Home / Romansa / Perjalanan Cinta dan Harapan / BAB 5 - Di Bawah Senja yang Sama

Share

BAB 5 - Di Bawah Senja yang Sama

Author: Kahfi Riza
last update Last Updated: 2025-11-01 13:24:45

Bel pulang akhirnya berbunyi, menggema di seluruh penjuru sekolah. Suara itu bagai tanda lega bagi El. Ia menatap langit, menghela napas panjang. Hari pertama… akhirnya selesai juga, batinnya. Meski lelah, ada rasa puas dalam dirinya, ia berhasil melewati hari penuh kejutan, dari hampir terlambat, sampai momen yang tak terduga di aula tadi.

Namun, di balik rasa lega itu, pikirannya masih saja tertuju pada satu hal, atau lebih tepatnya satu orang. Gadis yang tadi berdiri di sampingnya di lapangan. Tatapan mata yang sekilas bertemu membuat dadanya berdegup dengan irama aneh yang bahkan belum ia mengerti.

Osis pun mempersilahkan para siswa baru untuk pulang dan bersiap untuk MPLS hari kedua besok, El kemudian merapikan buku dan tasnya. Dalam hatinya, SMA Nusantara terasa tenang di bawah cahaya sore. Ia berjalan perlahan menuju gerbang, melewari barisan pot bunga yang masih disiram penjaga sekolah. Aroma tanah basah berpadu dengan angin senja yang lembut membuat langkahnya terasa ringan.

Sesampainya di depan sekolah, El memutuskan menunggu di halte bus umum. Matahari mulai condong ke barat, langit berubah warna menjadi oranye keemasan. Ia menatapnya lama, langit selalu punya tempat tersendiri di hatinya. Aneh ya, padahal tiap hari berubah tapi langit selalu indah.

Angin sore bertiup pelan, membuat rambutnya sedikit berantakan. Ia memasukkan tangan ke saku celana, menatap jalanan yang mulai padat. Hingga tiba-tiba, suara langkah cepat terdengar dari arah belakang.

“Naik bus umum juga?” suara lembut itu membuat El tersentak kecil. Ia menoleh cepat dan disana, berdiri gadis yang sedari tadi memenuhi pikirannya.

“Eh… iyaa… lo juga?” jawab El agak terbata.

Tiara mengangguk singkat sambil menatap jalan, bibirnya sedikit tersenyum.

El hanya terdiam. Hatinya berdebar, tapi wajahnya berusaha tetap tenang. Bus akhirnya datang, remnya berdecit halus saat berhenti di depan mereka. El menoleh ke arah Tiara. “Masuk duluan…” katanya sopan.

Tiara menatapnya sejenak, lalu melangkah naik. Ia memilih duduk di kursi belakang dekat jendela. El menyusul dan duduk agak di depan, di kursi dekat pintu. Suara mesin bus terdengar berat saat bus mulai melaju perlahan menembus keramaian sore kota Tangerang.

Suasana di dalam bus terasa aneh, hening tapi tidak benar-benar sepi. Beberapa siswa baru lain sibuk dengan ponsel, beberapa mengobrol pelan. Tapi bagi El, dunia seolah menyempit hanya pada dua orang, dirinya dan gadis itu yang belum tahu siapa namanya.

Dari pantulan jendela, ia bisa melihat Tiara yang tengah menatap keluar. Rambutnya bergoyang lembut mengikuti getaran bus. Sesekali gadis itu menarik napas panjang, entah lelah atau sekadar menikmati pemandangan senja yang berlari di luar kaca.

El menunduk, mencoba menenangkan diri. Kenapa ya, jantung gue kayak gini… batinnya. Ia membuka ponselnya, mengetik pesan singkat pada ibunya:

Bu, aku pulang telat ya. Jalanan macet banget nih.

Tak lama kemudian, balasan masuk:

Okee, hati-hati ya El.

Ia tersenyum kecil membaca pesan itu, lalu kembali menyandarkan kepala ke kaca jendela bus. Di luar, matahari sudah hampir tenggelam, meninggalkan guratan cahaya merah di langit. Ia memandang ke depan, lalu ke arah belakang. Tatapan mereka bertemu sekilas.

Sekejap, waktu seperti berhenti.

Tiara buru-buru memalingkan wajah, sementara El cepat-cepat menatap ke arah lain, pura-pura memperhatikan jalan.

Suasana kembali diam. Hanya suara mesin dan klakson mobil yang mengisi ruang di antara mereka. Namun, di dada keduanya, ada sesuatu yang bergerak, rasa yang samar, yang baru mulai tumbuh.

Bus berhenti di lampu merah. Dari kaca, cahaya senja menembus ke dalam, mengenai wajah Tiara yang kini terlihat lebih lembut, berkilau oleh pantulan cahaya oranye. El tak sengaja memperhatikan terlalu lama… hingga Tiara menoleh dan mata mereka kembali bertemu.

Kali ini, Tiara tidak menghindar.

Hanya senyum kecil yang muncul di sudut bibirnya.

Bus kembali berjalan, mengguncang sedikit. El segera berpaling ke luar jendela, wajahnya memerah. Tapi senyum itu… entah kenapa terasa hangat di hatinya.

Sampai akhirnya, bus berhenti di sebuah perempatan besar. Tiara berdiri, hendak turun. El terkejut.

“Oh… rumah lo di sini ya?” tanyanya spontan.

Tiara menatapnya sekilas. “Iya, di belakang gang itu…” jawabnya pelan, lalu menambahkan, “See you tomorrow ya, El.”

El mengerjap. Dia tau nama gue, tapi gue masih belum tau namanya… apa gue tanya namanya ya?

Sebelum sempat bertanya, pintu bus sudah tertutup dan kendaraan itu kembali melaju, meninggalkan Tiara yang kini berjalan pelan di trotoar.

El menatap punggungnya dari jendela, matanya tak lepas sampai sosok itu benar-benar menghilang di tikungan.

Dan entah kenapa, di tengah hiruk pikuk kota sore itu, El merasa sesuatu baru saja dimulai, sesuatu yang belum ia pahami, tapi membuatnya tersenyum tanpa sadar.

Bus terus melaju, membawa El pulang… bersama jutaan tanda tanya yang menggantung di benaknya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjalanan Cinta dan Harapan   BAB 17 - Retakan yang Tak Terlihat

    Pulang sekolah biasanya menjadi waktu paling ringan untuk El.Biasanya, Rafa bercanda receh, Faqih ribut sendiri, Tiara cerita hal-hal kecil yang entah kenapa selalu menarik.Tapi hari itu… semuanya terasa patah ritmenya.Bahkan langkah kaki mereka pun tidak kompak seperti dulu.Kenzo berjalan di sisi Tiara.Mereka bicara soal hal-hal yang El tidak tahu.Lomba lama yang El tidak pernah dengar.Cerita masa SD yang El tidak pernah ada di dalamnya.Untuk pertama kalinya, El merasa seperti tamu dalam lingkaran yang seharusnya miliknya.Faqih ngeh duluan.Ia coba narik El ke tengah obrolan.“Eh, El punya cerita juga nih! Dia—”“El,” potong Kenzo halus sambil menatap, “lo dulu ikut ekskul apa?”Pertanyaan sederhana.Normal.Nggak salah apa-apa.Tapi entah kenapa… El merasa seperti lagi diuji.“Futsal,” jawab El singkat.“Oh, pemain futsal ya.” Kenzo tersenyum. “Pantes tinggi.”Tiara mengangguk setuju. “Iya, dari awal juga keliatan banget El bakal cocok main futsal.”Dan itu aneh.Karena bia

  • Perjalanan Cinta dan Harapan   BAB 16 - Yang Datang Tanpa Diduga

    Pagi itu terasa… berbeda.Bukan karena matahari lebih terang atau angin lebih sejuk.Tapi karena satu hal: mimpi itu.Mimpi yang semalam membuat dada El terasa aneh — campuran hangat, gugup, dan rasa takut yang sulit dijelaskan.Kalimat itu masih menggema di kepalanya:“Besok semuanya akan mulai berubah.”El mengucek mata di depan cermin kamar. Rambutnya masih acak-acakan, tapi moralnya turun naik.Ia mencoba menepis mimpi itu, berkata ke dirinya sendiri:“Ah… cuma mimpi. Nggak usah dipikirin.”Tapi tetap saja dadanya berat.Setelah sarapan dan diantar Ayah seperti biasanya, El tiba di sekolah dengan langkah sedikit lambat. Hari ini adalah hari pertama pelajaran dimulai — hari dimana kelas mulai lebih serius.Dan ketika ia melangkah ke gerbang sekolah, seluruh suasana tampak berjalan seperti biasa: murid-murid tertawa, suara langkah tergesa, aroma kertas baru dan seragam yang baru dicuci, dan pengumuman OSIS yang menggema.Tapi di antara semua itu, El merasa sesuatu… kosong.Karena ti

  • Perjalanan Cinta dan Harapan   BAB 15 - Pertanda Malam Itu

    Malam menurunkan tirainya perlahan.Lampu meja belajar di kamar El menyala redup, menyoroti buku-buku yang sudah lama tak disentuh. Suara jangkrir terdengar dari balik jendela yang setengah terbuka, membawa udara dingin yang mengigit kulit. Di layar ponselnya, obrolan grup mereka berempat masih terbuka, namun tak satu pun kata baru muncul. Sunyi—seolah masing-masing sedang memikirkan hal yang sama, tapi memilih diam.El menyandarkan punggungnya pada kursi, menatap langit-langit putih kamarnya yang mulai berbayang karena lampu. “Lo jatuh cinta, kan?” Kalimat Rafa terputar ulang di kepalanya, seperti kaset rusak yang tak mau berhenti.Ia menghela napas pelan. “Cinta?” gumamnya.Tangan kirinya tanpa sadar meraih ponsel, membuka galeri, dan menemukan satu foto: Tiara sedang tertawa—diambil tanpa sepengetahuannya saat mereka berempat nongkrong sore itu. Entah kenapa, setiap kali melihat foto itu, dadanya terasa hangat... tapi juga berat.“Apa mungkin Rafa bener?” bisiknya lirih.Ia memejam

  • Perjalanan Cinta dan Harapan   BAB 14 - Empat Cangkir Cerita

    Di sekolah, suasananya sedikit berbeda dari MPLS.Para siswa mulai memakai seragam lengkap, membawa buku pelajaran, dan duduk di kelas dengan wajah-wajah baru yang mulai saling mengenal lebih dekat.Tiara terlihat sudah duduk di bangku baris kedua dekat jendela — tempat yang sama seperti saat MPLS. Rambutnya dikuncir rapi, wajahnya tampak cerah.El masuk ke kelas, dan begitu matanya bertemu dengan Tiara, senyum kecil itu muncul lagi.Rafa, yang duduk di belakang, langsung nyeletuk.“Waduhhh, pagi-pagi udah senyum-senyuman. Gua aja belum sarapan, tapi udah kenyang liat beginian.”Faqih ngakak di sebelahnya. “Hahaha, ini mah bukan MPLS lagi, tapi MCSS — Masa Cinta Saat Sekolah.”Tiara hanya menunduk sambil tertawa kecil, sedangkan El pura-pura fokus membuka buku, padahal mukanya udah merah setengah mati.Jam pelajaran berjalan cepat, tapi suasana di kelas itu nggak pernah sepi.Faqih beberapa kali kena tegur karena ngelawak waktu guru lagi jelasin pelajaran.Rafa juga sempat ketiduran l

  • Perjalanan Cinta dan Harapan   BAB 13 - Hari yang Berbeda

    Pagi itu terasa lain.Cahaya matahari masuk lewat celah tirai, menembus kamar El yang biasanya masih gelap di jam segini. Tapi kali ini, ia sudah duduk di tepi ranjang, tersenyum kecil sambil memandangi layar ponselnya yang kosong — seolah menunggu notifikasi baru yang mungkin datang.Hatinya entah kenapa ringan.Tidak ada hal besar yang terjadi… hanya sisa perasaan hangat dari percakapan malam tadi. Tapi cukup untuk membuat paginya terasa penuh semangat.Saat keluar dari kamar, aroma nasi goreng buatan ibunya langsung menyambut. Di meja makan, ayahnya sedang menyeduh kopi sambil membuka koran. Begitu melihat El keluar dengan wajah cerah, senyum sang ayah langsung muncul.“Heh, kenapa nih pagi-pagi senyum-senyum sendiri?” godanya sambil menatap anak semata wayangnya.El refleks tertawa kecil, berusaha menahan ekspresinya.“Enggaa Yah, biasa aja. Hari ini hari pertama belajar biasa, jadi semangat aja mungkin.”“Oh gitu ya…” ayahnya mengangguk, lalu dengan nada menggoda menambahkan,“Kir

  • Perjalanan Cinta dan Harapan   BAB 12 - Setelah MPLS

    Malam itu terasa berbeda.Meski lelah, dan jam sudah menunjukkan pukul 21.48, entah kenapa El tetap belum merasakan ngantuk. Ia berbaring di ranjang, lampu kamarnya sudah diredupkan, hanya cahaya layar ponsel yang memantul di matanya.Tangannya menggenggam ponsel erat—seolah menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tak bisa jelaskan.Dan seolah semesta mengerti, notifikasi muncul di layar.Tiara 🕊️:“El, udah tidur?”El tersenyum kecil, mengetik pelan.“Belum. Kirain lo yang duluan tidur.”Balasan datang cepat.“Katanya boleh chat lagi, jadi yaaa... gue chat deh hehe.”El tertawa kecil tanpa suara.“Hehehe iya iya, bener juga. Lagi ngapain?”“Baru selesai nyusun buku pelajaran buat besok. Rasanya aneh ya, besok udah m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status