Share

Bab 4

Author: Wardana
last update publish date: 2025-10-08 19:55:39

"Pak, Anda mau cari siapa?"

Baru beberapa langkah masuk, Lucas langsung dihadang oleh seorang satpam gedung.

"Tunggu, saya cek dulu."

Dalam hati, Lucas merasa cukup kagum.

Wah, kota besar memang beda, ya. Bahkan ada satpam segala. Tapi satpam ini sih cuma pajangan doang, nggak ada apa-apanya dibanding si Ergol.

Ergol adalah teman main Lucas di kampung. Meskipun nggak bisa bela diri, dia bisa menghajar seekor sapi dengan satu pukulan. Dibanding Ergol, satpam ini kalah jauh, bahkan sama sapi aja nggak ada bandingannya.

Lucas mengeluarkan secarik kertas lagi dari kantong celananya, membaca tulisan di atasnya, lalu berkata, "Saya mau ketemu Surya Dexen."

"Surya Dexen? Siapa tuh? Kok namanya kayaknya nggak asing?" Satpam muda itu sempat bengong dan mengulang nama itu pelan.

"Lho, itu kan bos besar kita!"

Satpam lain yang lebih tua langsung bereaksi, kaget saat menyadari siapa yang disebut Lucas. Dia buru-buru menarik baju rekannya dan berbisik, "Jangan ngomong sembarangan! Kalau sampai kapten dengar, kita bisa dipecat!"

"Ah!"

Satpam muda itu langsung kaget, matanya membelalak penuh penyesalan. Kenapa tadi gue banyak ngomong, sih? pikirnya. Sekarang jadi kelihatan banget dia nggak tahu siapa bosnya sendiri.

Tapi saat dia melihat penampilan Lucas dari ujung kepala sampai kaki, pikirannya langsung berubah. Orang ini sama sekali nggak kelihatan kayak orang yang kenal bos besar. Cuma seorang pekerja dari desa, mana mungkin ada hubungannya dengan seorang Bos perusahaan raksasa. Dia mulai curiga, jangan-jangan Lucas datang buat mengadu soal proyek atau masalah gaji, seperti di film yang baru dia tonton minggu lalu. Dalam film itu, ada seorang pekerja kasar yang mencari bos besar buat menuntut haknya.

Satpam itu menatap Lucas penuh kewaspadaan, dan si satpam tua tampaknya berpikir hal yang sama.

"Kamu mau apa ketemu dengan Pak Dexen?" tanya satpam tua itu sambil berdehem, berusaha terlihat serius. Matanya menatap Lucas seperti sedang mengawasi seorang kriminal.

"Bukan saya yang mau ketemu, tapi Pak Dexen mau ketemu saya,” jawab Lucas santai.

Bagi Lucas, status orang yang mempekerjakannya di dunia nyata nggak penting.

Mau sehebat apa pun mereka, pada akhirnya mereka tetap orang yang butuh bantuannya.

Mendengar itu, kedua satpam makin yakin Lucas pasti datang untuk menuntut sesuatu, mungkin gaji.

"Udah deh, nggak usah basa-basi. Pak Dexen ada di lantai berapa? Saya mau langsung ketemu dia!" kata Lucas dengan nada malas, malas berdebat dengan dua orang ini.

"Pak Dexen nggak ada di sini, jadi lebih baik kamu pulang saja," kata satpam tua itu sambil kembali mengamati Lucas dari atas sampai bawah. Dia yakin orang ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan bos besar mereka.

Lucas malas buang waktu. Dia bisa melihat jelas dari tatapan mereka, dua satpam ini meremehkannya hanya karena penampilannya yang sederhana. Dasar mata duitan! pikir Lucas sambil mendengus.

"Kalau dia nggak ada, ya udah. Saya masuk aja dulu buat nunggu!" Lucas langsung melangkah ke dalam gedung tanpa basa-basi lagi.

"Eh, tunggu! Kamu nggak boleh masuk!"

Kedua satpam tidak menyangka Lucas benar-benar nekat mencoba masuk. Mereka segera berusaha menghentikannya.

Namun, saat itu juga, pintu lift di lantai satu terbuka. Dari dalam, keluar seorang pria paruh baya yang agak gemuk bersama seorang pria lain yang berkulit agak gelap dan kurus.

"Kalau dihitung-hitung, waktunya sudah pas. Kok Pak Lucas belum juga menghubungi saya, ya?

Pelix, bagaimana kalau kamu langsung ke stasiun menjemputnya? Foto dia kan sudah kamu lihat," kata pria gemuk itu dengan nada sedikit cemas.

"Baik, Pak Dexen. Saya akan segera ke sana," jawab Pelix dengan hormat.

Belum sempat Pelix beranjak, keributan di pintu masuk gedung menarik perhatian Surya Dexen. Dia langsung mengernyitkan alisnya." Kamu cek dulu itu apa yang sedang terjadi di depan."

"Baik, Pak."

Pelix segera berjalan cepat ke arah pintu masuk gedung dan melihat dua satpam sedang mencegah seorang pemuda masuk ke dalam.

"Pak Pelix, orang ini bilang mau ketemu Pak Dexen, terus maksa mau masuk ke dalam gedung ," lapor salah satu satpam.

Pelix tentu dikenal oleh semua pegawai di perusahaan. Meski secara resmi dia hanya supir pribadi Pak Dexen, semua orang tahu posisinya tidak sesederhana itu. Banyak keputusan kecil dalam perusahaan yang mewakili pandangan Pak Dexen biasanya disampaikan lewat Pak Pelix.

Pelix menatap pemuda itu dengan saksama. Mendadak dia terlihat terkejut. "Kamu... Lucas?" tanyanya dengan mata melebar.

"Betul, saya Lucas."

Lucas melirik Pelix dan segera menyimpulkan bahwa pria ini bukan Surya Dexen. Dari sikap dan auranya, Pelix tidak punya wibawa seorang pemimpin besar, meskipun terlihat dihormati.

"Senang bertemu dengan Anda!"Pelix tahu betapa pentingnya Lucas bagi Surya Dexen. Begitu yakin bahwa dia adalah orang yang dimaksud, Pelix langsung menyambutnya dengan penuh hormat. Dia mengulurkan tangan sambil berkata, "Saya Pelix, Asisten Pak Dexen. Tadi saya baru saja akan pergi ke stasiun untuk menjemput Anda. Ternyata Anda sudah sampai!"

"Ah, nggak apa-apa. Hitung-hitung saya jadi tahu jalan sendiri," jawab Lucas sambil tersenyum kecil.

Lucas bukan tipe orang yang suka sok penting. Kalau orang lain bersikap sopan, dia pun akan membalas dengan sikap yang sama. Melihat Pelix begitu hormat, Lucas merasa tidak enak juga.

"Pak Dexen ada di sana. Mari ikut saya, saya akan membawa Anda ke sana," kata Pelix sambil memberi isyarat dengan tangannya.

Dia lalu berjalan mendahului untuk menunjukkan jalan.

Sementara itu, kedua satpam hanya bisa memandang Lucas dari belakang dengan ekspresi terpana. Mereka bahkan tidak bisa menutup mulut yang ternganga.

"Dia beneran tamu Pak Dexen?" gumam satpam muda dengan tidak percaya. "Kalau sampai Pak Pelix yang datang langsung, sudah pasti dia tamu penting!" jawab satpam yang lebih tua sambil menghela napas Untung Pak Pelix datang tepat waktu. panjang Kalau sampai kita mengusir dia tadi, kita pasti bakal kena masalah besar!"

Sementara Pelix memimpin jalan, Lucas sudah memperhatikan seorang pria lain di kejauhan, pria bertubuh agak gemuk yang tadi keluar dari lift. Kalau tebakan Lucas tidak salah, pria itu pastilah Surya Dexen, Ketua perusahaan Dexen, orang yang harus dia temui.

"Pak Lucas, kan?"

Ketika Lucas mendekat, Surya Dexen berjalan cepat ke arahnya sambil mengulurkan tangan dengan ramah.

Lucas tersenyum tipis dan mengangguk, lalu dengan natural ia berjabat tangan dengan Surya Dexen.

Sikap sopan seperti ini memang sudah menjadi kebiasaan Lucas, dan kali ini ia merasa agak terkejut dengan kehangatan Surya Dexen. Ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan seorang majikan yang begitu ramah. Meskipun dia diundang untuk melaksanakan sebuah tugas, sikap hangat yang ditunjukkan oleh seorang direktur perusahaan besar seperti ini membuat Lucas merasa heran, seolah-olah mereka bertemu sebagai orang setara, bukan atasan dan bawahan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 140

    Setelah pembicaraan tadi beralih, Markus mulai berbincang dengan Lucas tentang topik-topik pengobatan tradisional. Kebetulan, ada beberapa permasalahan akademis yang selama ini membingungkan Markus. Awalnya, ia bertanya pada Lucas hanya untuk mencoba keberuntungan, tapi jawaban Lucas membuatnya benar-benar terkejut dan tercerahkan.Dalam hati, Markus menyadari bahwa dirinya seperti katak dalam tempurung. Banyak masalah yang selama ini dianggap rumit oleh Markus, Lucas tidak menjawabnya secara langsung, tetapi memberikan petunjuk yang sangat mendalam sehingga membuka wawasan Markus.Diam-diam, Markus merasa sangat bersyukur sekaligus kagum pada Lucas. Cara Lucas menjelaskan lebih seperti diskusi atau saling bertukar pikiran daripada langsung memberikan jawaban pasti. Namun, Markus tahu, Lucas sebenarnya sedang membimbingnya seperti seorang guru yang sangat perhatian, menggunakan cara-cara yang halus untuk mengarahkan dan menginspirasi muridnya.Bukan hanya membuatnya mamp

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 138

    "Kak Roy, aku dan Pak Markus sudah pernah ketemu di Toko Buku Xoxo," Lucas tersenyum sambil menjelaskan kepada Roy. "Waktu itu kita sempat diskusi soal ilmu medis... Oh iya, waktu itu pas kembali dari tempatmu, aku lagi mikirin rencana pengobatanmu. Ada beberapa ramuan obat tradisional yang khasiat dan cara kerjanya lupa-lupa ingat. Karena buku referensiku ditinggal di kampung, aku ke toko buku buat nyari info.""Wah, ternyata kamu sudah kenal sama Kakek Markus. Bagus deh, jadi tidak perlu aku kenalin lagi."Roy merasa lega. Dengan begitu, tugasnya sebagai penghubung sudah selesai. Kalau mereka sudah saling kenal, komunikasinya pasti bakal lebih lancar.Roy sih biasa aja mendengar ucapan Lucas, tapi di telinga Markus, itu terasa mengejutkan!Awalnya, dia pikir Lucas yang masih muda ini pasti berasal dari keluarga besar yang terkenal di dunia pengobatan tradisional. Kalau begitu, wajar saja kalau dia punya resep kuno yang langka.Tapi kenyataannya, Lucas ke toko b

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 139

    Memikirkan hal itu, Markus tanpa sadar menatap Lucas dengan lebih dalam, sambil merasa sedikit malu atas pikirannya tadi yang kurang pantas untuk orang seusianya.Namun, sebagai seorang dokter, berpikiran terbuka adalah hal yang wajar, jadi tidak ada yang aneh."Hehe, dulu sempat menjabat sebentar," Lucas mengangguk santai. "Makanya, sudah sewajarnya saya mewakili anggota tim saya untuk berterima kasih.""Kalau Tuan Lucas bicara begitu, ya sudah, saya tidak akan terlalu sungkan. Silakan ke ruang kerja saya, ada beberapa masalah medis yang selama ini saya belum temukan jawabannya. Mudah-mudahan Anda tidak keberatan membantu saya..." kata Markus."Panggil saja saya Lucas. Dengar orang manggil Tuan Lucas rasanya terlalu kaku," balas Lucas sambil tersenyum. "Soal bantu-membantu, jangan dibilang 'mengajar,' lebih tepat kalau kita bilang tukar pikiran.""Baiklah, kalau begitu saya akan panggil kamu Lucas. Tapi kamu juga jangan panggil saya Pak Markus, lebih enak k

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 135

    Apakah karena dia dimarahi sekali, dia langsung berubah? Berhenti mencoba mendekati aku lagi?Tapi, rasanya tidak mungkin, deh. Yang jadi pertanyaan utama adalah, kenapa Lucas bisa ada di bus? Bukannya dia biasanya dijemput pakai mobil?"Kamu... kamu sengaja naik bus yang sama sama aku, ya?"Tania akhirnya mengutarakan kecurigaannya."Sengaja?"Lucas tersenyum sambil mengusaphidungnya, "Aku naik duluan, bagaimana aku bisa tahu kamu bakal naik dari daerah perkampungan? Apa aku bisa meramal masa depan?"Eh, tapi ngomong-ngomong, Lucas malah refleks menyentuh liontin di dadanya. Sebenarnya aku bisa saja meramal, sih...Cuma ya ramalannya tidak jelas, aku jugatidak ngerti artinya apa. Sinyalnya tidak bisa aku baca, tidak tahu deh apa maksud si liontin ini.Mendengar jawaban Lucas, Tania agakbengong.Iya juga, kan aku naik setelah dia. bagaimana caranya dia bisa tahu aku bakal naik?Kalaupun dia tahu aku biasa naik bus nomor 87,

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 136

    "Masih belum pergi? Berdiri di sini mau nunggu aku traktir teh, ya?"Pak Wadi langsung menepuk David. Dia adalah Wakil kepala di sekolah swasta, jadi tidak banyak yang dia takutin.Lagipula, SMA Pertama punya koneksi kuatdi tingkat provinsi, langsung di bawahpengawasan provinsi, jadi dinas pendidikan daerah aja tidak bisa ngapa-ngapain..."I-iya, iya!"David buru-buru kabur. Pak Wadi ini jelas bukan orang yang bisa dia cari masalah.Setelah David pergi, Tania masih berdiri ditempat, bingung apakah harus ikut pergi atau tetap di sana. Tapi karena Pak Wadi belum nyuruhdia pergi, dia juga tidak berani jalan, jadi cumaberdiri canggung di situ."Hehe, kamu Tania, ya?"Wajah Pak Wadi yang tadi serius dan suramtiba-tiba berubah jadi penuh senyum. "Tidak adayang bikin kamu tidak nyaman, kan?""Tidak, terima kasih, Pak Wadi."Tania menggeleng pelan."Bagus kalau tidak ada. Kalau si David itugangguin kamu lagi, la

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 137

    Lucas melihat Tania yang sudah berada jauh, lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon Roy."Oi, Pak Tua Roy, lagi di mana kamu?"Telepon langsung diangkat, dan Lucas langsung bertanya."Aku lagi di gang Kaisar, belakang SMA Pertama... Tapi tunggu, Lucas, kamu barusan manggil aku apa? 'Pak Tua Roy'? Kok aku dengarnya aneh ya?"Roy protes, "Mending kamu panggil aku 'Roy' atau 'Hunter Dog, jangan 'Pak Tua Roy'. Emangnya aku setua itu?""Oke, kalau gitu aku panggil kamu 'Kak Roy'. Di luar, aku lebih muda dari kamu, nggak enak manggil 'Roy'."Lucas menjelaskan, "Aku sudah sampai nih, lagi di halte depan gerbang utama SMA Pertama.""Oke, aku ke sana sekarang."Roy langsung setuju.Tidak lama, sebuah mobil polisi berhenti didepan Lucas. Roy menjulurkan kepalanya darijendela mobil. "Lucas, naik!"Lucas mengangguk dan duduk di kursipenumpang depan. Roy mulai menjalankan mobil pelan-pelan. "Eh, obat yang kamu kasih ke aku ituternyata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status