LOGINElise tidak pernah menyangka kalau Oliver datang menjemputnya untuk makan siang bersama.“Ada yang menyuruhmu?” tanya Elise berada di dalam mobil bersama Oliver.Kedatangan Oliver tidak luput dari karyawan yang ada di Skyline. Mereka berdua langsung menjadi perbincangan.“Tidak.”“Jangan berbohong. Aku tahu kau tidak akan repot-repot datang ke sini untuk makan siang bersamaku.” Elise menoleh menatap Oliver.Elise memutar bola matanya malas. “Sandiwaranya aku yang atur. Aku akan memberitahumu kalau perlu.”Oliver menghela napas pelan. “Aku disuruh ayahku.”Elise akhirnya paham.Oliver memang alat bagi keluarga.Oliver seperti patung yang dimainkan oleh keluarganya sendiri.“Apa kau tidak punya pilihan sendiri?” tanya Elise. “Kau hanya mengikuti arahan orang tuamu?”Oliver menoleh ke samping. “Itulah kenapa aku tidak ingin kau menyukaiku.”“Aku memang seperti ini.”Elise menunduk.Dugh!Citt!Oliver langsung menepikan mobilnya ketika Elise menunduk—membenturkan kepalanya ke dashbord mob
“Akh!” Noel langsung mundur ketika Elise mengejutkannya.Elise terkekeh pelan. “Apa yang harus aku lakukan di sini?” tanyanya.“Bekerja.” Noel mengerjap. “Memangnya kau ingin memasak di sini?”“Masak mie.” Elise tertawa.Ia berjalan dengan santai lalu merebahkan dirinya di atas sofa.Menatap langit-langit ruangan kakaknya.“Aku dimarahi oleh Dad.” Elise mengurucutkan bibirnya.“Karena fotomu berciuman dengan Oliver?” tanya Noel.“Iya dan kata Dad aku terlihat sekali menyukai Oliver.” Elise menaruh kedua tangannya di atas perut. “Bagaimana lagi? Aku memang menyukainya.”Noel ingin tertawa tapi juga kasihan pada adiknya.“Jangan terlalu menunjukkannya. Dia bisa semakin besar kepala.” Noel mengambil duduk di depan adiknya. “Santai saja. Jangan terlalu mengejarnya.”“Lalu bagaimana kau mendapatkan kak Leya?” tanya Elise.“Aku mengejarnya. Selalu mendekatinya.”“Lalu aku tidak boleh mengejar Oliver?”Noel menggeleng. “Ego laki-laki itu besar, Elise. Kalau aku, aku dikejar oleh perempuan ya
“Kau yang melakukannya?” tanya Leya langsung pada seorang pria yang berada di hadapannya.“Kenapa aku tidak boleh melakukannya?” tanya Andrew.“Karena hidupmu hancur karena dirimu sendiri tapi kau mencari pelampiasan dengan menyakiti keluargaku.” Leya datar. Kebencian serta emosinya menjadi satu. Namun ia masih mencoba menahannya.Andrew dengan hoddie hitamnya.Terlihat semakin kurus.Ada luka di tangan yang coba ditutupi.“Hidupmu berantakan.” Leya tersenyum samar.“Berantakan karena kau dan suamimu. Karena Noel yang selalu menghancurkanku.” Andrew melotot.“Kau tidak sadar? Kenapa Noel menghancurkanmu? Karena kau yang lebih dulu mencari masalah dengannya.” Leya bersindekap. “Noel tidak akan menghancurkanmu kalau kau tidak mengganggunya lebih dulu.”“Apa Noel pernah mengganggumu sebelum kau mengganggunya?”Andrew diam.Perkataan Leya memang benar. Noel tidak pernah mengusiknya jika dia tidak mengusik lebih dulu.Leya memutar bola matanya malas. “Kalian lebih dulu mengusik kami. Aku t
21++Leya pasrah saat suaminya melepaskan seluruh pakaiannya.Namun tangannya tidak tinggal diam. Tangannya juga melepaskan kancing piyama rumah sakit yang Noel gunakan.Jemarinya yang lentik mengusap otot-otot perut suaminya.“Kamu suka?” tanya Noel.Leya mengangguk. “Haruskah aku makan?” tanya Leya.“Hm. Makan saja.” Noel tersenyum miring.Leya menunduk—mencium dada sampai perut suaminya.Noel mendongak—memejamkan mata. Jakunnya naik turun menikmati sentuhan istrinya.“Ada yang kamu sembunyikan dariku?” tanya Noel.Mengangkat dagu Leya. Kedua bola mata mereka saling memandang.Leya terdiam—tak lama langsung menggeleng. “Tidak.”“Kenapa rasanya aku seperti dibohongi.” Noel mengusap pipi Leya. “Jangan sembunyikan apapun dariku. Kalau kamu menyembunyikan hal lain. Aku bisa bertingkah seenaknya seperti dulu.”“Aku tidak menyembunyikan apapun,” balas Leya berdecih. “Kamu tidak percaya padaku?”“Hanya aku merasa kamu tidak seperti biasanya saja.” Noel mengusapi pipi istrinya.Leya menarik
Leya langsung berlari ke rumah sakit.Ia berlarian memasuki ruang rumah sakit. Sampai akhirnya ia sampai di sebuah ruangan VVIP.Melihat putranya yang duduk. Lalu suaminya yang berbaring dengan lengan yang terluka juga.“Astaga…” yang pertama ia peluk adalah Jayden.Noel mengerucutkan bibirnya ia berdiri—lalu memeluk Leya dan memeluk Jayden bersamaan.“Bagaimana keadaan kalian?” tanya Leya.“Jayden baik-baik saja, tapi dia terkejut dan pingsan.. Lalu aku—”Noel memperlihatkan lengannya yang dibungkus dengan perban. “Aku terjatuh saat melindungi Jayden. Tangannya terbentur dengan aspal.”“Saat kami baru saja selesai membeli kopi. Ada sebuah sepeda listrik yang berjalan sangat kencang. Hampir menabrak Jayden—jadi aku langsung berlari memeluk Jayden. Kita terjatuh bersama.”Leya menghela napas lega. “Sekarang bagaimana orang yang hampir menabrak kalian?”“Polisi masih mencarinya.” Noel mengedikkan bahu.“Aku sangat khawatir terjadi sesuatu pada kalian.” Leya tidak berbohong. Saat dikaba
“Hai!” Ira dengan semangat menyapa Leya.“Kalian?” menatap tiga orang yang berada di hadapannya. “Kenapa—” ia mengernyit. “Kalian di suruh Noel ke sini?”“Iya.” Sarah mengangguk. “Pak Lucian yang menyuruh kami ke sini untuk mengunjungimu.”“Silahkan masuk.” Leya mempersilahkan mereka masuk.Mereka bertiga melongo melihat betapa luasnya Mansion Leya dan Noel.Faza mengusap pinggang Ira dari samping. “Mau rumah seperti ini?”Ira mengangguk. “Setengah dari ini saja tidak masalah.”“Kalau begitu kita bangun di game.”Plak!Ira menampar tangan Faza yang merangkul pinggangnya.“Aku baru membuat kue. Kalian ikut denganku!”Semakin mereka masuk, semakin pula mereka berdecak kagum. Bag mereka seperti istana.Istana yang tidak sembarang orang bisa masuk.Sangat luas—dengan penataan gaya modern.Sarah menatap foto keluarga Leya. “Jayden sangat tampan…” lirihnya.“Kulitnya semakin gelap karena dia suka sekali olahraga.” Leya membawa kue buatannya ke atas meja makan.Ira mengusap meja makan yang t







