FAZER LOGIN“Iya.” jawab Kayden dengan tegas.Pak Hendra melirik bergantian antara putrinya dan pria di depannya. “Maaf, Nak,” katanya hati-hati kepada Zahra, “ini maksudnya … Apa?”Zahra belum sempat menjawab ketika Kayden lebih dulu bersuara.“Kami akan dinas luar kota,” ucapnya singkat namun sopan. “Saya pikir lebih efisien berangkat langsung dari sini. Supaya tidak terlambat.”Zahra mengerutkan kening. “Tapi, Pak, saya harus ke kantor dulu. Absen pagi ...”“Itu bisa diatur,” potong Kayden tanpa ragu. “Lagipula kamu tahu, saya bosnya.”Zahra terdiam beberapa detik. Kata-kata itu sederhana, tetapi disampaikan dengan keyakinan penuh. Ia mengangguk kecil, merasa sedikit bodoh karena panik sendiri.“Oh … iya,” gumamnya. “Maaf.”Kayden menatapnya sejenak. “Kamu siap?”“Siap,” jawab Zahra cepat. Lalu ia teringat sesuatu. “Sebentar, Pak. Saya pamit dulu dengan ayah saya.”Zahra berbalik ke arah Pak Hendra. “Ayah, Zahra berangkat dulu, ya.”Pak Hendra mengangguk, tetapi pandangannya masih tertuju pada
Keesokan harinya, suasana di rumah Mahendra biasanya tenang dan teratur. Aroma sarapan masih tercium dari ruang makan ketika langkah cepat terdengar dari arah tangga.Kayden turun dengan penampilan rapi, jas sudah terpasang, dan jam tangan terikat dengan sempurna. Wajahnya tampak fokus, rahangnya mengencang seolah sedang terburu-buru.“Bang,” panggil Kayla dari ruang makan, “Sarapan dulu.”Kayden hanya melirik sekilas. “Aku terburu-buru, harus berangkat sekarang, Ma.”Arvino yang sedang duduk membaca koran langsung menurunkannya. “Sekarang? Kamu tidak sarapan dulu?”“Pagi ini saja,” jawab Kayden singkat sambil meraih kunci mobil.Kayla mendekat, menatap putranya dengan heran. “Ada apa? Kamu terlihat … terburu-buru.”“Meeting di luar kota,” jawab Kayden datar.Arvino mengangkat alis. “Biasanya kamu tetap sarapan walaupun mau ke mana pun.”Kayden berhenti sejenak, seolah baru menyadari tatapan kedua orang tuanya. “Nanti makan di jalan.”Dia melanjutkan langkahnya, tetapi suara kecil dar
Setelah beberapa jam pulang kerja, Zahra duduk di sofa kayu bersama ayahnya, Pak Hendra. Dua cangkir teh hangat mengepul di atas meja kecil di depan mereka.Pak Hendra meniup tehnya perlahan sebelum meminumnya. “Kamu terlihat lelah hari ini,” katanya dengan lembut.Zahra memberikan senyuman tipis. “Hari ini kerja memang agak … padat, Yah.”Pak Hendra mengangguk memahami. “Namanya juga awal. Dulu Ayah juga begitu saat pertama kali bekerja.”Zahra terdiam sejenak, lalu menarik napas seolah mengumpulkan keberanian.“Yah … Zahra ingin mengatakan sesuatu.”Pak Hendra menoleh, menatap putrinya dengan penuh perhatian. “Apa? Kelihatannya serius.”“Besok Zahra harus dinas luar kota,” ucap Zahra dengan hati-hati.Pak Hendra langsung meletakkan cangkirnya. “Dinas luar kota? Nanti dulu … kamu baru kerja satu hari, kan?”“Iya,” Zahra mengangguk cepat. “Tapi ini perintah langsung dari atasan.”“Atasan kamu?” Pak Hendra mengernyit. “Bos kamu?”Zahra tersenyum kecil. “Iya, Yah. Tuan Kayden.”Pak Hend
Di dalam ruang CEO Mahendra Group, suasana terasa tegang meskipun AC berfungsi dengan baik. Kayden berdiri di depan layar monitor besar yang terhubung langsung dengan kamera CCTV di area kantor, khususnya di lorong dekat pantry tempat Zahra terakhir terlihat.Daniel berdiri sedikit di belakangnya dengan kedua tangan bersedekap. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tetapi rahangnya mengeras saat sosok Maya kembali muncul di layar, menghadang Zahra dengan sikap agresif.“Dia lagi,” gumam Daniel pelan.Kayden tidak menjawab. Matanya tajam, fokus, dan dingin. Tangannya mengepal perlahan saat ia melihat Maya mendekat terlalu dekat, menunjuk-nunjuk wajah Zahra, dan mulutnya bergerak cepat mengucapkan sesuatu yang tidak menyenangkan.“Berani sekali,” suara Kayden rendah namun bergetar menahan amarah. “Setelah kemarin, setelah dipanggil ke ruangan ini … dia masih berani.”Daniel menghela napas berat. “Saya sudah menduga, Tuan. Orang seperti Maya tidak akan jera hanya dengan peringatan.”Di
"Cukup," potong Kayden dengan tegas. Kayden mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Maya dengan tajam. “Sikapmu barusan sangat menjijikkan.” Wajah Maya terlihat pucat. “Di kantor ini,” lanjut Kayden dengan nada dingin, “saya tidak memerlukan karyawan yang sok dekat, tidak profesional, dan merasa berhak atas posisi orang lain.” Daniel mengangguk setuju. “Perilaku seperti ini tidak bisa diterima.” Maya terdiam, tangannya bergetar di atas pangkuan. “Mulai sekarang,” kata Kayden dengan tegas, “jaga sikapmu. Jika kamu bertindak seperti ini lagi ...” dia berhenti sejenak. “kamu akan dikeluarkan dari Mahendra Group.” Maya menelan ludah. “Saya … mengerti, Pak.” “Keluar,” kata Kayden singkat. Maya berdiri dengan langkah goyah, tidak berani menatap siapa pun lagi. Saat pintu tertutup, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Daniel menghela napas panjang. “Astaga … Pak.” Kayden memejamkan mata sejenak. “Ilfil.” Daniel mengangguk. “Sangat.” Kayden menatap pintu dengan rahang yang me
Sebelumnya, Maya sedang duduk di mejanya sambil merapikan lipstik di cermin kecil ketika seorang rekan kerjanya mendekat dengan ekspresi aneh. “Maya,” panggilnya pelan. Maya menoleh. “Apa?” “Kamu dipanggil ke ruangan Tuan Kayden.” Mata Maya membelalak. “Hah? Sekarang?” “Iya. Barusan Daniel yang nyuruh.” Detik itu juga, wajah Maya berubah. Kaget lalu perlahan tersenyum. “Oh,” gumamnya sambil menutup cermin. “Akhirnya.” “Akhirnya apa?” tanya temannya sambil mengernyit. Maya berdiri, merapikan rambut dan bajunya. “Aku sudah tahu dari awal.” “Tahu apa?” “Kalau Zahra itu tidak pantas jadi asisten Tuan Kayden,” jawabnya dengan percaya diri. “Pasti beliau sudah menyadarinya.” Maya mengambil tas kecilnya. “Dan sekarang ... beliau pasti mau bicara langsung denganku.” Temannya menatap ragu. “Tapi ... kamu yakin?” Maya terkekeh. “Yakinlah. Siapa lagi di sini yang lebih cocok dariku?” Lalu dia berjalan menuju cermin besar di lorong, membenahi penampilannya sekali lagi. “Penampilan







