MasukVonis yang dijatuhkan pada Nicholas lebih ringan dari tuntutan. Meski seperti itu. Nicholas tidak bisa terbebas dengan mudah. vonis hukuman penjara selama 10 tahun dengan denda 2 Milliar rupiah. Nicholas juga dilarang berdekatan dengan korban. Jika sudah bebas, Dia juga berada dalam pengasawan ketat polisi. Keluarga yang berpengaruh. Keluarga yang memiliki kekuasaan. Nyatanya tidak bisa melakukan apapun. Mereka memilih membuang Nicholas yang mereka anggap memalukan. Keluarga Nicholas yang memilih untuk diam dan tidak melakukan apapun. Lebih baik kehilangan satu anak yang gagal daripada kehilangan kepercayaan dari para investor. Sidang terakhir dihadiri oleh Monika yang didampingi oleh James. James menoleh. Memastikan bahwa Monika baik-baik saja. "Kamu baik-baik saja?" tanya James. Monika mengangguk. Ia mengamb
James tertawa. "Kau bilang apa? Kau sanggup membayarku berapapun?" Aurel menoleh. Bersindekap dan mendongak. Menatap James tanpa rasa takut. "Aku sungguh akan membayarmu. Aku tahu kau suka sekali uang." James berkacak pinggang. "Hm. Aku memang suka sekali dengan uang. Tapi-" menatap Aurel dari atas hingga bawah. "Dipikir-pikir kau sudah tidak takut melihatku? kemarin-kemarin kau begitu takut melihatku sampai memanggil Eve dan Bastian?" James yang keheranan. Aurel menggeleng. "itu tidak penting. Kau menerima tawaranku atau tidak. Kalau kau menyukai Eve. Kau harus mengejarnya." James tertawa lagi. "Dasar wanita ini..." mengusap keningnya. Benar-benar lucu. Di matanya Aurel sangat gila. "Apa aku terlihat menyukainya?" Aurel mengernyit. Mengangguk pelan. Semakin pecah tawa James. kemudian mendekati Aurel. Dengan wajahnya yang mulai serius. "Berhentilah mengganggu mereka." James menyipitkan mata. "Bukannya aku menceramahimu. Tapi mereka sudah bahag
Hidup berjalan dengan indah. Bastian membeli Mansion untuk ditempati bersama Eve dan anak-anaknya kelak. Ada beberapa barang yang ingin Eve beli di rumah barunya. Namun ia datang ke mall bukan bersama Bastian. Melainkan bersama kedua temannya. Bersama Meta dan Sheril. Sekalian Meta ingin membeli perlengkapan bayi. Oh ya, Ernando sangat sibuk. Pria itu belajar bisnis dengan sungguh-sungguh. Bahkan sekarang orang tuanya mulai percaya pada Ernando untuk mengurus bisnis. Setelah berbelanja. Mereka duduk di depan sebuah stand es krim. Masing-masing mereka membawa es krim di tangan kanan. "Apa menikah menyenangkan?" tanya Meta. "Ya." Eve mengangguk. "Coba ceritakan yang lebih banyak, kak. Agar aku mau menikah." Eve tertawa pelan. "Intinya bahagia karena kita selalu bersama." Meta menghela napas pelan. "Aku ingin menikah tapi aku masih ragu." Eve menoleh. "Apa kau curiga Ernando bermain perempuan di belakangmu?" Meta menggeleng. "Tidak. hanya saja..." "Ah entalah.." Sheri
Eve terdiam sebentar. "Aku baik-baik saja." Yerin mendekat. "Aku sudah lama mengenalmu Eve. Ibu-maksudku kakak.." Eve tertawa. "Ternyata canggung sekali. Bukan hanya aku tapi kakak juga." Yerin mengusap keningnya pelan. "Kita harus berusaha supaya tidak canggung dengan panggilan baru ini." Eve tertawa dan mengangguk. "Kamu terlihat gelisah..." Yerin menatap Eve. "Ibu tahu apa yang sedang mengusik kamu." Eve menghela napas. Seperti dulu. Ia memang tidak bisa berbohong pada Yerin. "Entahlah..." menggeleng pelan. "Aku hanya merasa tidak enak saja pada Aurel. Meski aku membencinya. Meski aku tidak dia berdekatan dengan Bastian. Tapi saat melihatnya aku merasa bersalah." Yerin menggeleng. "Kamu tidak perlu merasa bersalah. Yang kamu lakukan sudah benar." "Kalau aku menjadi kamu. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Bahkan lebih parah. Aku juga tidak suka Arsen berdekatan dengan wanita lain." Yerin berkacak pinggang. "Aku bahkan memastikan pegawai yang sela
Eve tersenyum. "Terima kasih." Yerin mengusap bahu Aurel sebentar. "Kalian masuklah." Bastian tidak berbicara apapun. Ia langsung membawa masuk ke dalam Mansion. Sedangkan Yerin menunggu Aurel sampai pergi. "Hai." Eve melambaikan tangan pada Elise yang duduk. Sibuk menggambar. Elise menoleh. Menatap Eve sebentar sebelum akhirnya melompat turun dari kursi. Dengan polosnya berjalan mendekat. Mengamati Eve sungguh-sungguh. "Kenapa?" tanya Eve. Bastian tertawa pelan. "Aunty cantik? tidak jelek seperti kemarin?" Elise mengangguk dengan polosnya. Eve berjongkok. Kemudian mengulurkan tangannya. "Jadi sekarang kita bisa berteman?" Elise menyambut uluran tangan Eve. "Hei boy!" sapa Bastian pada Noel yang baru turun dari tangga. "Jangan bilang kamu baru selesai belajar?" tanya BAstian. "Come on, Noel. Anak kecil seharusnya banyak bermain. Dulu paman sering bermain daripada belajar." "Jangan meracuni anakku dengan kebiasaan burukmu." Arsen yang baru saja mendekat.
Honeymoon telah usai. Hari ini adalah hari terakhir Eve cuti. Dan hari ini juga Eve dan Bastian akan datang ke rumah kakak mereka. "Bastian." Bastian memutar bola matanya malas. "Coba panggil aku yang lebih manis. Lebih menggoda dan lebih seksi." Eve menyipitkan mata. "Memangnya mau dipanggil apa? Hubby? Darling? atau my Husband." "Ehm.." Bastian berpikir. "My Darling sweety and my husband forever.." "Ih geli!" Eve mendorong dada Bastian. "Sayang." Bastian tersenyum sumringah. "Itu lebih baik. Pas, romantis, sedikit seksi dan menggoda juga." "Kau benar-benar." Eve tidak bisa berkata-kata lagi. Bersama dengan Bastian selama 24 jam ternyata tidak membuatnya bosan. Meski pria itu kerap kali melontarkan kalimat aneh atau rayuan aneh. tapi ternyata ia baik-baik saja. "Apa kau baik-baik saja jika aku masih bekerja?" tanya Eve. "Hm?" tanya Bastian. Terlihat bingung. "Maksudku. Siapa tahu kau diam-diam ingin aku di rumah tidak usah bekerja." Basti







