Share

4. Dia Terkenal?

Author: Zila Aicha
last update Last Updated: 2025-07-24 10:23:43

“Hei, kenapa malah melamun?” Felicity bertanya.

Ayleen menelan ludah dan tersenyum canggung, mencoba menenangkan diri setelah dia teringat kejadian di masa lalunya itu.

Jasper berkata, “Oh, dia mungkin sedang memikirkan topik skripsi miliknya.”

Ayleen hanya diam, memilih untuk menatap dua orang itu secara bergantian.

“Itu masih lama, tidak perlu dipikir dulu,” kata Felicity.

“Benar, ya kecuali kamu ingin segera lulus dan pergi dari kampus ini,” timpal Jasper.

Ayleen tersenyum dan hanya berkata, “Hm, aku lapar.”

Jasper tertawa geli, “Sebentar aku panggil Eliza dulu.”

Setelah mereka semuanya berkumpul, keempat mahasiswa itu pun berjalan menuju kantin. Ayleen tidak berhenti berulang kali melihat mereka, seakan tidak ingin bila dia terbangun dan menyadari semuanya hanyalah mimpi.

Memang ide tentang kemungkinan besar jika semua yang dia alami sekarang ini mungkin berkaitan dengan perjalanan waktu, tapi tetap saja dia tidak tahu kapan dia kembali ke masa depan.

Omong-omong soal masa depan, apa sekarang sedang berjalan? Ini dimensi lain atau apa jangan-jangan ini bukan perjalanan waktu, melainkan mimpi di saat aku sedang sekarat? Ayleen berpikir keras.

“Hm, benar. Banyak orang yang sedang koma bisa mengalami hal-hal seperti ini. Apa aku … juga termasuk ke dalam orang itu?” gumam Ayleen pelan yang ternyata didengar oleh Jasper.

“Koma? Siapa yang koma?” Jasper bertanya.

Ayleen menggelengkan kepala dengan cepat. “Tolong pesankan aku sekalian.”

Jasper mengangguk dan bergegas menuju ke arah stan yang menyediakan berbagai hidangan yang membuat para mahasiswa yang berada di sana meneteskan air liur.

Ayleen duduk bersama dengan dua sahabat baiknya yang masing-masing dari mereka sedang melakukan kegiatan.

Felicity sedang membaca majalah, sedangkan Elizabeth tampak bermain dengan ponselnya.

Hm, aku tidak tahu sampai kapan ini berjalan, tapi jika memang aku harus berada di sini untuk sementara waktu, itu artinya aku harus kembali beradaptasi, Ayleen berkata dalam hati.

Secepat kilat Ayleen mengambil ponsel miliknya dan mulai memeriksanya.

Ternyata tidak ada yang menarik di dalam ponselnya itu.

“Oh iya, di tahun ini aku … belum berkenalan dengan laki-laki manapun,” kata Ayleen pelan.

Elizabeth yang mendengarnya pun langsung terkikik, “Ya makanya jangan di perpustakaan terus."

“Iya, benar. Kamu harus pergi ke tempat lain, Sayangku,” kata Felicity yang sudah menutup majalah fashion favoritnya.

Ayleen membalas, “Apa hubungannya perpustakaan dengan tidak berkenalan dengan laki-laki?”

Jasper sudah kembali dan duduk di kursi yang kosong, tapi tampak tidak berniat untuk ikut menimpali percakapan mereka.

Elizabeth mendecakkan lidah, “Tentu saja ada. Memangnya ada pria tampan di sana?”

“Ada,” Ayleen menjawab cepat.

Felicity menguap, “Maksudmu pria berkacamata tebal dengan dandanan kutu buku, begitu?”

“Atau … petugas perpustakaan?” sahut Elizabeth dengan gemas.

Ayleen membuang napas dengan sebal, “Tentu saja bukan. Tadi saja aku bertemu dengan pria tampan.”

“Tidak perlu berbohong,” kata Jasper yang dengan santai mengunyah keripik kentang yang baru saja dia buka.

Ayleen menaikkan alis, “Apa maksudmu?”

Jasper menyeringai dengan penuh percaya diri, “Pria tampan seperti aku, tidak akan muncul di perpustakaan.”

Ayleen mendengus, sementara Elizabeth memutar bola matanya malas.

Saat Ayleen menoleh ke arah kanan, secara spontan dia berkata, “Itu dia.”

Ketiga sahabat Ayleen memutar arah pandang mereka secara bersamaan.

“Aku bertemu dengannya di perpustakaan,” kata Ayleen seraya tetap menatap ke arah Sea Finley yang sedang mengernyitkan dahi.

Tapi Ayleen tiba-tiba menyadari sesuatu lagi.

Tunggu dulu! Mengapa aku bisa sering bertemu dengannya? Apa mungkin dulu aku memang sering bertemu dengan dia tapi aku tidak menyadarinya?

Tapi, bagaimana bisa? Seingatku saat peresmian kemarin Sea bilang “senang akhirnya bisa bertemu denganku”? Bukankah itu artinya aku dan dia baru saja bertemu pada saat itu? Ayleen berpikir serius.

Felicity, Jasper dan Elizabeth yang memperhatikan arah pandang gadis itu sontak mendesah pelan.

“Ayolah, Leen. Lupakan saja!” kata Elizabeth.

Ayleen mengernyitkan dahi, “Lupakan apa?”

Jasper menggerakkan mata ke arah Sea yang saat itu sudah duduk di meja bersama dengan beberapa orang yang mungkin temannya satu jurusan.

“Hah?” Ayleen melongo.

Felicity mengedipkan sebelah mata, “Kamu … naksir Sea?”

Ayleen membelalakkan mata, “Apa? Tentu saja tidak.”

Ayleen hampir saja akan mengatakan jika dia telah menikah dan sudah memiliki seorang putri. Tapi, dia berhasil mengontrol mulutnya ketika dia tahu ketiga sahabatnya itu pasti akan menganggapnya tidak waras.

Ingat, saat ini dia sedang berada di tahun 2015, masa di mana dia masih menjadi mahasiswa tingkat tiga jurusan sastra Inggris di University of Stone Hill.

Maka, dia segera mengubah pertanyaannya dengan bertanya, “Kamu kenal dia?”

Ah, itu pertanyaan bodoh. Sea Finley adalah salah satu aktor yang sangat terkenal, seperti yang Melody katakan. Eh, tapi itu tahun 2025. Sekarang tahun 2015, apa dia juga terkenal di tahun ini? Ayleen bertanya-tanya di dalam hati.

“Siapa yang tidak mengenal dia, Ayleen? Kamu ini … astaga!” ucap Elizabeth dengan alis terangkat.

Ayleen seketika membalas, “Maksudmu dia juga terkenal? Seperti … artis? Dia sudah mengikuti dunia modeling? Dia-”

“Heh, apa yang kamu katakan?” potong Felicity tidak sabar.

Jasper juga menanggapi, “Kamu tadi bilang dia … artis? Oh, ayolah. Jangan membuatku ingin tertawa, Ayleen!”

Elizabeth tertawa jahat, “Benar. Lihatlah dia! Dia memang sangat tampan, tapi … melihat ekspresi kakunya yang seperti batu itu bagaimana bisa dia menjadi artis?”

Ayleen terpana mendengarnya.

Dia menatap ketiga sahabat baiknya dengan tatapan aneh.

Kalau kalian tahu di masa depan dia benar-benar menjadi aktor yang sangat terkenal, kalian pasti tidak akan mungkin mengejeknya seperti ini, Ayleen membatin.

Tapi, seolah dia masih ingat bahwa ada satu pertanyaan yang belum dijawab oleh mereka, Ayleen berkata lagi, “Lantas, mengapa kalian bilang dia itu terkenal?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjalanan Waktu: Kebangkitan Nona Penulis   76. Akhir

    Dua hari kemudian, Ayleen Hazel benar-benar pergi menemui Sea Finley yang telah menunggunya di Grande Cafe.Gadis itu tidak akan berani menunda waktu lagi untuk berbicara dengan kekasihnya yang telah bersedia memberinya waktu untuk berpikir dan mempersiapkan diri.Dia sengaja memilih cafe itu karena pada dasarnya semua jawaban yang dia telah coba cari dia temukan di dalam cafe itu, melalui seseorang yang dia temui di cafe itu.Ayleen datang terlebih dulu dan memilih meja paling pinggir yang menghadap ke arah jalanan. Dia sudah memesan kopinya dan hanya tinggal menunggu kedatangan Sea.Sea datang tidak lama kemudian, hanya sekitar sepuluh menit setelah Ayleen duduk di kursi pilihannya itu. Ayleen tersenyum pada pria muda itu yang menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan yang dalam.Ah, dia juga merindukan Sea.“Kenapa mengajak bertemu di sini?” Sea bertanya pada gadis yang masih menjadi kekasihnya itu. Ayleen menjawab, “Karena semuanya bermula dari sini. Maksudku … karena pemilik ca

  • Perjalanan Waktu: Kebangkitan Nona Penulis   75. Tentang Semuanya

    “Sea, mengapa kamu menjadi orang yang tidak rasional seperti ini?” balas Ayleen dengan tatapan tajam ke arah kekasihnya itu.Dia sedang lelah. Melihat kekasihnya yang datang tanpa memberitahunya lalu mempertanyakan apa yang dia lakukan seperti itu membuat Ayleen merasa tidak dipercaya.Sea pun terlihat tertampar oleh fakta. Tatapan matanya yang semula dipenuhi oleh rasa ketidak percayaannya itu kini menghilang seketika.Benar. Dia pun menyadari bahwa dirinya terlalu khawatir pada Ayleen. Kekhawatirannya tersebut membuat dia kehilangan sifatnya yang asli. Pria itu pun menundukkan kepala, tidak berani menatap langsung ke mata sang kekasih.“Maaf, aku … aku hanya cemas,” kata Sea dengan nada pelan.Ayleen sontak terdiam. Gadis itu seketika merasa bahwa dirinya terlalu berlebihan menanggapi Sea. Hatinya bergetar di saat melihat tatapan sedih di mata Sea. Hal itu membuatnya teringat akan Sea dewasa yang tidak pernah dia hibur. Dialah penyebab Sea bersedih di kehidupannya yang sebelumny

  • Perjalanan Waktu: Kebangkitan Nona Penulis   74. Terima Kasih!

    Ayleen pun menjawab dengan alis mengerut, “Iya? Apa yang ingin kamu minta dariku?”Oh, tolong. Dia sudah sangat kaya. Dia tidak akan meminta bayaran atau apapun untuk naskahnya, kan? Kalau itu soal uang, aku jelas tidak bisa membayarnya. Aku masih miskin sekarang, aku hanya mahasiswa biasa, bukan seorang penulis best seller, Ayleen berkata di dalam hati.Seolah bisa memahami apa yang sedang dipikirkan oleh gadis muda itu, Nick berkata, “Bukan sesuatu yang besar atau berat kok.”Ayleen menatapnya dengan tatapan tidak percaya.Nick pun tersenyum hangat pada gadis itu, “Kamu … harus membaca novel ini ketika kamu sendirian. Maksudku, jangan membacanya di depanku atau bahkan ketika ada orang lain di sekitarmu.”“Bisakah kamu melakukan hal itu, Ayleen?” Nick menambahkan sambil terlihat menatap Ayleen dengan tatapan penuh harap.Hanya itu? tidak berkaitan dengan uang? Apakah benar seperti itu? Tapi … dia memang sudah kaya, dia tidak memerlukan uang orang lain lagi, bukan? Apalagi dariku yang

  • Perjalanan Waktu: Kebangkitan Nona Penulis   73. Perbedaan Nick

    Nick tersenyum lembut pada gadis itu dan kemudian mengerutkan kening sebelum menjawab pertanyaannya, “Ayleen, aku benar-benar terkejut saat kamu malah bertanya tentang hal ini.”“Memang kamu berharapnya aku bertanya apa, Nick?” balas Ayleen yang masih terlihat tenang walaupun di dalam hatinya dia begitu sangat gelisah. Nick mengangkat bahu, “Tidak apa-apa. Hm, soal pengunduran diri itu. Sebenarnya … sudah sejak 1 bulan yang lalu keluargaku meminta aku untuk melepaskan cafe itu. Tapi, aku masih ingin berada di sana dan menjalani hari-hariku yang lebih nyaman.”Pria itu terlihat menerawang jauh sebelum kemudian melanjutkan, “Ayleen, sebenarnya itu cafe milikku. Aku berada di sana karena memang aku lebih menyukai mengelola bisnis kecil dibandingkan harus berada di perusahaan milik orang tuaku.”Ayleen sungguh tidak menduga bahwa ceritanya seperti itu.Apa yang dikatakan oleh Nick itu seperti sebuah dongeng atau cerita yang ngomongnya tersaji di beberapa novel unggulan. Seorang pemuda k

  • Perjalanan Waktu: Kebangkitan Nona Penulis   72. Rumah Nick

    Pelayan cafe yang baru itu langsung memberikan tatapan aneh ke arah Ayleen.Ayleen sendiri juga merasa tidak nyaman bertanya tentang alamat rumah Nick. Namun, dia harus segera menemui orang itu sehingga dia mencoba untuk tetap mempertahankan ekspresi normalnya.Tapi, ditatap seperti membuat dirinya menjadi bertanya-tanya apakah aneh jika dia bertanya tentang alamat pelayan cafe itu kepada orang yang baru saja dijumpainya pertama kali? “Kamu … apakah Ayleen?” pria muda itu bertanya kepada Ayleen dengan alis berkerut karena bingung.Ayleen melebarkan mata ketika namanya disebut. Bagaimana bisa dia tahu namaku? Ayleen membatin di dalam hati.“I-iya, saya Ayleen,” jawab Ayleen dengan terbata-bata.Pelayan muda itu pun langsung menganggukkan kepala, “Ah, aku sudah menduganya.”Ayleen menaikkan alis kanannya dan menatap pria itu dengan tatapan bingung sekaligus heran.Dia tahu namaku. Tapi dari mana? pikir Ayleen.“Oh, Nick sudah bercerita kepada aku kalau kamu pasti akan datang ke sini,”

  • Perjalanan Waktu: Kebangkitan Nona Penulis   71. Berhenti Sejenak

    Ayleen hanya bisa tersenyum lemah begitu dia mendengarkan perkataan teman-temannya itu. Ah, andai saja dia tak pernah terbangun di dalam mimpi di mana dia bisa melihat kehidupannya yang sebelumnya, dia pun juga tidak akan pernah mengerti jalan pikiran Natasha Mylan.Pasalnya begitu dia mendalami semua yang telah dilakukan oleh mantan temannya itu, dia merasa bahwa Natasha adalah sosok yang mengejutkan. Wanita itu tidak hanya menyimpan begitu banyak hal tapi juga melakukan hal-hal yang tak pernah diduganya.Yang dia mengerti adalah Natasha melakukan semua itu karena telah jatuh cinta pada seorang Sea Finley.Sesungguhnya cintanya tidak pernah salah. Hanya saja, sebuah penolakan telah mengubahnya menjadi orang yang sangat jauh berbeda. Natasha yang dia kenal adalah seorang wanita yang bisa memanipulasi siapapun dan menggunakan kemampuannya itu untuk kepentingannya sendiri. Dia tidak pernah memperdulikan dampak dari apa yang dia lakukan. Selain itu, dia pun terlihat begitu kuat dan t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status