Aku Menyukai Ayah Sahabatku

Aku Menyukai Ayah Sahabatku

last update最終更新日 : 2026-01-07
作家:  Yu Liani連載中
言語: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
評価が足りません
4チャプター
4ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

POV 3

Dewasa

Bos / CEO

Cantik

Pria Dingin

Drama

Cinta Pertama

Perbedaan Usia

Romansa Kantor

Noemi Lunara dan Mithalia Arani adalah dua sahabat yang bertemu pertama kali, di masa SMP lewat kejadian sederhana, lalu kembali dipertemukan di SMA internasional. Di balik persahabatannya itu, Noemi Lunara menyimpan perasaan yang salah pada ayah sahabatnya. Pria dingin dan berwibawa yang menjadi wali Mitha. Selisih usia sepuluh tahun, posisi sebagai figur ayah, serta sikap sang pria yang selalu menjaga jarak, membuat perasaan itu mustahil sejak awal. Di bangku SMA kelas 2, Noemi jatuh cinta pada pria yang tidak seharusnya ia inginkan. Dengan keberanian polos dan hati yang belum mengenal batas, ia memilih nekat. Ia mengejar. Ia caper. Ia mengirim pesan. Mencoba merayu, dan berulang kali mempermalukan dirinya sendiri. Semuanya berakhir dengan sikap dingin dan penolakan yang tegas namun dewasa. Bukan hanya ditolak, Noemi bahkan diposisikan sebagai “anak” Seseorang yang tidak pernah masuk dalam kemungkinan apa pun. Penolakan yang tidak melukai dengan kata-kata, tetapi meninggalkan bekas yang tak bisa dihapus. Hancur oleh rasa malu dan patah harga diri, Noemi pergi ke luar negeri tanpa pamit. Ia menghilang sepenuhnya. Menghilang selama sembilan tahun, tanpa sekali pun kembali ke tanah air. Ketika ia pulang, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-25. Noemi bukan lagi gadis lugu SMA yang dulu. Kepulangannya bukan karena rindu masa lalu, melainkan karena pekerjan. Bergabung dengan sebuah agensi hiburan besar. Yang tidak ia ketahui, agensi itu berada di bawah grup hiburan milik pria yang dulu menolaknya. Di antara peran sebagai ayah sahabat, sebagai atasan, dan sebagai pria yang mulai goyah oleh perempuan yang pernah ia tolak, batas-batas lama mulai retak. Masa lalu tidak pernah benar-benar pergi, perasaan yang seharusnya sudah mati, tapi ternyata hanya tertidur. Apakah benar-benar telah mati, atau hanya menunggu waktu untuk bangkit? Saat keduanya sama-sama tidak lagi bisa berpura-pura polos. Dalam bentuk yang lebih berbahaya? Yuk kepoin, maaf kalau ada yg typo, makasih*..*

もっと見る

第1話

1 Persahabatan yang Lahir Dari Hujan dan Payung Biru

Dunia memang memiliki ceritanya sendiri, pagi hari di Aurora International High School. Selalu dimulai dengan suara langkah sepatu yang teratur dan percakapan dalam berbagai bahasa. Inggris mendominasi di selingi Mandarin dan sesekali bahasa ibu yang lolos begitu saja dari bibir para murid.

Noemi datang seperti biasa, terlambat 3 menit.

Ia berlari kecil di lorong marmer, rambut pendeknya yang sebahu tergerai setengah terikat, di hiasi pita merah muda, dasi sekolahnya sedikit miring. Di tangannya ada segelas latte hangat dengan logo cafe mahal, yang jelas tidak dijual di sekitar sekolah.

“Mitha!” panggilnya panik.

Di depan ruang kelas 11 B, Mitha berdiri tenang sambil menutup buku catatannya. Tatapannya datar, seolah sudah menduga adegan ini akan terjadi. “Kamu lagi,” menjawab singkat.

Noemi senyum manja. “Tadi papa lama banget rapat, aku nggak enak motong.”

Mendengus kecil, “Itu alasan ketiga minggu ini,” jawab Mitha lalu membuka pintu kelas. “Masuk, Sebelum MR. Hamilton melirik ke arah kita.”

Mereka duduk bersebelahan, seperti biasa. Noemi langsung menyandarkan dagu ke meja, mendekat ke Mitha, berbisik, “Hari ini kamu kok, kelihatan cantik banget.”

Mitha meliriknya singkat. “Kamu mau minta contekan?”

Noemi tertawa kecil di bibir mungilnya yang di poles lip balm merah muda, tertawa tanpa rasa bersalah.

Beginilah mereka, tak pernah di buat-buat.

Di mata orang lain Noemi Lunara adalah gadis yang terlalu mudah disukai. Senyum ceria, tawa renyah dan sikap manja yang terasa tulus, bukan menyebalkan.

Ia tidak perlu berusaha keras untuk menjadi pusat perhatian, dunia seakan otomatis memberi ruang padanya.

Sedangkan Mithalia Arani, orang harus memperhatikannya lebih lama untuk menyadari kehadirannya, dia bukan tipe yang bersinar di permukaan. Namun, sekali seseorang duduk cukup dekat, mereka akan paham. Mitha adalah ketenangan yang kuat, pikiran yang teratur dan seseorang yang selalu tahu kapan harus bicara dan kapan memilih diam.

Noemi langsung berdiri pas bel istirahat selesai, meraih lengan Mitha. “Kantin, yuk. Aku lapar.”

“Kamu selalu lapar,” balas Mitha, tapi tetap mengikuti langkah sahabatnya.

Mereka berjalan melewati taman tengah sekolah, area favorit murid Aurora. Bangku kayu tertata rapi, pepohonan rindang dan kolam kecil dengan air mancur yang berkilau di bawah matahari pagi.

Sepulang sekolah, Noemi tidak pulang, menyuruh sopirnya pulang sendiri, ia justru ikut dengan Mitha. “Mith, aku ikut kamu pulang ya.”

Tidak merasa ada yang aneh, justru senang ada teman bermain. “Oke, ayo.” Mereka pulang bersama, tapi satu hal pasti Noemi membuka tas. Mengeluarkan bedak basah dari tasnya yang ia beli kisaran satu setengah juta, dengan kulit wadah warna hitam. Brand ini sangat terkenal, mahal dan elegan tentunya barang bagus. Menambah riasan dan tak lupa membubuhi pipi dengan perona merah mudah, ditambah lipstik merah muda menjadi segar dan cantik.

Mitha mau heran, tapi dia selalu suka dandan setiap saat jadi ini hal lumrah, bahkan detik ini mengipasi hidung yang Noemi menyemprotkan parfum ke dirinya sendiri bak mandi parfum. “Kita mau pulang, bukan mau ngedate.”

Noemi tersenyum penuh arti. “Ia tau kok.”

Setibanya di rumah, mereka masuk seperti biasa. “Papamu belum pulang ya?” sembari merapikan rambut.

Mitha melepas sepatu dan baju yang muak mengenakan ini, ingin mengganti ke kain yang lebih nyaman, meski kain baju sekolahnya bukan hal yang murahan. “Iya, paling lembur kalau gak sore baru pulang, napa?”

Noemi menunduk, 5 detik mengangkat kepala. “Emm tidak, kalau gitu aku boleh nginap nggak?”

Melempar bantal ke wajahnya, mereka sudah di kamar. “Pakai nanya, boleh lah.”

Noemi kegirangan, begitupun Mitha juga suka dia menginap karena ada teman, tapi kesenangan yang berbeda. Dia tidak tahu apa yang isi pikiran sahabatnya yang menyukai ayahnya sendiri!

Awal persahabatan mereka dimulai dari dulu semasa SMP.

Hari itu hujan turun tanpa permisi di halaman sebuah SMP, Mitha dengan seragam yang basah, berjongkok menangis di sisi gerbang. Ponselnya telah mati, di bawah hujan, dia menelpon beberapa kali orang rumah. Naas tidak ada yang mengangkat dan tidak ada yang menjemput pulang sampai ponselnya mati.

Di situlah Noemi Lunara muncul.

Rambutnya dikuncir asal, mendekati gadis itu, mengulurkan payung kecil berwarna biru dan berkata ringan, “Kamu kenapa? Tidak ada yang menjemputmu? Ayo masuk, biar sopirku yang antar.”

Mitha menelan ludah takut, tapi dia lebih takut lagi di tinggalkan di sini. “Aku, rumahku ada di jalan xxx.”

Noemi membukakan pintu untuknya, mereka mulai mengobrol di jalan menuju rumah Mitha, pak sopir segera mengantarkannya. “Tenang saja, aku akan mengantarmu.”

Awalnya takut, tapi sesampai di rumah, benar ini rumahnya. Mitha merasa aman dan bilang terima kasih, turun dari mobil yang sudah dijemput pria dewasa. “Kamu jangan turun … hujan, makasih ya.”

Noemi mengangguk, “Iya sama-sama, bye bye.” Melambaikan tangan dan menutup kaca mobil. Sekilas ia melihat pria dewasa yang menjemput teman barunya, merasa senang dan lega.

Semenjak itu, hujan selalu punya arti lain bagi Mitha.

Mereka tidak satu sekolah yang sama, setelah tahun itu berakhir, tidak pernah ketemu lagi. Kehidupan membawa mereka kembali ke jalurnya masing-masing.

Tiga tahun kemudian, di bawah langit yang cerah dan bendera negara yang berkibar anggun. Noemi berdiri di gerbang Aurora International High School. Sekolah itu terkenal bukan hanya karena fasilitasnya, tetapi karena para muridnya adalah anak-anak dari dunia yang berlapis. Diplomat, pebisnis, pewaris dan mereka yang dipersiapkan untuk memimpin sebelum dewasa.

Noemi menoleh, jantungnya berdegup ketika melihat sosok yang tidak asing, menghampiri dia dari turunan mobil hitam yang dikemudikan seorang pria, wajahnya tidak jelas. “Kamu?”

Mitha menoleh, melepas senyum ke pengemudi dan mengingat kembali tahun itu, raut wajahnya seketika berubah. Senyum kecilnya melebar hangat dan nyata, seolah jarak tiga tahun tak pernah ada. “Noemi kamu juga di sini?” menghampiri.

Mereka saling senyum tak menyangka dan Noemi memeluknya pergi bersamaan, mereka kini satu sekolah yang sama. Bahkan memutuskan duduk berdampingan di bangku yang sama hingga sampai kini, di kelas dua SMA.

Noemi tumbuh menjadi gadis ceria, manja dan manis, seperti namanya yang lembut dan bersinar. Dunia selalu ramah padanya, ia lahir dari sendok emas, terbiasa dengan gaun mahal, liburan ke luar negeri. Tawanya mudah, tangisannya jarang, dan hatinya terlalu polos untuk menyadari bahwa tidak semua orang hidup seberuntung dirinya.

Sedangkan Mitha, dia ketenangan yang berkelas, sama-sama dari keluarga berada, namun tahu arti menahan diri. Dia tidak banyak bicara, dan sedikit lebih dewasa. Setelah kejadian itu, dia belajar lebih keras untuk pencapaiannya. Menyimpan mimpi-mimpi besar dalam diam dan menjaga Noemi seperti menjaga sesuatu yang rapuh namun berharga.

Mereka dikenal sebagai dua sahabat yang tak terpisahkan. Noemi dengan cerita-cerita cerobohnya, Mitha dengan tatapan sabar yang mendengarkan semua ocehannya.

Mereka berada di ruang tamu sambil menonton dan buku pelajaran berserakan di depan TV. Noemi sibuk melihat ponsel dan jam di dinding yang seolah menunggu sesuatu. “Kamu sudah tanya Papamu pulang jam berapa?” Di keheningan, tiba-tiba Noemi bertanya.

Mitha menjawab sambil membalik buku pelajaran. “Tadi katanya jam delapan sih,” nadanya ringan, ini hal biasa.

Noemi terdiam sejenak.

Mendekati sahabatnya. “Emm, gimana pendapat Papamu boleh aku nginep kan? Bak tanya.” Melirik ponsel Mitha, ingin melihat lebih lagi, tidak mungkin ia chat duluan tanpa arah, itu konyol!

Mitha mendorong Noemi, menaruh ponsel, tapi kini terlalu dekat yang bergelantungan di pundak kirinya. “Suka lah, gak usah tanya lagi, papaku suka kalau ada teman yang menginap. Apalagi kamu, kan udah kenal lama dari tahun ini.”

Kalimat itu terdengar sederhana, terlau sederhana, hal lumrah kalau anak teman sebaya menginap, pasti orang tua senang.

Noemi tidak menanggapi, ia membenarkan posisi duduknya, tapi ada sesuatu dalam cara ia menghela napas. Sebuah jeda tipis yang nyaris tak terlihat, namun cukup untuk menyimpan makna.

Mitha tak menyadarinya.

Baginya, dunia masih ramah, sekolah adalah tempat aman. Persahabatan adalah hal yang tak akan berubah, dan orang-orang dewasa hanyalah latar belakang. Figur jauh yang tak akan pernah menyentuh ruang hatinya.

Dia belum tahu.

Bahwa suatu hari nanti, satu anak yang disebutnya dengan santai akan menjadi batas antara masa remaja dan kedewasaan.

Persahabatan yang lahir dari hujan dan payung biru itu, akan diuji oleh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Ketika Noemi asik melihat sosmed, bel pintu berdenting dan saat itu entah kenapa hatinya ikut berdenting. Tangan itu berhenti menscroll dan menunggu lantunan langkah kaki yang berdetak mendekat. Ia menoleh…*..*

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

コメントはありません
4 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status