Share

Bab 147.

Author: V3yach
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-03 14:30:28

Keesokan paginya, Zahra duduk berhadapan dengan Pak Hendra, memegang secangkir teh yang hampir tidak tersentuh. Ia menyadari bahwa percakapan semalam belum sepenuhnya selesai.

Pak Hendra yang pertama kali memecah keheningan. “Zahra, Ayah sudah memikirkan semuanya.”

“Tentang Kayden, Yah?” tanya Zahra sambil meluruskan punggungnya.

“Iya.”

Nada suara Pak Hendra tegas, tanpa emosi berlebihan, namun cukup membuat dada Zahra terasa sesak.

“Ayah tidak bisa langsung menerima hubungan kalian,”
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 154. Adeline Dan Rencana liciknya.

    Sekali lagi Reyhan menatap Arvino dengan rasa tidak percaya. “Apakah ini benar?” tanya Reyhan. “Benar,” jawab Arvino. Kayla menambahkan, “Kami sudah lama mempelajari Islam, bahkan sebelum hubungan Kayden dan Zahra berkembang sejauh ini.” Rani memandang mereka dengan mata yang sedikit berkaca. “Kenapa kalian tidak pernah memberitahu kami?” Arvino tersenyum kecil. “Karena saat itu kami sendiri belum yakin.” “Dan semalam kalian tiba-tiba melakukannya.” “Iya.” Reyhan mengusap wajahnya dengan tangan. “Sejujurnya, aku merasa tersinggung dan sedikit kecewa.” “Maafkan kami,” ucap Arvino tanpa membantah. Reyhan menatapnya. “Aku hanya tidak suka merasa tidak dipercaya oleh sahabatku sendiri.” “Bukan tidak percaya. Kami hanya takut situasinya menjadi lebih rumit,” ujar Kayla dengan lembut. “Situasi yang kalian maksud … Adeline,” Rani akhirnya berbicara dengan suara pelan. Kayla mengangguk, sementara Rani menutup mata sejenak, merasakan ketidakpercayaan yang mendalam. “Sejujurnya

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 153. Ketegangan di pagi hari.

    Keesokan paginya di rumah Arvino terasa tenang setelah malam yang penuh emosi. Arvino duduk di ruang keluarga sambil membaca di tablet, sementara Kayla di dekatnya sedang menyiapkan teh. Kiara bersandar di sofa sambil bermain ponsel, dan Kayden baru saja turun dari tangga. Belum sempat mereka memulai aktivitas pagi, terdengar suara mobil yang berhenti di halaman. Kayla menoleh ke jendela. “Siapa ya yang datang pagi-pagi begini?” Kiara mendekat dan mengintip keluar. “Sepertinya … Om Reyhan.” Arvino langsung mengangkat kepalanya. “Reyhan?” Beberapa detik kemudian, bel rumah berbunyi. Kayla saling memandang dengan Arvino. “Mereka datang sangat pagi.” Arvino berdiri dan berjalan menuju pintu. Saat pintu dibuka, benar saja Reyhan dan Rani berdiri di sana dengan ekspresi serius. “Reyhan … Rani,” sapa Arvino pelan. “Boleh kami masuk?” tanya Reyhan tanpa basa-basi. “Tentu,” jawab Arvino sambil mempersilakan mereka masuk. Mereka melangkah ke ruang keluarga, dan suasana terasa agak c

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 152. Keteguhan hati.

    Arvino menoleh kepada Kayden yang masih berdiri dekat Zahra. “Kayden,” panggilnya. “Iya, Pa?” “Kami pulang dulu. Kamu mau ikut sekarang atau nanti?” Kayden melirik sebentar ke arah Zahra sebelum kembali menatap ayahnya. “Aku menyusul nanti saja, Pa.” Kiara langsung berseru dari dalam mobil, “Tuh kan! Aku sudah tahu!” “Kiara,” tegur Kayla, tetapi gadis itu malah tertawa. Arvino hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. “Jangan terlalu lama.” “Iya, Pa.” Kayla memandang Zahra dengan penuh kasih sayang. “Jaga diri baik-baik ya, Nak.” Zahra menunduk hormat. “Iya, Tante.” Kiara melambaikan tangan lagi. “Selamat malam, Kak Zahra!” “Selamat malam.” Mobil keluarga Arvino akhirnya perlahan meninggalkan halaman rumah Pak Hendra. Kini hanya tersisa Zahra, Kayden, dan Pak Hendra. Beberapa detik suasana terasa canggung. “Sudah malam,” tegur Pak Hendra sambil berdehem pelan. Kayden langsung menatapnya dengan sopan. “Iya, Pak.” Pak Hendra memandang mereka berdua sebelum berkata, “Za

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 151. Ancaman

    Adeline yang penuh rasa ingin tahu terus mengamati ekspresi wajah kedua orang tuanya dengan curiga, sebenarnya apa yang mereka sembunyikan, karena dia adalah orang yang keras kepala dan tidak akan menyerah. “Kalian berbicara seolah semuanya sudah selesai,” ujarnya dengan penasaran. “Memang sudah,” jawab Reyhan dengan tatapan tajam. “Belum,” kata Adeline sambil melangkah lebih dekat. “Adeline …” “Aku tahu Kayden masih bisa berubah.” Rani menggelengkan kepala. “Kamu terlalu memaksakan diri.” Adeline menatap ponsel di tangan ibunya. “Sekali lagi aku tanya, apa yang ada di sana?” “Tidak ada.” “Berikan padaku.” “Tidak.” Adeline tiba-tiba meraih ponsel itu. “Adeline!” seru Rani. Namun gadis itu lebih cepat, dia melihat layar yang masih menampilkan story Kayla, dan dalam beberapa detik wajahnya membeku. “Apa ini?” Namun baik Rani maupun Reyhan tidak memberikan jawaban. Lalu Adeline memperbesar gambar itu. “Ini kan di rumah perempuan itu, dan kenapa mereka memaka

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 130. Kecurigaan Adeline.

    Rani masih memegang ponselnya dengan ekspresi wajah yang belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan. Reyhan duduk di sampingnya, menatap layar yang sama dengan tatapan yang lebih dalam, seolah berusaha memahami sesuatu yang selama ini dianggapnya hanya lelucon. “Papa ... jadi ini benar-benar mereka?” tanya Rani dengan suara pelan. Reyhan mengangguk kecil. “Iya. Itu Kayla. Dan di sampingnya Kiara.” Rani menelan ludah. “Pantas mereka pakai kerudung ...” “Itu bukan sekadar kerudung,” jawab Reyhan pelan. “Lihat di belakangnya. Itu Kiai Ahmad.” Rani langsung memperhatikan layar ponselnya dengan lebih seksama. “Ya Tuhan benar. Ada beberapa tokoh agama juga.” Rani menarik napas dalam-dalam. “Papa jangan bilang ini ...” Reyhan bersandar di sofa. “Sepertinya mereka benar-benar melakukannya.” “Melakukan apa?” “Menjadi mualaf.” Rani menatap suaminya dengan tidak percaya. “Serius?” Reyhan mengangguk pelan. “Dulu Arvino pernah bilang hal ini.” Rani mengerutkan kening. “Kapan?” “Beberapa

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 149. Terkejut.

    Sekali lagi, ruangan itu seketika menjadi sunyi, tetapi tidak berlangsung lama. Arvino menjawab, “Jangan khawatir, dia juga belajar. Namun, kami ingin proses ini menjadi pilihan pribadinya. Kami tidak memaksanya.” “Jadi kalian semua benar-benar ingin menjadi mualaf?” suara Pak Hendra mulai melunak. “Iya,” jawab Kayla tegas. “Bukan hanya untuk Zahra, tetapi juga untuk diri kami sendiri.” Pak Hendra terdiam cukup lama. “Saya khawatir kalian akan menyesal,” katanya pelan. Arvino menggeleng. “Kami sudah mempertimbangkan ini dengan matang.” Kiai Ahmad menambahkan, “Masuk Islam harus dengan kesadaran penuh. Dan saya menyaksikan sendiri proses mereka.” Pak Hendra menundukkan kepala, merenung. “Kalau begitu … saya tidak berhak menghalangi niat baik.” Dia mengangkat wajahnya lagi. “Tapi saya ingin satu hal jelas. Jangan pernah menyalahkan Zahra jika suatu saat ada cobaan.” “Tidak akan,” jawab Kayla cepat. “Ini keputusan kami.” Arvino mengangguk. “Kami bertanggung jawab se

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 111. Kekhawatiran Kayla.

    Setelah kepergian Adeline, suasana ruang keluarga Mahendra malam itu terasa lebih sepi dari biasanya. Lampu yang redup menerangi sofa tempat Kayla duduk dengan tangan saling menggenggam, matanya menatap kosong ke depan. Arvino berdiri di dekat jendela, memandang taman yang basah oleh embun malam.

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 107. Kepercayaan.

    Kayden mengangkat tangannya. “Saya belum selesai.”Dia menatap Zahra. “Lihat saya.”Zahra mengangkat wajahnya, air mata menggantung tetapi tidak jatuh.“Saya percaya padamu,” kata Kayden dengan tenang namun tegas.Seketika, seluruh ruangan menjadi hening.“Apa?” Livia spontan berseru.Kayden melanj

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 105. Fitnah.

    Di sudut ruangan, Livia berdiri sambil memegang segelas wine. Senyumnya bukan lagi senyum biasa, melainkan senyum seseorang yang hatinya terbakar.“Berani sekali dia,” gumamnya pelan. “Merasa menang.”Matanya mengikuti Zahra yang kembali duduk tenang di meja. Kayden masih berdiri di dekatnya, berbi

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 102. Mulai Memperhatikan.

    “Iya.” jawab Kayden dengan tegas.Pak Hendra melirik bergantian antara putrinya dan pria di depannya. “Maaf, Nak,” katanya hati-hati kepada Zahra, “ini maksudnya … Apa?”Zahra belum sempat menjawab ketika Kayden lebih dulu bersuara.“Kami akan dinas luar kota,” ucapnya singkat namun sopan. “Saya pi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status