LOGINRian menjalani tahun terakhir SMA seperti kebanyakan hari-hari sebelumnya: tenang, teratur, dan tanpa keinginan untuk menonjol. Ia dikenal sebagai siswa yang bisa diandalkan, cukup pintar, dan jarang membuat masalah. Di antara hiruk-pikuk sekolah, pertemanan, tugas akhir, dan obrolan tentang masa depan, Rian selalu merasa aman berada di jarak yang tidak terlalu dekat dengan siapa pun. Sampai suatu sore, di depan warung langganan tempat ia biasa singgah, ia melihat seorang siswi berjalan sendirian. Tidak ada yang istimewa. Hanya langkah yang tenang, wajah yang biasa saja, dan sikap yang seolah tidak peduli pada dunia di sekitarnya. Namun sejak saat itu, ritme hidup Rian mulai berubah oleh hal-hal kecil yang tak bisa ia jelaskan. Namanya Lidya. Lidya bukan tipe gadis yang mudah didekati. Ia pendiam, menjaga jarak, dan tampak hidup di dunianya sendiri. Semakin sering Rian melihatnya di lorong sekolah, perpustakaan, atau jalan pulang, semakin ia sadar bahwa perasaan yang tumbuh bukan sekadar rasa penasaran. Di tengah candaan teman-teman, kesibukan buku kenangan kelulusan, sore-sore di Warzam, dan hari-hari terakhir masa sekolah, Rian perlahan dipaksa menghadapi sesuatu yang selama ini selalu ia hindari: membuka diri. Namun mendekat pada seseorang tak pernah sesederhana berjalan ke arahnya. Tentang gengsi, keberanian, jarak yang tak terlihat, dan cinta pertama yang tumbuh pelan-pelan, Romantic Purple adalah kisah manis dan hangat tentang masa SMA-tentang seseorang yang datang tanpa rencana, lalu mengubah hari-hari biasa menjadi sulit dilupakan.
View MoreTahun terakhir di SMA dimulai dengan hal yang tidak menyenangkan: Rian datang terlambat ke sekolah. Ia melewati gerbang sambil mengangguk kecil pada satpam yang sudah hafal wajahnya, lalu melangkah masuk ke halaman yang terasa lebih sepi dari biasanya. Sebagian besar siswa sudah berada di dalam kelas; hanya beberapa yang masih berada di luar––entah karena sengaja atau memang belum sempat masuk.
Rian berjalan menyusuri lorong menuju kelas IPA. Dinding lorong dipenuhi poster lama yang mulai menguning di sudut-sudutnya, beberapa bahkan tampak hampir terlepas. Ia sempat membaca sekilas salah satu judul, tapi tidak ada yang benar-benar menarik perhatiannya.
Sesampainya di kelas, Rian langsung menuju bangku kosong dekat jendela—posisi yang ia sukai sejak kelas satu. Jendela di sampingnya sedikit macet jika dibuka terlalu lebar dan akan berbunyi lirih saat tertiup angin.
Ia duduk sambil membuka tas, lalu mengeluarkan buku pelajaran. Pulpen selalu ia letakan di antara halaman buku, jaga-jaga jika ia tiba-tiba harus membaca atau mengerjakan tugas.
Sejak awal kelas tiga, ia menyadari ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Kegugupan sebagai siswa baru telah lama hilang, digantikan oleh kecemasan yang lebih tenang namun lebih dalam. Tidak ada lagi dorongan untuk diperhatikan, hanya sekedar ingin menyelesaikan SMA nya dengan tenang.
Semua orang sudah memiliki tempatnya masing-masing.
Yang ramai tetap ramai,.
Yang populer tetap dikelilingi banyak orang
Yang pendiam tetap berada di sudut-sudut ruangan.
Ia sendiri berada di antara itu semua—posisi yang bagi kebanyakan orang terasa tanggung.
Teman seangkatannya tahu ia ada
Adik kelas mengenalnya sebatas cerita yang tidak pernah benar-benar lengkap
Guru-guru jarang memanggilnya kecuali untuk memastikan satu hal: nilainya aman, sikapnya tidak perlu dikhawatirkan.
Sesekali, ia diingatkan ketika terlalu dekat dengan sesuatu yang bukan urusannya. Kata-kata seperti itu sering terdengar seperti pujian, sampai ia menyadari bahwa pujian kerap datang bersama tuntutan yang tidak diucapkan.
Pelajaran pertama berjalan seperti biasa. Guru menjelaskan, beberapa siswa bertanya hal-hal sepele, sebagian lain menguap atau menulis sambil menatap langit. Rian mencatat seperlunya, tangannya bergerak otomatis.
Di luar jendela, pohon-pohon bergoyang pelan tertiup angin, daunnya bergerak tanpa arah pasti. Ia memperhatikan pemandangan itu sedikit lebih lama dari seharusnya, sampai suara guru memanggil namanya.
Ia mengangkat kepala dan menjawab dengan tenang.
Jawabannya benar. Guru mengangguk puas. Beberapa teman menoleh sekilas sebelum kembali ke urusan masing-masing. Ia duduk kembali tanpa merasakan sesuatu yang berarti. Tidak ada rasa lega, apalagi kepuasan.
Hanya satu pikiran singkat yang lewat: selesai satu lagi.
Saat jam istirahat tiba, Rian tidak langsung keluar. Ia tetap duduk beberapa menit, menatap pepohonan di halaman. Angin menggerakkan daun-daun yang baru mulai hijau, sementara aroma tanah basah dari hujan semalam masuk melalui jendela yang sedikit terbuka.
Detail kecil itu—bau, suara, gerakan—perlahan membangkitkan sesuatu dalam dirinya: keinginan untuk mengamati dan merasakan hidup tanpa harus selalu memberi makna.
Ia akhirnya menutup buku, mengambil sweater, dan berjalan ke kantin. Di sana, teman-temannya tertawa dan bercanda, membicarakan hal-hal sederhana: band baru, music, style baru, atau drama kecil di kelas lain. Ia mendengar sebagian, tersenyum tipis pada beberapa momen, tetapi lebih sering diam.
Tidak ada yang mengganggu atau terlalu penting untuk diperhatikan. Semuanya terasa seperti latar belakang kehidupan sehari-hari—membosankan sekaligus menenangkan.
Orang-orang sering mengira ketenangannya berarti ia tidak memiliki masalah. Mereka tidak tahu bahwa terlalu lama memendam sesuatu bisa membuat seseorang lupa bentuk asli dari perasaannya sendiri.
Menjelang siang, bel terakhir berbunyi.
Suasana sekolah perlahan berubah. Lorong yang tadi padat mulai melonggar, suara tawa terdengar terputus-putus. Kebanyakan siswa bergegas pulang, Tapi Rian lebih memilih berjalan santai seperti orang yang tidak pernah mengejar apapun.
Kadang ia bermain basket bersama teman-temannya, atau menghabiskan waktu di kantin sambil mendengarkan cerita orang lain. Namun ada juga hari-hari ketika ia tidak ditemukan di lapangan maupun di kantin.
Di hari-hari seperti itu, ia biasanya berada di satu tempat.
Warzam.
Warung sederhana itu tidak memiliki daya tarik khusus. Bangkunya panjang dan agak keras, dinaungi pohon jambu yang rindang. Catnya mulai pudar di beberapa bagian, dan jika hujan turun, bagian depannya sering kebasahan. Tidak ada papan nama besar, hanya spanduk kecil yang warnanya hampir hilang.
Justru itu yang membuatnya nyaman.
Di sana, ia tidak harus menjadi siapa pun. Tidak ada nilai yang harus dijaga, tidak ada sikap yang perlu dipertahankan. Jika ia diam, orang mengira ia lelah. Jika ia tertawa, tidak ada yang menuntut kelanjutannya. Warzam tidak meminta penjelasan.
Berbeda dengan sekolah yang terasa seperti ruang dengan dinding tak terlihat—tempat setiap gerakan diberi makna. Di Warzam, ia hanya seseorang yang singgah, tanpa harus membuktikan sesuatu dan itu terasa cukup.
Suatu sore, Rian duduk bersama beberapa teman. Gitar dimainkan dan yang lain refleks ikut bernyanyi sembari mengobrol hal lain. Ia meminum minumannya perlahan, rasanya biasa saja—mungkin terlalu manis—tapi ia tidak berniat mengeluh.
“Lagi capek, Yan?” tanya Zaki tanpa menoleh.
Ia mengangkat bahu. “Enggak. Cuma kerasa panas aja.”
Di Warzam, percakapan tidak pernah panjang. Diam tidak dianggap aneh, justru sering terasa lebih jujur daripada kata-kata yang dipaksakan.
Beberapa menit kemudian, Rian berdiri. Meletakkan gelas, mengangguk singkat, dan pergi tanpa ada yang menahan. Tidak ada yang bertanya ke mana ia akan pergi. Sore memang tidak selalu harus dihabiskan bersama.
Ia berjalan menyusuri jalan menuju sekolah, jalan yang sering ia lewati namun jarang benar-benar ia perhatikan. Pepohonan di sisi kiri mulai gelap menjelang senja, sementara arus siswa bergerak pulang dengan cara masing-masing. Di situlah ia melihatnya.
Seorang siswi berjalan sendirian di sisi jalan.
Langkahnya tenang, tidak tergesa-gesa. Tanpa HP di tangannya ataupun teman di sampingnya. Hanya dirinya sendiri dan langkah yang terasa pasti tanpa terlihat terburu-buru.
Pandangan itu seharusnya biasa saja. Setiap hari ada ratusan siswa yang pulang. Namun entah mengapa, matanya tertuju sejenak lebih lama dari yang ia sadari. Ia tidak berhenti, tidak juga memperhatikan lebih jauh. Hanya satu pandangan singkat sebelum kembali menatap ke depan.
Namun bayangan itu tidak langsung hilang.
Bukan wajahnya yang ia ingat. Bahkan ia tidak yakin bisa mengingat detailnya. Yang tertinggal justru caranya berjalan—tenang, tidak berusaha membuktikan apa pun.
Ada sesuatu dalam kesederhanaan itu yang mengganggunya.
Malamnya, saat duduk di kamar dengan buku pelajaran terbuka di hadapannya, pikirannya kembali ke detail kecil yang biasanya ia abaikan. Ia tidak bertanya pada siapa pun. Tidak mencari tahu siapa siswi itu.
Ia hanya menyadari bahwa ada bagian dalam dirinya yang masih bisa terusik oleh sesuatu yang sederhana.
Dan kesadaran itu terasa asing.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Sekolah, tugas, candaan singkat, dan obrolan tentang masa depan yang terdengar lebih seperti daftar aman daripada keinginan. Ia mendengarkan, mengangguk, dan menjawab seperlunya.
Namun di sela rutinitas itu, ia kembali melihat siswi yang sama. Selalu dari jarak dan tanpa sengaja. Kadang di depan gerbang, di jalan yang sama.
Dan selalu berjalan sendiri.
Rian tidak tahu kapan mulai mengenali ritmenya. Yang ia tahu, keberadaan itu kini terasa familiar meski tidak pernah benar-benar dekat.
Ia tidak menyebutnya ketertarikan.
Belum.
Hanya menyadarinya sebagai sesuatu yang ada—cukup untuk membuat hidup terasa sedikit berbeda dari sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa bahwa mungkin hidupnya tidak sepenuhnya berjalan datar seperti yang selama ini ia kira.
Jam lima tepat, suara mobil berhenti di depan rumah. Lidya yang baru selesai bersiap menoleh ke jendela. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.“Kayaknya udah dateng,” gumam Kak Fitri dari ruang tengah sambil menyeringai.Lidya memutar mata kecil, tapi senyumnya sulit disembunyikan. Tak lama, Rian masuk dengan penampilan yang lebih rapi dari biasanya. Lidya yang baru keluar dari kamar otomatis memperlambat langkahnya saat melihatnya.“Udah lama?” Tanyanya pelan“Baru aja.”Tatapan mereka bertemu sebentar, lalu sama-sama berpaling seolah tak ingin terlihat terlalu jelas menyimpan gugup.Rian kembali menoleh ke arah orang tua Lidya.“Om, Tante... kami pergi dulu.”“Ya udah, sana,” ujar Ibunya. “Hati-hati di jalan.”“Iya, Tante.”Rian menatap Lidya. “Yuk?”Lidya mengangguk.Sebelum keluar, ia sempat memeluk Ibunya sebentar, lalu menoleh ke Ayahnya. “Aku pergi dulu ya.”Ayahnya hanya mengangguk.Mereka berjalan berdampingan menuju pintu. Saat udara sore menyambut dari luar
Pagi itu terasa berbeda. Langit membentang cerah di atas halaman sekolah, seakan ikut merayakan hari yang telah lama dinanti. Barisan kursi tertata rapi, dihiasi rangkaian bunga sederhana yang melambangkan perpisahan sekaligus awal yang baru.Suara tawa, langkah kaki, dan obrolan penuh haru berpadu menjadi satu, memenuhi udara dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Hari kelulusan.Di antara kerumunan siswa yang mengenakan pakaian terbaik mereka, Lidya berdiri tenang. Kebaya sederhana yang dikenakannya jatuh anggun, mempertegas perubahan dirinya... bukan lagi gadis dingin yang menjaga jarak, melainkan sosok yang telah belajar membuka hati.Ia menarik napas pelan.Gak kerasa... semuanya sampai di titik ini.Matanya menyapu sekeliling. Bangunan sekolah yang dulu terasa biasa kini menyimpan begitu banyak cerita––tentang perjuangan, air mata, tawa, dan pertemuan yang diam-diam mengubah hidupnya.Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirnya.“Lidya!”Suara Laras memecah lamunannya. Gadis i
Waktu berjalan tanpa terasa. Seragam putih abu-abu yang dulu terasa baru, kini mulai akrab di tubuh Lidya. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin kamar, merapikan kerah seragam sambil menatap potongan rambut barunya.Gak kerasa udah kelas tiga lagi.Tahap terakhir sebelum meninggalkan masa sekolah.Ia memandangi bayangannya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Tidak ada lagi kegelisahan yang dulu sering muncul yang tersisa kini hanya ketenangan yang tumbuh perlahan. Dari atas meja, HP-nya bergetar pelan.Satu pesan masuk.“Ciee... yang udah kelas tiga.” SMS dari Rian.Lidya tersenyum tipis.“Iya dong.” Ketiknya singkat.Baru saja SMS itu terkirim, HP-nya berdering. Nama Rian kembali muncul di layar.“Halo?”“Masih betah di kamar? Mau berangkat jam berapa?”Lidya mengernyit kecil. “Udah mau berangkat, tapi kok––”Kalimatnya terhenti. Ia buru-buru menutup telepon dan memasukkan HP-nya ke dalam tas.Ia bergegas keluar kamar. Di ruang tamu, Rian duduk santai sambil menatapnya dengan sen
Beberapa bulan sejak mereka tak lagi berada di tempat yang sama, banyak hal mulai berubah. Ritme hari-hari tak lagi seperti dulu. Jarak, kesibukan, dan dunia baru perlahan mengambil ruang masing-masing.Namun, di antara semua perubahan itu, ada kebiasaan kecil yang diam-diam tumbuh. Rian, sebisa mungkin, akan menjemput Lidya sepulang sekolah. Tidak setiap hari tapi cukup sering untuk menjadi sesuatu yang ditunggu.Pagi ini, Lidya duduk di bangkunya dengan buku terbuka di atas meja. Matanya menghadap halaman yang sama sejak tadi, tanpa benar-benar membaca satu kata pun.Tangannya memegang HP, layar SMS dengan nama Rian masih terbuka.“Lagi apa?”Pesan itu sudah hampir sepuluh menit terkirim, tapi belum dibalas. Ia sempat ragu, lalu mengetik lagi.“Cie... yang lagi fokus belajar.”Pesan kedua terkirim.Lidya menghela napas kecil, lalu mengunci layar HP-nya.“Kenapa?”Suara Laras terdengar dari bangku sebelah.Lidya menggeleng pelan. “Gak apa-apa.”Beberapa detik kemudian, tangannya kemb
Rian duduk di atas motornya yang terparkir di depan gerbang rumah Lidya. Sejak tadi ia hanya diam, sesekali melirik ke arah pintu. Ia memilih menunggu di luar... daripada harus mengetuk rumahnya.Tak lama, pintu terbuka. Lidya keluar dengan tas di bahunya, sambil membetulkan sepatu. Begitu mengangk
“Three point, Yan!”Suara Zaki terdengar lantang di tengah lapangan. Bola melayang cepat ke arah Rian. Ia menangkapnya dengan refleks, lalu tanpa banyak berpikir langsung melepaskan tembakan dari luar garis tiga poin. Bola berputar di udara dan––masuk.“Masuk!” teriak seseorang, disusul sorakan dan
Rian baru menyadari ada PR yang belum ia kerjakan ketika melihat satu per satu temannya maju ke meja guru untuk mengumpulkan buku tulis. Gerakan mereka terasa biasa, tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya tertarik kembali ke kenyataan. Guru berdiri di depan kelas, lalu mengan
Diskusi di kelas hari itu terasa lebih hidup dari biasanya. Bukan karena gurunya belum datang, melainkan karena semua orang sedang membicarakan sesuatu yang benar-benar milik mereka sendiri. Buku kenangan. Kursi-kursi tidak lagi menghadap rapi ke depan. Beberapa diputar sete






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.