Home / Romansa / Perginya istri Rahasia Ceo / Bab 97. Terlalu percaya diri.

Share

Bab 97. Terlalu percaya diri.

Author: V3yach
last update Last Updated: 2025-12-29 13:36:57

Sebelumnya, Maya sedang duduk di mejanya sambil merapikan lipstik di cermin kecil ketika seorang rekan kerjanya mendekat dengan ekspresi aneh.

“Maya,” panggilnya pelan.

Maya menoleh. “Apa?”

“Kamu dipanggil ke ruangan Tuan Kayden.”

Mata Maya membelalak. “Hah? Sekarang?”

“Iya. Barusan Daniel yang nyuruh.”

Detik itu juga, wajah Maya berubah. Kaget lalu perlahan tersenyum.

“Oh,” gumamnya sambil menutup cermin. “Akhirnya.”

“Akhirnya apa?” tanya temannya sambil mengernyit.

Maya berdiri, merapikan rambut dan bajunya. “Aku sudah tahu dari awal.”

“Tahu apa?”

“Kalau Zahra itu tidak pantas jadi asisten Tuan Kayden,” jawabnya dengan percaya diri. “Pasti beliau sudah menyadarinya.”

Maya mengambil tas kecilnya. “Dan sekarang ... beliau pasti mau bicara langsung denganku.”

Temannya menatap ragu. “Tapi ... kamu yakin?”

Maya terkekeh. “Yakinlah. Siapa lagi di sini yang lebih cocok dariku?”

Lalu dia berjalan menuju cermin besar di lorong, membenahi penampilannya sekali lagi.

“Penampilan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 107 . Air mata yang akhirnya jatuh.

    Lampu di kamar hotel menyala redup. Zahra duduk di tepi ranjang, masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat makan malam tadi. Sepatu haknya tergeletak di lantai, sementara tas kerjanya diletakkan sembarangan di kursi.Sunyi ... begitu sunyi hingga detak jantungnya sendiri terdengar jelas.Zahra memeluk lututnya, dagunya bersandar di sana. Pandangannya kosong menatap karpet, tetapi pikirannya dipenuhi berbagai pikiran.“Kenapa selalu seperti ini …” gumamnya pelan.Bayangan wajah Livia kembali muncul di benaknya. Tatapan merendahkan. Kata-kata yang menyakitkan. Tuduhan yang sama seperti bertahun-tahun lalu.Kenangan itu datang tanpa diundang.“Kamu sok polos, Zahra!”“Jangan berpura-pura suci!”“Kalau kamu tidak genit, mana mungkin cowokku dekat sama kamu?!”Zahra kecil berdiri di lorong sekolah, tasnya ditarik, hijabnya hampir terlepas. Ia hanya diam. Selalu diam.“Jawab dong! Jangan cuma pasang muka kasihan!”Dan kenyataannya, ia hanya bisa menunduk.Hingga ingatan itu menghilang

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 107. Kepercayaan.

    Kayden mengangkat tangannya. “Saya belum selesai.”Dia menatap Zahra. “Lihat saya.”Zahra mengangkat wajahnya, air mata menggantung tetapi tidak jatuh.“Saya percaya padamu,” kata Kayden dengan tenang namun tegas.Seketika, seluruh ruangan menjadi hening.“Apa?” Livia spontan berseru.Kayden melanjutkan, suaranya terdengar jelas di seluruh ruangan. “Karena kebohongan selalu rapuh. Dan kejujuran tidak perlu berteriak.”Pelayan itu mundur selangkah. “Tuan, saya ...”“Keamanan,” panggil Kayden singkat.Dua petugas mendekat.“Antar pria ini keluar,” perintah Kayden. “Dan catat bahwa dia tidak pernah bekerja di acara perusahaan saya lagi.”Pelayan itu panik. “Nyonya Livia ...”Livia membelalak. “Jangan sebut nama saya!”Kayden menoleh tajam padanya. “Terlambat.”Livia terdiam, Zahra menutup mata sejenak. Napasnya bergetar.Kayden mendekat, suaranya direndahkan. “Kamu kuat. Dan kamu tidak sendiri.”Zahra menatapnya, matanya basah. “Terima kasih … karena sudah percaya.”Kayden mengangguk. “S

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 105. Fitnah.

    Di sudut ruangan, Livia berdiri sambil memegang segelas wine. Senyumnya bukan lagi senyum biasa, melainkan senyum seseorang yang hatinya terbakar.“Berani sekali dia,” gumamnya pelan. “Merasa menang.”Matanya mengikuti Zahra yang kembali duduk tenang di meja. Kayden masih berdiri di dekatnya, berbincang sebentar sebelum kembali ke kelompok CEO lainnya. Pemandangan itu menyakitkan harga diri Livia.“Baiklah ... Jika cara lama tidak berhasil,” bisiknya, “kita akan gunakan cara yang lebih licik.”Livia melirik seorang pelayan pria yang berdiri tidak jauh dari dapur. Wajahnya polos, seragamnya rapi, tampak gugup menghadapi tamu-tamu kelas atas. Lalu Livia melangkah mendekat.“Kamu,” panggilnya lembut. “Sebentar.”Pelayan itu menoleh. “Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?”Livia tersenyum ramah, namun senyumnya berbahaya. “Aku butuh sedikit bantuan. Kamu ingin tip besar, kan?”Pelayan itu ragu. “Tergantung ... bantuannya apa.”“Tenang,” ujar Livia pelan. “Kamu hanya perlu mengatakan satu hal.

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 204. Benalu.

    Malam itu, di dalam sebuah ruangan yang cukup mewah, lampu kristal menggantung di langit-langit ruang makan hotel. Percakapan para eksekutif perusahaan terdengar diselingi tawa ringan dan nada formal. Kayden berdiri tidak jauh dari meja utama, dikelilingi beberapa CEO yang sedang mendiskusikan peluang kerja sama lebih lanjut.Di sisi lain ruangan, Zahra duduk sendirian. Punggungnya tegak, tangannya rapi di atas meja. Ia tidak merasa kecil di tengah kemewahan itu; ia hanya memilih untuk tetap tenang. Malam ini, ia hadir sebagai seorang profesional, bukan sekadar hiasan.“Zahra?” Sebuah suara perempuan menyela pikirannya.Zahra menoleh. Seketika dadanya terasa tegang, seorang wanita berdiri di depannya dengan gaun berkilau mencolok, riasan tebal, dan senyum miring yang terasa menusuk. Wajah itu sangat dikenalnya.“Livia …” Zahra menyebut nama itu pelan.“Oh, syukurlah kamu masih ingat?” Livia terkekeh. “Kupikir kamu sudah melupakan orang-orang yang kamu injak demi naik kelas.”Zahra ber

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 103. Menjadi pusat perhatian.

    Setelah beberapa jam perjalanan, Kayden dan Zahra akhirnya tiba di kota tujuan, dan mobil berhenti tepat di depan hotel berbintang tempat mereka akan menginap sementara. Kayden turun lebih dulu, melirik bangunan tinggi itu sejenak, lalu menoleh ke Zahra yang masih duduk ragu di dalam mobil.“Kita istirahat sebentar,” ujarnya singkat. “Sekarang kamu ganti pakaian, setelah itu meeting akan dimulai dalam dua jam.”Zahra mengangguk. “Baik, Pak.”Mereka masuk ke lobi tanpa banyak bicara. Resepsionis menyambut dengan profesional. Kayden menyebutkan nama dan dua kamar yang telah dipesan terpisah.“Satu lantai, kamar berseberangan,” jelas resepsionis.Kayden mengangguk. “Bagus.”Zahra menangkap penekanan pada kata itu. (Bagus) Seolah Kayden ingin memastikan batasan tetap jelas.Di depan lift, Zahra akhirnya berbicara.“Pak, terima kasih sudah … mengatur semuanya.”“Itu sudah tugas saya,” jawab Kayden datar.Lift terbuka. Mereka masuk. Keheningan kembali mengisi ruang sempit itu.“Meeting hari

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 102. Mulai Memperhatikan.

    “Iya.” jawab Kayden dengan tegas.Pak Hendra melirik bergantian antara putrinya dan pria di depannya. “Maaf, Nak,” katanya hati-hati kepada Zahra, “ini maksudnya … Apa?”Zahra belum sempat menjawab ketika Kayden lebih dulu bersuara.“Kami akan dinas luar kota,” ucapnya singkat namun sopan. “Saya pikir lebih efisien berangkat langsung dari sini. Supaya tidak terlambat.”Zahra mengerutkan kening. “Tapi, Pak, saya harus ke kantor dulu. Absen pagi ...”“Itu bisa diatur,” potong Kayden tanpa ragu. “Lagipula kamu tahu, saya bosnya.”Zahra terdiam beberapa detik. Kata-kata itu sederhana, tetapi disampaikan dengan keyakinan penuh. Ia mengangguk kecil, merasa sedikit bodoh karena panik sendiri.“Oh … iya,” gumamnya. “Maaf.”Kayden menatapnya sejenak. “Kamu siap?”“Siap,” jawab Zahra cepat. Lalu ia teringat sesuatu. “Sebentar, Pak. Saya pamit dulu dengan ayah saya.”Zahra berbalik ke arah Pak Hendra. “Ayah, Zahra berangkat dulu, ya.”Pak Hendra mengangguk, tetapi pandangannya masih tertuju pada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status