Masuk"Pak, Anda mau cari siapa?"
Baru beberapa langkah masuk, Lucas langsung dihadang oleh seorang satpam gedung. "Tunggu, saya cek dulu." Dalam hati, Lucas merasa cukup kagum. Wah, kota besar memang beda, ya. Bahkan ada satpam segala. Tapi satpam ini sih cuma pajangan doang, nggak ada apa-apanya dibanding si Ergol. Ergol adalah teman main Lucas di kampung. Meskipun nggak bisa bela diri, dia bisa menghajar seekor sapi dengan satu pukulan. Dibanding Ergol, satpam ini kalah jauh, bahkan sama sapi aja nggak ada bandingannya. Lucas mengeluarkan secarik kertas lagi dari kantong celananya, membaca tulisan di atasnya, lalu berkata, "Saya mau ketemu Surya Dexen." "Surya Dexen? Siapa tuh? Kok namanya kayaknya nggak asing?" Satpam muda itu sempat bengong dan mengulang nama itu pelan. "Lho, itu kan bos besar kita!" Satpam lain yang lebih tua langsung bereaksi, kaget saat menyadari siapa yang disebut Lucas. Dia buru-buru menarik baju rekannya dan berbisik, "Jangan ngomong sembarangan! Kalau sampai kapten dengar, kita bisa dipecat!" "Ah!" Satpam muda itu langsung kaget, matanya membelalak penuh penyesalan. Kenapa tadi gue banyak ngomong, sih? pikirnya. Sekarang jadi kelihatan banget dia nggak tahu siapa bosnya sendiri. Tapi saat dia melihat penampilan Lucas dari ujung kepala sampai kaki, pikirannya langsung berubah. Orang ini sama sekali nggak kelihatan kayak orang yang kenal bos besar. Cuma seorang pekerja dari desa, mana mungkin ada hubungannya dengan seorang Bos perusahaan raksasa. Dia mulai curiga, jangan-jangan Lucas datang buat mengadu soal proyek atau masalah gaji, seperti di film yang baru dia tonton minggu lalu. Dalam film itu, ada seorang pekerja kasar yang mencari bos besar buat menuntut haknya. Satpam itu menatap Lucas penuh kewaspadaan, dan si satpam tua tampaknya berpikir hal yang sama. "Kamu mau apa ketemu dengan Pak Dexen?" tanya satpam tua itu sambil berdehem, berusaha terlihat serius. Matanya menatap Lucas seperti sedang mengawasi seorang kriminal. "Bukan saya yang mau ketemu, tapi Pak Dexen mau ketemu saya,” jawab Lucas santai. Bagi Lucas, status orang yang mempekerjakannya di dunia nyata nggak penting. Mau sehebat apa pun mereka, pada akhirnya mereka tetap orang yang butuh bantuannya. Mendengar itu, kedua satpam makin yakin Lucas pasti datang untuk menuntut sesuatu, mungkin gaji. "Udah deh, nggak usah basa-basi. Pak Dexen ada di lantai berapa? Saya mau langsung ketemu dia!" kata Lucas dengan nada malas, malas berdebat dengan dua orang ini. "Pak Dexen nggak ada di sini, jadi lebih baik kamu pulang saja," kata satpam tua itu sambil kembali mengamati Lucas dari atas sampai bawah. Dia yakin orang ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan bos besar mereka. Lucas malas buang waktu. Dia bisa melihat jelas dari tatapan mereka, dua satpam ini meremehkannya hanya karena penampilannya yang sederhana. Dasar mata duitan! pikir Lucas sambil mendengus. "Kalau dia nggak ada, ya udah. Saya masuk aja dulu buat nunggu!" Lucas langsung melangkah ke dalam gedung tanpa basa-basi lagi. "Eh, tunggu! Kamu nggak boleh masuk!" Kedua satpam tidak menyangka Lucas benar-benar nekat mencoba masuk. Mereka segera berusaha menghentikannya. Namun, saat itu juga, pintu lift di lantai satu terbuka. Dari dalam, keluar seorang pria paruh baya yang agak gemuk bersama seorang pria lain yang berkulit agak gelap dan kurus. "Kalau dihitung-hitung, waktunya sudah pas. Kok Pak Lucas belum juga menghubungi saya, ya? Pelix, bagaimana kalau kamu langsung ke stasiun menjemputnya? Foto dia kan sudah kamu lihat," kata pria gemuk itu dengan nada sedikit cemas. "Baik, Pak Dexen. Saya akan segera ke sana," jawab Pelix dengan hormat. Belum sempat Pelix beranjak, keributan di pintu masuk gedung menarik perhatian Surya Dexen. Dia langsung mengernyitkan alisnya." Kamu cek dulu itu apa yang sedang terjadi di depan." "Baik, Pak." Pelix segera berjalan cepat ke arah pintu masuk gedung dan melihat dua satpam sedang mencegah seorang pemuda masuk ke dalam. "Pak Pelix, orang ini bilang mau ketemu Pak Dexen, terus maksa mau masuk ke dalam gedung ," lapor salah satu satpam. Pelix tentu dikenal oleh semua pegawai di perusahaan. Meski secara resmi dia hanya supir pribadi Pak Dexen, semua orang tahu posisinya tidak sesederhana itu. Banyak keputusan kecil dalam perusahaan yang mewakili pandangan Pak Dexen biasanya disampaikan lewat Pak Pelix. Pelix menatap pemuda itu dengan saksama. Mendadak dia terlihat terkejut. "Kamu... Lucas?" tanyanya dengan mata melebar. "Betul, saya Lucas." Lucas melirik Pelix dan segera menyimpulkan bahwa pria ini bukan Surya Dexen. Dari sikap dan auranya, Pelix tidak punya wibawa seorang pemimpin besar, meskipun terlihat dihormati. "Senang bertemu dengan Anda!"Pelix tahu betapa pentingnya Lucas bagi Surya Dexen. Begitu yakin bahwa dia adalah orang yang dimaksud, Pelix langsung menyambutnya dengan penuh hormat. Dia mengulurkan tangan sambil berkata, "Saya Pelix, Asisten Pak Dexen. Tadi saya baru saja akan pergi ke stasiun untuk menjemput Anda. Ternyata Anda sudah sampai!" "Ah, nggak apa-apa. Hitung-hitung saya jadi tahu jalan sendiri," jawab Lucas sambil tersenyum kecil. Lucas bukan tipe orang yang suka sok penting. Kalau orang lain bersikap sopan, dia pun akan membalas dengan sikap yang sama. Melihat Pelix begitu hormat, Lucas merasa tidak enak juga. "Pak Dexen ada di sana. Mari ikut saya, saya akan membawa Anda ke sana," kata Pelix sambil memberi isyarat dengan tangannya. Dia lalu berjalan mendahului untuk menunjukkan jalan. Sementara itu, kedua satpam hanya bisa memandang Lucas dari belakang dengan ekspresi terpana. Mereka bahkan tidak bisa menutup mulut yang ternganga. "Dia beneran tamu Pak Dexen?" gumam satpam muda dengan tidak percaya. "Kalau sampai Pak Pelix yang datang langsung, sudah pasti dia tamu penting!" jawab satpam yang lebih tua sambil menghela napas Untung Pak Pelix datang tepat waktu. panjang Kalau sampai kita mengusir dia tadi, kita pasti bakal kena masalah besar!" Sementara Pelix memimpin jalan, Lucas sudah memperhatikan seorang pria lain di kejauhan, pria bertubuh agak gemuk yang tadi keluar dari lift. Kalau tebakan Lucas tidak salah, pria itu pastilah Surya Dexen, Ketua perusahaan Dexen, orang yang harus dia temui. "Pak Lucas, kan?" Ketika Lucas mendekat, Surya Dexen berjalan cepat ke arahnya sambil mengulurkan tangan dengan ramah. Lucas tersenyum tipis dan mengangguk, lalu dengan natural ia berjabat tangan dengan Surya Dexen. Sikap sopan seperti ini memang sudah menjadi kebiasaan Lucas, dan kali ini ia merasa agak terkejut dengan kehangatan Surya Dexen. Ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan seorang majikan yang begitu ramah. Meskipun dia diundang untuk melaksanakan sebuah tugas, sikap hangat yang ditunjukkan oleh seorang direktur perusahaan besar seperti ini membuat Lucas merasa heran, seolah-olah mereka bertemu sebagai orang setara, bukan atasan dan bawahan.Begitu dengar ucapan Lucas, Pak Wadi langsung kaget. Anak ini pasti tahu sesuatu!Kalau Lucas cuma pasang muka bingung, Pak Wadi mungkin masih bisa tenang. Tapi ucapan Lucas yang kedengarannya santai itu justru bikin dia makin yakin kalau anak ini udah nangkep sesuatu. Meski begitu, untungnya Lucas kayaknya nggak mau ikut campur urusan dia, jadi Pak Wadi sedikit lega.Kalau sampai hal ini bocor ke kepala sekolah atau pihak dewan direksi, jabatan kepala tata usahanya bisa tamat."Hehe..."Pak Wadi tertawa canggung, lalu berkata, "Lucas, kalau nanti kamu ada masalah di sekolah, langsung aja cari saya, ya! Sekalian nanti kamu catat nomor HP saya.""Wah, terima kasih banyak, Pak Wadi!"Lucas langsung pura-pura kelihatan sopan dan penuh hormat.Dia sadar posisinya di sekolah ini cukup spesial. Tujuan utama dia ke sini sebenarnya buat jaga Melly. Jadi kemungkinan bakal ada aja hal-hal yang bikin masalah. Daripada setiap kali ada apa-apa harus repot-repot lapor
Lagian, dengan status kayak Melly, nilai bagus atau jelek sebenarnya nggak terlalu ngaruh. Dia pasti bisa masuk universitas, bahkan kalau nggak lolos sekalipun, ayahnya cukup punya koneksi buat bikin dia diterima di kampus elit mana aja."Kamu juga sadar, ya?"Paman Pelix nggak nyangka Lucas bisa cepat mikirin hal ini, jadi sedikit terkejut."Jadi benar?" Lucas mengernyit penasaran."Sebenernya saya juga nggak tahu maksud Tuan Dexen apa."Paman Pelix menghela napas panjang," Walaupun saya dekat dengan beliau, ada beberapa hal yang cuma dia sendiri yang paham.”Mendengar penjelasan Paman Pelix yang nggak membantu sama sekali, Lucas cuma bisa memutar matanya kesal. "Tapi Tuan Dexen sempat bilang ke saya, suruh sampaikan ke kamu supaya fokus jagain nona muda. Nggak usah banyak mikir yang aneh-aneh," lanjut Paman Pelix sambil mengulangi pesan Surya Dexen, "Kalau bisa, kasih dia perhatian lebih. Anak ini dari kecil kekurangan kasih sayang..."Lucas c
"Oh..." Lucas cuma bisa mengangguk, ngerti maksud Rainy. Tapi dalam hati dia sedikit nyesel, kalau tahu begini, tadi dia bakal masak lebih banyak! "Kamu ngapain masih berdiri di sini? Nggak lihat aku lagi makan? Aku jadi nggak nyaman!" Melly ngomel tanpa sadar apa yang lagi terjadi antara Lucas dan Rainy. Lucas nggak mau ribut sama Melly, dia cuma berbalik badan dan pergi ke kamarnya. Nggak ada gunanya melawan si ratu drama ini. Lagi pula, dibanding Melly yang bossy, Rainy yang sedikit jahil rasanya masih lebih gampang dihadapi. Di kamarnya, Lucas mulai beresin tas sekolah. Walaupun pelajaran SMA dia udah selesai belajar sendiri, tetap aja dia harus kelihatan serius di hari pertama sekolah biar nggak mencurigakan. Sementara itu, Melly lagi asyik menikmati mi di meja. Setelah mangkuknya kosong sampai tetes terakhir, dia masih merasa kurang. "Rainy, ini enak banget. Masih ada lagi nggak?" tanyanya sambil menjilat kuah di sumpitnya.
Setelah selesai dengan mi-nya, Lucas lanjut bikin kuah kaldu.Dia nggak repot-repot bikin kaldu dari nol kayak di restoran, karena pas lihat di lemari dapur, dia nemu kaldu instan. Benda ini pertama kali dia lihat, tapi kelihatannya menarik. Pas dimasukin ke panci, aroma gurih langsung menyebar ke seluruh dapur. Lucas mulai tumis sayuran pakai kaldu itu, tambah bumbu, lalu diisi air. Nggak butuh waktu lama, kuah mi pun jadi. Di sisi lain, dia udah masak mi tarik yang tadi dibuat, direndam sebentar di air mendidih, diangkat, dan ditaruh di dua mangkuk. Terakhir, dia tuang kuahnya di atas mi. Dua mangkuk mi panas yang menggoda aroma kini siap disantap. Meskipun nggak persis sama kayak resep otentik, rasanya pasti beda level dibandingkan makanan instan biasa. Di rumah, kakeknya bahkan selalu bilang mi buatan Lucas lebih enak daripada restoran. Sisa mi yang masih ada di panci cukup buat satu porsi lagi. Lucas perkirakan Rainy cuma bakal makan satu mangkuk, jadi sisanya bisa dia habiska
Lucas nggak nyangka kalau Rainy bakal ingat detail kayak gitu. Sekarang mau ngeles juga percuma, jadi dia cuma bisa menunduk dan ngaku:"Baiklah, aku akui. Aku tadi nggak sengaja, cuma iseng masukin password karena penasaran. Eh, malah nyambung ke saluran itu. Tapi aku nggak nonton kok. Begitu lihat isinya, langsung aku matiin TV-nya...""Oh, gitu ya?" Rainy jelas nggak percaya. Dia menatap Lucas dengan penuh curiga."Beneran, aku serius..." Lucas memasang wajah memelas. Toh, yang dia bilang itu memang mendekati kebenaran."Huh!" Rainy mendengus. Dia malas memperpanjang urusan ini, jadi langsung ambil remote TV box di meja dan siap ganti saluran. Tapi, matanya tiba-tiba terpaku pada selembar tisu bekas di atas meja.Tisu itu terlipat asal-asalan, dan di bagian luarnya kelihatan ada cairan bening yang menempel."Itu apa?" Wajah Rainy mendadak berubah hijau, dan suaranya mulai bergetar. "Dasar, Lucas! Kamu nggak cuma nonton hal ngg
Di layar TV, muncul sosok seorang artis yang cukup terkenal. Lucas sempat pernah lihat sebelumnya, tapi namanya nggak terlalu diingat. Yang bikin Lucas nggak nyangka, ternyata password channel itu memang cuma pakai kode default!Padahal tadi dia udah sok pintar nyobain berbagai kombinasi angka.Ini juga pertama kalinya Lucas nonton film romantis di layar segede ini. Biasanya dia cuma nonton di layar 10 inci laptop KW-nya. Layarnya kecil, gambarnya buram, beda jauh dengan sekarang yang HD dan serba jelas.Lucas jadi semangat. Jantungnya berdegup kencang, bahkan dia hampir berdiri mendekat ke layar buat nonton lebih jelas. Tapi belum lama menikmati, dia mendengar suara dari lantai dua."Ah... ngantuk banget... dasar Melly nyebelin, semalaman bikin aku begadang. Eh, sekarang dia malah tidur, aku jadi nggak bisa tidur..."Suara Rainy yang sedikit menggerutu terdengar, diiringi langkahnya turun pakai sandal.Dengan pendengaran yang ta







