Aku duduk di lobi untuk menunggu instruktur setelah mengenakan perlengkapan ski. Kemudian, Kelvin muncul di hadapanku bersama cinta pertamanya, Kelly. Dia menyerahkan formulir persetujuan donor sumsum tulang dan menyuruhku menandatanganinya.

"Vanessa, sumsum tulangmu dan Kelly cocok. Setelah kembali, kita langsung jalani operasinya."

Kelly yang berwajah pucat menggenggam tanganku dengan penuh rasa terima kasih. "Vanessa, terima kasih kamu bersedia donorkan sumsum tulangmu. Aku dan Kelvin akan sangat berterima kasih padamu."

Aku menarik tanganku, lalu menatap Kelvin dengan ragu sambil menyahut, "Kelvin, aku lagi hamil. Bisa nggak kita menundanya?"

Aku ingin melepas perlengkapan ski untuk mengambil hasil tes kehamilan dari pakaianku. Namun, Kelly menatapku dengan berlinang air mata.

"Vanessa, Kelvin selalu menemaniku di rumah sakit selama beberapa bulan terakhir. Mana mungkin kamu hamil? Aku tahu kamu nggak menyukaiku, tapi kamu juga nggak boleh bohong cuma karena nggak mau donor."

Setelah mendengar aku hamil, Kelvin sudah sedikit melunak. Namun, ucapan Kelly langsung membuat ekspresinya menjadi dingin. "Vanessa, hentikan trik kekanak-kanakanmu. Kalau kamu nggak mau donor, kamu nggak seharusnya setuju untuk melakukan pencocokan ini. Sekarang, hasilnya sudah cocok, tapi kamu malah keberatan lagi? Kamu memang sengaja mau permainkan aku?"

"Kamu bilang kamu hamil? Aku bahkan nggak ada di rumah, gimana kamu bisa hamil? Mau bohong juga ada batasnya."

Kelly menarik lengan baju Kelvin. "Sudahlah, Kelvin. Vanessa membenciku, wajar saja dia nggak mau membantuku. Siapa suruh aku muncul dan merebut perhatianmu?"

Seusai berbicara, Kelly pun berlari keluar. Namun, dia langsung jatuh pingsan di atas lantai yang dingin setelah hanya berjalan dua langkah.

Kelvin memeluknya dengan sakit hati, lalu berbalik dan menatapku dengan tajam. "Lihat apa yang sudah kamu lakukan! Ganti pakaianmu sekarang juga! Kamu harus pergi ke rumah sakit untuk jalani operasi donor sumsum tulang untuk Kelly."

Seusai berbicara, dia tidak menatapku lagi, melainkan menggendong Kelly dan berjalan pergi. Dia sepertinya sangat yakin aku akan pergi bersamanya.

Namun, aku tidak berbohong. Aku benar-benar sedang hamil tiga bulan. Hanya saja, dia sudah lama tidak pulang, jadi aku belum sempat memberitahunya.

Setelah mengganti pakaian, aku mendapati Kelvin sudah pergi bersama Kelly. Aku mengencangkan mantelku sambil menertawakan diriku sendiri. Ketika hendak berjalan menuruni gunung salju sendirian, aku mendengar seseorang berseru, "Longsor salju! Cepat lari!"

Sayangnya, aku tidak berhasil melarikan diri dari longsor salju itu. Aku terkubur di bawah salju tebal dan mati lemas sebelum tim penyelamat tiba.

Setelah mati, aku menjadi arwah dan terperangkap di samping Kelvin.

Sepuluh hari telah berlalu sejak kematianku. Dia tidak memikirkanku selama sepuluh hari ini karena penyakit Kelly sangat parah dan membutuhkan perawatannya yang cermat.

"Kelvin, apa aku akan mati?"

Kelvin meyakinkan Kelly yang sangat lemah. "Kamu nggak akan mati. Aku akan hubungi Vanessa sekarang juga."

Dia mengeluarkan ponselnya untuk meneleponku, tetapi mendapati ponselku mati. Kondisi Kelly sedang kritis, jadi dia segera naik taksi pulang ke rumah.

Saat Kelvin membuka pintu, rumah kami masih terlihat persis seperti sepuluh hari yang lalu. Bunga-bunga di meja makan telah layu. Itu menunjukkan bahwa rumah ini sudah lama tidak dihuni.

"Vanessa nggak ada di rumah? Apa dia masih belum kembali dari Gunung Sanlora?" Kelly yang seharusnya berada di rumah sakit juga ikut pulang bersama Kelvin agar bisa berterima kasih padaku secara langsung.

"Mustahil, dia sendiri yang mengemudi ke sana waktu itu."

"Kalau begitu, apa dia nggak bersedia mendonorkan sumsum tulangnya kepadaku, makanya dia bersembunyi? Aku nggak menyangka dia begitu membenciku, sampai nggak bersedia donorkan sumsum tulangnya. Lupakan saja kalau begitu. Aku sudah senang bisa bertemu denganmu lagi sebelum mati."

Seusai berbicara, Kelly hampir pingsan.

Kelvin memeluknya dengan hati-hati. "Nggak, dia sudah berjanji padaku."

Dia mulai mengirimiku pesan.

[ Vanessa, nggak peduli di mana pun kamu berada, segera kembali untuk tandatangani formulir persetujuan donor. ]

[ Cuma suruh kamu donor sumsum tulang kok. Itu nggak akan membunuhmu. Buat apa kamu sembunyi? Kamu mau saksikan Kelly mati tanpa melakukan apa-apa? ]

[ Apa kamu begitu membencinya? ]

Mereka menungguku di rumah cukup lama, tetapi aku tidak membalas.

Kelvin menendang pintu dengan marah. Tendangannya begitu keras hingga seluruh rumah bergetar.

Arwah ibuku yang ketakutan bersembunyi dalam pelukanku. "Vanessa, kenapa Kelvin begitu marah?"

Setelah mendengar tentang longsor salju, ibuku bergegas datang ke Gunung Sanlora. Dia mengabaikan upaya tim penyelamat untuk menghentikannya dan bertekad untuk mendaki gunung sendiri demi menyelamatkanku. Namun, karena baru menjalani operasi dan tubuhnya masih lemah, dia kehabisan tenaga di tengah jalan.

Saat itu, dia bertemu dengan seekor serigala. Dia sama sekali tidak sanggup melawan dan dicabik-cabik oleh serigala kurang dari 100 meter dari tempat aku meninggal.

"Apa karena penyakitku butuh banyak uang? Aku nggak akan menjalani perawatan lagi. Suruh dia jangan marah."

Aku mengelus kepalanya. Hatiku terasa sakit, sedangkan tenggorokanku seperti tersumbat. Aku tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Suara keras itu mengejutkan tetangga sebelah.

Tetangga itu keluar dari apartemennya dan terkejut saat melihat Kelvin. Kemudian, dia menepuk-nepuk bahu Kelvin dengan penuh simpati. "Kelvin? Kamu sudah pulang? Kamu sudah selesai urus pemakaman istrimu? Turut berdukacita."

Kelvin mengubah ekspresinya dan bertanya, "Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Pemakaman apa?"

Tetangga itu menghela napas, "Aku tahu kamu sangat sedih dan nggak mampu terima kepergian istrimu. Tapi itu bencana alam. Kita nggak bisa mencegahnya."

Kelvin tertegun untuk sejenak.

Kelly menarik lengan baju Kelvin. "Kenapa Vanessa begitu? Kalau nggak mau donor, dia boleh jujur. Buat apa dia bohong ke orang lain bahwa dia sudah meninggal? Ini sama sekali nggak benar."

Kelvin segera tersadar. "Benar. Mana mungkin wanita sepertinya meninggal semudah itu? Dia pasti lagi berbohong padaku."

Dia menatap tetangga itu, lalu berujar, "Karena kamu bisa menghubunginya, sampaikan pesanku padanya. Kalau dia nggak muncul di rumah sakit dalam tiga hari, aku akan hentikan biaya perawatan ibunya."

Sambil melihat Kelvin memasuki lift, tetangga itu bergumam dengan ekspresi bingung, "Bukankah ibunya meninggal bersamanya di gunung bersalju itu? Dengar-dengar, Vanessa juga lagi hamil tiga bulan. Kasihan sekali."
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Penyesalan yang Dimulai dari Pemakaman   Bab 6 

    Akhir-akhir ini, momen aku memiliki kesadaran makin singkat. Sebagian besar waktu, aku berada dalam pelukan ibuku dan tertidur lelap. Sesekali, ketika pikiranku jernih, aku melihat Kelvin bertingkah seperti orang gila dan berbicara dengan udara. Kemudian, dia menangis sebentar dan tiba-tiba tertawa.Para tetangga mengira dia benar-benar sudah gila dan sempat menelepon polisi beberapa kali karena ketakutan.Pada hari ketujuh dia bersembunyi di rumah, Kelly datang.Dia menatap Kelvin dan berkata pelan, "Aku meneleponmu selama beberapa hari terakhir ini, tapi kamu nggak menjawab. Ternyata kamu ada di rumah?" Kelvin tidak menjawab, hanya melanjutkan pekerjaannya dengan tenang.Kelly bergegas maju dan memeluk Kelvin. "Kelvin, apa maksudmu? Kamu sudah baikan sama Vanessa? Tapi, kamu berjanji akan tetap bersamaku sampai aku sembuh." Kelvin mendorongnya menjauh. "Aku nggak bisa berbaikan lagi dengannya." Kelly pun terkejut. "Lalu, apa yang kamu lakukan di sini? Dokter bilang, aku perlu jala

  • Penyesalan yang Dimulai dari Pemakaman   Bab 5 

    Di kamar mayat, staf itu membuka dua lemari pendingin. Aku melihat jasad aku dan ibuku terbaring di sana dengan tenang. Berhubung terkubur di salju saat meninggal, tubuhku tidak membengkak atau membusuk. Namun, tubuh ibuku tidak begitu utuh karena dicabik-cabik oleh serigala. Yang tersisa hanya kepalanya."Vanessa, jangan lihat." Ibuku memelukku dengan lembut dan menutupi mataku dengan tangannya. Entah kenapa, aku merasa seolah bisa merasakan kehangatan jiwanya.Kelvin menatap wajahku dan langsung terpaku di tempat. Dia agak kehilangan kendali."Mustahil. Dia baik-baik saja waktu aku pergi. Aku baru pergi setengah jam." Petugas itu merasa iba, tetapi tetap melakukan tugasnya. "Pak Kelvin, ini barang-barang pribadi Bu Vanessa. Silakan diperiksa." Kelvin memeluk ranselku dan mulai menangis.Ibuku duduk bersamaku di atas meja di pojok ruangan dan menyanyikan lagu anak-anak dari masa kecilku."Nak, jangan sedih. Ibumu nggak pernah menyesal menjadi ibumu. Di kehidupanmu selanjutnya, waktu

  • Penyesalan yang Dimulai dari Pemakaman   Bab 4

    Kelvin tiba di rumah sakit tempat ibuku dirawat. Dia bolak-balik tiga kali untuk mencari ibuku di kamar rawat, tetapi tetap tidak menemukannya.Saat ini, seorang perawat kebetulan lewat. Dia pun meraih tangannya dan bertanya, "Di mana Bu Christina yang seharusnya dirawat di kamar ini?" Perawat itu meliriknya, lalu berpikir sejenak sebelum menjawab, "Oh, wanita tua yang mengidap kanker stadium akhir itu? Dia sudah dipulangkan 13 hari yang lalu. Dia bilang, dia mau pergi merayakan ulang tahun pernikahan putrinya.""Apa hubunganmu dengan Bu Christina? Kankernya menyebar terlalu cepat dan dia nggak punya banyak waktu lagi. Kalian harus merawatnya dengan baik." Kelvin tidak percaya. "Mana mungkin? Bukannya kanker Bu Christina baru stadium menengah dan bisa dikendalikan dengan pengobatan yang tepat?""Aku juga nggak tahu jelas. Kalau kamu itu anggota keluarganya, tanya saja langsung ke dokter utamanya." Perawat itu segera pergi, sedangkan Kelvin bersandar lemas di dinding dan merosot hing

  • Penyesalan yang Dimulai dari Pemakaman   Bab 3 

    Batas waktu tiga hari yang Kelvin berikan telah berlalu, tetapi aku masih belum muncul di rumah sakit.Setiap hari, Kelly tidak berhenti mengatakan bahwa dirinya akan segera meninggal. Kelvin yang sangat kesal pun pulang ke rumah. Keadaan di rumah masih sama seperti sebelumnya, kecuali ada tagihan listrik baru di pintu.Aku melihat Kelvin berdiri di depan pintu dan meneleponku. Terdengar suara operator yang memberitahunya bahwa nomor yang dihubunginya tidak aktif.Dia mengerutkan kening, lalu membuka aplikasi WhatsApp. Dia membaca pesan yang dia kirimkan kepadaku tiga hari yang lalu, yang isinya mendesakku untuk mendonorkan sumsum tulang kepada Kelly sesegera mungkin.Tentu saja, aku tidak bisa membalasnya.Kemudian, dia membuka akun media sosialku. Ketika melihat foto yang kuposting 13 hari lalu, tangannya berhenti sejenak. Dalam foto itu, aku berdiri di puncak gunung bersalju dengan matahari terbit di belakangku. Keterangannya hanya satu baris.[ Ulang tahun pernikahan ke-3. ]Tangan

  • Penyesalan yang Dimulai dari Pemakaman   Bab 2 

    Kelvin menemani Kelly kembali ke rumah sakit. Mereka berdua lebih terlihat seperti pasangan yang saling mencintai."Kelvin, apa Vanessa membenciku, makanya dia bersembunyi? Aku nggak seharusnya kembali ke dalam negeri atau berpikir untuk bertemu denganmu sebelum meninggal. Kamu nggak perlu temani aku di rumah sakit, pulanglah dan hibur Vanessa. Kalian akan berdamai setelah aku meninggal." Kelly yang wajahnya sudah dibasahi air mata dengan lemah mendorong Kelvin menjauh dari ranjang pasien.Kelvin mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang."Bodoh, kamu cuma anemia. Kamu nggak akan mati. Meski Vanessa nggak mendonorkan sumsum tulangnya, aku akan melakukan apa saja untuk temukan donor yang cocok untukmu." Kelly sangat terharu. "Terima kasih, Kelvin. Bertemu denganmu adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku. Aku nggak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan hidup, atau apa aku mampu tunggu sampai temukan pendonor lain yang cocok. Dokter bilang, sumsum tulang Vanessa sangat cocok

  • Penyesalan yang Dimulai dari Pemakaman   Bab 1

    Sepuluh hari yang lalu, aku dan suamiku, Kelvin, berencana untuk bermain ski di Sanlora. Aku duduk di lobi untuk menunggu instruktur setelah mengenakan perlengkapan ski. Kemudian, Kelvin muncul di hadapanku bersama cinta pertamanya, Kelly. Dia menyerahkan formulir persetujuan donor sumsum tulang dan menyuruhku menandatanganinya. "Vanessa, sumsum tulangmu dan Kelly cocok. Setelah kembali, kita langsung jalani operasinya." Kelly yang berwajah pucat menggenggam tanganku dengan penuh rasa terima kasih. "Vanessa, terima kasih kamu bersedia donorkan sumsum tulangmu. Aku dan Kelvin akan sangat berterima kasih padamu."Aku menarik tanganku, lalu menatap Kelvin dengan ragu sambil menyahut, "Kelvin, aku lagi hamil. Bisa nggak kita menundanya?"Aku ingin melepas perlengkapan ski untuk mengambil hasil tes kehamilan dari pakaianku. Namun, Kelly menatapku dengan berlinang air mata. "Vanessa, Kelvin selalu menemaniku di rumah sakit selama beberapa bulan terakhir. Mana mungkin kamu hamil? Aku tahu

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status